Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Harta Karun di Gudang Obat
Pagi harinya, hujan telah reda, meninggalkan udara yang segar dan tanah yang basah. Lin Fan bangun lebih awal dari biasanya. Tubuhnya terasa bugar, sisa-sisa kelelahan akibat lompatan level semalam telah hilang sepenuhnya berkat istirahat yang nyenyak.
Ia berjalan menuju taman belakang kediaman Cabang Utama Clan Lin, tempat tinggal Lin Hu. Taman itu sepi, hanya suara kicau burung yang memecah keheningan. Sesuai instruksinya malam tadi, Lin Fan mendekati batu loncatan besar di dekat kolam ikan koi.
Di bawah batu itu, tersembunyi sebuah kunci perunggu kecil dengan ukiran naga melingkar. Kunci akses ke Gudang Obat.
Lin Fan mengambil kunci itu, menyembunyikannya di dalam saku bajunya, lalu berbalik pergi dengan wajah datar. Tidak ada senyum kemenangan, tidak ada kegembiraan yang berlebihan. Baginya, ini hanyalah langkah logis berikutnya dalam rencana besarnya.
Gudang Obat Cabang Timur terletak di sisi timur kompleks kediaman, sebuah bangunan batu yang kokoh dengan pintu besi tebal. Bangunan ini dijaga oleh dua penjaga tua yang sudah pensiun dari tugas tempur, yang lebih suka tidur siang daripada berjaga dengan ketat.
Lin Fan menunggu hingga tengah hari, saat matahari berada di puncak dan para penjaga sedang dalam keadaan paling lengah karena cuaca yang hangat setelah hujan. Dengan kunci perunggu di tangan, ia menyelinap ke sisi belakang gudang, di mana terdapat pintu masuk khusus untuk staf alkimis junior.
Kunci itu pas. Klik.
Pintu terbuka. Lin Fan masuk dengan cepat dan menutupnya kembali di belakangnya.
Bau herbal yang khas langsung menyambutnya—campuran aroma manis, pahit, dan tajam dari ratusan jenis tanaman obat yang dikeringkan, akar-akar, dan jamur langka. Rak-rak kayu menjulang tinggi hingga ke langit-langit, penuh dengan toples kaca dan kotak-kotak kayu berlabel.
Bagi orang lain, ini adalah toko obat biasa. Bagi Lin Fan, ini adalah surga.
Matanya segera memindai rak-rak tersebut. Ia tidak mencari pil jadi—pil-pil itu biasanya dihitung stoknya dengan ketat setiap minggu. Ia mencari bahan baku. Bahan baku yang sering kali hilang atau rusak selama proses penyimpanan, dan jarang diperiksa secara mendetail kecuali ada pesanan besar.
Ia menemukan apa yang dicarinya di rak bagian bawah, area untuk bahan-bahan grade rendah yang dianggap kurang berharga.
* Akar Ginseng Hutan (Grade Rendah): Beberapa akar yang sudah mulai keriput.
* Daun Spirit Mint: Tumpukan daun kering yang rapuh.
* Biji Teratai Api: Beberapa biji yang retak.
* Jamur Darah Iblis: Jamur berwarna merah tua yang beracun jika tidak diolah dengan benar, tapi sangat kaya akan energi Qi kasar.
Lin Fan tersenyum. Bagi alkemis normal, jamur ini sampah berbahaya. Tapi bagi Lin Fan dengan kemampuan pemurnian Manik Giok, racunnya bisa dipisahkan, menyisakan energi murni yang padat.
Dengan gerakan cepat dan efisien, Lin Fan mengisi kantong kain yang ia bawa dengan bahan-bahan tersebut. Ia tidak mengambil terlalu banyak dari satu jenis agar tidak menimbulkan kecurigaan saat inventaris bulanan dilakukan. Ia mengambil sedikit dari banyak jenis, menyebar "kerugiannya" sehingga tidak terlihat mencolok.
Selain bahan mentah, matanya tertuju pada sebuah toples kecil di sudut meja kerja Elder Obat cabang ini. Toples itu berisi Pil Kondensasi Qi Grade Rendah yang cacat—pil yang bentuknya tidak bulat sempurna atau warnanya sedikit gosong. Pil-pil ini biasanya dibuang atau diberikan kepada pelayan sebagai bonus, tapi sering kali lupa didistribusikan.
Lin Fan mengambil seluruh isi toples itu. Sekitar tiga puluh pil.
Setelah kantongnya penuh, Lin Fan keluar dari gudang dengan hati-hati, mengunci pintu kembali, dan mengembalikan kunci ke tempat aslinya di bawah batu loncatan. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi.
Kembali di gubuknya, Lin Fan segera memulai proses pemurnian.
Ia duduk bersila, mengeluarkan tumpukan bahan herbal dan pil cacat itu. Satu per satu, ia memasukkan bahan-bahan itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya, dan menelannya.
Prosesnya menyakitkan. Racun dari Jamur Darah Iblis mencoba menyerang sistem sarafnya, sementara energi kasar dari Akar Ginseng berusaha meledakkan meridiannya. Namun, Manik Giok di Dantian-nya bekerja tanpa henti, menyaring kotoran, memurnikan esensi, dan menyimpannya.
Keringat hitam keluar dari pori-porinya, membawa serta residu racun dan ketidakmurnian tubuh.
Empat jam berlalu.
Lin Fan membuka matanya. Matanya bersinar lebih terang, pupilnya tampak lebih dalam. Ia merasa Dantian-nya hampir penuh. Level 6-nya sudah mencapai puncak. Ambang batas Level 7 sudah terlihat di depan mata.
Namun, ia menahan diri. Menaikkan level terlalu cepat bisa membuat fondasinya tidak stabil. Ia perlu memadatkan Level 6-nya terlebih dahulu sebelum menerobos ke Level 7.
"Tidak buruk," gumamnya. "Dengan pasokan rutin seperti ini, aku bisa mencapai Level 8 dalam waktu dua bulan. Dan Level 9 dalam empat bulan."
Pada usia enam belas tahun, mencapai Level 9 sudah cukup untuk disebut genius di kota kecil seperti Qingyun. Itu juga tingkat kekuatan yang dibutuhkan untuk menghadapi Yan Lie secara setara, atau bahkan mengalahkannya jika menggunakan strategi yang tepat.
Tiba-tiba, ada ketukan di pintu gubuknya.
"Lin Fan? Apakah kau di dalam?"
Suara itu milik Lin Yue.
Lin Fan segera menyembunyikan sisa bahan obat di bawah tikarnya dan membuka pintu. Lin Yue masuk dengan wajah cemas.
"Aku mendengar kabar buruk," kata Lin Yue tanpa basa-basi. "Lin Hu... dia tidak datang ke aula pagi ini. Dia mengklaim sakit. Tapi pelayannya bilang dia terlihat baik-baik saja. Aku curiga dia sedang merencanakan sesuatu."
Lin Fan mengangkat alis. "Apa yang membuatnya curiga?"
"Dia meminta daftar semua pelayan yang bertugas di malam hari kemarin. Termasuk namamu. Dan dia juga bertanya tentang lokasi perpustakaan tua. Sepertinya dia sedang mencari bukti bahwa kau mencuri peta itu, atau mungkin... dia sedang mencari cara untuk menjebakmu lagi."
Lin Fan tersenyum dingin. "Biarkan dia mencari. Dia tidak akan menemukan apa-apa. Yang dia temukan hanyalah bayangannya sendiri yang semakin menakutkan."
"Tapi Lin Fan," Lin Yue mendekat, suaranya berbisik. "Ada rumor lain. Elder Huo dari Clan Yan belum pulang ke markas utama mereka. Dia masih tinggal di penginapan. Dan kabarnya... dia sedang menyelidiki 'sumber' dari peta palsu itu. Dia tidak percaya itu kebetulan."
Wajah Lin Fan menjadi serius. Elder Huo lebih tua, lebih berpengalaman, dan lebih teliti daripada Yan Lie. Jika Elder Huo mulai menyelidiki, jejak Lin Fan bisa terbongkar.
"Kita harus lebih berhati-hati," kata Lin Fan. "Mulai sekarang, jangan bertemu denganku di tempat umum. Gunakan sinyal darurat jika ada bahaya. Dan... aku butuh bantuanmu untuk satu hal lagi."
"Apa itu?"
"Aku butuh informasi tentang Elder Huo. Kebiasaannya, jadwalnya, dan kelemahan-kelemahannya. Jika dia menjadi ancaman, aku harus tahu bagaimana cara menetralkannya sebelum dia menemukan kita."
Lin Yue mengangguk tegas. "Aku akan mencarinya. Ayahku mungkin tahu beberapa detail tentang Elder Huo dari percakapan bisnis masa lalu."
Setelah Lin Yue pergi, Lin Fan menutup pintu dan bersandar padanya.
Permainan ini semakin rumit. Lin Hu di dalam, Elder Huo di luar. Dua musuh dari dua arah yang berbeda.
Tapi Lin Fan tidak takut. Dia justru merasa hidup. Untuk pertama kalinya, dia merasa mengendalikan nasibnya sendiri.
Dia melihat ke arah tumpukan bahan obat yang tersisa.
"Mari kita lihat siapa yang akan hancur lebih dulu," bisiknya pada kegelapan. "Aku, atau mereka."
Malam itu, Lin Fan tidak tidur. Ia menghabiskan waktu untuk mempelajari manuskrip Teknik Nafas Api Dasar yang ia curi dari Yan Lie. Meskipun elemennya berbeda dengan afinitas netralnya, prinsip pengendalian aliran energi dalam teknik api bisa diaplikasikan untuk meningkatkan daya ledak serangan fisiknya.
Jika Teknik Napas Besi adalah perisai, maka modifikasi Teknik Api ini bisa menjadi pedang.
Lin Fan mulai berlatih. Ia mengalirkan Qi-nya dengan pola spiral yang diajarkan dalam manuskrip, memusatkan panas di tinjunya.
Whoosh.
Udara di depannya bergetar halus. Tinjunya terasa panas, bukan karena api sungguhan, tapi karena gesekan molekul udara yang dipercepat oleh Qi-nya.
Ini adalah awal dari teknik serangan pertamanya: Tinju Panas.
Sederhana, tapi efektif. Dan dengan kombinasi Teknik Napas Besi, tinju ini akan menjadi keras seperti besi dan panas seperti bara.
Lin Fan tersenyum. Persenjataannya semakin lengkap.