"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Penolakan Alin
Suasana di ruang tengah mendadak membeku seketika. Rahang tegap Elang mengetat dengan sangat nyata, otot di sekitar pipinya mengeras, dan binar matanya berkilat penuh kilat amarah yang tidak suka atas kelancangan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh gadis berusia dua puluh dua tahun di depannya.
Alin melanjutkan penuturannya tanpa memberi jeda sedikit pun pada suaminya untuk memotong. "Dengan begitu, Mas Elang bisa bebas tinggal bersama Mbak Cindy dan Ega tanpa harus merasa bersalah pada siapa pun, termasuk pada saya atau keluarga saya. Mau bagaimanapun, Mas, saya tidak senaif itu untuk pura-pura tidak tahu kalau tinggal satu rumah dengan mantan kekasih suami ... di dalam sebuah rumah tangga itu tidak baik. Itu racun yang perlahan akan membunuh saya. Kalau hanya Ega yang tinggal di sini karena dia anak Mas, saya sama sekali tidak keberatan. Saya akan merawatnya dengan tulus seolah dia adik atau anak saya sendiri. Tapi jika ibunya juga harus menetap di bawah atap yang sama–" Alin menggantung kalimatnya, menatap Cindy yang mendadak menegang. "Maaf, saya tidak sepasrah dan sebodoh itu."
Cindy yang sejak tadi memilih diam, tiba-tiba memajukan tubuhnya dari sofa tunggal. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh lengan kemeja biru tua milik Elang dengan gerakan kilat yang sarat akan kepanikan buatan.
"Mas ... apa yang dikatakan oleh Alin ada benarnya. Aku ... aku tidak boleh egois di sini," isak Cindy dengan suara yang sengaja ditahan agar terdengar parau. "Kehadiranku hanya akan menjadi beban dan menghancurkan pernikahan kalian yang baru seumur jagung. Lebih baik aku pergi dari sini sekarang juga, Mas El. Aku bisa membawa Ega mencari tempat tinggal lain, mumpung badannya sudah agak mendingan setelah minum obat tadi."
Cindy menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan, bahunya terguncang kecil seolah-olah ia sedang menahan penderitaan yang luar biasa. Sentuhan tangan Cindy di lengan Elang membuat mata pria itu kian menggelap oleh emosi yang tertahan. Sifat dasar Elang yang dingin, arogan, dan terbiasa memegang kendali penuh atas segala situasi di hidupnya kini terusik hebat oleh penolakan Alin. Pria itu melepaskan tangan Cindy dengan gerakan yang sangat lembut, lalu mengalihkan seluruh konfrontasi matanya pada Alin dengan tatapan mengintimidasi.
"Cukup, Alin! Jaga mulutmu dan jangan kekanak-kanakan!" suara Elang meninggi satu oktav, memecah kesunyian rumah baru mereka yang masih berbau cat. "Tidak ada kata pembatalan pernikahan dalam kamus hidupku. Kamu tahu betul pernikahan ini terjadi karena permintaan terakhir Nenek Aisyah, dan aku tidak akan pernah sudi mengecewakan Nenek hanya karena ego mudamu yang terlalu tinggi!"
Elang menegakkan punggungnya, memancarkan aura dominan yang biasa ia gunakan untuk menundukkan lawan bisnisnya. "Sebagai istriku, tugas utamamu adalah patuh dan menghormati setiap keputusanku. Aku yang memimpin rumah ini, aku yang membiayai semua fasilitas yang kamu nikmati, dan aku yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan Ega serta Cindy. Keputusanku mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Mereka tetap tinggal di sini sampai aku menemukan jalan keluar lain."
Mendengar bentakan halus bernada perintah itu, Alin tidak menciut sama sekali. Ia justru menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa beludru dengan santai, melipat kedua tangan di depan dada, lalu melempar senyum meremehkan yang membuat ego Elang kian meradang ke titik tertinggi.
"Saya tidak menyangka ya, ternyata seorang CEO startup yang cerdas dan sukses seperti Mas Elang bisa seegois ini," jawab Alin dengan nada suara yang teramat santai, kontras dengan tensi ruangan yang nyaris meledak karena amarah Elang. "Mas membawa masa lalu Mas masuk ke rumah yang harusnya menjadi tempat kita memulai segalanya, lalu Mas menggunakan nama Nenek sebagai tameng atas rasa bersalah Mas pada Mbak Cindy. Mas bilang ini untuk mematuhi Nenek? Lucu sekali, Mas. Nenek bahkan tidak sudi melihat Mbak Cindy menginjakkan kaki di gedung pernikahan kita semalam. Mas sedang membohongi diri sendiri."
Alin bangkit berdiri dari sofa, merapikan ujung daster katunnya yang sedikit kusut. Ia menatap suaminya dari atas dengan pandangan dingin yang tidak lagi menyisakan rasa hormat seorang istri kepada suaminya. "Kalau Mas Elang memang terlalu pengecut untuk mengurus pembatalan pernikahan ini karena takut pada otoritas Nenek atau takut nama baik perusahaan Mas tercoreng, tidak apa-apa. Biar saya sendiri yang datang ke rumah Nenek siang ini membawa pakaian saya. Saya bisa mengurus semuanya sendiri kok, tanpa perlu bantuan atau persetujuan dari Mas Elang yang terhormat."
Cindy mendongak dengan mata melebar, ada kilat keterkejutan yang nyata di sana. Ia tidak menyangka bahwa gadis muda berusia dua puluh dua tahun yang ia kira akan menangis pasrah dan mengalah ini justru memiliki keberanian sebesar itu untuk menantang balik seorang Elang yang keras kepala.
Sementara itu, Elang ikut bangkit berdiri dari duduknya dengan gerakan cepat. Wajahnya memerah padam menahan murka yang sudah sampai ke ubun-ubun. Pria itu tidak pernah ditentang sekeras ini oleh siapa pun di perusahaannya, dan fakta bahwa Alin—gadis yang dinikahinya tanpa rasa cinta—berani mengancam kedudukannya dan berniat mengadukan hal ini pada Nenek Aisyah di depan Cindy, benar-benar memicu sisi arogansinya ke tingkat yang berbahaya.
"Alin! Sekali lagi kamu sebut kata pembatalan atau melangkah keluar dari pintu rumah ini, jangan pernah harap kamu bisa kembali!" desis Elang dengan suara rendah yang sangat berbahaya, melangkah satu blok mendekati posisi Alin hingga jarak wajah mereka hanya tersisa sekian sentimeter. Napasnya yang memburu terasa hangat di kulit wajah Alin yang tetap memasang ekspresi datar.
"Saya memang tidak pernah berniat untuk kembali ke rumah yang salah ini, Mas Elang," balas Alin lirih, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu tajam dan menusuk tepat di pusat kesombongan suaminya.
Atmosfer di antara mereka berdua kini terasa seperti medan perang yang siap meledak dan mengorbankan apa saja yang ada di sekitarnya. Alin tetap berdiri tegak dengan harga dirinya yang utuh, menolak untuk tunduk pada perintah pria egois yang hatinya masih tertinggal di masa lalu, meninggalkan Cindy yang terdiam terpaku di sudut sofa sambil mendekap Ega, menyaksikan bagaimana fondasi pernikahan baru itu sudah retak berkeping-keping sebelum hari pertama mereka berakhir.
Bersambung ... 🍊