Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Pertemuan Tak Terduga
Nina terkejut saat tatapannya tertuju pada pria yang berdiri di depan pintu dengan sorot netra tertuju padanya. Seketika dia mengedarkan pandangannya ke arah lain dengan menggumam. 'kok ada cowok di sini? Siapa dia?' Nina diam dengan memegangi gagang pintu namun tak memiliki keberanian untuk kembali menatapnya atau bahkan bertegur sapa dengannya. 'sejak kapan ada orang baru di sini? Kok mama sama Papa nggak kasih tahu sih?'
Dengan menggerutu Nina memutuskan untuk meninggalkan kamarnya, dia berniat untuk mencari tahu siapa sosok tersebut.
"Mama, sejak kapan di sini ada orang baru? Barusan aku lihat ada cowok di kamar tamu. Memangnya dia itu siapa ma?"
Nina menarik kursi yang ada di dapur mendekati ibunya yang berkutat dengan bahan makanan.
Oh ya..., Mama lupa kasih tahu kamu. Itu cowok anaknya Papa yang baru datang dari luar negeri.
"A—apa? Anak papa yang datang dari luar negeri? Kok kalian nggak pernah bilang kalau anaknya Papa hendak datang?"
Sebagai orang awam Nina cukup tahu diri. Di rumah Hermawan ia hanyalah anak sambung yang tidak memiliki hak apapun. Ia khawatir, anak dari Ayah sambungannya tidak bisa bersikap baik terhadapnya.
"Dia datang tanpa memberitahu kami, katanya mau bikin surprise. Kalau saja kami tahu akan kedatangannya pasti kami siapkan banyak makanan untuknya."
Nina menggumam dengan mencebikkan bibirnya. "Berarti dia akan lebih lama berada di sini."
Nina merasa kurang nyaman dengan kehadiran seorang laki-laki asing di rumahnya, apalagi pria itu adalah saudara tiri baginya. Ia masih khawatir, jika saja pria itu memiliki niatan jahat tentu akan membuatnya terusir dari rumah ayah tirinya, lalu ke mana lagi ia akan menyandarkan diri?
"Mungkin cukup lama dia berada di sini, atau bisa jadi dia akan menetap tinggal di sini bersama kita. Mama sarankan agar kamu bisa bersikap sopan padanya. Jangan buat Mama malu!"
Nina menghela nafas. "Semua itu tergantung dengannya juga. Kalau dia bisa menghargaiku, tentu aku akan mengimbanginya."
"Lebih baik kamu kenalan dulu sana. Masa satu rumah nggak mau berkenalan," nasehat Widya.
Nina menyengir kuda. "Ah, malu aku ma. Masa aku cewek harus mengenal dulu. Mendingan Mama temani, atau aku nggak mau mengenalnya."
Widya melebarkan matanya sembari menggerutu. "Kamu itu gimana sih Nin, tinggal menyapa doang! Apa hanya dengan menyapanya dulu membuat harga dirimu jatuh? Kalian tinggal satu atap, masa iya kamu bersikap cuek gitu. Ayo lekas temui dia, jangan angkuh gitu!"
Nina diam tapi mengabaikan nasehat ibunya. Ia memilih untuk membantu ibunya daripada harus menemui pria asing itu di dalam kamarnya.
"Nanti aja kenalannya! Sekarang aku mau bantuin mama."
"Yaudah, terserah kamu aja, yang penting Mama udah nyaranin."
Widya cukup paham dengan anak gadisnya, biarpun lumayan menyebalkan tapi dia sangat menjaga diri dengan baik, apalagi sebelumnya dia belum pernah bertemu dengan saudara tirinya.
"Memangnya Mama mau buat apa sih?"
"Ini mama mau buat ayam bakar. Mama sedang menyiapkan bumbunya, itu Ayamnya juga lagi diungkep. Kalau bisa nanti kamu bantu bakar dagingnya ya? Mama yang akan siapkan sambelnya."
Karena tidak terlalu sulit, Nina menyanggupinya. "Oke baiklah."
Rasa ngilu di area sensitifnya masih sangat terasa. Di situ Nina menahannya walaupun sedikit sedikit mengaduh. Terasa perih dan juga linu saat dibuat jalan.
Widya memicingkan matanya melihat cara anak gadisnya berjalan yang tidak seperti biasanya, cara berjalan Nina sama seperti orang sehabis melahirkan, tapi ia tak memiliki kecurigaan sama sekali.
"Nin, cara berjalanmu buruk banget, jangan dikebiasakan seperti itu. Kamu itu masih gadis, berjalanlah dengan baik, pria itu menyukai wanita yang terlihat sempurna di matanya."
"Hm..., iya aku mengerti." Meskipun begitu Nina masih terlihat tengah menahan rasa sakit.
"Apa kamu lagi sakit?" tanya Widya masih juga mengamatinya.
Nina menggeleng. "Enggak kok ma," jawab Nina.
"Kalau nggak sakit jalannya jangan dibuat seperti itu! Kamu itu masih gadis, mana ada cowok yang mau kalau jalan kamu seperti angsa!"
Mau tidak mau Nina harus membuat alasan yang tepat agar tidak membuat ibunya curiga.
"Kayaknya infeksi saluran kemihku kembali kambuh, rasanya panas dan tidak nyaman."
Nina memang mengalami infeksi saluran kemih, dan itu terjadi sudah beberapa tahun yang lalu. Di saat kelelahan beraktivitas, maka penyakitnya itu akan kambuh. Tidak mungkin juga ia harus berterus terang mengenai kejadian yang dialaminya.
"Kambuh? Kenapa bisa gitu? Apa kamu nggak minum obat?"
"Obatku udah habis ma. Rencananya nanti aku mau ke apotik buat nebus lagi."
"Ya udah, kalau begitu kamu nggak usah bantuin mama. Mendingan sekarang kamu istirahat saja. Biar mama dan bi Siti yang siapin makanan."
***
Satu jam kemudian tepat pukul 12.00 siang waktunya jam makan siang. Widya menemui suaminya yang tengah mengobrol dengan Rendra di teras depan. Sedangkan Nina dan juga siti menyiapkan hidangan di ruang makan.
"Bi Siti udah tahu belum, kalau di rumah ini ada penghuni baru?" tanya Nina kepada pembantu barunya.
"Sudah non, bahkan tadi bibi yang pertama kali bertemu dengannya."
Bi Siti senyam senyum, nampaknya dia terpesona oleh ketampanan pria yang diakui sebagai kakak tirinya.
"Oh ya? Kalau boleh tahu orangnya seperti apa ya bi? Aku tadi sempat berpapasan, tapi aku nggak berani menatap wajahnya."
"Sungguh non? Jadi non belum bertegur sapa dengannya? Wah, berarti non kurang beruntung, dia pemuda yang sangat tampan, seperti dewa non, ganteng banget!"
Nina terkekeh meledeknya. "Bibi kalau nyanjung gak usah ketinggian, nanti kalau jatuh bakalan sakit. Memangnya di dunia ini ada manusia yang sejajar dengan dewa? Bibi ini lucu sekali!"
Tidak lama dari itu Widya, Hermawan dan juga Rendra memasuki ruang makan. Di situ Siti langsung pamitan untuk keluar karena sudah selesai menata hidangannya.
Nina masih juga menunduk tidak berani menatap pria itu. Entah apa yang membuatnya begitu canggung dan sangat tidak nyaman bertemu orang asing yang tiba-tiba mengharuskannya tinggal satu atap dengannya.
"Nah, ini adik kamu Rendra, namanya Nina. Nina, kamu sudah berkenalan sama kakak kamu belum? Ini kakak kamu datang dari Dubai. Ayo kenalan dulu. Kalian belum saling mengenal kan?"
Nina mendongak. Bola matanya seolah mau loncat, begitupun juga dengan pria itu, menegang saat mata mereka bertemu.
Deg,,
"Loh, bukankah dia gadis yang aku bawa ke hotel? Kok dia ada di sini? Jadi ini yang dimaksud adik oleh Papa?'
Pria itu tercengang, matanya tak lepas sedikitpun mengamati wajahnya yang terlihat begitu jelas, cantik.
Nina meneguk ludah dengan tubuhnya gemetaran. Sebelum meninggalkan kamar hotel, ia sempat memandang pria yang tertidur pulas di sebelahnya. Meskipun ia ragu akan pria itu, tapi hatinya selalu menuntun dan seolah-olah menunjukkan, ya benar, dia pria yang sudah menidurinya.
Keduanya berperang melawan pemikirannya masing-masing. Mereka masih tidak menyangka, ternyata hubungannya cukup dekat, bahkan harus berperan sebagai adik dan kakak.
"Lo kok pada diam sih? Kalian nggak ingin saling mengenal?"
Mendapati kedua anaknya saling diam Hermawan langsung memberikan teguran kepada keduanya.
Rendra tergugup, lamunannya buyar seketika. "Ah, i—iya! Tentu saja aku ingin mengenalnya."
Rendra langsung mengulurkan tangannya kepada Nina, dan itu membuat Nina semakin dilanda kegelisahan.
"Halo, namaku Narendra. Panggil saja aku kak Rendra."
Di situ Nina masih diam dalam kegelisahannya.
"Nina! Ayo ulurkan tanganmu!"
Widya juga menegurnya. Dia tak suka dengan sikap jutek putrinya.
"Ah, i-iya!" Dengan terpaksa Nina mengulurkan tangannya.
"Perlu dimaklumi saja Rendra, Nina ini anaknya pemalu. Dia memang gitu kalau bertemu dengan orang asing, suka malu-malu untuk berkenalkan," celetuk Widya.
Rendra mengulas senyumnya dengan satu alisnya terangkat. "Oh ya? Jadi dia anaknya pemalu ya ma?"
Andai saja orang tuanya tahu betapa liarnya malam itu. "Nggak papa sih malu-malu, daripada malu-maluin! Bukannya begitu Nina?"