NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 : Perdebatan

Queen masih memeluk guling dengan wajah kusut ketika akhirnya suara Ibu Farah kembali terdengar dari bawah.

"Queen! Cepat turun!"

"Aku turun!" balas Queen dengan nada frustasi.

Anggi yang masih duduk di sampingnya terkekeh pelan.

"Gue serius ya, Nggi. Hidup gue lagi berantakan."

"Iya, iya." Anggi mengangguk sambil menahan senyum. "Tapi tetap aja gue kasihan kalau calon suami lo Pak Revan."

"Anggi!"

"Hahaha!"

Queen langsung mengambil ponselnya. Satu ide muncul di kepalanya. "Pak Revan."

"Hah?"

"Gue telepon dia sekarang."

Anggi langsung mendekat penasaran.

Queen segera mencari nama Revan lalu menekan tombol panggil.

Tuut... Tuut... Tuut...

Tidak diangkat.

Queen mengernyit. "Coba lagi deh." Ia kembali menelepon.

Masih tidak diangkat.

"Astaga."

"Sibuk kali," ucap Anggi.

Queen mendelik. "Nggak mungkin."

Ia kembali mencoba untuk ketiga kalinya. Namun hasilnya sama, tidak ada jawaban.

Queen langsung berdiri. "Kenapa nggak diangkat sih?" gerutunya.

Biasanya Revan memang tidak selalu cepat membalas pesan. Tapi panggilan telepon hampir selalu diangkat.

Perasaan tidak enak mulai muncul. "Jangan-jangan..." gumam Queen.

"Apa?" tanya Anggi.

"Jangan-jangan dia udah tahu soal ini."

Anggi mengangkat alis.

"Terus dia kabur?" lanjut Queen.

"Hah?"

"Karena dia juga nggak mau nikah sama gue."

Anggi langsung memukul lengannya pelan. "Jangan ngaco!"

"Sakit Nggi!"

"Lo pikir Pak Revan sejahat itu."

Queen mendengus. Namun tetap saja, ia kembali menatap layar ponselnya. Tidak ada balasan dan tidak ada panggilan balik. Yang membuatnya semakin kesal adalah kenyataan bahwa satu-satunya orang yang mungkin bisa menjelaskan kekacauan ini justru menghilang.

"Awas aja kalau Pak Revan sengaja nggak angkat telpon gue"

Anggi terkekeh.

Beberapa menit kemudian...

Dengan langkah cepat Queen akhirnya turun ke lantai bawah. Begitu sampai di ruang tamu, ia langsung membeku. Rumah benar-benar berubah.

Beberapa wanita sedang mengukur kain dekorasi. Ada katalog pernikahan di atas meja. Bahkan dua orang perias sedang berbicara dengan Ibu Farah.

"Mama!"

Ibu Farah langsung menoleh dengan senyum lebar. "Nah, itu pengantinnya sudah bangun."

"Mama!"

"Apa?"

"Ini apa?"

Ibu Farah terlihat polos. "Persiapan pernikahan."

"Kenapa udah di dekor."

"Karena besok acaranya."

DEG.

Queen merasa jantungnya berhenti sesaat.

"Besok?"

"Iya."

"Nggak!" Suara Queen menggema ke seluruh ruang tamu.

Beberapa pekerja sampai menoleh.

Kevin yang sedang duduk di sofa sambil minum kopi langsung menutup wajahnya. "Mulai lagi dramanya."

Queen berbalik menatap kakaknya. "Kak Kevin!"

"Apa?"

"Lo tahu soal ini?"

Kevin mengangguk santai. "Tahu."

"Kok nggak kasih tahu gue?!"

"Karena kalau dikasih tahu, lo pasti kabur."

"Itu bukan alasan!"

"Justru itu alasannya."

Queen hampir meledak. Ia langsung berbalik ke arah mamanya lagi. "Mama, aku belum setuju!"

Ibu Farah mendekatinya lalu memegang kedua bahunya. "Sayang."

"Apa?"

"Mama cuma mau yang terbaik buat kamu."

Queen memejamkan mata frustrasi. "Lalu Pak Revan di mana?"

Pertanyaan itu membuat Kevin dan Ibu Farah saling berpandangan. "Kenapa?" tanya Ibu Farah.

"Aku mau ngomong sama dia."

Kevin terkekeh pelan. "Mau ngajak kabur bareng?"

"Kak!"

"Hahaha!"

Queen langsung mengambil bantal sofa dan melemparkannya.

BUGH!

Kevin tertawa semakin keras. Sedangkan Queen kembali melihat layar ponselnya. Masih tidak ada balasan dari Revan. Kini ia merasa sedikit panik, karena Revan selalu bosa menenangkan dirinya.

Hari ini justru pria itu menghilang tanpa kabar. Dan anehnya, hal itu membuat Queen jauh lebih gelisah daripada persiapan pernikahan yang sedang berlangsung di depan matanya.

Queen masih berdiri di tengah ruang tamu dengan wajah frustasi. Ponselnya terus digenggam erat seolah berharap Revan tiba-tiba menelepon balik.

Namun yang muncul justru suara Kevin. "Oh iya."

Queen menoleh tajam. "Apa lagi?"

Kevin menyeruput kopinya santai. "Kalian kan sekarang lagi masa pingitan."

Queen mengernyit. "Apa?"

"Masa pingitan."

"Maksudnya?"

Kevin tersenyum jahil. "Jadi sampai besok kalian nggak boleh komunikasi dulu."

Queen langsung membeku. "Hah?!"

"Iya."

"Nggak bisa!"

"Bisa."

Queen menunjuk kakaknya. "Gue harus ngomong sama Pak Revan!"

Kevin mengangkat bahu santai. "Besok aja."

"Besok kan nikahnya!"

"Nah itu dia."

Queen hampir meledak.

Sementara itu Ibu Farah terlihat jauh lebih tenang. "Sudah, jangan ribut."

"Mama!"

"Nanti sore akan ada pengajian."

Queen langsung menoleh. "Pengajian?"

"Iya. Kamu harus siap-siap."

Queen merasa kepalanya semakin pusing. Belum selesai sampai di situ, Ibu Farah kembali berkata.

"Anggi kamu bisakan bantu Queen mempersiapkan semuanya."

Mata Anggi langsung berbinar. "Bisa dong, Tante!"

Queen menoleh tidak percaya. "Nggi?"

"Iya?"

"Kok lo semangat banget?"

Anggi langsung memeluk lengan Queen. "Karena sahabat gue mau nikah."

"Gue yang mau nikah kenapa lo yang bahagia?"

Anggi malah terkekeh. "Tante tenang aja."

Ibu Farah tersenyum puas.

"Nanti saya bantu Queen pilih baju juga."

"Bagus."

Queen memandang keduanya bergantian. Lalu perlahan menoleh ke Kevin. "Kak..."

"Hm?"

"Tolong bilang kalau ini mimpi."

Kevin malah berdiri. Kemudian...

PLAK!

Kevin dan Anggi melakukan tos dengan penuh semangat tepat di depan wajah Queen.

"Tim sukses pengantin!" seru Anggi.

"Setuju!" sahut Kevin.

Queen langsung menunjuk keduanya dengan gemetar. "Kalian semua jahat."

"Hahaha!" Anggi malah tertawa.

Kevin ikut terkekeh. Lalu pria itu menoleh ke Anggi.

"Nggi."

"Hm?"

"Lo jagain Queen."

Queen langsung punya firasat buruk.

"Jangan sampai dia kabur."

"Aman Ka."

"Jangan sampai dia kabur sama si..."

Belum sempat Kevin menyelesaikan kalimatnya. Ibu Farah langsung menyela cepat. "Si cowok mokondo itu."

Ruangan mendadak hening dua detik.

Lalu...

Puffft! Anggi langsung menutup mulutnya sambil tertawa.

"Tanteee..."

Kevin sampai membalikkan badan karena menahan tawa. Bahkan beberapa pekerja dekorasi yang mendengar ikut tersenyum.

Sedangkan Ibu Farah terlihat sangat serius. "Kenapa?"

"Tante manggil Nathan mokondo?" tanya Anggi sambil tertawa.

"Memang begitu kenyataannya."

"Tanteee..." Anggi sudah hampir menangis karena tertawa.

Queen memegang dahinya. "Astaga..."

Ibu Farah justru menggeleng. "Mama nggak mau dengar nama dia lagi."

"Ma..."

"Pokoknya fokus sama pernikahan kamu."

Queen ingin membantah. Namun sebelum sempat membuka mulut, ponselnya bergetar.

Semua orang langsung menoleh.

Mata Queen membulat. "Pak Revan!"

Ia buru-buru mengangkat panggilan itu. Namun baru saja ia membuka mulut. Kevin langsung merebut ponselnya.

"Kak!"

"Aturan pingitan."

"Ka Kevin!"

Klik.

Panggilan itu langsung dimatikan.

Queen menatap kakaknya seolah ingin membunuhnya. Sedangkan Kevin dengan santai memasukkan ponsel itu ke sakunya.

"Besok ketemu langsung aja."

"Kak Kevinnnn!" Suara teriakan Queen kembali menggema ke seluruh rumah.

Dan untuk kesekian kalinya hari itu, Anggi tertawa sampai hampir jatuh dari sofa.

Queen masih berdiri mematung setelah Kevin mematikan panggilan dari Revan. "Kak Kevin..." suaranya terdengar berbahaya.

Kevin mundur satu langkah. "Apa?"

"Itu telepon dari Pak Revan."

"Iya."

"Kenapa dimatiin?!"

"Karena aturan pingitan."

Queen langsung mengambil bantal sofa.

Kevin refleks mengangkat kedua tangan. "Eh, jangan main lempar."

BUGH!

Terlambat. Bantal itu sudah melayang tepat mengenai wajahnya.

Anggi yang melihat langsung tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Kena!"

Kevin mengusap wajahnya sambil menggeleng. "Nanti kalau udah nikah, gue kasih tahu Revan kelakuan lo."

"Silahkan!"

Ibu Farah langsung berdiri di tengah-tengah mereka. "Sudah! Jangan ribut."

"Mama lihat kan?" protes Queen. "Kak Kevin jahat."

"Kamu juga lempar bantal duluan."

Queen mendengus kesal.

1
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!