Seri pertama Cinta Tak Perna Salah mengangkat
Kisah Cinta antara Jeanne dan Jeremy yang berawal cinta itu tumbuh saat mereka usia remaja di sebuah asrama tentara. Kedua orang ini adalah anak tentara ini, Jeanne dan Jeremy sama - sama didik dalam tradisi dan kebiasaan orangtua mereka agar anak - anak ini kuat. Ketika mereka dewasa perpisah terjadi karena tugas dari orangtua mereka. Namun perasaan cinta itu sudah semakin tumbuh. Namun terhalang Karena keakraban orangtua, ditambah orangtua Jeremy menjadikan Jeanne seperti anak perempuan mereka.
Namun takdir berkata lain Jeremy Alexander Purba ditugaskan di Papua, tepatnya di kesatuan yang dulu ditumbuh dan dibesarkan. Dan mereka bertemu kembali setelah Jeanne sudah menjadi dokter, perasaan yang lama tersimpan, kembali bersemi.
Bagaimana kisah cinta Jeanne dan Jeremy ini???
Apakah salah Jeremy mencintai Jeanne yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Kedua
Semenjak vidio itu diketahui oleh Belva, Jean tidak perna bertemu dengannya karena jadwal kerja mereka berbeda. Satu kali Belva ke kosan Jean, untuk membuat perhitungan, namun dia tidak menjumpai Jean. Teman - teman kos katakan, Dokter Jean ada dirumah calon mertuanya.
Penyampaian orang - orang kos membuat darah Belva naik melonjak. Belva tahu bahwa yang dimaksud adalah orangtua Jemy. Malam ini Belva yang sudah tidak tahan ke rumah sakit, dia hendak membuat keributan, namun kembali dia sakit hati waktu melihat papinya Jemy bersama maminya menjemput calon mantunya. Karena sudah jam sembilan malam.
"Boru, sini." Mami Jemy menyambut Jean yang datang menghampiri mobil disana sudah ada papi, dan Joan. Belva kenal semua orang dan benda yang digunakan oleh Jemy.
Kembali Jean terbebas dari pertemuan dengan Belva secara tidak sengaja. Malam ini Jean akan bermalam dirumah Jemy. Tadi sebelum pulang mereka mampir di mini market membeli beberapa bahan makanan. Selesai makan malam bersama, Jean tidur di kamar Jemy. Tidak beberapa lama handphone Jean berdering.
"Selamat malam sayang."
"Abang sudah mulai pendidikan."
"Iya sayang. Abang senang loh lihat kamu di kamar ini."
"Aku tahu abang, ada pasang CCTV toh." Jemy tersenyum.
"Iya, biar kalau abang rindu."
"Dasar laki - laki napsuan."
"Hanya sama kamu sayang."
Sudah sebulan penuh Jean berdinas siang ke malam. Ada yang sore ke tengah malam. Pagi ini dia kembali ke jam dinas biasa. Waktu jam makan siang, dia melihat Belva datang menghampirinya. Jean tahu pasti Ima sudah banyak menjelaskan kepadanya.
"Kamu sama Jemy hubungannya apa?" Nada bicara Belva tidak ramah, namun sedang marah.
"Yang sudah kamu tahu."
"Aku mau tahu dari mulut kamu sendiri."
"Oke, aku sudah di lamar olehnya."
"Kenapa kamu tidak cerita."
"Itu privasi saya."
"Tetapi kamu tahukan aku dan Jemy perna pacaran."
"Sudah putus kan dan itu sudah lama."
Belva mau sok menguasai, namun dia tidak berpikir bahwa perempuan - perempuan dari timur campuran Batak ini mempunyai mental yang kuat. Belva salah orang jika mau beradu dengannya.
"Bel, dengar ya aku kenal Jemy lebih dahulu dari kamu. Dia teman masa kecil ku."
"Masa dari kecil kalian sudah pacaran."
"Bukan pacaran, semesta sudah menjodohkan kami. Kamu harus tahu bahwa tanggal bulan dan tahun lahir kami sama. Itu yang aku bilang bahwa kami dari lahir sudah berjodoh."
Ima yang melihat kedua temannya sedang ngotot- ngototan dia menghampiri mereka. Jean terlihat biasa saja. Namun berbeda deng Belva seperti orang kerupan.
"Ima aku mau mengakhiri persahabatan ini. Kamu pilih mana aku atau Jean." Ima menatap kearah Belva yang tetap mukanya seperti orang sedang perang, sedangkan Jean hanya tersenyum biasa saja.
"Pilih Ima???!!"
"Aku dan Jean dari dulu berteman. Kamu yang baru hadir dalam bertemanan kami ini. Sangat sayang sekali Bel, kamu sangat tidak bijaksana. Memaksakan kehendak yang bukan hak kamu."
Belva pergi meninggalkan Jean dan Ima dalam keadaan marah.
"Are you oke say."
"kenapa ya banyak orang kaya kurang dewasa."
"Biarlah itu urusannya. Dia yang datang kepada kita dia juga sendiri yang pergi."
Ternyata kehebohan bukan terjadi di kantin di poli gigi juga terjadi. Belva pulang meninggalkan pasien - pasiennya yang mau berobat. Pasien menuntut pihak rumah sakit. Karena tidak menghargai mereka yang sudah datang meluangkan waktu untuk berobat. Sayangnya dokter gigi senior sementara cuti. Akhirnya dokter umum yang bertugas di poli menemani perawat disana. Ima dan Jean hanya mengelengkan kepalanya.
Sementara itu Jemy sudah melalui latihan Pendidikan Komando berlangsung tujuh bulan, meliputi tahap hutan gunung, rawa laut, hingga long march. Latihan ini mencakup taktik pertempuran, survival, intelijen, dan menembak untuk menciptakan prajurit profesional. Dan pendidikan komando semua sudah dilalui, diakhiri dengan penyematan brevet komando dan baret merah di sebuah Pantai yang ada Cilacap. Masih akan ada pendidikan lanjutan adalah bertahan hidup dihutan dengan bahan makanan seadaanya dan merayap di lumpur dengan hujan peluru, serta bertarung tanpa menggunakan alat. Ini semua dilalui oleh Jeremy Alexander Purba dengan baik.
Sudah hampir empat bulan Jemy tidak menghubungi Jean. Malam ini mereka diberi kesempatan menghubungi orangtua dan orang terdekat mereka. Jean yang sedang dinas malam di rumah sakit begitu senang, menerima telephone dari kekasihnya. Dia masuk ke ruang istirahat dokter dan perawat.
"Sayang, kamu kurusan???"
"Pendidikan sayang. Maaf selama empat bulan tidak bisa hubungi kamu. Tidak bisa balas pesan kamu."
"Kamu sehatkan sayang??"
"Iya, hanya kurusan sedikit. Nanti keluar dari pendidikan ini abang akan kembali ke bodi semula."
"Kangen abang."
"Abang juga sayang, namun kita harus lalui ini. Kan anak tentara." Jean tersenyum.
"Sisa dua bulan lagi sayang."
"Iya."
"Banyak pasiennya???"
"Tidak terlalu banyak."
"Katanya mami, kamu juga sudah mau ujian ya??"
"Iya selesai ujian tesisku, abang di lantik. Aku bisa ikut mami, papi dan adek ke Bandung."
"Abang bahagia sekali."
"Besok, abang akan berangkat ke Australia untuk latihan bersama tentara disana, bagian dari pendidikan sayang. Sebulan lebih. Balik dari sana dilantik."
"Semangat abang, doaku selalu menemani kamu."
"Sudah sangat malam sayang, bobo. Abang akan temani kamu dari sini."
"Abang yang harus bobo."
"Tubuh abang sudah terbiasa dek. Karena ini bagian dari tugas Abang di pasukan khusus nanti."
"Abang bahagia bisa ada dalam korps itu?" Jean bertanya seperti itu, karena dia melihat banyak sekali perubahan dari pacarnya.
"Iya ini kerinduanku sayang waktu mau menjadi tentara."
Selama sekolah di Akademi militer, Jemy selalu menjadi yang terbaik, begitu juga di pendidikan ini. Selama tujuh bulan berpisah dengan Jemy karena tugasnya Jean tidak mau berbagi kesusahannya disini dengan pacarnya, karena tidak mau membuat dia pikiran. Jean selalu mendengar apa yang diceritakan Jemy.
Kesusahan Jean, dalam menghadapi tingkah tidak dewasa Belva, dia lalui bersama Ima sahabatnya yang adalah dokter spesialis anak. Ima yang selalu menemaninya. Bahkan ketika gosip yang dibuat Belva, bahwa Jean adalah pelakor di bantah oleh Ima. Dia yang menjelaskan kepada semua dokter yang ada di poli anak dan kandungan. Sehingga semua orang tidak lagi menuduh Jean sebagai pelakor atau orang ketika. Dan pada akhirnya gosip itu berakhir sendiri. Dengan Belva yang malu, karena dia yang menyebarkan gosip itu. Mami dan papi yang tahu Jean di gosipkan oleh Belva dari cerita Joan langsung marah. Sampai mami dengan di antar Joan bertemu dengan Belva, yang maminya kenal. Karena dia perna membawa diri untuk mengenal keluarga Jemy.
Jean di Jogja dia tidak merasa sendiri, dia sangat berterima kasih kepada papi dan mami juga Joan yang selalu menjaga dan melindunginya yang jauh dari orangtua. Begitu juga Ima sahabatnya yang tidak perna jauh darinya dan terus membelanya. Akibat keributan yang dibuat Belva, Jean sudah tidak di ijinkan ngekos lagi. Dia sudah pergi dan pulang dari rumah Jemy, bahkan mami dan papi sudah memperkenalkan dia sebagai calon anak mantunya.