Ning Moza yang mendapatkan biasiswa sampai ke jenjang atas dan semuanya terasa tiba tiba ketika Gus Alvaro hadir mengkhitbahnya dan menghalalkan dalam ikatan sakral. Dan masalah seketika menjadi ombak dalam iktan sakral, dengan hadir nya masa lalu keduanya. Gus Alvaro dan Ning Moza.
Bagaimanakah kisah tentang Ning Moza dan Gus Alvaro?!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
41 dan 42
Gus Alvaro
Sudah 2 hari aku tinggal di kediaman abah dan Umik, tapi ning Moza masih saja mendiamkan ku, ia enggan menatapku, enggan berbicara denganku, tapi semarah-marahnya ning Moza tetap melayani ku sebagai suaminya, tetap membuatkan ku secangkir kopi setiap pagi, menyiapkan pakaian ku, seperti layaknya seorang istri, namun tak pernah bertegur sapa. Aku selalu berusaha mengajak Ning Moza untuk mencairkan topik agar kita saling bertukar cerita,saling tertawa satu sama lain, namun itu semua tidak ada yang berhasil.
"Sayang" panggil ku pada Ning Moza
"Sayang" panggil ku lagi, karena Ning Moza tak menggubris ku sama sekali
Tangwayamas panggil ku lagi, entan sudan yang ke berapa kalinya
Ning Moza tidak menggubris ku sama sekali, Ning Moza fokus dengan laptop di depannya.
"Mas tahu, mas salah yang. Mas minta maaf " kataku dengan menatap ning Moza
"Yang mau kemana?" tanyaku ketika ning Moza yang keluar dari kamar.
Sekitar 15 menit akhirnya ning Moza masuk kamar dengan membawa secangkir kopi, lalu ia letakkan diatas meja depanku. Ning Moza mendudukkan tubuhnya tepat disofa depanku dengan menatapku tajam.
"Kenapa Yang?" tanyaku
"Apa tujuan Mas Varo datang kemari?" tanyanya Ning Moza tiba-tiba ketika aku tengah meneguk kopi yang telah ning Moza buatkan. Lalu kuletakkan secangkir kopi itu dan ku tatap lamat-lamat Ning Moza.
Aku masih diam dengan menatap Ning Moza, pasalnya baru kali ini Ning Moza berbicara dengan ku,
"Mas, aku harap mas nggak perlu pura-pura tidak dengar ketusnya Ning Moza membuatku tersenyum
"Ngapain senyum-senyum?" tak sukanya Ning Moza membuatku justru tetap menatapnya dengan senyuman
"Aku serius mas,!" geramnya Ning Moza
"Ehh.iya sayang maaf-maaf kataku
"Apa tujuan Mas datang kemari?" tanyanya Ning Moza
"Tujuan Mas datang kemari karena mas merindukan bidadari mas yang telah Allah kirimkan untuk mas, dan untuk menyempurnakan separuh agama mas"jawabku membuat Ning Moza menatap ku tajam
"nggak lucu katanya Ning Moza lalu bangkit dari duduknya
"Ehhh, yangg.mau kemana? " cegahku ketika Ning Moza akan keluar kamar
"Minggir!" kata Ning Moza dengan menggeser kan tubuhnya untuk mencari jalan
Aku tetap menghadang jalan Ning Moza dengan berdiri didepan ambang pintu.
"Minggir nggak?! "
"Nggak mau" kataku dengan tersenyum
"Minggir!! " kukuhnya Ning Moza dengan tetap berusaha untuk mencari jalan
"Kalo nggak mau? "kataku dengan tersenyum
"Minggir!!!" kata Ning v Moza dengn mencubit perut ku dengan keras, ya walaupun tidak terasa untukku
"Ehhh."
"Makanya minggir"
"Kan nggak mau, maksa banget kayanya"
"Terserah" pasrah nya Ning Moza dengn kembali duduk disofa.
*****
"Dek" panggilnya mbak Zahra dari ambang pintu
"Wonten nopo mbak? " kata Ning Moza
"Kamu dipadosi abah" kata mbak Zahra
"Moza? Ada apa mbak? Moza nggak buat salah kan?"
"Ya mbak sih nggak tau, udah cepet sana"
"Iya-iya "
"Ya sudah mbak kebawah dulu" pamitnya mbak Zahra
"Iya mbak, matursuwun sampun di sanjangi" kataku
"Ok" kata mbak Zahra dengan tersenyum
"Yang.udah cepet, mau mas anter?" tawarku
"Nggak usah" ketusnya
"Semangat ya sayanggg" kataku dengan tersenyum
_____________________________________________
Ning Moza
Sebegitu kah Mas varo melupakan kesalahannya, tanpa menjelaskan semuanya. Seandainya aku mampu menolak pernikahanku dan menolak gejolak rasa yang tiba-tiba menghiasi hatiku, sudah pasti aku tidak akan menerima perjodohan yang pada ujung nya akan membuat 2 insan terluka, bukan! Bukan 2 insan melainkan satu insan, yaitu aku. Ya aku adalah insan yang terluka dengan pernikahan yang bermula dari perjodohan.
Dan seandainya aku bisa meyakinkan Abah dan Umik kalau aku masih ingin meneruskan pendidikan ku S-3, mungkin semua ini tidak akan terjadi, pasti aku tidak akan merasakan betapa sakitnya ketika orang yang tiba-tiba datang dalam hidupku dan mengubah semuanya, jujur Mas Varo berhasil membuatku nyaman, dan Mas Varo mampu membuatku perlahan mencintainya, dan satu Mas Varo berhasil menorehkan luka.
"Sayang" panggilnya Mas Varo membuatku menoleh kearahnya
Namun aku sama sekali tak menggubris nya aku hanya menatapnya sekilas setelah itu ku alihkan pandangan ku, karena aku takut aku akan luluh olehnya, oleh tatapannya, oleh senyum nya.
"Sayang" panggilnya lagi kaki ini dengan berdiri didepanku, aku hanya menatap nya sebentar dan ku tundukkan pandanganku
"Mas minta maaf, " Kata-kata yang selalu kudengar, namun kali ini berbeda dengan suaranya yang pelan
"Sayang.kalo marah, marah aja yang, justru dengan kamu diam Mas merasa sangat bersalah, kamu mau tampar, pukul mas, mas terima Yang. Tapi jangan diem yaa"kata Mas Varo dengan menatapku sendu
" selagi kamu bisa marah, marah aja yank. Nggak perlu nahan marah kamu. Itu akan membuat kamu justru menjadi membenci, bukan malah kamu merasa tenang atau kamu bisa puas. Nggak, itu salah besar"kata mas Varo dengan menatapku, aku tak berani menatap mas Varo, bendungan air sudah muncul di mataku, sekali kukedipkan mataku air mata itu akan jatuh membasahi pipiku,
" jangan sampai menitikkan air mata kamu Moza"batinku
"Sayangg.jangan diam. Marah kalo kamu mau marah! Mas siap, mas siap kalo kamu marah, dari pada kamu harus diam dengan seribu kata yang kamu tahan agar tidak terucapkan!! "marahnya mas Varo membuatku tertegun
"Kali ini mas nggak suka kamu yang diam, nggak suka kamu yang nggak pernah menatap mas tajam, nggak suka dengan sikap kamu yang pura-pura kuat!!" bentaknya mas Varo membuatku memundurkan langkahku, Tiba-tiba air mata yang sudah ku tahan agar tidak keluar dengan tanpa seungkannya lolos keluar, dengan kuat ku gigit bibirku agar isak tangisku tak terdengar oleh mas Varo
"Jangan anggap hanya kamu yang tersakiti yank. Mas pun juga, apalagi melihat kamu yang seolah-olah kamu baik-baik saja!! Itu justru membuat mas nggak pantas menjadi suami buat kamu!! " bentakan yang membuatku benar-benar tak berani menatapnya.
"Kamu tahuu!!. Mas berusaha keras agar buat kamu tidak merasakan kecewa, tapi usaha mas sia-sia. Semuanya sama saja, karena kamu nggak pernah terbuka dengan mas!! Kamu selalu memendam nya sendiri!! "
"Dan kamu tahu ketika itu kamu mencintai Gus Naufal, betapa kacau nya Mas?!. Dan lebih hancur lagi, Kala itu ketika kamu tidak menerima mas, kamu sempat menolak perjodohan, kamu menghindari mas, karena rasa acinta kamu ke Gus Nauva!!l." bentaknya mas Varo membuatku memberanikan diri untuk menatap nya, tatapan tajam mas Varo yang baru pertama kali ini aku melihatnya.
"Dan mas menyesal?! Telah menikah i seorang perempuan yang tidak mencintai suaminy sendiri, tapi malah mencintai laki-laki lain. Iya?! Mas menyesal telah menikah i aku?! " marahku ketika mas Varo membawa-bawa Nauval.
"Kalo mas memang menyesal telah menikah i aku, ceraikan aku sekarang mas! Ceraikan aku!! "
"Sekarang betapa hancurnya aku di kala aku telah membuka hati untuk orang yang baru masuk dalam kehidupan ku, tapi dengan gampang nya ia menorehkan luka, ketika aku sudah berhasil membuka hati!? Bagaimana dengan aku!!? Bagaimana?! " marahku dengn air mata yang semakin mengalir deras
Mas Varo membawa ku dalam dekapannya, ja memelukku erat seakan-akan takut kalau aku akan pergi.
Benteng yang selama ini aku bangun roboh seketika, kala mas Varo memelukku.
"Mas minta maaf Yankk. Mas minta maaf. " kata mas Varo dengan pelan
Namun tiba-tiba tubuh mas Varo terasa lemas, karena berat badannya yang tak sebanding dengan ku membuatku oleng.
"Mas"
"Mas Varo" panggil ku dengan menuntun mas Varo keatas ranjang. Tiba-tiba mas Varo tak sadarkan diri. Tubuhnya yang tiba-tiba panas membuatku panik. Dengan cepat ku telepon Bang Syafiq untuk membantu ku membawa Mas Varo ke rumah sakit.