NovelToon NovelToon
Rahim Yang Terbelenggu DENDAM

Rahim Yang Terbelenggu DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Bad Boy
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nufierose

“Capek tidak, Sayang? Aku masih mau sekali lagi.”
“Kamu kuat sekali, Mas,” jawab istrinya sambil tersenyum lelah.
Tama tertawa pelan dan mencium pipi wanita itu dengan penuh kasih. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya pelan,
“Sudah diminum pilnya?”
Senyum sang istri perlahan memudar.
“Harus terus, Mas? Aku lelah minum pil KB…”
Tama terdiam sejenak sebelum mengelus rambutnya lembut.
“Turuti saja, Sayang. Ini demi kebaikan kita.”
Istrinya tidak pernah benar-benar mengerti mengapa Tama selalu menolak memiliki anak.
Malam kembali hening saat Tama memeluknya dari belakang. bayangan masa lalu itu kembali datang.
Sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku takut kamu meninggalkanku jika tahu siapa aku sebenarnya,” bisiknya dalam hati.
Karena jauh di masa lalu, Tama pernah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Dan jika kebenaran itu terungkap…
yang hancur bukan hanya rahasianya.
Tetapi juga pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NIKAHI AKU DULU !

BAB 31

Sementara itu, di area yang sedikit terpisah, Argo dan Gani berdiri mengitari sebuah meja lipat berisi denah rumah dan tablet yang menampilkan rekaman CCTV. Tak lama, Selin dan Gery bergabung. Wajah mereka semua tampak tegang,mereka tahu Kevin tidak akan berhenti sampai di sini.

"Penjagaan luar jebol karena mereka menggunakan pengalih perhatian asap. Aku butuh dua orang tambahan untuk berjaga di atap. Kita tidak bisa hanya mengandalkan gerbang depan."Argo dengan berani memberikan arahan, Gani menyetujuinya.

"Aku sudah memperkuat firewall sistem keamanan rumah. Kalau ada perangkat elektronik asing mendekat dalam radius 50 meter, alarm di ponsel kita semua akan berbunyi. Tapi masalahnya bukan cuma teknologi, tapi nekatnya orang-orang Kevin."Gani ikut menimpali.

Selin tak tinggal diam, dia menatap Satu persatu Rekannya Sambil menyilangkan tangan di dada.

"Kevin itu pengecut. Dia tidak akan turun tangan sendiri kecuali dia merasa sudah menang total. Yang tadi itu cuma 'anjing pelacaknya'. Gery, bagaimana dengan jalur hukum?"

Gery menghela nafasnya.

 "Bukti dari Swiss sudah masuk ke interpol, tapi Kevin punya jaringan di sini yang cukup licin. Aku sudah menghubungi beberapa koneksi di kepolisian untuk mempercepat surat penangkapan. Tapi jujur saja, dalam kondisi Alisya yang seperti ini, Tama tidak akan mau menunggu prosedur hukum yang lambat."

Keempat sahabat itu terdiam sejenak. Mereka menatap ke arah ruang tengah, di mana Tama masih berlutut memeluk Alisya. Pemandangan itu menyadarkan mereka bahwa yang mereka jaga bukan sekadar "bos" atau "rekan kerja", melainkan sebuah keluarga yang sedang dihancurkan secara sistematis.

"Kita bagi tugas," ucap Selin dengan nada dingin khasnya.

"Gery, kamu tetap di sini bersama Argo. Jaga Alisya dan Tama dari dalam. Aku dan Gani akan keluar. Kami akan menyisir lokasi terakhir yang terlacak di pelabuhan. Kita harus memotong kepala ular itu sebelum dia mematuk lagi."

Gery memegang tangan Selin sejenak, tatapannya penuh kekhawatiran namun juga kepercayaan.

"Hati-hati, Lin. Kevin mungkin punya kejutan lain di sana."

Selin hanya memberikan senyum tipis yang mematikan.

"Dia yang harus hati-hati. Dia baru saja membuat sahabatku menangis. Itu kesalahan fatal."

Tidak! kali ini Selin justru sangat menghawatirkan Alisya yang sudah dia anggap menjadi sahabatnya.

Di tengah ketegangan yang menyelimuti rumah besar itu, ruang kerja Selin menjadi satu-satunya sudut yang menawarkan sedikit keheningan. Selin menuangkan air ke gelasnya, napasnya masih sedikit memburu karena sisa adrenalin tadi.

Namun, sebelum gelas itu menyentuh bibirnya, sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang.

BUGH!

Insting bertarung Selin yang sudah terlatih bereaksi lebih cepat dari logikanya. Siku tajamnya menghantam telak ulu hati pria di belakangnya.

"Ugh... Shhh... Astaga, Lin..." rintih Gery sambil terhuyung mundur, memegangi perutnya yang terasa seperti dihantam palu godam.

Selin membalikkan badan dengan posisi waspada, namun matanya langsung melebar saat melihat Gery yang meringis kesakitan.

"Gery?! Ya ampun, aku tidak tahu itu kamu! Lagian kenapa pakai acara peluk-peluk dari belakang di situasi begini?"

"Ini aku, Sayang... astaga, tega sekali. Kamu mau membuat calon suamimu ini masuk rumah sakit?" ucap Gery sambil mengatur napas.

Selin langsung merasa bersalah. Ia meletakkan gelasnya dan menghambur ke pelukan Gery, mengusap dada pria itu lembut.

"Maaf, maafkan aku. Aku masih tegang karena penyusup tadi. Aku pikir mereka masih ada yang bersembunyi."

Gery membalas pelukan itu dengan erat, menenggelamkan wajahnya di leher Selin. Di tengah suasana mencekam ini, aroma parfum Selin adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa tetap waras. Ia sangat merindukan gadis ini.

"Lin..." bisik Gery, suaranya berubah rendah dan serius.

“hhmm”

"Malam ini... bermalamlah denganku. Aku tidak mau kamu jauh-jauh dariku setelah apa yang terjadi tadi. Aku cemas setengah mati kalau kamu di apartemen sendirian."

Selin terdiam sejenak, lalu perlahan ia melepaskan pelukan itu. Ia menatap mata Gery dengan tatapan yang sulit diartikan, dingin tapi penuh prinsip.

"Tidak, Gery," jawab Selin tegas, hampir tanpa ragu.

"Kenapa? Aku cuma ingin menjagamu, Lin. Situasi ini bahaya," bujuk Gery lagi.

Selin merapikan kerah kemeja Gery dengan gerakan elegan, lalu berkata dengan nada yang sangat serius,

"Nikahi aku dulu, baru kamu boleh bermalam denganku. Aku bukan wanita yang bisa kamu jaga hanya di atas ranjang tanpa ikatan, Ger."

Gery membulatkan matanya. Ia tertegun, seolah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu menghilang. Ia tahu Selin adalah wanita yang berprinsip, tapi mendengar kata "Nikahi aku" keluar dari mulut gadis sedingin es itu membuatnya merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat.

"Lin... kamu... kamu baru saja memintaku melamarmu?" tanya Gery dengan nada tak percaya, namun ada binar bahagia yang tak bisa disembunyikan.

Selin memutar bola matanya, meski pipinya sedikit merona.

"Anggap saja itu syarat mutlak jika kamu ingin aku selalu ada di sisimu 24 jam. Sekarang, kembali ke posmu. Argo butuh bantuanmu di luar."

Gery tersenyum lebar, rasa sakit di perutnya tadi mendadak hilang. Ia mencuri satu ciuman singkat di kening Selin sebelum melangkah keluar.

"Tunggu saja, Lin. Setelah urusan Kevin selesai, aku akan membawakanmu cincin yang paling mahal di Jakarta!"

----

Sementara itu, di dalam kamar yang sunyi, Alisya sudah mulai tenang dalam dekapan Tama. Namun, ia tidak tahu bahwa di lantai bawah, sahabat-sahabat mereka sedang mempersiapkan rencana besar, baik untuk menghadapi musuh, maupun untuk masa depan mereka sendiri.

Gery keluar dari ruangan Selin dengan langkah tegap dan senyum yang sulit disembunyikan, meski situasi di luar masih genting. Kata-kata Selin tadi seperti bahan bakar baru baginya. Jika menghadapi ratusan penyusup adalah syarat untuk meminang Selin, Gery merasa sanggup melakukannya malam ini juga.

Gery menghampiri Argo yang sedang memeriksa ulang magasin senjatanya di teras belakang.

"Go, jaga di sini sebentar. Aku harus menghubungi seseorang," ucap Gery dengan nada serius yang dibuat-buat.

Argo menoleh heran.

"Ini jam satu malam, Mas Ger. Kamu mau menghubungi polisi lagi?"

"Lebih penting dari polisi. Aku mau menghubungi toko perhiasan langganan ibuku," jawab Gery santai sambil melangkah menjauh, meninggalkan Argo yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat bosnyayang satu ini.

Di pojok taman yang gelap, Gery mengeluarkan ponselnya. Ia tidak benar-benar menelepon toko perhiasan yang tutup, melainkan mencari referensi cincin berlian melalui jaringan pribadinya. "Nikahi aku dulu..." kata-kata Selin terus terngiang. Gery bersumpah, setelah badai Kevin ini berlalu, ia tidak akan membiarkan Selin lepas lagi.

---

Keesokan harinya, Tama memutuskan untuk tetap pergi ke kantor. Ia tahu Kevin ingin ia bersembunyi ketakutan di rumah, dan Tama tidak akan memberikan kepuasan itu. Ia berangkat dengan pengawalan ketat dari tim Gani, sementara Argo tetap tinggal di rumah bersama Alisya.

Namun, saat mobil Tama memasuki lobi gedung kantornya, kerumunan orang sudah berkumpul di depan pintu utama. Beberapa staf terlihat pucat, bahkan ada yang muntah di pinggir jalan.

Tama turun dari mobil dengan langkah cepat. Selin, yang sudah sampai lebih dulu, berdiri di depan sebuah objek besar yang ditutupi kain hitam.

"Jangan lihat, Tam," cegat Selin, wajahnya terlihat sangat marah.

Tama tidak peduli. Ia menyibak kain hitam itu dengan kasar. Di sana, tepat di depan pintu masuk kantornya, terdapat sebuah patung manekin yang dipakaikan baju bayi berwarna putih, namun seluruh tubuh manekin itu telah disiram cat merah kental menyerupai darah.

Di leher manekin itu, tergantung sebuah jam tangan putih yang pecah kacanya, jam tangan yang sama dengan yang ada di foto kemarin. Dan di bawahnya, tertulis pesan besar dengan cat yang masih basah:

"SELAMAT DATANG KEMBALI, SANG PEMBUNUH. SATU NYAWA BAYI BELUM CUKUP UNTUK MEMBAYAR DOSAMU."

 Seluruh staffkantor membeku melihat reaksi Tama. Tama tidak berteriak. Ia justru terdiam, namun aura di sekitarnya terasa begitu mematikan hingga orang-orang di dekatnya merasa sulit bernapas.

"Gani," panggil Tama, suaranya sangat rendah dan tenang, jenis tenang yang menandakan badai besar akan datang.

"Ya, Bos?"

"Lacak siapa yang mengantar benda ini. Cek semua CCTV radius 1 kilometer. saya tidak mau tahu, sebelum matahari terbenam, saya ingin tahu di mana koordinat Kevin berada."Berbisik namun mencengkam, Gani yang paham langsung mengangguk.

Tama berbalik, menatap Selin.

"Lin, bawa barang ini dan hancurkan. Jangan sampai ada satu foto pun yang tersebar ke media, dan yang paling penting... jangan sampai Alisya tahu tentang ini."

Selin mengangguk tegas. Namun, ponsel Tama tiba-tiba bergetar. Sebuah panggilan video dari nomor tidak dikenal. Tama mengangkatnya.

Di layar ponsel, terlihat wajah Kevin yang tertawa kecil. Ia berada di sebuah tempat yang tampak seperti gudang di pelabuhan.

"Gimana hadiah paginya, Kak? Suka? Itu baru pembukaan. Kamu pikir Alisya sudah aman karena ada Argo? Coba cek CCTV kamarmu sekarang, Kakakku sayang."

Jantung Tama mencelos. Ia langsung membuka aplikasi CCTV rumahnya. Di sana, ia melihat Alisya sedang duduk di balkon kamarnya, namun ada sebuah titik merah kecil (laser pemembak) yang bergerak-gerak di dahi istrinya.

“Brengsek kau Kevin, Aku berjanji akan secepat mungkin membunuhmu.”

____

1
R⁸
aaahhh kaaannn.. mesti deh c alisya terpengaruh 😒
Ipus
mau komen kaya gimana ya Thor,,?🤔satu kata az lah, kerennnn😊.
R⁸
aq knp ya, klo baca part tama selin.. suka dagdigdug serrr.. suudzhon aja klo mereka ada something 🤭🤣🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
R⁸: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
R⁸
mending tama alisya bicara dari hati ke hati dulu deh, tama harus jujur sama alisya, ttg semua nya.. n yakin, alisya ga bakal ninggalin tama, klo emang cinta mereka kuat fondasi nya
Yeni Suprianti Laba'a
terima kasih thor ceritanya bagus lanjut jgn lama2 up-nya
Yeni Suprianti Laba'a
lanjut thor
Nufie: siap kakak.. jangan lupa follow author yaaa😍
total 1 replies
Yeni Suprianti Laba'a
ceritanya bagus thor tp updatenya lama sekali
Amelia Kesya
jgn lama" update nya thor aku semakin cinta karyamu ni
Amelia Kesya
semakin menarik.🥰🥰
Amelia Kesya
aaaaah semakin suka dgn ceritanya,jgn lama"donk thor upnya🙏
Nufie: siap kakak.. jangan lupa follow authornya yaaa😍
total 1 replies
Amelia Kesya
lama kali updatenya thor,,,,,kenapa?bolak balik ditunggu" nggak muncul".
Rekana
ceritanya keren. banyak rahasia yang belum terungkap bikin penasaran..
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut

love banget pokonya 😗 😗
Rekana
jangan lama² up nya kak.. ceritanya bagus banget.. seru
Ipus
terimakasih Thor ceritanya bagus,menarik. lanjut,,,,
Amelia Kesya: oke KK tp kenapa update nya lama kali.
total 2 replies
Amelia Kesya
masih ngikutin alur
R⁸
banyak bgt al nya, bayu ngobrol dgn selin, panggil al, gani dgn selin al lagi.. tokoh baru nongol al lagi😓
Nufie: maaf kak.. nanti di revisi
total 1 replies
Rekana
aduh siapa lagi itu..
antagonis mulai keluar nih kayanya
Rekana
tempramental banget si tama yaa... keras di luar lembut di dalam 😍
Rekana
duh tam.. meleleh akyuuuu😍
Rekana
takut banget tiba² si selin jahat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!