NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayi-Bayiku Harus Bertahan

Ada luka yang datang karena dibenci.

Tapi ada luka yang jauh lebih menyakitkan.

Yaitu saat kita sadar bahwa orang yang paling kita cintai ternyata tidak pernah benar-benar memihak kita.

Malam itu, Nandin tidak bisa tidur.

Pesan yang ia kirim kepada Wisnu sejak sore masih belum mendapat balasan.

Padahal status WhatsApp lelaki itu berkali-kali terlihat online.

Online.

Menghilang.

Online lagi.

Menghilang lagi.

Tapi tak satu kata pun dikirim untuk menjawab pertanyaan istrinya.

Pertanyaan yang sebenarnya sederhana.

Kenapa uang dikirim ke ibunya, sementara istri dan anak-anaknya dibiarkan bertahan hidup sendiri?

Jam menunjukkan pukul sebelas malam saat ponsel Nandin akhirnya berdering.

Nama Wisnu muncul di layar.

Jantung Nandin langsung berdegup keras.

Tangannya gemetar saat menerima panggilan itu.

"Halo, Mas."

Tak ada sapaan.

Tak ada pertanyaan kabar.

Yang terdengar justru helaan napas kasar dari ujung sana.

"Apa sih maumu?"

Kalimat pertama itu langsung membuat dada Nandin sesak.

"Aku cuma mau tanya."

"Tanya apa lagi?"

"Soal uang."

Hening.

Beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Lalu suara Wisnu terdengar dingin.

"Terus kenapa?"

Nandin memejamkan mata.

Jadi benar.

Semua kabar yang ia dengar memang benar.

"Kenapa kamu kirim uang ke Ibu terus?"

"Itu ibuku."

"Aku tahu."

"Kalau tahu kenapa dipermasalahkan?"

Nada suara Wisnu mulai meninggi.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Nandin merasa seperti sedang berbicara dengan orang asing.

"Mas..."

Suara Nandin bergetar.

"Aku nggak mempermasalahkan kamu membantu Ibu."

"Lalu?"

"Tapi aku juga istrimu."

Hening.

"Kandunganku tujuh bulan."

Hening lagi.

"Dan aku hamil kembar."

Masih hening.

Seolah kabar itu sama sekali tidak berarti apa-apa.

"Aku cuma ingin tahu kenapa selama ini kamu nggak pernah kirim nafkah."

Akhirnya pertanyaan itu keluar.

Pertanyaan yang selama berbulan-bulan ia tahan.

Dan jawaban Wisnu membuat hati Nandin runtuh.

"Kamu terlalu banyak menuntut."

Deg.

Nandin bahkan sampai lupa bernapas.

"Apa?"

"Kamu pikir hidup di Korea gampang?"

"Aku nggak bilang gampang."

"Biaya di sini besar."

"Tapi—"

"Kamu cuma bisa minta."

Air mata langsung mengalir.

"Aku nggak minta apa-apa, Mas."

"Bohong."

"Aku cuma minta nafkah."

"Itu sama saja."

Nandin menggigit bibirnya kuat-kuat.

Sampai terasa nyeri.

Karena kalau tidak begitu, ia mungkin akan menangis keras saat itu juga.

"Mas..."

"Apa lagi?"

"Kamu sadar nggak kalau aku sedang mengandung anak-anak kita?"

Wisnu tertawa kecil.

Tawa yang membuat Nandin semakin sakit.

"Memangnya aku suruh kamu hamil?"

Kalimat itu menghantam tepat di dadanya.

Persis seperti ucapan Ibu Sri tempo hari.

Dan saat itu Nandin sadar.

Wisnu memang anak kandung ibunya.

Sangat mirip.

Terlalu mirip.

Sama-sama tidak pernah memikirkan perasaannya.

Sama-sama menganggap dirinya tidak penting.

"Kalau begitu..." suara Nandin mulai bergetar. "Kenapa kamu menikah denganku?"

Wisnu terdiam.

Namun hanya sebentar.

"Sudahlah."

"Aku capek."

"Lagipula Ibu lebih membutuhkan uang itu."

Nandin tertawa.

Tawa kecil yang terdengar menyedihkan.

Lebih membutuhkan?

Dibandingkan dua bayi yang bahkan belum lahir?

Dibandingkan istri yang kesulitan membayar kontrol kandungan?

Dibandingkan rumah kontrakan yang sebentar lagi jatuh tempo?

"Aku ngerti sekarang."

"Apa?"

"Prioritasmu bukan aku."

Wisnu langsung mendengus.

"Kamu drama."

Sambungan telepon terputus.

Begitu saja.

Tanpa penjelasan.

Tanpa permintaan maaf.

Tanpa rasa bersalah.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Nandin menangis sampai tertidur.

Hari-hari berikutnya terasa semakin berat.

Tubuhnya semakin sulit diajak bekerja.

Perutnya yang mengandung bayi kembar tumbuh lebih cepat dibanding kehamilan normal.

Punggungnya sering nyeri.

Kakinya mulai bengkak.

Napasnya lebih pendek.

Kadang hanya berjalan ke warung depan gang saja sudah membuatnya kelelahan.

Namun hidup tidak peduli apakah seseorang sedang lelah atau tidak.

Tagihan tetap datang.

Kebutuhan tetap harus dibayar.

Dan uang tetap harus dicari.

Suatu pagi, pemilik kontrakan datang.

Pak Darto.

Pria berusia lima puluh tahunan yang selama ini cukup baik kepadanya.

"Nak Nandin."

"Iya Pak."

Pak Darto terlihat canggung.

"Soal kontrakan..."

Jantung Nandin langsung berdebar.

"Kenapa ya, Pak?"

"Bulan depan jatuh tempo."

Nandin mengangguk pelan.

"Saya tahu."

"Kalau bisa segera disiapkan."

Nandin menelan ludah.

Biaya kontrakan satu tahun berikutnya hampir sepuluh juta rupiah.

Jumlah yang saat ini terasa seperti gunung baginya.

"Nanti saya usahakan."

Pak Darto mengangguk.

Namun raut wajahnya menunjukkan keraguan.

Dan itu membuat hati Nandin semakin tidak tenang.

Malam harinya Nandin duduk di ruang tamu kecil.

Rumah itu begitu sepi.

Terlalu sepi.

Ia menatap foto pernikahannya dengan Wisnu yang tergantung di dinding.

Dalam foto itu mereka tampak bahagia.

Tersenyum.

Penuh harapan.

Seolah masa depan akan selalu baik-baik saja.

Padahal kenyataannya jauh berbeda.

"Aku harus kerja."

Kalimat itu keluar pelan.

Tidak ada yang mendengar.

Selain dirinya sendiri.

Dan dua bayi kecil dalam kandungannya.

Ia tidak mungkin terus bergantung pada tabungan.

Tidak mungkin terus menunggu Wisnu.

Karena semakin hari semakin jelas bahwa lelaki itu tidak akan datang menyelamatkannya.

Kalau ia ingin bertahan...

Ia harus menyelamatkan dirinya sendiri.

Besok paginya sebuah ide muncul.

Sederhana.

Namun cukup masuk akal.

Memasak.

Nandin memang tidak punya banyak keahlian.

Tapi satu hal yang selalu dipuji orang sejak dulu adalah masakannya.

Rendang buatannya.

Ayam bakarnya.

Sambal terasinya.

Semuanya selalu laris saat ada acara keluarga.

Kalau begitu...

Kenapa tidak mencoba berjualan?

Awalnya ia ragu.

Tapi semakin dipikirkan, semakin masuk akal.

Modalnya memang kecil.

Namun setidaknya bisa menghasilkan sesuatu.

Hari itu juga ia mulai membuat status WhatsApp.

"Hari ini buka pesanan nasi kotak dan lauk rumahan. Siap antar sekitar area kecamatan."

Tidak banyak yang merespons.

Hanya tiga orang.

Namun Nandin tetap bersyukur.

Tiga pesanan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Pukul empat pagi ia sudah bangun.

Dapur kecil kontrakan langsung ramai.

Bawang merah.

Bawang putih.

Cabai.

Tomat.

Aroma tumisan memenuhi ruangan.

Meski tubuhnya cepat lelah, ada semangat yang berbeda pagi itu.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan...

Nandin merasa memiliki tujuan.

Ia memasak sambil sesekali mengusap perutnya.

"Jangan rewel ya."

Senyumnya muncul.

"Kita lagi cari uang."

Seolah mengerti.

Salah satu bayinya menendang pelan dari dalam.

Membuat Nandin tertawa sendiri.

Hari pertama hanya menghasilkan keuntungan tujuh puluh ribu rupiah.

Hari kedua seratus ribu.

Hari ketiga delapan puluh ribu.

Jumlah yang mungkin kecil bagi sebagian orang.

Tapi bagi Nandin...

Itu adalah harapan.

Sedikit demi sedikit pelanggan mulai bertambah.

Tetangga mulai memesan.

Guru TK dekat kompleks mulai memesan.

Bahkan Bu Rini pemilik warung ikut menawarkan dagangannya kepada pelanggan.

"Nasi buatan Nandin enak lho."

"Serius?"

"Iya."

"Kalau gitu saya pesan buat pengajian minggu depan."

Nandin hampir menangis mendengarnya.

Bukan karena uang.

Melainkan karena akhirnya ada orang yang percaya padanya.

Namun kehamilan kembar tidak mudah.

Suatu siang, saat sedang mengangkat panci, kepalanya tiba-tiba berputar.

Pandangannya mengabur.

Tubuhnya limbung.

Bruk!

Panci jatuh.

Untung tidak mengenai dirinya.

"Nandin!"

Bu Rini yang kebetulan datang langsung panik.

"Astagfirullah!"

Nandin memegangi meja.

Wajahnya pucat.

"Nggak apa-apa, Bu."

"Nggak apa-apa gimana?"

Bu Rini hampir menangis melihat kondisi Nandin.

"Kamu hamil besar begitu masih maksa kerja."

Kalimat itu membuat Nandin terdiam.

Karena memang benar.

Tubuhnya sudah tidak kuat.

Tapi kalau ia berhenti...

Siapa yang akan membayar hidup mereka?

Malamnya Nandin menelepon orang tuanya di Jawa Barat.

Wajah ayah dan ibunya muncul di layar video call.

Keduanya tampak semakin tua.

Rambut ayahnya semakin putih.

Keriput di wajah ibunya semakin banyak.

Dan tiba-tiba Nandin merasa sangat bersalah.

Karena sebagai anak tunggal, ia justru membuat mereka terus mengkhawatirkannya.

"Sudah makan, Nak?" tanya ibunya.

"Sudah."

"Jangan bohong."

Nandin tertawa kecil.

Ibunya memang selalu tahu.

"Aku makan kok."

"Jaga kesehatan."

"Iya."

Ayahnya ikut mendekat ke kamera.

"Kalau butuh apa-apa bilang."

Air mata Nandin hampir jatuh.

Karena ia tahu.

Perjalanan dari Jawa Barat ke Jawa Timur bukan perjalanan dekat.

Usia kedua orang tuanya juga tidak muda lagi.

Mereka tidak bisa terus-menerus datang menolongnya.

Dan suatu hari nanti...

Ia harus benar-benar berdiri sendiri.

Setelah panggilan berakhir, Nandin memandang langit malam dari teras rumah.

Angin berembus pelan.

Perutnya bergerak lagi.

Dua bayi kecil itu kembali menendang.

Mengingatkannya bahwa ia tidak sendiri.

Ia memang ditinggalkan suami.

Ia memang tidak punya siapa-siapa di kota ini.

Namun ia masih memiliki alasan untuk terus bertahan.

Dua alasan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.

"Ayo kita berjuang sama-sama."

Bisiknya sambil tersenyum.

"Ibu janji akan menjaga kalian."

Dan untuk pertama kalinya sejak Wisnu pergi ke Korea...

Nandin tidak lagi menunggu.

Ia mulai melangkah.

Pelan.

Tertatih.

Tapi pasti.

Karena ia akhirnya mengerti satu hal.

Kadang orang yang kita harapkan menjadi penyelamat justru meninggalkan kita.

Dan saat itu terjadi...

Kita harus belajar menyelamatkan diri sendiri.

1
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Aku mampir utk baca kak 😊 sekarang sdh baca episode pertama. Semangat kak♡
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Wah nyebelin banget ya ibu mertuanya
Dhatu Lukita
semangat buat akuu😂
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani: Semangat, fighting💪
total 1 replies
falea sezi
males MC di buat oon gini thor🤣 buat dia kuat gk menye bales dendam bego😒
Dhatu Lukita: hehehhe ya maap🙏
total 1 replies
falea sezi
😒 jalang.. emank pelakor nih buat nadin waras dan minta cerai dr laki kardus lah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa
bagus kak, mampir dikarya ku juga😍
tazayaa
halo kak, mampir di cerita ku yuu😍
Dhatu Lukita: haloo,,
oke baik. mari kita berkawan💗
total 1 replies
falea sezi
laki kardus g tau diri
Dhatu Lukita
pantengin terus ya kak 🤭💗
anakmafia
up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe
waya520
halooo aku mampir nih 🤭
Dhatu Lukita: haloo kaka🤭😍
total 1 replies
Arwondo Arni
cerai aja lebih bahagia semoga ketemu pria yg lbh segalanya dari bpknya si kembar yg berengsek.
Dhatu Lukita: heheheh pantengin terus ya kak🤭😍
total 1 replies
Wawan
Mawar dan iklan buat si kembar... ✍️💪
Dhatu Lukita: ahhh terimakasih banyak 🤭😍
total 1 replies
Lintang_Tara✨
saling dukung ygy❤️
Musea
udah mampir nih, semangat terus ya dari sesama authorr
Dhatu Lukita: siaaapppp💪💪💪
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
Dhatu Lukita: ho.ohh tengkyu kak😍🥰🥰
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
D. Nightshade
semangat terus thor,💗
Wawan
Salam kenal buat Nandin ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!