Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan rasa
"Berhenti di situ!" suara Myra meninggi, ada nada panik yang gagal ia sembunyikan.
Tangannya terulur ke depan, menciptakan pembatas. Ia menghela napas panjang, mencoba meredam debar jantungnya sekaligus mencari kata-kata yang tepat agar Rafan berhenti mengusik.
"Dengar, lupakan semua yang terjadi. Terutama..." Myra menjeda, wajahnya memanas. "...kejadian saat kamu tidak sengaja melihatku tanpa busana."
Rafan terdiam, namun matanya tetap mengunci sosok di depannya.
"Lupakan dan bersikaplah santai. Aku tidak akan menuntut apa pun, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah atau bertanggung jawab. Kita urus hidup masing-masing dan bersikap layaknya orang asing, oke?" Myra mengangkat alis, menawarkan sebuah kesepakatan yang menurutnya paling logis.
Namun, dahi Rafan justru berkerut dalam. "Tunggu, kenapa tiba-tiba kamu membahas itu?"
"A-apa kamu pikir aku melakukan semua ini karena merasa bersalah?" tanya Rafan. Ia melangkah maju, kini hanya tersisa jarak satu langkah di antara mereka.
"Tentu saja. Memangnya apa lagi?" gumam Myra sembari mengedikkan bahu ringan.
"Tidak, Myra. Walau aku tidak mengintip tubuh indahmu---maksudku, saat kamu telanjang---" Rafan berdehem canggung sebelum melanjutkan dengan nada tegas, "Aku akan tetap mengejarmu meski kejadian itu tidak pernah ada!"
"Hah? Kenapa?" Myra terbelalak. Rasa penasaran mulai menggerogoti logikanya. Jika bukan karena rasa bersalah, lalu apa?
"Karena aku menyukaimu!"
Pengakuan itu menghantam Myra layaknya bom yang meledak tepat di wajahnya. Gadis itu membeku. Dunianya seolah berhenti berputar. Tidak pernah sekalipun dalam benaknya ia membayangkan akan mendengar pernyataan cinta dari mulut pria ini.
"Suka? Apa dia sudah gila mengatakan hal konyol itu padaku?" batin Myra kalut.
"Tunggu---apa kamu tahu apa itu Belladona?" tanya Myra tiba-tiba, suaranya kini lebih tenang namun tajam.
"Racun," sahut Rafan pendek. Ia tampak bingung dengan peralihan topik yang begitu drastis.
"Tepat sekali! Racun," Myra menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang langsung ia koreksi dengan deheman kecil.
Di bawah didikan keras Amran, Myra diajarkan untuk tidak pernah memperlihatkan emosi, baik bahagia maupun sedih, di depan orang lain. Menunjukkan perasaan berarti menunjukkan kelemahan.
"Aku mungkin terlihat menawan dan membuatmu tertarik---tapi aku sangat berbahaya dan bisa membunuh kapan saja," Myra menatap Rafan dengan tatapan sedingin es.
Ia menggeleng pelan. "Jadi berhenti mendekatiku. Berikan perasaanmu untuk gadis lain."
Tanpa menunggu jawaban, Myra berbalik. Ia ingin segera mengakhiri percakapan yang menyesakkan ini. Namun, langkahnya tertahan oleh suara rendah Rafan.
"Myra."
Pria itu menatap punggung Myra melalui pantulan cermin di depan mereka. "Akan kuterima semua konsekuensinya. Jadi, bolehkah aku mendekatimu?"
"Tidak," jawab Myra ketus, tetap membelakangi Rafan.
"Kalau begitu, bolehkah aku tahu apa yang sedang kamu lakukan di sini?"
"Tidak."
Myra mencoba melangkah pergi, namun tangan kekar Rafan tiba-tiba menyambar lengannya dan menariknya dengan paksa. Tubuh Myra tersentak berbalik hingga dada mereka nyaris bersentuhan.
Manik hitam Rafan menatapnya intens, ada ketulusan yang beradu dengan amarah yang tertahan.
"Apa yang kamu lakukan? Lepas! Aku harus membersihkan pakaianku, gladi bersih akan dimulai!" bentak Myra sembari meronta.
"Jawab dulu pertanyaanku," desis Rafan.
Ada perubahan aura yang drastis. Polisi ramah yang tadi ia kenal seolah lenyap, berganti menjadi sosok dingin yang mengintimidasi.
"Aku di sini untuk membantu penulis Anes," sahut Myra akhirnya, mengalah. "Dan soal pertanyaanmu sebelumnya, jawabannya tetap tidak."
"Myra---aku tidak ingin mendengar jawaban yang sama."
"Ck. Kalau begitu, lakukan sesuka hatimu!" ketus Myra sambil membuang muka. Ia menyerah karena tahu Rafan terlalu keras kepala untuk dilawan.
Senyum puas terbit di wajah Rafan. Genggamannya melonggar, memberi ruang bagi Myra untuk melepaskan diri. Dengan geram, Myra melangkah ke wastafel, mengabaikan keberadaan Rafan yang masih bergeming di posisinya.
"Kenapa dia masih di sini?" gerutu Myra dalam hati. Ia melepas jasnya, menyisakan tanktop putih tanpa tali yang membungkus tubuhnya. Ia mulai membersihkan noda di jas dengan air.
"Apa dia datang karena acara ini? Jangan-jangan dia juga penulis? Sial!" umpatnya dalam hati.
"Apa kamu sedang memikirkanku?" suara Rafan memecah keheningan.
Myra tersentak, menatap Rafan melalui cermin. Pria itu sedang bersandar di pembatas toilet dengan tangan terlipat di dada.
"Apa yang kamu lakukan di sini?!"
"Menemanimu."
"Menemani? Di toilet perempuan? Kamu gila?!"
"Aku tinggal bilang kalau salah masuk," sahut Rafan santai. Matanya mulai turun, menatap bahu polos Myra dan bagian dadanya yang kini hanya tertutup tanktop tipis.
"Hei! Ke mana matamu menatap!" bentak Myra, refleks menutupi dadanya dengan jas yang basah.
"Hm? Menatap apa?" Rafan memasang wajah polos yang menyebalkan.
"Pergi sekarang juga, Rafan!"
"Tidak mau."
Myra menggertakkan gigi. Kehabisan kesabaran, ia merangsek maju dan menarik lengan Rafan menuju pintu. Namun, Rafan justru memanfaatkan momentum itu. Ia menarik balik tubuh Myra hingga gadis itu jatuh ke dalam dekapannya.
"Kamu tahu... saat ini, aku benar-benar ingin menciummu," bisik Rafan parau. Tatapannya tertuju pada bibir Myra yang berwarna peach.
"Brengsek!"
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rafan. Pria itu merintih, namun tangannya masih mengunci pinggang Myra.
"Maaf... aku hanya... pagi tadi aku melihat sesuatu yang merusak pikiranku," gumam Rafan dengan suara rendah. "Aku tidak bisa berhenti membayangkan melumat bibirmu dan... meremas payudaramu."
Wajah Myra memucat karena jijik. "Kamu benar-benar pria brengsek! Lepaskan tanganku!"
"Maaf, aku tidak bermaksud---"
"Cukup!" Myra mengambil ancang-ancang. Dengan satu gerakan cepat, ia menghantamkan lututnya tepat ke selangkangan Rafan.
DUK!
"Argh---!" Rafan memekik tertahan. Ia langsung ambruk, meringkuk di lantai sambil memegangi bagian vitalnya yang terasa seolah ingin meledak.
"Rasakan!" maki Myra puas. "Semoga itu membuat otak mesummu sedikit lebih waras!"
Ia menyambar jasnya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. "Lebih baik aku mengeringkan baju di toilet pria daripada harus bersama pria menjijikkan sepertinya!"
"Tung---tunggu, Myra!" pekik Rafan. Ia berusaha menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuh bagian bawahnya.
Nyeri itu menjalar hebat, membuatnya terkulai tak berdaya. Jangankan mengejar punggung Myra yang baru saja menghilang di balik pintu, berdiri tegak pun ia kesulitan.
"Argh, sial! Ini semua gara-gara Andre dan teman-temannya. Sekarang Myra menganggapku sebagai pria brengsek!" geram Rafan. Ia mengapit kedua kakinya sambil mencari sandaran dinding.
Drt... Drt... Drt...
Getaran dari dalam saku celananya memecah kesunyian ruangan. Dengan napas memburu, Rafan merogoh ponselnya. Sebuah panggilan masuk terpampang di layar.
"Halo?" ucap Rafan sambil mengernyit menahan perih.
"Halo? Zhafi, kamu di mana?" suara seorang pria menyahut di seberang telepon.
Itu Pedro, seorang penulis sekaligus teman yang selama ini menjadi jembatan keberuntungannya di dunia literasi. Sengaja Rafan menggunakan nama belakangnya sebagai nama pena untuk menyamarkan identitas, sebuah praktik lumrah di kalangan penulis.
"Apa kamu sudah sampai?" tanya Pedro lagi.
"I-iya, sudah. Aku sudah di lokasi," sahut Rafan lirih, berusaha menyembunyikan suaranya yang bergetar.
"Kamu tidak apa-apa? Suaramu terdengar aneh."
"Jangan khawatir! Aku hanya sedang... ada urusan sebentar di kamar mandi. Aku akan segera ke sana," sanggahnya, berusaha terdengar meyakinkan.
"Baiklah. Cepat sedikit, gladi bersih dimulai lima menit lagi!"
"Hm, aku akan sampai tepat waktu." Rafan berdehem kecil sebelum memutus sambungan.
Ia menghela napas panjang dan memasukkan kembali ponselnya. Dengan sisa tenaga, ia memaksakan diri bangkit meski kakinya masih terasa lemas.
"Argh, apa kakinya terbuat dari kawat? Tendangannya keras sekali."