Kang Youngha seorang yang dulunya Direktur Muda Perusahaan Kang. Dia menikah dengan Jang Dohee, sosok perempuan yang dicintainya sedari dulu. Tiba-tiba, Kang Youngha melepaskan diri dari jabatan Direktur Muda. Dia mulai mengenal dunia militer dan masuk melalui Wajib Militer, di dunia militer nya Kang Youngha disegani banyak orang. Kali ini, dia benar-benar satu tim dengan teman-teman masa kecilnya yang sudah dianggap saudara. Di pertengahan tahun, dia mulai seperti hidup sendiri. Jang Dohee yang sudah tidak diajak berbicara semenjak Ayah Youngha sendiri berbuat hal yang tidak baik kepada keluarganya, Jang Dohee yang merasa kesal dan harus meluruskan ini selama pernikahannya yang sudah hampir menyentuh 5 tahun itu. Meski begitu, Dohee masih memperhatikan Youngha diam-diam dan mulai mengumpulkan semua aset untuk masa tuanya bersama suaminya. Di sisi lain, pria yang bernama Yoon Hain adalah teman masa kecil Kang Youngha. Mereka sudah seperti saudara kandung dan menyimpan banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Black, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Slow
Beberapa bulan kemudian, setelah melewati hari-hari yang sulit tanpa adanya Ibu. Dohee jarang sekali sarapan pagi, dia hanya memasakkan Youngha. Kali ini, suasana yang dulu kembali lagi sejak kepergian Ibunya. Youngha juga tak banyak mengobrol dengan Dohee, efek kepergian Ibunya membuat Youngha semakin marah dengan Ayahnya sendiri. Dia tak segan-segan, melaporkan Ayahnya ke pihak berwajib. Saat mendengar berita dari beberapa pihak berwajib, Dohee langsung memberitahu kepada Youngha jika Ayahnya juga terjerat kasus penggelapan dana serta membeli senjata ilegal.
Beberapa hari setelah Youngha melaporkan Ayahnya sendiri dan Ayah Dohee, tiba-tiba sekali Dohee mengerutkan kening sambil menutup mulutnya. Saat itu, Dohee membenarkan kerah baju Youngha.
“Sayang, kamu pakai parfum apa?” tanya Dohee mual sambil menatap Youngha,
“Aku masih belum pakai parfum apa-apa sayang,” jawab Youngha sambil memegang kedua pundak Dohee, “kita ke Dokter saja ya?” ajaknya,
“Tidak usah sayang, dari Minggu lalu aku juga sering begini” jawab Dohee,
“Yakin? Tapi wajahmu pucat sekali” ujar Youngha meyakinkan Dohee,
“Iya, aku minum air hangat saja nanti... Kamu berangkat dulu ya sayang, Raon sudah menunggumu” jawab Dohee yang menyuruhnya berangkat,
“Ya sudah, nanti kalau ada apa-apa telfon aku ya sayang... Hari ini aku pulang cepat” ujar Youngha lalu mengecup kening Dohee dan bibir Dohee yang terakhir kepala Dohee.
Dohee hanya menganggukkan kepala lalu mengelus pipi Youngha. Kemudian dia keluar rumah, kali ini Youngha tidak memperbolehkan Dohee mengantar keluar, kemudian mobil yang ditumpangi mulai menjauh dari rumah, setelah itu Dohee menutup pintu. Dohee membuka kotak P3K nya dan membawa tiga alat testpack yang sudah siap sedia, dia mengecek dengan saksama dan hasilnya kedua testpack menandakan positif semua. Tapi Dohee masih tidak percaya, akhirnya dia membuka testpack yang terakhir dan mencoba mengeceknya. Dohee menyatukan kedua tangan lalu jari jemarinya menggenggam seperti berdoa, setelah beberapa lama kemudian, hasilnya keluar positif lagi. Dia langsung melihat dirinya di cermin sambil menutup mulutnya tidak percaya, dia tersenyum sambil memegang daerah dada yang berdegup kencang.
Jantungnya berdebar saat melihat semua testpack bergaris dua. Dohee menyimpan semua jadi satu dalam plastik zipper besar, dia mengirim pesan kepada Youngha mengharapkan pulang lebih cepat dari biasanya. Youngha bingung dia menjawab setuju tapi kepalanya banyak tanda tanya, banyak yang harus di tanyakan tentang Dohee memohon kepadanya untuk pulang lebih awal. Setiap beberapa jam, Dohee mengalami mual-mual. Bibi Hwang kewalahan saat Dohee mengalami mual, akhirnya Bibi Hwang teringat resep untuk meredakan mual pada kehamilan pertama.
Bibi Hwang menyuruh Dohee menidurkan tubuhnya di tempat tidur, Bibi Hwang memberi racikan seperti pengharum ruangan biar Dohee tenang sedikit. Setelah pulih dari harian mualnya, Dohee menunggu Youngha pulang sambil membersihkan rumah, memotong tanaman, mendoakan Ibunya. Saat berdoa kepada Ibunya, dia bercerita tentang kehamilan pertama. Setelah sore tiba, Bibi Hwang berpamitan pulang. Dohee menunggu kehadiran Youngha, ternyata dia tak kunjung pulang.
Malam hari tiba,
Dohee sampai tertidur di sofa, dengan selimut berwarna putih menutup kakinya sebagian. Youngha memasukkan sandi pintu rumah lalu masuk, saat masuk ke dalam, cahaya rumahnya gelap gulita. Youngha menyalakan lampu lalu mencari Dohee, setelah itu dia melihat ada orang terbaring di sofa dia langsung menghampiri dan duduk dibawah sambil mengelus lengan Dohee kemudian mencium keningnya. Dohee bergerak sedikit, hanya menaruh tangannya di pundak Youngha. Tak sadar lagi, akhirnya Youngha mengangkat Dohee dan menidurkan di ranjang milik mereka berdua.
Youngha pergi mandi, setelah selesai dia memakai baju tidur lalu membuka selimut dan memeluk Dohee. Tengah malam, Youngha seperti kepanasan padahal pendingin ruangan sudah suhu yang paling besar. Dohee terbangun dan terkejut karena dia sudah pulang,
“Hem? Sayang? Kamu sudah pulang?” tanya Dohee,
“Sayang, aku ini kenapa panas sekali?” tanya Youngha dengan suara dan nafasnya yang berat,
“Kamu kenapa?” tanya Dohee bingung, dia bangun dari tidurnya lalu mencari nadi Youngha.
Saat Dohee tak sengaja memegang daerah dada, jantungnya berdetak kencang seperti meminum obat perangsang. Dohee langsung menatap Youngha, dia memegang kedua pipi Youngha yang merah itu,
“Sayang, kamu habis minum obat? Obat apa yang kamu minum?” tanya Dohee panik,
“Bantu aku” jawab Youngha, dia langsung mencium leher Dohee,
“Tapi aku sedang hamil sayang” ujar Dohee,
Youngha terdiam sejenak melepaskan ciumannya, “Tak apa, aku akan tanggung semua” jawab Youngha.
Youngha mencium bibir Dohee dengan memakannya, dia membuat kecupan di leher kecil-kecil berwarna merah. Lalu dia diatas Dohee, tangannya yang diatas menggenggam tangan Dohee. Nafas mereka menjadi tak beraturan dan semakin berat, ranjang mulai bergerak cepat. Sepanjang malam, waktu menunjukkan pukul 1 pagi, Youngha melakukan itu dengan Dohee sampai pukul 4 pagi. Akhirnya lelah mereka tertidur, setelah tersadar Youngha membuka kedua matanya yang di samping kemudian memeluk Dohee. Dia bingung sambil mengintip selimut kenapa dia tak pakai baju, dia juga melihat Dohee yang terbaring lemas.
Dia memegang kepalanya yang sedikit sakit itu, di sela-sela memegang kepalanya dia sedikit mengingat pada saat Dohee mengatakan bahwa dia sedang hamil. Dia langsung menatap wajah Dohee, akhirnya Dohee sudah membuka kedua mata yang sayu,
“Sayang? Apa kamu hamil?” tanya Youngha dengan wajah histeris,
“Sayang? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Dohee panik sambil memegang kedua pipi Youngha,
“Aku kenapa?” tanyanya kembali dengan bingung,
“Apa kamu tidak sadar?” tanya Dohee lagi,
“Tidak…” jawab Youngha menggaruk kepalanya bagian belakang yang tak gatal itu,
“Detak jantungmu kemarin cepat sekali, kedua pipimu memerah... Seperti diberi obat perangsang tau” ujar Dohee,
“Apa?! Mana bisa begitu?” tanya Youngha terkejut,
“Sayang, coba ingat-ingat siapa terakhir yang bertemu dengan kamu?” tanya Dohee,
Youngha segera mengingat tapi saat dia mencoba mengingat sedikit saja langsung pusing, Dohee dengan cepat memegang tangannya sambil menenangkan,
“Tak apa, tak apa” ujar Dohee sambil memeluk Youngha dan mengelus punggungnya,
“Maafkan aku sayang” jawab Youngha sedih,
“Tidak, tidak apa-apa sayang... Untung saja kamu sudah ada di rumah” ujar Dohee,
“Bagaimana pinggangmu? Apa sakit?” tanya Youngha sedikit takut,
“Tidak sayang” jawab Dohee lembut,
“Hah syukurlah” ucap Youngha lega,
“Aku harus mencari siapa pelakunya, akan ku hajar dia habis-habisan di Pengamanan” ujar Youngha dengan wajah maungnya,
“Hahaha... Lucu sekali” ledek Dohee usai tertawa lembut, lalu mencubit kedua pipinya
“Hah, kenapa sayang? Kok ketawa?” tanya Youngha dengan kebingungannya,
“Hahaha... Tidak kamu lucu” jawab Dohee tak kuasa menahan tawanya,
Youngha menatap wajah Dohee serius lalu dia mencium bibir Dohee, akhirnya Dohee berhenti tertawa dan mengelus kepala Youngha lembut,
“Oh iya, aku punya kejutan” ujar Dohee teringat, dia memutar badannya dan mengambil kantong plastik zipper yang ada di laci lemari.
Dohee memberikan plastik itu kepada Youngha, lalu Youngha membuka dan melihat testpack yang bergaris dua semuanya. Youngha melebarkan kedua matanya sambil menutup mulut,
“Sayang, jadi kamu beneran hamil ya?!” tanya Youngha lagi kali ini dia benar-benar tak percaya,
“Iya sayang” jawab Dohee lembut sambil menganggukkan kepalanya,
Youngha langsung memeluk Dohee erat-erat sambil mencium bibir, kening, kepala. Pagi itu Youngha langsung mengajaknya pergi ke Dokter kandungan, memeriksa kandungan yang usianya masih muda itu. Raon yang tadi mengantarkan mereka turut bahagia mendengar berita kehamilan Dohee, dia langsung memberikan selamat berkali-kali. Youngha tertawa saat Raon mengucapkan selamat berkali-kali, saat sampai di depan halaman rumah Youngha sempat banyak berpesan kepada Dohee dengan serius,
“Sayang, jangan kerja berat-berat ya... Kalau bisa bersihkan semua dengan robot yang kita punya, nanti aku beli makanan... Aku tak sampai sore sudah kembali ke rumah, aku janji... Maafkan aku ya kemarin tengah malam barusan pulang” ujar Youngha dengan pesannya,
“Iya sayang, jangan khawatir aku akan menjaganya dengan baik... Sayang kapanpun kamu pulang aku pasti akan menunggumu, negara lebih membutuhkan kamu” jawab Dohee lembut lalu mengelus pipi Youngha,
Youngha tersenyum manis dan mencium bibir Dohee lalu mengecup keningnya, usai itu Youngha berpamitan kerja, Raon pun juga ikut berpamitan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...