NovelToon NovelToon
Kegilaan Sang Immortal

Kegilaan Sang Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Action
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.

Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.

Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Kegilaan Wang Chan

Wen Tianren tersenyum. Kali ini senyumnya berbeda. Bukan senyum arogan yang meremehkan. Bukan senyum dingin yang menghina.

Tapi senyum lebar, lebar seperti orang gila, lebar seperti seseorang yang telah lama menunggu dan akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Hahaha! Akhirnya! Akhirnya pertarungan yang menarik!"

Wushh!

Semua teknik milik Wen Tianren sebelumnya menghilang dalam sekejap.

Yang tersisa hanyalah pedang di tangan kanannya, dan niat membunuh di matanya.

Keduanya langsung saling melesat. Tanpa kata. Tanpa aba-aba.

Dua tubuh, dua senjata, dua keinginan untuk menang, bertabrakan di langit.

Ktank!

Ktank!

Ktank!

Mereka bertarung di langit layaknya bintang yang saling bertabrakan. Setiap benturan menghasilkan percikan energi yang menyilaukan.

Setiap ayunan pedang, setiap tusukan tombak, meninggalkan jejak cahaya di udara yang baru hilang setelah beberapa detik.

Wang Chan kini lebih cepat. Lebih kuat. Lebih ganas.

Transformasi Iblis Langit telah mengubahnya. Bukan hanya penampilannya. Tapi cara bertarungnya, cara berpikirnya, cara merasakan sakitnya.

Luka yang tadinya terasa menyiksa, kini hanya seperti gigitan nyamuk. Darah yang mengalir, hanya seperti keringat.

Wen Tianren untuk pertama kalinya dalam pertarungan ini, mulai terdesak.

Dari kejauhan, di puncak yang lebih tinggi, Wen Pang maju sedikit. Kakinya menginjak tanah dengan langkah kecil, tapi seluruh gunung di bawahnya bergetar.

Aura kekuatan terpancar dari tubuhnya, bukan dengan sengaja, tapi sebagai refleks dari emosi yang mulai tidak terkendali.

Matanya menyipit mengamati putranya yang mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

Ayunan pedangnya sedikit melambat. Pijakan kakinya sedikit goyah. Perlindungan spiritualnya mulai retak di beberapa tempat.

'Dalam pertarungan ini, Tianren mungkin saja kalah,' gumamnya dalam hati.

Bukan mungkin. Tapi hampir pasti.

Dan Wen Pang tahu itu. Ia bisa melihatnya. Sebagai seorang ayah, sebagai seorang kepala keluarga, sebagai seorang kultivator Ranah Nirvana tahap akhir yang telah melihat ribuan pertarungan, ia tahu kapan putranya akan kalah.

Meski ia tahu itu, ia juga tidak berniat untuk menghentikan ini sekarang. Bukan karena ia yakin putranya bisa bangkit. Tapi karena harga diri. Karena nama keluarga Wen.

Jika ia turun tangan sekarang, di depan ratusan orang, di depan para tetua keluarga lain, di depan seluruh Kota Jiang, itu akan menjadi pengakuan bahwa putranya tidak mampu.

Tidak. Ia akan menunggu.

Jika Wen Tianren kalah, ia akan turun tangan. Ia akan membunuh Wang Chan dengan tangannya sendiri.

Mudah. Sepersekian detik. Tidak ada yang bisa menghentikannya.

Sementara itu, Wen Xiang yang menyadari gerak-gerik ayahnya itu sedikit mundur. Satu langkah. Diam-diam. Hanya untuk menciptakan jarak.

Ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang buruk. Bukan dari pertarungan. Tapi dari ayahnya sendiri. Dari cara ia berdiri. Dari cara ia mengepalkan tangannya di balik lengan bajunya.

Wen Xiang tahu ayahnya. Ia tahu bahwa ketika ayahnya diam seperti itu, itu berarti ia sedang menunggu.

Menunggu saat yang tepat. Menunggu alasan yang cukup.

Dan ketika saat itu tiba, tidak ada yang bisa menghentikannya.

"HIAGHHHHHH!"

Pandangan semua orang kembali pada pertarungan.

Wang Chan menggila. Tidak ada kata lain untuk menggambarkannya.

Tombaknya bergerak seperti ular berbisa, menusuk dari segala arah, tidak memberi Wen Tianren waktu untuk bernapas, untuk berpikir, untuk membalas.

Satu tusukan ke dada. Wen Tianren menangkis.

Satu tebasan ke leher. Wen Tianren memundurkan kepala.

Satu ayunan ke kaki. Wen Tianren melompat.

Tapi Wang Chan tidak berhenti. Setiap serangan diikuti oleh serangan lain. Setiap gerakan diikuti oleh gerakan lain. Tidak ada jeda. Tidak ada ampun.

Wen Tianren mulai terluka. Goresan di lengan. Sayatan di pipi. Tusukan di bahu. Kemudian tusukan lain di paha. Kemudian tebasan di punggung.

Darah mulai mengalir dari banyak tempat di tubuhnya.

Keduanya masih saling adu, tapi kali ini Wen Tianren lebih sering terkena serangan. Beberapa kali ia berusaha melancarkan serangan balik, tapi selalu gagal.

Wang Chan terlalu cepat. Terlalu ganas. Terlalu... tidak manusiawi.

Dari puncak lain, Liu Chiyang dan Qing Yi memperhatikan dengan mata yang tidak berkedip.

Mereka tidak menyangka Wang Chan benar-benar sekuat itu. Liu Chiyang tahu Wang Chan kuat, tapi tidak sekuat ini.

Qing Yi, yang paling dekat dengan Wang Chan, yang paling sering melihatnya berlatih, yang paling tahu keterbatasannya, kini tidak bisa berkata-kata.

'Dia si bakat buruk,' pikir Qing Yi. 'Dia yang selalu gagal masuk sekte. Dia yang selalu ditertawakan. Bagaimana mungkin...'

Tangannya memegangi tangannya sendiri. Jari-jarinya saling bertaut, menggenggam erat, sampai buku-buku jarinya memutih.

Ia merasa Wang Chan merahasiakan sesuatu darinya. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang mengubah segalanya.

Dan perasaan itu, anehnya, bukan marah. Bukan kecewa.

Tapi takut.

Takut bahwa Wang Chan, yang selama ini selalu bersamanya, selalu di sisinya, mungkin suatu hari akan pergi ke tempat yang tidak bisa ia ikuti.

Lalu di Medan Pertempuran Langit, Wang Chan menginjak wajah Wen Tianren.

Brukkk!

Tuan muda itu jatuh ke tanah. Tubuhnya menghantam tanah merah yang sudah hancur dengan kekuatan yang membuat bebatuan di sekitarnya terpental. Sebuah kawah kecil terbentuk di tempat ia jatuh.

"Ohok!"

Darah menyembur dari mulutnya. Merah. Segar. Mewarnai tanah di bawahnya.

Di langit, Wang Chan sedikit berputar dengan tombaknya. Gerakannya lambat, anggun, seperti penari yang sedang melakukan gerakan terakhir di atas panggung.

Tapi matanya tidak anggun. Matanya tajam. Matanya dingin.

Ia menatap Wen Tianren yang terbaring di tanah, terengah-engah, tidak bisa bangun.

"Jika di antara kita harus ada yang mati," ucap Wang Chan pelan, suaranya terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam. "Maka yang mati adalah kau."

Wen Pang akhirnya bergerak.

Aura kekuatannya memancar lebih kuat dari sebelumnya. Tidak perlu meledak. Tidak perlu mengeluarkan teknik.

Hanya dengan berdiri, ia sudah cukup untuk membuat semua orang di sekitarnya gemetar.

"Bocah! Hentikan!"

Suaranya menggema di seluruh Medan Pertempuran Langit, di seluruh Kota Jiang, mungkin hingga ke gunung-gunung di kejauhan.

Para burung terbang ketakutan. Para kultivator di bawah menutup telinga.

"Jika kau berani membunuh putraku, maka kau akan mati!"

Tapi terlambat.

Wang Chan sudah menusuk leher Wen Tianren lebih dulu.

Crack.

Suara kecil. Hampir tidak terdengar. Seperti ranting kering yang patah diinjak kaki.

Tuan muda Keluarga Wen, yang disebut sebagai yang terkuat di bawah Nirvana, yang disegani oleh seluruh Kota Jiang, yang ditakuti oleh semua orang seusianya, mati tanpa suara.

Tubuhnya perlahan menghilang menjadi butiran-butiran kecil, seperti pasir yang tertiup angin, seperti debu yang kembali ke tanah.

Butiran-butiran itu berwarna keemasan, berkilau sebentar di bawah sinar matahari, lalu lenyap.

Tidak ada yang tersisa.

Hanya pedangnya yang jatuh ke tanah dengan bunyi cling yang nyaring di tengah keheningan.

Tangan Wen Pang mengepal.

"Bajingan! Tidak tahu diri!"

Ia terbang ke langit.

BOOM!

Kekuatan spiritualnya meledak.

Ledakan itu bukan seperti ledakan biasa. Bukan ledakan yang bisa dilihat atau didengar.

Tapi ledakan yang dirasakan. Di dalam tulang. Di dalam sumsum. Di dalam jiwa.

Semua orang yang berada di radius puluhan kilometer merasakannya.

Para kultivator level rendah pingsan seketika. Beberapa jatuh dari tempat mereka berdiri. Beberapa lainnya berlutut, tidak kuat menahan tekanan.

Seorang yang disebut tak terkalahkan di Kota Jiang, seorang kultivator Ranah Nirvana tahap akhir, akhirnya bertindak. Untuk membunuh seorang pemuda Ranah Transformasi Roh.

Semua orang berpikir Wang Chan akan mati.

Beberapa menutup mata. Beberapa berdoa. Beberapa hanya bisa terdiam, tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.

Wang Chan terlempar cukup jauh karena ledakan kekuatan itu.

Tubuhnya terbang puluhan meter di udara, berputar beberapa kali, lalu jatuh ke tanah dengan keras.

Ia berlutut di tanah, kedua tangannya menopang tubuhnya yang gemetar.

Darah menyembur dari mulutnya. Bukan sedikit. Tapi banyak. Muncrat. Membasahi tanah di depannya.

Tombak hitamnya perlahan menghilang dari genggamannya, berubah menjadi kabut tipis, lalu lenyap.

'Sial... tombak ini hanya sekali pakai,' gumamnya dalam hati, suaranya serak, terdengar pahit.

Ia mendongak. Melihat ke langit.

Wen Pang melayang di udara. Jubah panjangnya berkibar tanpa angin, rambutnya yang putih bergerak seolah hidup, dan matanya... matanya tidak lagi seperti mata manusia.

Di belakang Wen Pang, perwujudan spiritual miliknya terlihat. Bentuknya sama persis seperti dirinya. Tinggi. Tegap. Berwibawa.

Tapi ukurannya raksasa. Puluhan meter. Tercipta murni dari kekuatan spiritual yang begitu padat hingga terlihat nyata, hampir seperti makhluk hidup.

Kekuatan yang menekan dari bawah ke atas, dari atas ke bawah, dari segala arah, tidak bisa Wang Chan atasi.

Ranah mereka berbeda jauh.

Wang Chan, dengan tubuh yang berlumuran darah, dengan luka di mana-mana, dengan napas yang tersengal-sengal, masih berusaha berdiri.

Lututnya gemetar. Tangannya gemetar. Tapi ia tetap berusaha.

"Hari ini," suara Wen Pang menggema, berat, penuh otoritas. "Akan kupastikan kau mati!"

Wang Chan mengepalkan tangannya yang kosong.

Tombaknya sudah hilang. Teknik rahasianya sudah digunakan. Transformasi Iblis Langit masih aktif, tapi tidak akan bertahan lama. Tubuhnya sudah di ambang kehancuran.​

1
yayat
yo lah lanjut
yayat
waduh jd budak wanita yg keras ni asal jgn jd budak ranjang ni ahaaay
Cecilia: cwe suka dijilat awoakoeka🗿
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat naikin kultivasi wangchan dan hancurkan segel budak itu bikin wangchan taklukkan muQinghuan
Cecilia: otw ranah empat pilar/Determined//Determined/
total 1 replies
Cecilia
sabar nunggu bab selanjutnya yaa
yayat
lanjut dah
yayat
wah yg 1 lg ga pernh diksh ni
Cecilia: yang itu spesial wkwk
total 1 replies
yayat
kash kenangn donk buat 2 gadisnya ahaaay
yayat
haha pusing dy
syarif ibrahim
siapa ya??? barusan juga bergerak eh sudah dibikin pingsan🤭
Fajar Fathur rizky
cepat tingkatkan kultivasi wangchan habis itu hancurkan segel budak itu dan taklukkan mu Qing Huan
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor bikin sifat wangchan kejam bantai wenpang beserta keluarganya dengan cara paling sadis
syarif ibrahim
hmmmm... gitu ya thor... 🙏
Cecilia
lesgoo, besok sampe 40 bab yakk
Fajar Fathur rizky: cepat bikin wangchan kuat habis itu bantai wenpang
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
Thor cepat naikan ranah kultivasi wangchan habis itu bikin wangchan bantai wenpang beserta keluarganya dengan cara paling kejam bikin wangchan hancurkan dantian wenpang dan kultivasi bikin wenpang mati di tangan manusia fana
Fajar Fathur rizky: kalau perlu wen xiang sama wangchan ambil dulu Thor
total 4 replies
yayat
wah dipertemukan n diperkenalkn dlm situasi yg kurang baik apakan yg dua mampu menerima n berbagi kehangatn dengn nuan huang
Hasan Udin
jangan tambah lagi wanitanya Thor cukup mereka ber 3 dah kalau nambah lagi jadi bosen bacanya
paling sukakarakter nuan shuang
Cecilia: bukan pejahat kelamin juga sih, sesuai genre dia dikelilingi cwe, tau btth ga? nah kira2 gitu, cwenya kan banyak, tpi rata2 cuma jadi bantuan doang gitu loh, ga nyampe jadi istri
total 3 replies
Hasan Udin
jangan tambah lagi wanitanya Thor cukup mereka ber 3 dah kalau nambah lagi jadi bosen bacanya
paling sukakarakter nuan shuang
Cecilia
next bab tungguin yww
Cecilia
bab selanjutnya otw ya gaess
yayat
nuan ga bantu ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!