NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Liontin Darah Langit

Liontin giok ungu gelap itu berdenyut di telapak tangan Sari. Pelan, nyaris tak terlihat, tapi Arga bisa merasakannya. Bukan dengan mata fisiknya—melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang beresonansi langsung dengan benang perak di Dantian-nya.

Denyut... denyut... denyut...

Ritmenya identik. Seolah-olah liontin itu dan benang di dalam tubuhnya adalah dua bagian dari satu kesatuan yang sama.

"Tuan Muda?" Suara Sari bergetar. "Apa... apa ini sesuatu yang berbahaya? Aku merasa... aneh saat memegangnya. Seperti ada sesuatu yang memanggil-manggil dari dalam liontin ini."

Arga mengulurkan tangannya. "Berikan padaku."

Sari ragu sejenak, lalu meletakkan liontin itu di telapak tangan Arga.

Sentuhan pertama langsung mengirimkan gelombang energi yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Bukan energi yang menyakitkan—melainkan energi yang familiar. Seolah-olah liontin ini mengenalinya. Atau lebih tepatnya, mengenali sesuatu di dalam dirinya.

Racun Langit Bawaan.

Arga menutup mata, membiarkan kesadarannya menyelam ke dalam liontin. Teknik yang ia gunakan adalah Peraba Jiwa Kuno—sebuah metode kuno untuk membaca sisa-sisa energi yang tertinggal di benda-benda pusaka.

Dan apa yang ia temukan di dalam liontin itu membuatnya terdiam.

Ini... bukan sekadar liontin biasa.

Di dalam batu giok itu, tersimpan sebuah ruang kecil—ruang dimensi yang dibuat dengan teknik sangat canggih. Bukan ruang penyimpanan biasa seperti gelang-gelang dimensi yang umum di dunia kultivasi. Ini adalah ruang yang dibuat dengan hukum ruang dan waktu tingkat tinggi. Tingkat yang bahkan para Kaisar Bela Diri di Langit Ketujuh belum tentu bisa menciptakannya.

Di dalam ruang itu, ada tiga benda.

Pertama, sebuah gulungan kitab kuno yang terbuat dari bahan yang tidak dikenali Arga. Bahkan dengan tiga ribu tahun pengetahuannya, ia tidak bisa mengidentifikasi material itu. Warnanya perak kebiruan—mirip dengan warna benang di Dantian-nya.

Kedua, sebuah botol giok kecil yang tertutup rapat. Dari dalamnya, Arga bisa merasakan aura energi yang sangat padat. Bukan Qi biasa. Bukan juga energi dari Langit Kesepuluh. Sesuatu di antaranya.

Ketiga, sepucuk surat.

Arga membuka surat itu dalam kesadarannya. Tulisan di dalamnya rapi dan anggun—jelas ditulis oleh seorang wanita.

---

Untuk putraku, Arga.

Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan kau sudah cukup kuat untuk menemukan liontin ini—atau takdir telah membawanya padamu.

Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya. Tapi ada hal-hal yang harus kau ketahui.

Kau bukan anak biasa, Arga. Darah yang mengalir di tubuhmu bukan darah manusia biasa. Bahkan bukan darah kultivator biasa. Kau adalah keturunan dari garis yang telah lama terlupakan—garis yang bahkan para Dewa di Langit Kesembilan takut untuk mengingatnya.

Kami menyebutnya: Darah Langit Kesepuluh.

Aku tahu ini terdengar seperti dongeng. Langit Kesepuluh hanyalah mitos di dunia ini. Tapi percayalah, putraku, ia nyata. Dan kau adalah salah satu dari sedikit orang yang masih membawa warisannya.

Racun Langit Bawaan yang kau miliki bukanlah kutukan. Ia adalah kunci. Kunci untuk membuka potensi sejatimu. Tapi kunci itu hanya akan berfungsi jika kau menemukan jalanmu sendiri. Tidak ada yang bisa mengajarimu cara menggunakan warisan ini—karena setiap pembawa Darah Langit Kesepuluh memiliki jalannya masing-masing.

Aku hanya bisa memberimu dua hal.

Gulungan kitab di dalam liontin ini adalah catatan leluhur kita. Aku sendiri tidak bisa membacanya—bahasanya terlalu kuno, dan hanya mereka yang telah membangkitkan Darah Langit yang bisa memahaminya. Jika kau sudah cukup kuat, kitab itu akan terbuka dengan sendirinya.

Botol giok itu berisi "Embun Pagi Pertama"—setetes energi murni dari Langit Kesepuluh yang telah diwariskan turun-temurun di keluarga kita. Gunakan hanya saat kau benar-benar siap. Energi ini bisa membunuhmu sekaligus memberimu kekuatan.

Dan yang terakhir...

Maafkan ibumu. Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu tumbuh. Maafkan aku karena meninggalkanmu di klan kecil ini. Maafkan aku karena semua penderitaan yang harus kau tanggung.

Tapi percayalah, semua ini kulakukan untuk melindungimu.

Ada kekuatan besar di luar sana yang memburu darah kita. Mereka membunuh ayahmu. Dan mereka akan memburumu juga, jika mereka tahu kau masih hidup.

Jadi sembunyilah. Tumbuhlah dalam diam. Sampai suatu hari nanti, kau cukup kuat untuk menghadapi mereka.

Atau sampai takdir mempertemukan kalian lebih cepat dari yang kuharapkan.

Ibumu,

Ratna Dewani

---

Arga membuka matanya.

Napasnya sedikit memburu. Tangannya yang menggenggam liontin itu bergetar pelan—bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Ibuku...

Sebagai Kaisar Langit, ia tidak pernah mengenal orang tuanya. Ia tumbuh sebagai yatim piatu di jalanan dunia fana, berjuang sendiri hingga mencapai puncak keabadian. Konsep "ibu" adalah sesuatu yang asing baginya—ia hanya mendengarnya dari orang lain, melihatnya dari kejauhan, tapi tidak pernah mengalaminya sendiri.

Tapi surat ini... surat ini menggetarkan sesuatu di dalam dadanya. Bukan dari jiwanya sebagai Kaisar Langit—melainkan dari jiwa asli tubuh ini. Jiwa Arga Sanjaya yang asli.

Dia mencintaiku, pikirnya. Ibu ini benar-benar mencintai putranya. Sampai akhir hayatnya, ia memikirkan keselamatanku.

Ia mengepalkan liontin itu erat-erat.

"Aku tidak tahu siapa yang membunuhmu, Ibu. Tapi aku bersumpah... aku akan menemukan mereka. Dan aku akan membuat mereka membayar."

"Tuan Muda?" Sari menatapnya cemas. "Kau... kau menangis."

Arga menyentuh pipinya. Benar. Ada jejak air mata di sana. Air mata yang bukan miliknya—tapi milik tubuh ini. Sisa-sisa kesedihan dari jiwa Arga yang asli, yang masih melekat di sel-sel tubuh ini.

"Aku baik-baik saja," jawabnya pelan. Ia menyimpan liontin itu di balik bajunya, merasakan denyutnya yang kini seirama dengan detak jantungnya. "Terima kasih, Sari. Kau tidak tahu betapa berharganya benda ini."

Sari mengangguk, meski wajahnya masih menunjukkan kebingungan. "Apa... apa itu milik Nyonya?"

"Ya. Ibuku meninggalkannya untukku."

Mata Sari berkaca-kaca. "Nyonya... Nyonya adalah wanita yang baik, Tuan Muda. Sebelum meninggal, ia selalu bilang padaku untuk menjaga Tuan Muda. Katanya, Tuan Muda adalah harta paling berharga dalam hidupnya."

Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap liontin di dadanya, merasakan denyutnya yang konstan.

Embun Pagi Pertama... energi murni dari Langit Kesepuluh. Dan gulungan kitab yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang telah membangkitkan Darah Langit.

Ini adalah warisan sejatiku.

---

Keesokan harinya, Arga memulai rutinitas baru.

Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, ia sudah bangun dan melakukan Senam Penguat Tubuh Kuno. Gerakan-gerakannya kini lebih kompleks—ia menambahkan variasi-variasi dari teknik bela diri tingkat tinggi yang ia kuasai, disesuaikan dengan kondisi tubuhnya yang masih lemah.

Setelah itu, ia bermeditasi dengan Teknik Pernapasan Kaisar Kuning. Tapi kali ini, ia melakukannya sambil memegang liontin giok di tangannya.

Efeknya langsung terasa.

Liontin itu seolah menjadi katalis. Setiap kali ia menyelesaikan satu siklus pernapasan, benang perak di Dantian-nya berdenyut lebih kuat. Dan setiap denyutan itu menarik Qi dari alam dalam jumlah yang sedikit lebih banyak.

Retakan di sumbatanku... membesar.

Arga memeriksa meridiannya dengan Mata Batin Langit. Retakan kecil yang muncul semalam kini sedikit lebih lebar—mungkin dua kali lipat dari sebelumnya. Masih sangat kecil, hanya sehelai rambut, tapi itu adalah kemajuan yang signifikan.

Qi yang masuk melalui retakan itu kini lebih banyak. Tidak banyak—mungkin setara dengan kultivator Pemurnian Qi tahap pertama yang baru belajar menyerap energi. Tapi bagi Arga, ini adalah langkah besar.

Dengan kecepatan ini... dalam tiga bulan, aku mungkin bisa mencapai tahap pertama Pemurnian Qi.

Itu masih sangat lambat dibandingkan standar dunia kultivasi. Tapi Arga tidak berkecil hati. Ia tahu bahwa fondasi yang ia bangun sekarang—dengan energi dari Langit Kesepuluh sebagai intinya—akan jauh lebih kuat daripada kultivator mana pun di dunia ini.

Kualitas lebih penting daripada kuantitas. Aku tidak perlu buru-buru.

---

Sore harinya, saat ia sedang membersihkan lumbung, seorang tamu tak diundang muncul.

Raka.

Pemuda berbakat dari Sekte Awan Kelabu itu berdiri di pintu lumbung, menyandar di kusen dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya tenang, tapi matanya yang tajam mengamati setiap gerakan Arga.

"Aku penasaran," katanya tanpa basa-basi. "Kemarin, kau menghindari semua serangan Darmo tanpa mengeluarkan Qi. Aku sudah memikirkannya semalaman, dan aku tidak bisa menemukan penjelasan logis."

Arga tidak menghentikan pekerjaannya. Ia terus menyapu lumbung dengan gerakan-gerakan yang tampak biasa—tapi sebenarnya adalah bagian dari latihan Senam Penguat Tubuh Kuno.

"Mungkin kau terlalu banyak berpikir," jawabnya datar.

Raka terkekeh. "Mungkin. Tapi aku tidak percaya pada kebetulan." Ia melangkah masuk, berjalan mengitari Arga. "Kau tahu, aku sudah mengamati Klan Sanjaya selama dua tahun. Aku tahu persis siapa kau—atau setidaknya, siapa kau sebelumnya. Arga Sanjaya. Putra dari mantan kepala klan. Yatim piatu. Sampah yang bahkan tidak bisa menyerap Qi. Bulan-bulanan seluruh klan."

Ia berhenti tepat di depan Arga, menatapnya lurus-lurus.

"Tapi Arga yang berdiri di depanku sekarang... bukan orang yang sama. Cara kau bergerak. Cara kau berbicara. Bahkan cara kau menatap. Semuanya berbeda. Jadi pertanyaanku sederhana: siapa kau sebenarnya?"

Arga menghentikan sapunya. Ia menegakkan tubuh dan menatap Raka dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Dia cukup cerdas. Lebih cerdas dari yang lain. Tapi kecerdasannya bisa menjadi pedang bermata dua.

"Aku Arga Sanjaya," jawabnya akhirnya. "Putra dari Ardan Sanjaya dan Ratna Dewani. Itu saja yang perlu kau tahu."

Raka mengamatinya selama beberapa detik. Lalu ia tersenyum—senyuman yang anehnya tampak tulus.

"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Setiap orang berhak menyimpan rahasianya." Ia berbalik, berjalan menuju pintu. Tapi sebelum keluar, ia berhenti. "Satu hal lagi. Hati-hati dengan Ardi dan pamannya. Mereka mungkin tampak bodoh, tapi mereka punya pendukung di belakang mereka. Seseorang dari luar klan. Seseorang yang berbahaya."

Arga mengernyit. "Kenapa kau memberitahuku ini?"

Raka menoleh, menatapnya dari balik bahu. "Karena aku benci melihat bakat disia-siakan. Dan entah bagaimana... aku merasa kau akan menjadi seseorang yang menarik untuk diperhatikan."

Ia pergi, meninggalkan Arga sendirian di lumbung.

Seseorang dari luar klan... Arga merenungkan kata-kata Raka. Mungkin ini ada hubungannya dengan kematian orang tuaku. Atau mungkin ada kekuatan lain yang bermain di balik layar.

Aku harus mencari tahu.

---

Malam itu, Arga melakukan sesuatu yang berbeda.

Setelah menyelesaikan meditasi dan latihan pernapasannya, ia mengambil liontin giok dari balik bajunya. Denyutnya kini terasa lebih kuat—seolah-olah liontin itu merespons pertumbuhan benang perak di Dantian-nya.

Ibu bilang gulungan kitab di dalamnya hanya bisa dibaca oleh mereka yang telah membangkitkan Darah Langit. Aku belum membangkitkannya sepenuhnya—tapi benang perak ini sudah mulai tumbuh. Mungkin... mungkin aku sudah bisa melihat sebagian isinya.

Ia menutup mata dan kembali menggunakan Peraba Jiwa Kuno. Kesadarannya menyelam ke dalam liontin, menuju ruang dimensi kecil di dalamnya.

Gulungan kitab perak kebiruan itu masih di sana, mengambang di tengah ruangan bersama botol giok. Arga mendekatinya dengan kesadarannya, mencoba menyentuhnya.

Dan saat ia melakukannya, sesuatu terjadi.

Gulungan itu terbuka dengan sendirinya. Bukan seluruhnya—hanya bagian awal, mungkin sepersepuluh dari keseluruhan panjangnya. Tapi itu cukup untuk membuat Arga terkesima.

Tulisan di dalamnya bukan tulisan biasa. Simbol-simbol itu tampak asing—bukan bahasa yang pernah ia lihat dalam tiga ribu tahun hidupnya. Tapi entah bagaimana, ia bisa memahaminya. Bukan dengan otaknya, melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam. Seolah-olah makna dari simbol-simbol itu langsung mengalir ke dalam jiwanya.

"Catatan Jalan Langit Kesepuluh - Jilid Pertama: Kebangkitan Benang Perak"

Arga membaca dengan saksama. Semakin ia membaca, semakin lebar matanya terbuka.

Kitab ini adalah panduan kultivasi. Tapi bukan panduan biasa. Ia menjelaskan secara rinci tentang sifat Darah Langit Kesepuluh dan bagaimana mengembangkannya.

Benang Perak yang kumiliki adalah tahap pertama dari Kebangkitan Darah Langit. Ia disebut "Benang Pemula". Untuk membuatnya tumbuh, aku harus memberinya makan—bukan hanya Qi biasa, tapi juga pengalaman, pemahaman, dan pertempuran. Semakin banyak aku belajar dan bertarung, semakin cepat benang ini tumbuh.

Tapi ada satu hal yang lebih penting: Benang Perak tidak bisa tumbuh hanya dengan kultivasi pasif. Ia membutuhkan "Pemicu"—momen-momen penting di mana aku didorong ke batas kemampuanku. Semakin besar tantangan yang kuhadapi, semakin besar lompatan pertumbuhan benang ini.

Dan saat benang ini mencapai panjang tertentu, ia akan memasuki tahap berikutnya: "Benang Emas".

Arga menghela napas panjang.

Jadi itu sebabnya. Itu sebabnya aku merasa ada yang kurang. Kultivasi biasa tidak akan cukup. Aku harus mencari tantangan. Aku harus bertarung. Aku harus mendorong diriku ke batas maksimal.

Ia membuka mata dan menatap langit-langit kamarnya.

Festival Perebutan Warisan. Itu akan menjadi pemicu pertamaku.

---

Tiga hari berikutnya berlalu dengan cepat.

Arga terus menjalani rutinitasnya—latihan fisik di pagi hari, bekerja di lumbung sambil melanjutkan latihan secara diam-diam, dan meditasi di malam hari. Benang Perak di Dantian-nya terus tumbuh, meski perlahan. Kini panjangnya sudah sekitar satu ruas jari—dua kali lipat dari sebelumnya.

Retakan di sumbatan meridiannya juga semakin lebar. Qi yang bisa ia serap kini setara dengan kultivator Pemurnian Qi tahap pertama tingkat menengah. Masih sangat rendah—tapi setidaknya ia sudah bisa disebut "kultivator" sekarang, meski sangat lemah.

Yang lebih penting, ia mulai memahami cara kerja Benang Perak.

Benang ini bukan sekadar sumber energi. Ia adalah fondasi dari sistem kultivasi yang sama sekali baru. Saat Benang Perak menyerap Qi dari alam, ia tidak menyimpannya di Dantian seperti kultivator biasa. Sebaliknya, ia mengubah Qi itu menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih murni, lebih padat, lebih... primordial.

Dan energi hasil konversi inilah yang perlahan-lahan memperkuat tubuh Arga. Bukan hanya otot dan tulangnya—tapi juga organ-organ internalnya, sistem sarafnya, bahkan sel-sel individualnya.

Ini bukan sekadar kultivasi, pikir Arga suatu malam. Ini adalah evolusi. Aku sedang mengubah tubuh fanaku menjadi sesuatu yang lebih tinggi. Sesuatu yang bisa menampung kekuatan Langit Kesepuluh.

Tapi ada satu masalah.

Semakin banyak Qi yang ia serap dan konversi, semakin besar "jejak" energi yang ia tinggalkan. Bagi kultivator biasa, ini tidak masalah. Tapi bagi Arga yang sedang menyembunyikan identitasnya, ini bisa berbahaya.

Dan benar saja. Di hari ketujuh setelah ia menemukan liontin itu, seseorang datang.

---

Malam itu, Arga sedang bermeditasi di kamarnya ketika ia merasakannya.

Sebuah aura. Kuat. Jauh lebih kuat dari Darmo atau Raka. Aura seorang kultivator yang setidaknya berada di ranah Pondasi.

Mereka datang.

Ia membuka mata dan bersiap. Tapi ia tidak panik. Tiga ribu tahun pengalaman telah mengajarinya untuk tetap tenang dalam situasi apa pun.

Suara langkah kaki terdengar di luar. Bukan satu orang—tiga. Dua di antaranya adalah kultivator tingkat rendah, mungkin Pemurnian Qi tahap ketiga atau keempat. Tapi yang ketiga... yang ketiga adalah sumber aura kuat itu.

Pintu kamarnya terbuka. Bukan dengan cara normal—melainkan didorong oleh kekuatan Qi hingga engselnya copot dan pintunya terlempar ke dalam.

Arga tetap duduk bersila di ranjangnya, tidak bergerak.

Tiga sosok masuk. Yang pertama adalah Ardi—wajahnya penuh seringai kemenangan. Yang kedua adalah Darmo—matanya masih menyimpan dendam dari pertemuan sebelumnya.

Dan yang ketiga...

Seorang pria paruh baya berjubah hitam. Rambutnya sudah mulai memutih di beberapa bagian, dan ada bekas luka panjang di pipi kirinya. Tapi yang paling mencolok adalah matanya—dingin, tajam, dan penuh pengalaman.

Seorang kultivator sejati. Seseorang yang telah menempuh jalan kultivasi selama puluhan tahun dan selamat dari berbagai pertempuran.

Ranah Pondasi. Tahap menengah.

"Paman," kata Ardi sambil menunjuk Arga. "Itu dia. Keponakanmu yang sudah gila itu."

Pria itu—paman Ardi, yang juga adalah paman Arga—melangkah maju. Arman Sanjaya. Kepala Klan Sanjaya saat ini. Orang yang mengambil alih kekuasaan setelah kematian ayah Arga.

"Arga," suaranya berat dan dingin. "Aku mendengar laporan-laporan aneh tentangmu. Kau melukai putraku. Kau menghindari serangan murid-murid Sekte Awan Kelabu. Dan sekarang, aku merasakan sesuatu yang lebih aneh lagi."

Ia berhenti tepat di depan Arga, menatapnya dengan mata yang seolah bisa menembus segalanya.

"Kau... sudah mulai bisa menyerap Qi."

Arga tidak menjawab.

Arman melanjutkan, "Itu seharusnya tidak mungkin. Semua tabib yang pernah memeriksamu mengatakan bahwa meridianmu tersumbat total. Racun Langit Bawaan, mereka menyebutnya. Tidak ada obatnya. Tapi sekarang... aku bisa merasakan Qi di dalam tubuhmu. Sangat sedikit, tapi ada."

Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Arga.

"Jadi, keponakanku tersayang. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

Arga menatapnya balik. Matanya tenang, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Di dalam hatinya, pikirannya bekerja cepat, menganalisis situasi.

Arman. Ranah Pondasi tahap menengah. Dalam kondisi normal, aku bisa membunuhnya dalam sekejap. Tapi dengan tubuh ini... aku bahkan tidak bisa melukainya.

Tapi aku tidak perlu melawannya sekarang. Yang aku butuhkan adalah waktu.

"Aku tidak tahu apa yang Paman bicarakan," jawabnya akhirnya. "Aku hanya menjalani hari-hariku seperti biasa."

Arman mendengus. "Jangan berbohong padaku, bocah. Aku bukan Ardi yang bodoh itu." Ia melirik putranya dengan tatapan menghina, lalu kembali menatap Arga. "Ada sesuatu yang berubah dalam dirimu. Dan aku akan mencari tahu apa itu."

Ia mengulurkan tangannya, hendak menyentuh dahi Arga—jelas berniat menggunakan semacam teknik untuk memeriksa kondisi tubuh Arga secara paksa.

Tapi sebelum tangannya menyentuh, sesuatu terjadi.

Liontin giok di balik baju Arga tiba-tiba memancarkan cahaya ungu gelap yang terang. Cahaya itu membentuk penghalang tipis di sekujur tubuh Arga, menolak tangan Arman.

"APA?!"

Arman mundur selangkah, terkejut. Darmo dan Ardi juga melongo.

Arga sendiri sama terkejutnya. Liontin itu... melindungiku?

Cahaya ungu itu hanya bertahan beberapa detik sebelum memudar. Tapi efeknya sudah cukup—Arman kini menatap Arga dengan ekspresi berbeda. Bukan lagi dingin dan mengintimidasi, melainkan... waspada. Dan di balik kewaspadaan itu, ada secercah ketakutan.

"Cahaya itu..." gumam Arman pelan. "Aku pernah melihatnya. Dulu... pada ibumu."

Mata Arga menyipit.

Arman menegakkan tubuhnya, ekspresinya kembali netral—tapi Arga bisa melihat bahwa pria itu sedang menutupi sesuatu. "Baiklah. Sepertinya kau memang menyembunyikan sesuatu, keponakanku. Tapi tidak apa-apa. Festival Perebutan Warisan tinggal dua setengah bulan lagi. Kita akan lihat seberapa jauh kau bisa berkembang sampai saat itu."

Ia berbalik, memberi isyarat pada Ardi dan Darmo untuk mengikutinya. "Kita pergi."

"Tapi, Ayah!" protes Ardi. "Dia belum dihukum! Dia—"

"KUBILANG KITA PERGI!"

Bentakan Arman menggema di seluruh ruangan. Ardi langsung menutup mulutnya dan mengikuti ayahnya keluar. Darmo melirik Arga sekilas—tatapannya campuran antara takut dan penasaran—lalu ikut pergi.

Arga ditinggal sendirian di kamarnya yang pintunya kini rusak.

Ia menghela napas panjang, lalu meraih liontin di balik bajunya. Liontin itu kini terasa hangat—tidak lagi berdenyut seperti sebelumnya, tapi ada semacam kehangatan yang menenangkan.

Ibuku... bahkan setelah mati, kau masih melindungiku.

Ia mengepalkan liontin itu.

Arman tahu sesuatu. Sesuatu tentang ibuku. Sesuatu tentang cahaya ungu itu. Dan aku akan mencari tahu apa itu.

Tapi untuk sekarang... aku harus lebih berhati-hati. Festival Perebutan Warisan adalah kesempatanku. Bukan hanya untuk membuktikan diri—tapi juga untuk memicu pertumbuhan Benang Perak.

Dua setengah bulan. Aku harus siap.

---

Keesokan paginya, Sari datang dengan wajah panik saat melihat pintu kamar Arga yang rusak.

"Tuan Muda! Apa yang terjadi?! Apa kau diserang?!"

Arga yang sedang duduk bersila di ranjangnya membuka mata. "Aku baik-baik saja. Hanya tamu tak diundang."

"Ta-tapi pintunya...!"

"Nanti kita perbaiki." Arga bangkit dari ranjangnya. "Sari, aku ingin kau mencarikan sesuatu untukku."

Gadis itu mengangguk cepat. "Apa saja, Tuan Muda!"

"Informasi. Tentang Festival Perebutan Warisan. Aku ingin tahu semua detailnya—kapan tepatnya, di mana lokasinya, siapa saja pesertanya, apa aturannya, dan bagaimana sistem penilaiannya. Bisa kau lakukan?"

Sari mengangguk lagi, kali ini lebih mantap. "Aku akan mencarikannya, Tuan Muda! Aku punya teman yang bekerja di aula utama. Dia mungkin tahu sesuatu."

"Bagus." Arga berjalan menuju jendela, menatap langit pagi yang mulai terang. "Dan satu hal lagi, Sari. Mulai hari ini, aku akan lebih sering keluar. Jangan khawatir jika kau tidak menemukanku di kamar atau di lumbung."

"Ke... ke mana Tuan Muda akan pergi?"

Arga tidak menjawab. Matanya menatap hutan lebat yang terlihat di kejauhan, di luar kompleks Klan Sanjaya.

Hutan Belantara Timur. Tempat monster-monster buas berkeliaran. Tempat para kultivator pergi untuk mengasah kemampuan mereka dalam pertarungan nyata.

Tempat yang sempurna untuk memicu pertumbuhan Benang Perak.

1
Mommy Dza
Wah bersatu yah
Mommy Dza
So sweet 😁 akhirnya Arga bs tdur nyenyak
Mommy Dza
Masuk ke dalam kegelapan
kenangan pertama
Mommy Dza
Mencari pecahan
Mommy Dza
Pilihan yg sulit
Mommy Dza
pemangsa yg kesepian ternyata🥹
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!