Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Dalam Cawan Kencana
Suasana di Keputren—kediaman pribadi Ibu Suri—terasa mencekam meskipun ornamen emas dan ukiran kayu jati menghiasnya dengan megah. Di balik tirai sutra yang bergoyang pelan ditiup angin malam, seorang pria berpakaian hitam polos bersimpuh dengan dahi menyentuh lantai. Ia adalah Raden Mulyo, kepala telik sandi yang telah melayani Ibu Suri selama dua dekade.
“Bicaralah,” suara Gusti Kanjeng Ibu memecah keheningan. Ia sedang menyesap wedang jahe dari cawan porselen mahal, matanya menatap lurus ke arah taman yang gelap.
“Ampun, Gusti Kanjeng. Mata hamba melihat apa yang tidak seharusnya dilihat,” Raden Mulyo berkata dengan suara rendah yang bergetar. “Gusti Prabu… beliau berada di sebuah rumah penduduk di tepian Baluwarti. Sebuah toko seni milik seorang gadis jelata.”
Cangkir di tangan Ibu Suri terhenti di udara. Matanya yang tajam menyipit, menciptakan guratan kemarahan yang tertahan di sudut matanya. “Seorang gadis? Jelata?”
“Benar, Gusti. Namanya Sekar Arum. Hanya seorang pelukis dan guru anak-anak. Namun, hamba melihat Gusti Prabu menatapnya dengan cara yang… tidak pernah beliau gunakan untuk menatap para bangsawan.”
Ibu Suri meletakkan cangkirnya dengan denting yang cukup keras di atas meja marmer. Dadanya bergejolak. Baginya, ini bukan sekedar urusan asmara remaja; ini adalah ancaman bagi kemurnian silsilah dan stabilitas takhta yang ia bangun dengan darah dan air mata.
“Jelata yang mencoba memanjat pohon beringin hanya akan membuat akarnya membusuk,” gumam Ibu Suri dingin. “Pergilah. Terus awasi gerak-gerik gadis itu. Jangan bertindak sebelum perintahku turun.”
Keesokan paginya, Ibu Suri memanggil Raden Ajeng Nastiti ke taman belakang keraton. Nastiti datang dengan keanggunan yang sempurna, mengenakan kebaya sutra berwarna merah jambu lembut yang menyapu lantai.
“Nastiti, kemarilah,” Ibu Suri menyambutnya dengan senyum yang tidak sampai ke mata. “Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Arya?”
Nastiti menunduk, ada rona kecewa yang ia coba sembunyikan. “Gusti Arya… beliau tetap sopan, namun hatinya seolah berada di tempat lain, Gusti Kanjeng. Ia seperti tembok yang tak bisa saya tembus.”
Ibu Suri memegang bahu Nastiti, mencengkeramnya sedikit lebih kuat daripada biasanya. “Itu karena kamu terlalu banyak menunggu, Cah Ayu. Seorang calon permaisuri tidak menunggu takhta mendatanginya; ia harus mampu menjadi satu-satunya cahaya yang dilihat sang Raja.”
Ibu Suri membawa Nastiti mendekat ke kolam teratai. “Arya sedang tersesat dalam bayang-bayang semu diluar sana. Dia butuh diingatkan tentang kemegahan yang sebenarnya miliknya. Mulai hari ini, aku ingin kamu lebih terbuka. Jangan hanya menunggu di meja makan. Temani dia diruang kerja, bawakan ia kudapan kegemarannya, masuklah ke dalam dunianya sebelum orang lain mengunci pintunya dari dalam.”
Siang itu, Arya tengah berkutat dengan tumpukan dokumen ketika pintu ruang kerjanya diketuk perlahan. Sebelum ia sempat menjawab, Nastiti masuk membawa sebuah nampan perak berisi klepon hangat dan teh melati pilihan.
“Gusti Arya,” suara Nastiti terdengar lebih ceria, lebih berani. Ia berjalan mendekat tanpa ragu, aroma parfum mawar mahalnya memenuhi ruangan, menutupi aroma cat minyak yang masih terngiang di ingatan Arya.
“Nastiti? Ada apa?” Arya tampak terkejut.
“Saya hanya berpikir, seorang pemimpin besar tidak akan bisa berpikir jernih jika perutnya kosong,” Nastiti meletakkan nampan itu tepat di atas peta wilayah yang sedang dipelajari Arya. Ia tidak menjaga jarak seperti biasanya; ia berdiri cukup dekat hingga bahu mereka nyaris bersentuhan.
Nastiti mengambil satu butir klepon dengan jemarinya yang lentik dan menyodorkannya pada Arya. “Cicipilah, Gusti. Saya sendiri yang mengawasi pembuatannya di dapur tadi.”
Arya merasa terjepit. Kehadiran Nastiti begitu ‘mendesak’, begitu ‘terang-terangan’. Ia melihat mata Nastiti yang penuh ambisi namun terbungkus dalam kelembutan yang dilatih. Kontras sekali dengan Sekar yang menatapnya dengan kejujuran yang menyejukkan.
“Terima kasih, Nastiti. Letakkan saja di sana,” ujar Arya, mencoba menjaga jarak secara halus.
Namun Nastiti tidak menyerah. Ia justru duduk di kursi sebelah Arya, mulai bercerita tentang rencana pesta perayaan panen yang akan melibatkan banyak bangsawan. Ia berbicara tentang masa depan, tentang kekuatan politik, dan tentang betapa “serasinya” mereka berdua jika memimpin Amarta bersama.
Arya mendengarkan, namun pikirannya melayang ke sebuah toko kecil yang harum melati. Ia sadar, Ibu Suri mulai menggerakkan bidak caturnya. Dan Nastiti adalah benteng terkuat yang dikirim untuk mengurungnya kembali dalam sangkar emas yang ia benci.
Di kejauhan, di balik pilar, Ibu Suri memperhatikan mereka dengan senyum kemenangan. Baginya, cinta hanyalah gangguan, dan Sekar Arum hanyalah kerikil kecil yang harus segera disingkirkan sebelum melukai kaki sang Raja.
Sikap Nastiti yang kian agresif justru menciptakan efek yang berlawanan pada Arya. Baginya, setiap perhatian yang diberikan Nastiti terasa seperti benang sutra yang mencoba melilit lehernya pelan-pelan. Kehadiran Nastiti di ruang pribadinya bukan lagi sebuah penghormatan, melainkan sebuah invasi.
Suatu sore, saat Nastiti mencoba merapikan kerah baju Arya dengan gerakan yang sengaja diperlama, Arya mundur satu langkah secara tegas. Gerakannya tidak kasar, namun sorot matanya sedingin lantai marmer keraton.
“Terima kasih, Nastiti. Ada abdi dalem yang bisa melakukan itu,” ujar Arya datar.
Nastiti terpaku, tangannya menggantung di udara. “Saya hanya ingin membantu, Gusti. Bukankah sebagai calon pendamping, ini sudah menjadi kewajiban saya?”
“Calon pendamping adalah sebuah status yang diputuskan oleh takhta dan waktu, Nastiti. Bukan oleh kedekatan yang dipaksakan,” balas Arya tanpa ekspresi. Ia berbalik, meninggalkan Nastiti yang berdiri mematung dengan wajah yang perlahan memucat karena malu dan amarah yang tertahan.
Sejak hari itu, Arya mulai membangun benteng. Ia memerintahkan pengawal untuk tidak membiarkan siapa pun masuk ke ruang kerjanya tanpa izin tertulis, termasuk tamu kehormatan Ibu Suri. Ia juga mulai melewatkan jam makan malam bersama, lebih memilih makan di dalam kamarnya dengan alasan pekerjaan yang menumpuk.
Arya menyadari bahwa melawan Ibu Suri dengan emosi adalah tindakan yang sia-sia. Ibunya adalah penguasa hukum adat; maka, Arya harus melawan dengan hukum yang sama.
Ia memanggil Ki Ageng Suro ke perpustakaan rahasia di bawah tanah keraton, tempat di mana naskah-naskah kuno berdebu di simpan.
“Ki, cari naskah Serat Angger-anggeran peninggalan kakek buyutku,” perintah Arya bisik-bisik. “Aku ingat pernah membaca sebuah pasal tentang kebebasan seorang Raja memilih permaisuri jika sang calon mampu membuktikan ‘Wahyu Keprabon’ atau keutamaan budi yang diakui rakyat.”
(Serat angger-anggeran jawi adalah himpunan naskah hukum adat materiil, perdata, dan pidana yang diberlakukan di kasultanan Yogyakarta dan surakarta. Anggap aja ya isinya ada mengenai Raja bisa memilih calon permaisuri sendiri)
Ki Ageng Suro menatap Rajanya dengan bangga. “Gusti ingin melawan api dengan air sejarah. Sebuah langkah yang cerdas. Jika Gusti bisa membuktikan bahwa Sekar Arum memiliki kecintaan rakyat yang lebih besar daripada dukungan politik Nastiti, Ibu Suri tidak akan bisa membantah tanpa mempermalukan dirinya sendiri di hadapan dewan adat.”
“Itu celahnya, Ki,” mata Arya berkilat. “Ibu Suri menggunakan ‘tradisi’ sebagai senjatanya, maka aku akan menggunakan ‘rakyat’ sebagai perisai.”
Sambil menunggu Ki Ageng menemukan naskah tersebut, Arya mulai melakukan manuver kecil. Ia memerintahkan bendahara kerajaan untuk memberikan subsidi secara diam-diam pada sekolah-sekolah rakyat, termasuk sekolah tempat Sekar mengajar, namun atas nama “Hamba Tak Dikenal”.
Ia juga mulai mengumpulkan para sesepuh desa secara informal, mendengarkan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Dari sana, nama Sekar Arum selalu muncul sebagai sosok yang membantu kesehatan dan pendidikan anak-anak mereka.
Suatu malam, Ibu Suri mencegat Arya di lorong menuju kamarnya.
“Kamu mulai menjaga jarak dengan Nastiti, Arya. Kamu pikir aku tidak tahu?” Tanya Ibu Suri, suaranya bergetar karena menahan geram.
Arya berhenti, menarik napas panjang, lalu membungkuk hormat dengan sangat sempurna—sebuah penghormatan yang begitu formal hingga terasa seperti sindiran.
“Saya hanya menjalankan tugas sebagai Raja yang fokus pada kesejahteraan rakyat, Ibu. Bukankah Ibu yang selalu bilang bahwa takhta tidak boleh goyah karena perasaan pribadi? Maka, biarkan saya bekerja tanpa gangguan… perasaan pribadi dari siapa pun.”
Ibu Suri terdiam. Ia merasa senjatanya diputarbalikkan oleh putranya sendiri. Arya tidak lagi memberontak seperti anak kecil; ia mulai bicara seperti seorang penguasa yang tahu di mana letak kekuatannya.
“Hati-hati, Arya,” bisik Ibu Suri saat Arya melewatinya. “Pohon yang mencoba melawan arah angin seringkali tumbang karena akarnya sendiri.”
Arya hanya tersenyum tipis. “Atau mungkin, Ibu, anginnya akan belajar untuk tidak lagi merusak pohon yang dicintai tanahnya.”
Malam itu, Arya kembali mengenakan kemeja katun gadingnya. Di balik kegelapan, ia menuju toko “Warna Sekar”. Bukan lagi sekedar untuk pelarian, melainkan untuk memulai langkah pertamanya dalam perjuangan yang akan menentukan siapa yang sebenarnya berhak duduk disamping singgasana Amarta.