NovelToon NovelToon
Immortal Restaurant

Immortal Restaurant

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Radapedaxa

Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.

Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.

“Aku pensiun.”

Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.

Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.

Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.

Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:

Membuka sebuah restoran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Semangkuk Kehangatan

Uap tipis mengepul perlahan dari mangkuk yang baru saja diletakkan di atas meja.

Aroma hangat segera memenuhi ruangan kecil kedai itu.

Gadis kecil itu terpaku.

Matanya menatap mangkuk di depannya seakan melihat sesuatu yang mustahil.

Mie putih keemasan terendam dalam kuah berwarna cokelat bening yang berkilau lembut. Di atasnya tersusun rapi beberapa topping yang belum pernah ia lihat sebelumnya—sebutir telur rebus yang terbelah sempurna dengan kuning telur lembut di tengahnya, beberapa lembar rumput laut gelap yang masih beruap, dan irisan daging tipis berwarna kecokelatan yang tampak empuk.

Aromanya…

Sungguh luar biasa.

Hangat, gurih, dalam, seolah setiap uap yang naik membawa sesuatu yang membuat hati tenang.

Gadis itu bahkan tidak menyadari bahwa air liurnya hampir menetes.

Ia menelan ludah dengan susah payah.

“Ini…”

Suaranya kecil.

“…mie?”

Pria di depannya tertawa kecil.

Tawa yang hangat dan ringan.

“Secara teknik, iya,” katanya santai. “Tapi nama makanan ini sebenarnya ramen.”

“Ra…men?”

Gadis itu menatapnya bingung.

Pria itu tersenyum, lalu menyilangkan tangan di dada dengan santai.

“Ramen adalah resep rahasiaku.”

Ia menunjuk mangkuk itu dengan dagunya.

“Mie dibuat dari adonan yang diolah dengan benar, lalu dimasak hingga memiliki tekstur yang pas. Kuahnya direbus lama dengan berbagai rempah agar rasanya dalam dan hangat.”

Ia menunjuk topping satu per satu.

“Di atasnya ada telur rebus, rumput laut, dan beberapa irisan daging.”

Setiap kata yang ia ucapkan membuat tenggorokan gadis itu bergerak.

Ia menelan ludah lagi.

Tanpa sadar.

Perutnya berbunyi keras.

Krrrkkk…

Gadis itu langsung menutup perutnya dengan panik.

Wajahnya memerah karena malu.

Pria itu justru tertawa lebih lebar.

Ia kemudian menarik kursi dan duduk di seberang gadis kecil itu.

Sikapnya santai.

Seperti paman biasa yang sedang berbicara dengan keponakannya.

“Ngomong-ngomong,” katanya ramah, “siapa namamu?”

Gadis itu tertegun.

Ia langsung berdiri dari kursinya dengan gugup.

Tangannya mengepal di depan dada.

“A-Aku…!”

Ia membungkuk kecil.

“Namaku Shen Ning, tu—”

Pria itu langsung tertawa.

“Tunggu, tunggu.”

Ia mengangkat tangan.

“Tak perlu bersikap formal seperti itu.”

“Santai saja, Nak.”

Shen Ning langsung menjadi semakin malu.

Ia duduk kembali dengan kikuk.

“Maaf…”

Pria itu menggeleng sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Ia lalu menepuk dadanya sendiri.

“Kalau begitu, aku juga harus memperkenalkan diri.”

“Marga keluargaku Zhao.”

“Jadi kau bisa memanggilku Zhao saja.”

Setelah itu ia meraih tangan wanita di sampingnya dengan santai.

Wanita cantik itu tersenyum lembut.

“Dan ini istriku.”

Pria itu berkata dengan nada bangga.

“Kami baru menikah tahun lalu.”

Ia lalu menoleh pada Shen Ning dengan ekspresi penuh percaya diri.

“Bagaimana menurutmu?”

“Aku pintar mencari pendamping hidup, kan?”

Wanita itu langsung mencubit pinggangnya keras.

“Aduh!”

Zhao meringis.

Wanita itu menatapnya dengan tatapan setengah kesal, setengah geli.

“Suamiku memang orang seperti ini,” katanya pada Shen Ning sambil tersenyum.

“Jadi kau harus membiasakan diri.”

Ia lalu sedikit membungkuk.

“Namaku Yueling.”

Shen Ning menatap mereka berdua.

Entah kenapa…

Suasana hangat itu membuat dadanya terasa ringan.

Tanpa sadar ia tertawa kecil.

“Baik…”

Ia berkata dengan sedikit gugup.

“Tuan Zhao… Nyonya Yueling.”

Zhao langsung menggeleng.

“Bukankah aku sudah bilang santai saja?”

Ia menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari.

“Panggil saja Paman Zhao.”

Lalu menunjuk Yueling.

“Dan dia Bibi Yueling.”

Shen Ning ragu sesaat.

Namun melihat senyum hangat mereka—

Ia akhirnya mengangguk.

“Baik… Paman Zhao. Bibi Yueling.”

Setelah itu matanya kembali jatuh ke mangkuk ramen di depannya.

Uap hangat masih naik perlahan.

Aromanya begitu menggoda.

Yueling tersenyum lembut.

“Kenapa kau hanya melihatnya?”

“Makanlah sebelum dingin.”

Shen Ning tersadar.

Ia menunduk.

Tangannya menggenggam ujung bajunya.

“Aku… sepertinya kalian salah paham…”

Suaranya semakin kecil.

“Aku… bukan pelanggan…”

Ia menelan ludah.

“…dan aku bahkan tidak punya uang.”

Tangannya perlahan menunjuk tas anyaman di samping kursi.

Di dalamnya ada tumpukan topi jerami.

Itu satu-satunya yang ia miliki.

Zhao dan Yueling saling menatap.

Lalu—

Mereka tersenyum.

Senyum hangat yang membuat dada Shen Ning terasa aneh.

Zhao bersandar di kursinya.

“Kau gadis yang baik.”

Ia melambaikan tangan santai.

“Tak usah memikirkan itu.”

Ia menunjuk ramen di depannya.

“Anggap saja ini jamuan gratis.”

“Untuk merayakan hari pembukaan kedai kami.”

Mata Shen Ning membelalak.

“Benarkah…?”

Kilau harapan muncul di matanya.

Zhao mengangguk ringan.

“Tentu saja.”

Shen Ning langsung membungkuk berulang kali.

“Terima kasih!”

“Terima kasih banyak!”

Tangannya gemetar saat ia mengambil sendok.

Namun begitu aroma ramen itu kembali menyentuh hidungnya—

Segala rasa malu dan ragu perlahan menghilang.

Ia menyendok sedikit kuah.

Lalu meniupnya pelan.

Dan…

Menyeruputnya.

Dalam satu detik—

Matanya langsung membelalak.

Dunia di sekelilingnya seperti menghilang.

Yang tersisa hanya rasa.

Hangat.

Dalam.

Gurih.

Rempah yang lembut namun kaya menyelimuti lidahnya seperti pelukan.

Mie yang kenyal berpadu sempurna dengan kuah yang hangat.

Seolah ia sedang berenang di lautan rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Tubuhnya gemetar.

Air mata perlahan mengalir dari matanya.

“Apa…”

Suaranya bergetar.

“…ini?”

Ia menatap mangkuk itu dengan tidak percaya.

“Ini… terlalu enak…”

Air matanya semakin banyak.

Tiba-tiba ia berdiri.

Lalu hendak bersujud di depan Zhao.

Namun—

Tubuhnya berhenti.

Seolah ada sesuatu yang menahannya.

Ia mencoba menunduk lagi.

Namun tetap tidak bisa.

Zhao yang duduk santai hanya menurunkan jarinya perlahan.

Tak ada yang menyadari—

Kecuali bahwa sesuatu yang tak terlihat telah menahan gerakan Shen Ning.

Gadis itu kebingungan.

“Eh…?”

Yueling tertawa kecil.

Ia menepuk bahu Shen Ning.

“Apa yang kau lakukan?”

Shen Ning hampir menangis.

“Aku hanya ingin berterima kasih…”

“Karena telah mengizinkanku memakan makanan terenak yang pernah kumakan…”

Zhao melambaikan tangan.

“Itu sudah lebih dari cukup.”

Ia menunjuk kursi.

“Sekarang duduklah kembali dan makan.”

Shen Ning mengangguk cepat.

Ia duduk lagi dengan penuh semangat.

Namun saat hendak makan—

Tiba-tiba tangannya berhenti.

Yueling mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Apakah makanannya kurang pas?”

Shen Ning langsung menggeleng keras.

“Tidak!”

“Ini sempurna!”

“Bahkan terlalu sempurna!”

Ia menunduk.

Suaranya kecil.

“Namun…”

“Aku teringat adik-adikku di rumah…”

“...mereka sedang menunggu.”

“Dan mereka kelaparan.”

Ia menggigit bibirnya.

“Jadi…”

“Kalau boleh…”

“Aku tidak akan makan ramen ini…”

“Aku ingin memberikannya pada mereka.”

Ruangan itu hening sesaat.

Zhao dan Yueling saling menatap.

Lalu—

Zhao tersenyum.

“Begitu ya.”

Ia mengangguk pelan.

“Sudah kuduga.”

“Kau memang anak yang baik.”

Ia berdiri.

Lalu menuangkan secangkir teh hangat untuk Shen Ning.

“Minumlah ini dulu.”

Ia berkata lembut.

“Kau tidak perlu khawatir.”

“Makanlah dengan tenang.”

“Aku akan membuatkan ramen lain untuk kau bawa pulang.”

Shen Ning langsung panik.

“Tidak!”

Ia buru-buru berdiri.

“Aku tidak ingin merepotkan Paman Zhao lagi!”

“Kalau terlalu banyak makanan diberikan…”

“Kedai ini akan merugi…”

Zhao tertawa kecil.

“Merugi?”

Ia menggeleng pelan.

“Tidak ada kata rugi untuk kemanusiaan.”

Setelah mengatakan itu—

Ia berjalan kembali ke dapur.

Yueling tetap duduk menemani Shen Ning.

Ia mendorong mangkuk ramen itu sedikit lebih dekat.

“Nah.”

“Apa lagi yang kau tunggu?”

“Makanlah sampai kenyang.”

Air mata Shen Ning kembali mengalir.

Ia menatap wanita di depannya.

“Kalian…”

“Sungguh baik…”

“Aku…”

“Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kalian…”

Yueling tersenyum.

Lalu tiba-tiba menarik Shen Ning ke dalam pelukan lembut.

Tubuh kecil itu langsung membeku.

Suara Yueling hangat di telinganya.

“Kalau begitu…”

“Balaslah dengan satu hal saja.”

Ia mengusap kepala Shen Ning dengan lembut.

“Senyuman yang lebar.”

“Dan tubuh yang sehat.”

“Itu sudah lebih dari cukup.”

1
SENJA
lu ngeselin ahli itu betinaaa hadeeeh🤣
SENJA
sotoy ahhh kakek 😅
SENJA
nih betina cari mati mulu yeeee😤
SENJA
lu nyari mati lu 🤣
SENJA
laaah yueling ngga tau si zhao itu apa???
SENJA
laaah masih aja dipikirin 😤
SENJA
hadeeeh 🤭🤭🤭
SENJA
aaah payah dong kaisar nya 😤
SENJA
wah punya banyak pegawai baru 🤣
SENJA
dari bandit jadi pelayan 🤣
SENJA
wakakaa hayoloh🤣
Kang Comen
mc cwe ap cwo ???
RDXA: MC nya cowo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!