NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Dialog Dua Orang Asing, Perlindungan Posesif, dan Dekapan Hangat

Suasana di dalam kabin mobil mewah itu terasa begitu mencekam begitu pintu-pintu tertutup rapat. Di kursi belakang, Aiswa masih terisak, menumpahkan sisa rasa sesak yang menyumbat dadanya.

Shena dengan cekatan merangkul bahu sahabatnya, mengusapnya perlahan demi memberikan ketenangan. Sambil menimang Aiswa, Shena meraba tasnya, mengambil ponsel untuk menghubungi sang kekasih.

"Halo, Sayang... Maaf banget, ya, kayaknya hari ini kita nggak jadi ketemu," bisik Shena pelan begitu panggilan tersambung, matanya melirik sekilas ke arah luar.

"Ini aku mendadak ketemu Aiswa di parkiran. Kondisinya lagi nangis hebat, kayaknya lagi ada masalah serius. Aku harus nemenin dia dulu... Iya, maaf ya. Love you too."

Tepat setelah Shena menutup panggilan, pintu kemudi terbuka. Devan masuk ke dalam mobil. Begitu tubuh tegap sang CEO duduk di balik kemudi dan mulai melajukan kendaraan membelah jalanan, atmosfer di dalam mobil seketika berubah drastis.

Aura dingin dan intimidasi yang pekat menguar dari tubuh Devan, menciptakan keheningan yang absolut. Namun, saat Shena memberanikan diri melirik dari kaca spion tengah, ia menangkap sesuatu yang ganjil.

Dari balik sorot mata Devan yang tajam saat memantau Aiswa yang sesenggukan, ada secercah ketulusan dan kekhawatiran tersembunyi di sana. Pria itu tidak sedingin yang terlihat.

Cukup lama Aiswa menangis hingga suaranya perlahan habis. Kelelahan emosional yang hebat sejak pagi membuat kepalanya mendadak terasa pening dan berat.

Sampai akhirnya, perlahan-lahan kelopak mata Aiswa terpejam. Gadis itu jatuh tertidur, dengan posisi kepala masih bersandar nyaman di bahu Shena.

Suara napas teratur Aiswa menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar, sebelum akhirnya sebuah suara bariton yang berat memecah keheningan.

"Kamu sahabat Aiswa?" tanya Devan, memecah kecanggungan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan.

Shena tersentak kecil, namun ia segera menguasai diri.

"Iya, Pak. Aiswa sahabat saya sejak zaman kuliah."

"Kalian sangat dekat?" tanya Devan lagi, nadanya terdengar menyelidik.

Shena diam sejenak, menatap wajah lelap Aiswa di pundaknya, lalu memberanikan diri menatap balik spion tengah.

"Apakah Bapak mencintai sahabat saya?"

Alih-alih menjawab pertanyaan Devan, Shena justru melayangkan sebuah pertanyaan yang terhitung sangat pribadi dan berani untuk ukuran orang yang baru pertama kali bertatap muka dengan seorang Devan Argian.

Devan menyunggingkan senyum sinis yang tipis di sudut bibirnya.

"Sefrontal itu?" sindir Devan dengan nada sedingin es.

"Saya tahu Bapak bukanlah tipe pria yang suka basa-basi, jadi saya rasa tidak ada gunanya bertingkah berbelit-belit di depan Bapak," tegas Shena.

Dari seluruh anggota geng "Sembilan Nyawa", Shena memang dikenal sebagai sosok yang paling tegas, matang, dan dewasa. Di antara teman-temannya, dialah yang selalu bertindak sebagai figur "kakak" yang paling mengayomi dan peka terhadap situasi.

Mendengar jawaban itu, Devan mengetatkan genggamannya pada kemudi mobil.

"Kamu cukup pintar menganalisa orang lain."

Mobil hitam mewah itu perlahan melambat. Devan melirik Shena tajam dari kaca spion, sebuah tatapan elang yang sanggup membuat bulu kuduk orang awam meremang seketika.

"Tapi, saya cinta atau tidak padanya, tentu bukan urusan kamu."

"Tentu saja itu menjadi urusan saya, Pak," balas Shena, suaranya tidak bergetar sedikit pun meskipun ia tahu pria di depannya ini bisa menghancurkan apa saja dengan kekuasaannya.

"Karena Aiswa adalah sahabat saya. Kebahagiaannya adalah prioritas kami."

Shena berdehem pelan untuk mengusir rasa gugup yang sempat merayap di dadanya, lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih melunak namun sarat akan penekanan.

"Aiswa berhak bahagia, Pak. Saya hanya mau dia mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya. Selama ini... dalam hubungan asmaranya yang sebelumnya, Aiswa selalu menjadi pihak yang dominan dalam memberi. Dia yang selalu mengejar, dia yang selalu overlove kepada pasangannya, bahkan sampai sering kali melupakan perasaan dan kenyamanannya sendiri demi menyenangkan hati orang lain," tutur Shena panjang lebar.

Penuturan tulus dari Shena itu seketika membuat Devan terdiam. Sorot matanya bergerak dinamis, menatap pantulan wajah lelap Aiswa dari kaca spion dengan sebuah tatapan yang sulit diartikan, ada rasa tidak suka mendengarnya bersusah payah untuk pria lain di masa lalu, sekaligus rasa posesif yang semakin mengakar.

"Saya hanya ingin dia mendapatkan cinta dari seseorang yang benar-benar mencintainya dengan tulus. Menghargai keberadaannya, dan menerima dia apa adanya dengan segala keajaiban dalam dirinya, tanpa membuat dia harus tertekan dan berpura-pura menjadi orang lain," pungkas Shena.

Shena kemudian bergerak dengan sangat perlahan, memindahkan kepala Aiswa dari bahunya dan menyandarkannya dengan hati-hati pada bantalan kursi mobil agar tidurnya tidak terganggu.

"Jika Bapak adalah pria yang benar-benar mencintainya, saya akan menjadi orang pertama yang berterima kasih. Saya cuma minta satu hal... jangan pernah sakiti Aiswa, Pak. Karena kami semua di sini sangat menyayanginya," ucap Shena final seraya meraih tas jinjingnya.

Shena membuka pintu mobil penumpang, lalu melangkah keluar dari dalam kabin. Ia berdiri di ambang pintu sejenak, menatap Devan yang kini menurunkan kaca mobilnya.

"Tolong antar Aiswa sampai ke rumahnya dengan selamat ya, Pak. Saya masih ada urusan lain setelah ini. Hati-hati di jalan."

Setelah mengatakan hal itu, Shena memberikan anggukan sopan lalu berbalik berjalan meninggalkan mobil Devan.

Sepeninggal Shena, suasana di dalam mobil kembali sunyi. Devan tidak langsung melajukan mobilnya. Pria itu meraba saku jasnya, mengambil ponsel, lalu mendial sebuah nomor cepat. Panggilan itu langsung diangkat pada dering pertama.

"Ke lokasi koordinat yang saya bagikan sekarang juga!" perintah Devan tanpa menunggu sapaan dari seberang sana.

"Baik, Tuan Muda," jawab Lucas sigap sebelum sambungan diputus sepihak.

Setelah membagikan lokasinya saat ini kepada Lucas agar asisten pribadinya itu datang untuk mengambil alih kemudi mobil, Devan mematikan mesin mobil sejenak. Ia membuka pintu kemudi, keluar dari sana, dan melangkah lebar menuju pintu penumpang bagian belakang.

Devan masuk ke dalam, duduk di samping tubuh lelap Aiswa. Dengan gerakan yang teramat hati-hati, seolah sedang menyentuh barang kaca yang mudah pecah, tangan kekar Devan terulur untuk mengangkat kepala Aiswa.

Ia menarik tubuh mungil gadis itu dengan lembut ke dalam rangkulannya. Devan membawa kepala Aiswa untuk bersandar dengan nyaman di atas dada bidangnya, membiarkan kehangatan tubuhnya menyalur pada gadis itu.

Satu tangannya yang lain melingkar protektif di pinggang Aiswa, memberikan rasa aman yang mutlak di tengah tidur lelapnya.

Tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya, Devan membiarkan Aiswa tidur dengan tenang di dalam dekapannya, menikmati detak jantungnya yang berpacu konstan di bawah kungkungan pria yang kini telah mengklaimnya secara utuh.

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!