Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Suasana di dalam kamar tidur itu mendadak kehilangan seluruh sisa kehangatannya. Udara malam Bandung yang dingin seolah membeku di antara mereka berdua. Zivara masih berdiri tegak, menatap lurus pada pria yang kini perlahan bangkit dari lantai, meninggalkan separuh alat lukis yang baru dirapikannya setengah jalan.
Setiap embusan napas Kaizar terdengar berat. "Aku menyangkalnya, Vara," ucap Kaizar, suaranya rendah, serak, namun memiliki penekanan yang mutlak pada setiap suku kata.
Ia maju satu langkah, mengabaikan denyut nyeri di bahunya yang kian menyiksa. "Aku melakukan semua ini bukan karena rasa bersalah. Bukan sekadar menebus dosa agar hatiku merasa tenang."
Kaizar berhenti tepat satu jengkal di depan Zivara, membiarkan tatapan mereka berbenturan dalam jarak yang begitu intim sekaligus menyakitkan. "Aku melakukannya karena aku benar-benar tulus. Aku mencintaimu seiring berjalannya waktu yang tak sengaja berputar kembali ini."
Zivara tidak bergeming. Sudut matanya mengeras, menahan emosi yang bergejolak di dalam dada. Pengalaman pahit di lini masa pertama mengajarinya untuk tidak mudah mempercayai kata-kata manis yang keluar dari bibir seorang Ravindra.
"Aku tidak peduli kamu mau berpikir seperti apa tentang diriku sekarang," lanjut Kaizar, seulas senyuman pahit yang sarat akan kepasrahan muncul di sudut bibirnya. "Kamu boleh membenciku, kamu boleh mengutuk setiap kehadiranku, atau kamu bisa menganggapku sebagai musuh terbesar dalam hidupmu. Perasaanmu adalah hakmu, Vara. Yang pasti, aku akan tetap berada di sisimu, menjadi pelindungmu sampai napas terakhirku di dunia ini selesai."
Mendengar kalimat demi kalimat yang mengalir dari bibir pria itu, pertahanan logika Zivara bergetar hebat. Jiwanya yang sudah berusia tiga puluh tahun, yang selama ini mengamati perubahan sikap Kaizar dengan penuh curiga, akhirnya menemukan jawaban final atas teka-teki panjang ini.
Kaizar yang ada di depannya saat ini bukanlah Kaizar berusia sembilan belas tahun yang egois, dingin, dan selalu menomorsatukan Luna. Pria ini adalah Kaizar dari masa depan. Pria yang membawa seluruh beban ingatan dari kehidupan pertama, lengkap dengan penyesalan-penyesalan berat yang telah mengubah seluruh kepribadiannya menjadi begitu protektif dan penuh kasih.
Kesadaran itu menghantam batin Zivara dengan telak. Sisi emosionalnya menjerit, mengenali kehangatan tersembunyi yang dulu sangat ia dambakan di kehidupan pertama. Ada dorongan halus yang mendesaknya untuk luluh, untuk bersandar pada dada tegap itu dan berbagi beban rahasia time rewind yang selama ini ia pikul sendirian sebagai anak tunggal diplomat yang kesepian.
Akan tetapi, trauma masa lalu jauh lebih tangguh daripada sekadar pengakuan cinta yang terlambat. Bayangan dirinya yang selalu menjadi second choice, yang dibuang demi kepentingan Luna, dan berakhir mengenaskan di atas beton keras kembali berputar di kepalanya. Rasa sakit itu terlalu nyata untuk diabaikan begitu saja hanya karena Kaizar kini telah berubah.
Zivara menarik napas dalam-dalam. Kemudian melangkah mundur sengaja menciptakan jarak pemisah yang tidak bisa ditembus oleh Kaizar.
"Pulanglah, Kak Kaizar. Aku menghargai makanan yang kamu bawa."
Kaizar mengepalkan tangan kirinya erat-erat, menahan sesak yang mendera dadanya hingga membuat napasnya terasa pendek.
**
Kilatan petir sesekali menerangi ruang tengah sebuah apartemen mewah. Di dalam kegelapan yang sengaja dibiarkan tanpa lampu utama, Luna berjalan mondar-mandir bagai singa lapar. Jemarinya mencengkeram ponsel dengan sangat erat, sementara napasnya memburu tidak teratur.
Posisinya sudah hancur lebur. Ancaman dingin Zivara di gudang kampus sore tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya, disusul dengan kenyataan pahit bahwa Kaizar bahkan tidak lagi sudi menoleh ke arahnya. Semua taktik manipulasi yang dulu selalu berhasil, kini mental tak berbekas. Rasa frustrasi itu menumpuk di dada, membakar habis seluruh akal sehat yang tersisa.
Luna berhenti di depan jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Kota Bandung yang samar tertutup kabut. Dengan tangan bergetar, ia mencari satu nama di daftar kontaknya lalu menekan tombol panggil. Hubungan ini adalah kartu as terakhirnya.
"Kita harus bergerak sekarang, Adrian," desis Luna langsung, bahkan sebelum pria di seberang telepon sempat menyapanya. Suaranya melengking tinggi, sarat akan kepanikan yang nyaris histeris.
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Perempuan sialan itu sudah tahu semuanya! Dia mengancamku, dan Kaizar... Kaizar benar-benar melindunginya sekarang!"
Di seberang sana, terdengar suara helaan napas berat disertai gemisik lembaran kertas yang dibalik. Adrian tetap tenang, sebuah ketenangan yang justru terdengar dingin dan penuh perhitungan.
"Tenang, Luna. Jaga suaramu," jawab Adrian dengan nada bariton yang datar, mencoba meredam histeria wanita itu. "Kamu bergerak gegabah sekarang, maka kita berdua yang akan masuk penjara. Bersabarlah. Lusa adalah pesta festival fakultas. Tunggu saja sebentar lagi."
"Bersabar?!" Luna setengah berteriak, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupisnya. Ia mencengkeram rambutnya sendiri dengan tangan yang bebas. "Kamu tidak tahu bagaimana tatapan Zivara tadi sore. Dia bukan lagi gadis bodoh yang bisa kita gertak! Jika kita tidak melakukan tindakan nekat malam ini, dia yang akan membongkar semua dokumen sabotase itu kepada publik dan kepolisian!"
"Aku tahu siapa Zivara, Luna. Tapi kamu harus memakai otakmu," potong Adrian cepat, intonasi suaranya meninggi, memberikan tekanan psikologis agar Luna tidak merusak rencana besar mereka. "Festival lusa adalah panggung terbaik. Jika terjadi sesuatu pada Zivara di tengah keramaian itu, tidak akan ada yang mencurigai kita."
Luna terdiam. Jantungnya masih berdegup kencang, bertarung antara dendam yang membara dan sisa logika yang dipaksakan masuk oleh kata-kata Adrian. Rasa benci pada Zivara yang mendominasi hatinya membuat bayangan tentang kehancuran gadis itu di hari festival terasa begitu manis.
"Kamu hanya perlu menahan emosimu yang bergejolak itu selama empat puluh delapan jam ke depan," lanjut Adrian, suaranya kembali melembut, penuh manipulasi. "Persiapkan dirimu dengan baik. Pastikan kamu memiliki alibi yang bersih saat acara dimulai. Serahkan bagian eksekusi teknis lapangan padaku. Mengerti?"
Luna perlahan menurunkan ponsel dari telinganya, menatap layar yang masih menyala sebelum akhirnya bergumam pelan, "Lusa... aku pastikan itu menjadi hari terakhirmu tersenyum, Zivara."
***
,udh ke luar negri dlu vara
🤣🤣🤣