NovelToon NovelToon
Gadis Manja Vs Pria Urakan

Gadis Manja Vs Pria Urakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy / Romantis / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:754
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.

Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.

Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.

Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.

Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.

Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.

Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28. perasaan yang terlambat

"Kos lo ada di sebelah mana?" tanya Chris memecah keheningan di dalam mobil saat ia bingung harus memilih jalan ke kiri atau ke kanan.

"Perempatan sana, belok kiri Kak." Ami dengan percaya diri menyentuh bahu Chris, dan Maya mulai merasa sedikit terganggu dengan tindakan Ami. Ia seperti melihat, ada sesuatu yang aneh pada sikap Ami. Entah hanya kebetulan atau tidak, Maya sering memergoki Ami tengah menatap Chris.

Jalan ke arah gang kos Ami begitu sempit, dan mobil Pajero sport milik Chris tidak bisa masuk lebih jauh.

"Sorry, mobilnya nggak bisa masuk. Lo bisa turun di sini." Chris berkata datar karena memang seperti itulah kenyataannya.

"Iya Kak, nggak pa-pa." Ami akan keluar dari dalam mobil, tapi ia merasa kesulitan saat berusaha membuka pintunya.

Maya melihat Chris hanya duduk santai di jok. Tidak terlihat ada niatan untuk membantu Ami.

"Ish, Chris! Bantuin, dong. Kamu nggak liat, Ami sepertinya kesusahan buka pintu mobilnya!" Maya memukul lengan Chris.

Chris mendengus, lalu keluar dan membukakan pintu mobil untuk Ami dengan begitu mudah.

"Makasih, Kak," sahut Ami senang, dan dengan tidak tahu diri ia memeluk Chris.

Chris melotot dan segera menjauhkan tubuh Ami dengan mendorongnya saat matanya menatap lurus pada Maya, yang sialnya Maya juga tengah menatapnya. Namun, Maya segera membuang wajahnya.

"Sialan! Apa-apaan lo!" Chris segera masuk kembali ke dalam mobil dan meninggalkan Ami yang masih berdiri diam di posisinya begitu saja.

"Ehm.. Ami melakukan itu mungkin hanya sebagai ungkapan rasa terima kasih, May. Sumpah, aku nggak ngapa-ngapain dia. Kamu jangan salah paham, ya," ucap Chris saat ia telah masuk ke dalam mobil.

Maya masih sedikit kesal. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini. Disentuhnya dadanya yang mulai berdenyut keras. Maya tidak suka melihat Chris dekat dengan gadis lain.

Chris sendiri tampak salah tingkah. Pelukan itu jelas bukan sesuatu yang ia duga. Chris berdehem pelan, mencoba mencairkan suasana. “Dia memang agak kelewat ramah,” ucapnya sambil tertawa canggung.

Namun Maya tak menjawab. Ia tetap menatap keluar jendela. Kedua tangannya terlipat di dada, dan dalam diam, ia sedang menahan banyak hal termasuk kekecewaan yang menyeruak tanpa bisa ia cegah. Bukan hanya karena pelukan itu, tapi karena rasa tak nyaman yang mulai tumbuh. Perasaan bahwa ia mungkin tidak sepenting itu bagi Chris. Bahwa kedekatan mereka bisa saja berubah secepat datangnya gadis lain ke dalam hidup lelaki itu.

Chris melirik Maya lagi. "Maya, kamu marah?"

“Aku cuma nggak suka lihat kamu dekat-dekat sama cewek lain.”

"Baiklah. Aku janji nggak akan deket-deket sama cewek lain selain kamu." Chris menyibakkan rambut Maya yang tergerai ke belakang.

Maya diam, lalu dipandanginya wajah Chris yang tampak cemas. Sementara Ami masih berdiri di samping mobilnya.

'Ami, apa gadis itu diam-diam menyimpan perasaan pada Chris?' ucap Maya dalam hati. Maya benar-benar tidak suka dengan sikap aneh Ami.

"Kita pergi aja yuk, Chris. Aku udah laper.."

Maya mengambil tangan Chris yang dari tadi mengusap lembut rambutnya, lalu digenggamnya tangan itu perlahan.

Chris akhirnya bisa tersenyum lega. "Oke."

Masih dengan saling menggenggam tangan, Chris kembali menjalankan mobilnya meninggalkan kawasan tempat tinggal Ami. Maya sempat melihat ke belakang, dan lagi-lagi Ami masih berdiri di sana sambil memandangi mobil Chris yang telah bergerak semakin jauh.

Di dalam mobil, baik Maya maupun Chris memilih untuk diam. Maya berkali-kali mencuri pandang ke arah Chris yang tampaknya sangat fokus melihat ke depan. Saat ia berniat untuk melepaskan tangannya, Chris tiba-tiba semakin mengeratkan genggamannya, lalu diusapnya lembut tangan Maya.

"Tangan mu berkeringat, May. Apa kamu sakit?" tanya Chris sambil terus mengusap telapak tangan Maya.

Maya dengan cepat, segera menjauhkan tangannya dari Chris. Maya lupa jika tangannya memang sering berkeringat, apalagi jika dalam kondisi yang membuat batinnya tertekan.

"Nggak kok, aku nggak sakit. Cuma kepanasan aja. Jogja kan akhir-akhir ini memang sedang panas," ucap Maya sambil mengibaskan tangannya ke wajahnya sendiri.

"Mau aku hidupin AC nya?" Maya mengangguk polos dan Chris tersenyum melihatnya.

Setelah empat puluh menit perjalanan yang diwarnai diam dan sesekali percakapan singkat, mobil Chris akhirnya berhenti di pelataran sebuah pusat perbelanjaan. Mall itu tidak terlalu besar, tapi cukup ramai, terlebih karena letaknya yang strategis di dekat kawasan perumahan elite dan juga dekat dengan tempat tinggal Pak Anton, dosen pembimbing Maya. Chris turun lebih dulu, memutar ke sisi penumpang, dan membukakan pintu untuk Maya. Seolah hal itu sudah menjadi kebiasaan, ia tak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum kecil sambil menunggu Maya melangkah.

"Kok, kita ke sini?" tanya Maya, pasrah saat Chris membawanya masuk ke dalam.

"Kita udah lama banget nggak jalan-jalan ke sini, May."

Mereka kemudian berjalan berdampingan masuk ke dalam mall. Maya masih sedikit murung sejak insiden Ami, namun hatinya perlahan mulai melunak ketika melihat ekspresi Chris yang tak lelah berusaha mengajaknya berbicara, bahkan sesekali mengeluarkan lelucon receh.

Sesampainya di lantai dua, Chris langsung menggandeng Maya menuju salah satu stan makanan yang cukup ramai. Tempat itu sederhana, hanya ada enam meja dengan kursi warna-warni yang membuat suasana tampak ceria. Stan tersebut menyajikan makanan khas rumahan yang sering disukai para mahasiswa, seperti ayam geprek, nasi goreng, soto ayam, dan beberapa pilihan camilan lain.

Maya baru hendak membuka mulut untuk mengatakan apa yang ingin dipesannya, tapi Chris sudah lebih dulu melangkah ke depan dan berbicara pada pramusaji.

“Dua ayam geprek level dua, satu tanpa kol goreng. Jus durian satu, yang satunya air putih biasa. Oh, tambah tahu isi juga, ya.” Chris berkata pada pelayan restoran.

Maya terdiam. Matanya menatap Chris lama. Ia mematung sejenak, seolah otaknya butuh waktu beberapa detik untuk memproses kenyataan barusan.

Itu… pesanan favoritnya. Persis. Bahkan bagian tidak suka kol goreng pun dia ingat.

Chris kembali ke hadapannya sambil menyerahkan nomor meja dari kasir. “Nggak usah bilang, aku udah hafal,”

Tapi tidak bagi Maya.

Maya menarik napas pelan, menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya menatap Chris. Lelaki itu tidak sedang berusaha menggombal. Ia tulus. Ia memperhatikan. Ia mengingat. Bahkan hal-hal remeh yang tak pernah Maya duga bisa tertangkap oleh seorang laki-laki sepertinya.

Maya merasa bodoh.

Bukan karena tidak tahu. Tapi karena baru menyadari. Perasaannya pada Chris sudah tumbuh diam-diam. Perasaan yang mungkin selama ini hanya dianggap persahabatan. Tapi sekarang, bagaimana bisa seseorang yang bukan siapa-siapanya mengingat semua detail kecil itu? Mengerti cara membuatnya nyaman tanpa harus bertanya? Menenangkan tanpa harus banyak bicara?

Hatinya mendadak sesak. Tapi kali ini bukan karena sedih. Bukan karena marah. Tapi karena perasaan yang mekar tanpa izin.

"Kenapa aku bisa begitu terlambat untuk mengetahui bagaimana perasaan ku?" gumam Maya dalam hati, matanya tetap terpaku pada wajah Chris yang tengah sibuk membuka tutup botol air mineral dan meletakkannya di hadapannya.

Maya menghela napas. Ia tersenyum kecil. Entah bagaimana, Chris membuatnya merasa aman dan nyaman saat bersamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!