NovelToon NovelToon
Second Half: Velix The Next Legend

Second Half: Velix The Next Legend

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wawan wan

Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.

"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix

bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30 Peluit Pertama di Neraka Barat

BAB 30: Peluit Pertama di Neraka Barat

Lampu sorot Stadion Cendrawasih belum dinyalakan penuh karena matahari sore masih menggantung rendah di ufuk barat, tetapi atmosfer di dalam stadion sudah terasa sangat panas. Tribune penonton dipenuhi oleh suporter tuan rumah yang mengenakan jersi hitam-emas, lengkap dengan bendera raksasa dan tabuhan drum yang bergemuruh konstan.

Ini adalah laga pembuka Grup D Turnamen Regional Provinsi Jakarta: SMP Merah Marun melawan sang penguasa bertahan, SMP Cendrawasih Pusat.

Di lorong pemain, kedua tim sudah berbaris rapi. Velix berdiri tegak di barisan depan bersama Danu. Di bawah jersi merah marunnya, struktur otot Velix yang telah dioptimalkan oleh Sistem hingga menyentuh tinggi $165\text{ cm}$ membuatnya tidak lagi terlihat kerdil di samping para pemain elit Cendrawasih.

Arya, kapten sekaligus gelandang serang nomor 10 Cendrawasih Pusat, melirik Velix dari sudut matanya. Ada sedikit kernyihan heran di wajahnya melihat ketenangan ekstrem yang terpancar dari bocah nomor 11 tersebut. Tidak ada kegugupan, tidak ada keringat dingin. Hanya sepasang mata sedingin es yang menatap lurus ke arah lapangan.

"Heh, nomor 11," Arya berbisik dengan nada santai namun sarat akan keangkuhan. "Gua denger kalian lolos lewat jalur kejutan di kecamatan. Tapi inget, ini level provinsi. Keberuntungan kalian habis di sini."

Velix tidak menoleh. Berkat efek pasif Cold-Blooded Mentor, provokasi itu hancur sebelum sempat menyentuh fokusnya. Detak jantungnya stabil di angka 70 BPM.

"Kita lihat nanti di lapangan, Arya. Pastikan aja gelandang-gelandang lu bisa ngejar bola," balas Velix dengan suara bariton yang berat dan tenang, memberikan senyuman ramah yang justru terasa mengintimidasi ego sang kapten lawan.

Prreeettt!

Wasit berlisensi nasional meniup peluit panjang, menandakan babak pertama dimulai. SMP Cendrawasih Pusat yang mengambil tendangan pertama langsung memperagakan permainan yang membuat mereka ditakuti: Gegenpressing tingkat tinggi.

Tiga pemain depan mereka langsung memburu bola bagaikan serigala lapar begitu bek Merah Marun menguasai bola. Hanya dalam waktu tiga menit, taktik menekan itu langsung membuahkan hasil. Bek kanan Merah Marun panik karena dikurung, melakukan kesalahan operan yang langsung dipotong oleh sayap kiri Cendrawasih.

Sret! Bola dialirkan cepat ke tengah, menuju Arya yang berdiri bebas di depan kotak penalti.

"Tutup ruangnya!" teriak Pak Joko panik dari pinggir lapangan.

Arya melakukan satu gerak tipu body feint, mengecoh Danu yang terlanjur maju, lalu melepaskan tembakan melengkung yang sangat akurat ke pojok kiri atas gawang.

Breeettt!

Gol. Baru menit ke-4 babak pertama berjalan, papan skor elektronik Stadion Cendrawasih sudah berubah menjadi 1-0 untuk keunggulan tuan rumah.

Stadion seketika pecah dalam gemuruh sorakan riuh suporter hitam-emas. Arya merayakan golnya dengan berlari ke pinggir lapangan, melambaikan tangan ke arah tribune, lalu menatap Velix sembari menunjuk papan skor dengan senyum meremehkan.

"Sial! Mereka cepet banget, Vel! Gua gak sempat nutup jarak!" keluh Danu dengan napas terengah-engah, wajahnya langsung merosot tegang. Mental anak-anak Merah Marun yang lain seketika drop, bayang-bayang dibantai di grup neraka mulai menghantui pikiran mereka.

Di tengah runtuhnya mental tim, Velix melangkah maju. Sifat hangat dan suportifnya mengambil alih untuk menstabilkan kondisi psikologis rekan-rekannya. Dia menepuk pundak Danu dengan keras, lalu berteriak lantang ke seluruh penjuru lapangan.

"Angkat kepala kalian! Pertandingan baru jalan empat menit!" Seru Velix, suaranya yang bariton dan mantap memotong gemuruh stadion. "Mereka cuma memanfaatkan kesalahan operan kita, bukan karena taktik mereka gak bisa ditembus. Danu, tetap di posisimu. Lini belakang, rapatkan jarak antar-pemain. Serahkan lini tengah ke gua!"

Mendengar instruksi yang begitu tenang dan sarat akan keyakinan dari sang jenderal, kepanikan anak-anak Merah Marun perlahan mereda. Mereka kembali ke posisi masing-masing dengan tatapan mata yang kembali fokus.

Pertandingan dimulai kembali dari lingkaran tengah. Bola mengalir ke kaki Velix. Dua gelandang bertahan Cendrawasih Pusat langsung menerjang maju dengan kecepatan penuh, berniat menjatuhkan Velix dan mematikan momentum transisi Merah Marun sejak dini.

Namun, inilah momen yang dinantikan oleh Velix Purnama. Sisi serius dan fokusnya terkunci 100%. Di sudut pandangnya, bayangan ruang kosong di lini belakang Cendrawasih yang naik terlalu tinggi terlihat begitu menganga.

Senjata baru dari Andrea Pirlo siap dilepaskan untuk pertama kalinya di panggung provinsi.

1
Alia Chans
lanjut🌹✍️🤭
Wawan
Salam kenal buat Velix✍️
aldo
seru sekali 🙏🙏🙏🙏
aldo
ayo lanjut author 🙏🙏🙏🙏
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏
NoxVeil
Ayok like dan komen guys biar tambah smngt up nya💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!