Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik ma'had yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.
Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.
Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Comeback
Pagi itu, udara di sekitar Sekolah Harapan terasa lebih tajam dari biasanya. Aroma kain katun yang baru dipotong menyatu dengan wangi tinta printer yang bekerja tanpa henti di sudut ruang kerjaku. Di atas layar monitor, sebuah dokumen digital terkunci dengan judul yang telah lama kusimpan dalam kedalaman relung batin: Simpul Sunyi.
Ini bukan sekadar novel. Ini adalah sebuah manifesto. Sebagai penulis yang telah menghilang selama hampir setahun dari peredaran literasi nasional, keputusanku untuk kembali bukan karena rindu akan pujian kritikus, melainkan karena ada ribuan suara yang selama ini membisu di balik tembok-tembok kemiskinan, dan mereka butuh satu pena untuk bicara.
Proses penyelesaian Simpul Sunyi berjalan beriringan dengan kesibukanku di unit produksi busana sekolah.Aku sering mendapati diriku duduk di antara para siswi—remaja-remaja tangguh yang sebagian besar telah menjadi ibu di usia yang sangat muda. Sambil memperhatikan jemari mereka yang lincah memasukkan benang ke lubang jarum, aku mencatat setiap detail kecil: bagaimana cara mereka menyembunyikan kesedihan di balik senyuman saat menggendong bayi mereka di jam istirahat, atau bagaimana mata mereka berbinar saat berhasil membuat pola kerah yang sempurna.
"Mbak, kenapa judulnya harus Simpul Sunyi?" tanya Melati suatu sore, sambil tangannya sibuk mengerjakan bordiran manual untuk koleksi busana terbaru kami.
Aku tersenyum, menghentikan ketikanku sejenak. "Karena seringkali, hal-hal yang paling menyesakkan dalam hidup adalah hal-hal yang tidak sempat kita suarakan, Mel. Seperti simpul mati yang menjerat leher, sunyi karena tidak ada yang mau mendengar. Tapi di sini, kita sedang mencoba mengurai simpul itu satu per satu."
Kalimat itu kemudian menjadi nyawa dalam bab kedua puluh novelku. Aku menuliskan adegan di mana tokoh utamanya—seorang gadis desa yang dipaksa dewasa oleh keadaan—menemukan kekuatannya bukan dari keajaiban, melainkan dari keberaniannya untuk menolak diam.
Rencana besar itu mulai matang. Aku memutuskan bahwa peluncuran novel comeback-ku tidak akan dilakukan di toko buku mewah di Jakarta atau di hotel berbintang dengan lampu kristal. Aku ingin dunia datang ke tempat di mana cerita ini dilahirkan: halaman Sekolah Harapan.
Aku menggabungkan peluncuran novel ini dengan fashion show perdana koleksi busana kami yang kuberi judul "The Awakening". Setiap potong pakaian dalam koleksi ini adalah representasi visual dari bab-bab dalam Simpul Sunyi. Ada gaun dengan gradasi warna gelap menuju terang, melambangkan perjalanan dari keputusasaan menuju kemandirian. Ada juga detail jahitan tangan yang sengaja dibentuk menyerupai simpul yang terbuka, melambangkan kebebasan.
Persiapan ini menguras seluruh energiku sebagai pebisnis dan penulis. Aku harus memastikan naskah masuk ke percetakan tepat waktu, sembari mengawasi kontrol kualitas jahitan para siswi. Namun, keajaiban terjadi ketika sinergi ini berjalan. Para siswi merasa bangga karena mereka bukan sekadar objek dalam cerita, melainkan bagian dari penciptaan karya itu sendiri.
Malam peluncuran tiba. Halaman sekolah disulap menjadi panggung megah namun tetap bersahaja. Lampu-lampu gantung kecil menghiasi pohon beringin yang dulu menjadi saksi bisu kemarahan Pak Darman. Undangan yang datang melampaui ekspektasiku; mulai dari rekan-rekan penulis, pengusaha fashion, hingga media nasional yang penasaran dengan "penulis yang hilang".
Saat aku berdiri di podium untuk membacakan prolog Simpul Sunyi, suasana menjadi begitu hening. Suara tangis bayi yang sesekali terdengar dari ruangan khusus di belakang panggung justru menjadi instrumen latar yang paling jujur.
"Kita sering mengira bahwa sunyi adalah tanda kedamaian. Namun di tempat-tempat yang terlupakan, sunyi adalah teriakan yang tidak memiliki udara. Novel ini adalah udara bagi mereka yang dadanya sesak karena dipaksa menelan kenyataan yang terlalu pahit bagi usia mereka..."
Suaraku bergetar saat membacakan bagian di mana tokoh utama yang terjebak oleh kesunyian sebelum tau bahwa ada banyak cerita tragis dari perasaan aneh yang di selimuti kesunyian itu, sampai akhirnya sunyi ini menjadi sunyi untuk banyak anak yang harus memilih antara sekolah atau mengikuti perintah orang tuanya untuk menikah demi utang. Aku melihat beberapa tamu undangan menyeka air mata. Mereka mulai menyadari bahwa apa yang mereka baca bukan sekadar fiksi, melainkan realitas yang sedang duduk di kursi penonton—para siswi Sekolah Harapan.
Setelah pembacaan naskah, musik mengalun lembut. Para siswi sekolah keluar satu per satu, bukan sebagai penonton, tapi sebagai model yang mengenakan pakaian hasil jahitan mereka sendiri. Mereka berjalan dengan dagu tegak, mata yang bersinar, membawa buku Simpul Sunyi di tangan mereka.
Keberhasilan malam itu meledak di media sosial. Tagar #SimpulSunyi dan #SekolahHarapan menjadi tren. Yang membuatku paling terharu adalah ketika keesokan harinya, pesanan untuk koleksi "The Awakening" membeludak, dan naskah novelku masuk cetakan kedua hanya dalam waktu tiga hari setelah rilis.
Namun, keberhasilan komersial bukan tujuan utamaku. Dampak yang paling nyata adalah perubahan paradigma. Para pengusaha yang hadir malam itu mulai menawarkan kerja sama untuk menjadi orang tua asuh bagi para siswi. Beberapa yayasan internasional menghubungi kami untuk menanyakan modul pendidikan dan pemberdayaan perempuan yang kami terapkan.
Novel Simpul Sunyi menjadi jembatan diplomasi yang luar biasa. Melalui kata-kata, aku berhasil menjelaskan kompleksitas masalah pernikahan dini dan kemiskinan dengan cara yang menyentuh sisi kemanusiaan, bukan sekadar statistik yang kering.
Seminggu setelah peluncuran, aku duduk di teras sekolah, melihat tumpukan novel Simpul Sunyi yang siap dikirim ke berbagai penjuru negeri. Di depanku, Melati sedang mengajari seorang siswi baru cara mengoperasikan mesin jahit elektrik.
"Mbak, sekarang saya mengerti," kata Melati tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari kainnya. "Sunyinya sudah hilang, ya? Sekarang yang ada cuma suara mesin jahit dan suara kami yang sedang belajar."
Aku tertegun. Benar apa yang dikatakannya. Masa hiatusku adalah masa di mana aku mengumpulkan energi untuk meledakkan kesunyian itu menjadi sebuah simfoni harapan.
Simpul Sunyi bukan lagi sekadar judul novel di rak buku. Ia telah bertransformasi menjadi identitas baru bagi kami. Ia mengingatkan bahwa seorang penulis tidak hanya bertugas menceritakan dunia, tapi terkadang, ia harus turun tangan untuk memperbaikinya.
Bisnis busanaku kini memiliki jiwa yang lebih kuat, dan tulisan-tulisanku kini memiliki akar yang lebih dalam. Aku menyadari bahwa "kembali" ke dunia literasi tidak berarti aku meninggalkan sekolah ini. Justru, sekolah ini adalah tinta yang tidak akan pernah kering untuk naskah-naskah selanjutnya.
Malam itu, di bawah langit yang cerah, aku menutup mataku sejenak. Aku menarik napas dalam, menikmati suara riuh rendah kehidupan di Sekolah Harapan. Simpul itu telah terurai, dan dari benang-benangnya, kami sedang menenun masa depan yang jauh lebih cerah dari apa pun yang pernah kubayangkan dalam fiksi.
Novel Simpul Sunyi telah menyelesaikan tugasnya di kertas, dan kini, tugas sesungguhnya dimulai di dunia nyata—memastikan bahwa tidak akan ada lagi "sunyi" yang menyakitkan bagi anak-anak perempuan di negeri ini. Masa hiatusku berakhir, namun perjuanganku baru saja mencapai bab baru yang lebih menantang. Dan aku, Aleea Bahiraa haura, siap untuk menuliskannya hingga tuntas.
Aku membuka media sosialku, aku mengupload foto buku simpul sunyi dengan anak anak yang sedang sibuk belajar di belakangny, aku menuliskan caption.
"Perubahan tidak terjadi saat kita memberikan bantuan, tapi saat kita memberikan martabat. Di sini, di sekolah ini, kita tidak hanya mengajar mereka cara membaca buku, tapi cara menulis ulang takdir mereka sendiri."
Dengan tagar #simpul_sunyi#sekolah_harapan.