NovelToon NovelToon
The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

Status: tamat
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action / Tamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.

Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.

Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.

Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 TANTANGAN KE TANAH KELAHIRAN

Malam itu, langit di atas Yinye Cun terlihat lebih gelap dari biasanya. Tidak ada bintang yang bersinar, seolah alam semesta pun menahan napas menyaksikan apa yang akan terjadi. Angin malam bertiup menusuk tulang, membawa aroma debu dan darah kering yang masih tersisa di udara.

Di dalam gua tersembunyi yang menjadi markas sementara mereka, suasana hening namun sarat dengan ketegangan yang nyaris bisa dipotong. Peta yang diberikan Ye Xiang terbentang luas di atas batu datar yang licin. Mata Fengyin menyapu setiap garis, setiap tanda merah yang menandai posisi Meriam Roh-Jiwa dan formasi pasukan musuh.

Jari telunjuknya menelusuri jalur masuk menuju inti markas.

"Mereka pikir kita adalah tikus yang lari ketakutan setelah semalam," gumam Fengyin pelan, suaranya rendah namun menggema di ruang sempit itu. "Mereka pikir kita akan terus bermain kucing dan tikus, menyerang lalu menghilang. Mereka salah besar."

"Fengyin," suara lembut namun tegas memecah keheningan. Itu Lin Yuelan.

Gadis itu berdiri tepat di samping pemuda itu, bayangan tubuhnya menyatu dengan Fengyin di bawah cahaya api unggun yang berkedip-kedip. Tangan kanannya tak sengaja menyentuh lengan Fengyin, memberikan kehangatan di tengah udara yang dingin. Ada kekhawatiran yang mendalam di matanya, namun juga keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Kau benar-benar yakin ingin menyerang malam ini? Pertahanan mereka pasti diperketat berkali-kali lipat setelah insiden semalam. Hei Yao pasti sudah gila karena malu. Jika kita masuk sekarang, itu sama saja berjalan langsung ke mulut harimau."

Fengyin menoleh, menatap mata indah itu dalam-dalam. Sepuluh tahun berlalu, wajah Yuelan kini semakin matang dan cantik, namun ketegasan di sorot matanya tidak pernah berubah. Senyum tipis terukir di bibir Fengyin, senyum yang kini terasa lebih hangat namun juga lebih tajam dari bilah pedang.

"Justru karena itulah kita harus menyerang sekarang, Yuelan," jawab Fengyin pelan. "Psikologi tempur. Mereka pikir kita akan takut dan bersembunyi lebih lama lagi. Mereka pikir kita masih kelompok pemberontak kecil yang takut mati. Mereka tidak akan pernah menyangka bahwa kita akan langsung menggigit leher mereka saat mereka masih sibuk merawat lupa harga diri."

Dia menepuk tangan Yuelan perlahan.

"Kita sudah berjalan bersama selama sepuluh tahun. Kita melihat penderitaan rakyat di setiap sudut Huanjiang. Kita melihat bagaimana tirani itu merenggut segalanya. Jika bukan kita yang berhenti di sini dan memutus rantainya, siapa lagi? Anak cucu kita nanti?"

Yuelan mengangguk perlahan, menelan ludah. Dia tahu betul tekad sahabatnya itu. Sepuluh tahun perjalanan mengubah bocah lelaki yang dulu penuh dendam dan air mata menjadi sosok yang kini memikul beban dunia di pundaknya dengan tegak.

"Baiklah. Terserah kau saja. Aku akan mengikutimu sampai akhir, bahkan sampai ke gerbang neraka sekalipun," bisik Yuelan dengan penuh keyakinan.

"Bagus. Siapkan pasukan. Kita bergerak secepat bayangan..."

Belum sempat Fengyin menyelesaikan kalimatnya dan memberi aba-aba kepada para murid Cānglóng Pài yang lain, tiba-tiba udara di sekitar mereka bergetar hebat.

Bzzzzzt!

Bukan gempa bumi, tapi getaran energi yang begitu padat, berat, dan menekan. Tekanan itu begitu kuat hingga membuat nyala api unggun tiba-tiba meredup, bahkan membuat paru-paru semua orang di sana terasa sesak, seolah ada gunung yang menindang dada mereka.

Wushhh!

Suara desingan memecah keheningan malam dengan kecepatan yang tak terlihat mata.

DUNG!

Sebuah benda kecil melesat masuk menembus mulut gua, lalu menancap dengan keras dan kokoh tepat di tengah peta yang mereka lihat. Tanah batu di bawahnya bahkan retak akibat kekuatan hantaman itu.

Semua orang terkejut dan mundur selangkah.

Itu adalah sebuah panah hitam pekat, namun bukan panah biasa. Batangnya terbuat dari logam misterius yang tampak menghisap cahaya, dan ujungnya bukan besi tajam, melainkan sebuah kristal ungu yang bercahaya redup dengan aura yang mengerikan. Di batang panah itu, terikat gulungan kain sutra berwarna emas yang berkilau mewah.

Seluruh murid Cānglóng Pài langsung mencabut senjata mereka serentak. Suara pedang terlepas dari sarungnya bergema bersahutan. Wajah mereka penuh kewaspadaan. Aura yang dipancarkan panah itu begitu dingin, sombong, dan penuh keangkuhan seorang penguasa mutlak.

"Jangan bergerak sembarangan!" seru salah satu senior. "Itu energi Kaisar! Jangan sentuh sembarangan!"

Fengyin mengangkat tangan, memberi isyarat agar yang lain tenang. Dia melangkah maju selangkah demi selangkah, menatap panah itu dengan tatapan tajam. Dia bisa merasakannya. Aura itu... sangat familiar namun kini jauh lebih mengerikan daripada sepuluh tahun lalu.

Dengan gerakan lambat namun pasti, Fengyin mengulurkan tangan. Energi Angin berputar pelan di sekitar telapak tangannya, melindungi dirinya dari sisa energi jahat yang ada pada panah itu, lalu dia menarik gulungan sutra itu.

Tidak ada ledakan, tidak ada racun, hanya sebuah pesan.

Dia membuka gulungan itu perlahan. Tulisan di dalamnya bukan menggunakan tinta biasa, melainkan terbentuk dari energi tipis yang berkilauan keemasan, seolah hidup dan terus bergerak.

[Untuk Chen Fengyin, Pewaris Angin Semesta,]

Kau tikus yang pandai bersembunyi di dalam lubang. Kau suka bermain petak umpet dan menikam dari balik bayangan? Sungguh memalukan bagi seorang yang mengaku sebagai Tiānzé Zhě.

Kau pikir kau pintar menghancurkan pasukanku sedikit demi sedikit? Kau pikir benda-benda itu adalah rahasia besar? Aku tahu segalanya. Aku tahu apa yang kau rencanakan malam ini.

Kau ingin menghancurkan "mainan"-ku? Silakan coba. Tapi jika kau benar-benar memiliki nyali dan dianggap diri sebagai pahlawan, datanglah padaku secara langsung. Hadapi aku, bukan melawan prajurit rendahan.

Tiga hari lagi. Di puncak Shenying Shan, Gunung Roh Cemara. Di sana, tepat di atas puing-puing Kampung Awan Kasih yang kau banggakan itu, kita akan memutuskan nasib dunia ini. Di sana, aku akan menunjukkan padamu apa artinya kekuatan sejati.

Jangan membuatku menunggu terlalu lama. Jangan membuatku harus turun tangan sendiri memburu tikus sepertimu. Jika kau tidak datang... aku akan menghancurkan setiap desa yang kau singgahi satu per satu, sampai kau keluar juga dari lubukmu yang dalam.

Jangan mengecewakanku, bocah.

-- Di Xuancheng --

Begitu kalimat terakhir dibaca, tulisan itu terbakar sendiri dan lenyap menjadi abu energi, meninggalkan rasa panas yang membakar retina dan dada setiap orang yang membacanya.

Suasana di dalam gua menjadi membeku total.

Kaisar Xuancheng sendiri yang mengirim tantangan? Dan dia tahu segalanya? Bahkan rencana mereka malam ini? Itu berarti jangkauan kekuatannya sudah sampai ke sini, bahkan mungkin dia bisa melihat atau mendengar apa yang mereka lakukan dari jauh.

"Jangan diterima, Fengyin!" seru salah satu senior dengan wajah memerah karena emosi. "Itu pasti jebakan! Dia memancingmu keluar agar kau meninggalkan keuntungan posisi! Dia ingin membunuhmu di tempat terbuka agar semua harapan rakyat hancur!"

"Itu bukan sekadar jebakan, Senior," kata Fengyin perlahan. Suaranya tenang, namun ada getaran amarah yang tertahan di dalamnya. Ia meremas tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia ingin pertarungan kehormatan. Dia ingin menghancurkanku di tempat yang paling bersejarah bagiku. Dia ingin membuktikan bahwa di tanah di mana aku lahir dan tumbuh, dia lah yang berkuasa mutlak."

"Tapi kau tidak harus menuruti kemauan orang gila itu..." desis Yuelan, tangannya mencengkeram lengan Fengyin lebih erat. Matanya berkaca-kaca membayangkan bahaya yang mengancam kekasihnya. "Kita bisa terus menyerang pasukannya, kita bisa menghancurkan senjata itu perlahan-lahan. Kita tidak perlu bertarung dengan cara dia yang mau!"

Fengyin menoleh perlahan, menatap teman-temannya satu per satu. Dia melihat kekhawatiran di mata mereka, melihat kesetiaan yang teruji waktu. Lalu dia tersenyum, kali ini senyum yang penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Kalian lupa? Selama sepuluh tahun ini kita berlatih, kita mencari kekuatan, kita menyatukan aliansi... untuk apa?" katanya lembut namun tegas. "Bukankah untuk hari ini? Bukankah tujuannya adalah untuk mengakhiri ini semua?"

"Jika aku lari dari tantangan ini, jika aku bersembunyi seperti pengecut... maka aku bukanlah Chen Fengyin yang kalian kenal. Dan jika aku tidak mengalahkan dia di sana, di tempat di mana segalanya bermula... maka tidak akan ada kedamaian yang abadi. Dia akan terus mengejar kita sampai mati."

Dia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menatap kegelapan malam di luar gua. Matanya memancarkan cahaya yang menyala terang, bagaikan bintang penuntun.

"Kaisar Tua... Kau ingin bermain di tanah kelahiranku? Kau ingin menghancurkan kenanganku? Kau ingin menjadikan tempat itu sebagai kuburanku?"

Suara Fengyin merendah, namun setiap kata yang keluar membawa aura yang membuat udara di sekitarnya berputar pelan, membentuk angin putar kecil.

"Baiklah. Aku akan datang. Aku akan datang membawa angin pembawa keadilan, dan air yang akan memadamkan keserakahanmu selamanya. Aku tidak akan datang untuk membunuhmu sebagai musuh... aku datang untuk menghukummu sebagai penjahat!"

"Yuelan," panggilnya tegas.

"Aku di sini!" jawab gadis itu sigap, matanya kembali menyala penuh semangat.

"Kirim pesan burung kepada Master Wei Chenghao dan seluruh pemimpin aliansi di berbagai penjuru. Suruh mereka mengerahkan seluruh kekuatan yang mereka miliki. Berkumpul di kaki Shenying Shan dalam waktu tiga hari!"

"Lalu rencana menghancurkan meriam malam ini, Bagaimana?" tanya salah satu murid.

"Dibatalkan," potong Fengyin tegas. "Kita tidak akan membuang tenaga untuk kaki tangan. Kita simpan semua kekuatan kita untuk pertarungan terakhir."

Fengyin melangkah keluar dari gua, angin malam menerpa wajahnya dan menerbangkan jubahnya. Di kejauhan, di bawah langit yang gelap, puncak Gunung Roh Cemara tampak berdiri gagah dan misterius.

Gunung itu menyaksikan kelahirannya, menyaksikan kehancuran desanya, dan sekarang... gunung itu akan menyaksikan akhir dari segalanya.

"Waktunya telah tiba, kawan-kawanku," seru Fengyin agar semua bisa mendengar. "Pertarungan terakhir untuk menyatukan segala elemen... dimulai sekarang. Kita berangkat!"

Langit seolah bergemuruh menjawab seruannya. Perjalanan menuju takdir telah dimulai, dan tidak ada jalan untuk mundur. Hanya ada kemenangan... atau kematian abadi.

[ Bersambung... ]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!