NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 - Sisi Lain Kemegahan Kota

Setelah berhasil melewati gerbang utama Kota Timur tanpa menemui hambatan apa pun, Cang Xuan, Ling Yue, Xu Kong, dan Tuan Xin akhirnya benar-benar memasuki pusat kota terbesar di seluruh Benua Timur. Begitu melangkah lebih jauh ke dalam kota, pemandangan yang terbentang di hadapan mereka langsung membuat Cang Xuan terpaku di tempat.

Gedung-gedung batu yang tinggi menjulang berdiri di berbagai sudut jalan. Sebagian bangunan bahkan memiliki beberapa lantai, sesuatu yang belum pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Di sepanjang jalan utama, para pedagang sibuk menawarkan barang dagangan mereka, sementara kereta-kereta kuda berlalu-lalang membawa berbagai macam barang dari berbagai wilayah.

Di antara keramaian itu, tidak sedikit kultivator yang terlihat berjalan dengan senjata di punggung mereka. Ada yang mengenakan pakaian sekte, ada pula yang tampak seperti pengembara. Berbagai macam suara bercampur menjadi satu, menciptakan suasana hidup yang jauh berbeda dibandingkan desa-desa yang pernah dikunjungi Cang Xuan sebelumnya.

Tatapannya terus bergerak ke berbagai arah, berusaha menyerap semua pemandangan yang ada di sekitarnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat tempat semegah ini secara langsung.

Dengan nada penuh kekaguman, ia bergumam, "Jadi ini pusat Benua Timur..."

Matanya masih belum lepas dari bangunan-bangunan yang menjulang di sekitar mereka.

"Besarnya tidak masuk akal."

Melihat reaksi tersebut, Tuan Xin hanya tersenyum kecil. Bagi lelaki tua yang pernah hidup di Dunia Atas itu, pemandangan seperti ini memang tidak terlalu istimewa.

"Ini masih belum seberapa."

Nada suaranya terdengar santai seperti biasa.

"Kalau nanti kau sampai ke Dunia Tengah, kota seperti ini hanya dianggap biasa."

Mendengar itu, Cang Xuan langsung menoleh kepadanya dengan ekspresi tidak percaya.

Baginya, Kota Timur sudah terasa seperti dunia yang sama sekali berbeda dibandingkan tempat asalnya. Sulit membayangkan bahwa di Dunia Tengah masih ada kota-kota yang jauh lebih besar daripada ini.

Pada akhirnya ia hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum kagum.

Di sampingnya, Xu Kong memperhatikan suasana kota dengan tatapan yang jauh lebih waspada. Ia tahu bahwa mereka kini berada tepat di wilayah kekuasaan Murong Ye. Kesalahan kecil saja bisa membuat seluruh rencana mereka berantakan.

Sementara itu, Ling Yue terlihat jauh lebih tenang. Meski sesekali memperhatikan bangunan-bangunan di sekitar, fokus utamanya tetap pada misi yang akan mereka jalankan. Ia tahu bahwa di balik keramaian Kota Timur tersembunyi berbagai bahaya yang tidak boleh diremehkan.

Di tengah ramainya Kota Timur, Tuan Xin akhirnya menghentikan langkahnya. Setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka secara khusus, lelaki tua itu menatap Cang Xuan dan Xu Kong dengan ekspresi serius.

"Baiklah."

Nada suaranya tenang, tetapi cukup untuk membuat perhatian semua orang tertuju kepadanya.

"Kita akan berpisah di sini."

Tatapannya kemudian beralih kepada Cang Xuan dan Xu Kong.

"Kalian berdua fokus mencari informasi tentang istana."

Ia mengangkat jarinya sebagai penekanan.

"Dan sebisa mungkin hindari keributan yang tidak perlu."

Wajahnya menjadi sedikit lebih serius.

"Kalau sampai membuat kekacauan, rencana kita bisa berantakan."

Cang Xuan segera menganggukkan kepala.

"Aku mengerti."

Melihat jawaban tersebut, Tuan Xin tampak cukup puas.

Setelah itu ia menoleh ke arah Ling Yue.

"Ling Yue."

Gadis itu langsung memperhatikannya.

"Kau ikut denganku."

Tuan Xin menunjuk ke arah bagian kota yang mengarah ke pelabuhan.

"Kita pergi ke pelabuhan dan menemui tukang kapal."

Ling Yue tidak menunjukkan keberatan sedikit pun.

"Baik."

Sebelum berangkat, ia melangkah mendekati Cang Xuan. Dengan ekspresi yang sedikit lebih lembut dibanding biasanya, ia menepuk bahu pemuda itu.

"Hati-hati."

Tatapannya penuh peringatan.

"Jangan membuat masalah yang tidak perlu."

Mendengar itu, Cang Xuan hanya tersenyum.

"Aku tahu itu."

Namun entah kenapa, jawaban tersebut justru membuat Xu Kong menghela napas pelan dari samping.

Karena dari semua orang yang ada di kelompok mereka, orang yang paling mungkin terlibat masalah tanpa sengaja justru adalah Cang Xuan sendiri.

Ling Yue seolah memahami pikiran Xu Kong dan hanya menggelengkan kepala kecil sebelum berbalik.

Tidak lama kemudian, ia dan Tuan Xin mulai berjalan menjauh mengikuti jalan utama menuju kawasan pelabuhan.

Kerumunan manusia yang memenuhi kota perlahan menelan sosok mereka hingga akhirnya menghilang dari pandangan.

Kini yang tersisa hanyalah Cang Xuan dan Xu Kong.

Cang Xuan dan Xu Kong terus berjalan menyusuri jalan-jalan utama Kota Timur yang dipenuhi keramaian. Di sepanjang perjalanan, mata Cang Xuan tidak pernah berhenti bergerak. Ia terus memperhatikan bangunan-bangunan tinggi, toko-toko besar, serta berbagai barang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Bagi orang lain, pemandangan seperti itu mungkin sudah biasa. Namun bagi seseorang yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Desa Awan Timur, setiap sudut kota terasa seperti sesuatu yang baru dan menakjubkan.

Sesekali ia memperlambat langkah hanya untuk melihat sebuah bangunan yang menarik perhatiannya sebelum kembali menyusul Xu Kong.

Pada akhirnya ia tidak bisa menahan rasa kagumnya.

"Aku tidak menyangka ada tempat seperti ini."

Tatapannya masih tertuju pada deretan bangunan batu yang menjulang di kedua sisi jalan.

"Bahkan bangunannya jauh lebih besar daripada rumah kepala desa."

Mendengar itu, Xu Kong tertawa kecil.

Baginya, reaksi Cang Xuan cukup menghibur.

"Itu karena kau belum melihat sisi lain kota ini."

Cang Xuan langsung menoleh dengan penasaran.

"Sisi lain?"

Xu Kong menganggukkan kepala.

"Di balik kemegahan ini."

Tatapannya menyapu jalanan yang ramai di sekitar mereka.

"Banyak desa yang hidup dalam kesulitan."

Senyumnya perlahan menghilang.

"Murong Ye hanya peduli pada Kota Timur."

Nada suaranya terdengar sedikit dingin.

"Sedangkan desa-desa kecil jarang diperhatikan."

Mendengar penjelasan itu, langkah Cang Xuan perlahan melambat.

Tatapannya yang sebelumnya dipenuhi kekaguman mulai berubah.

Tanpa sadar, pikirannya kembali menuju tempat yang sudah tidak ada lagi.

Desa Awan Timur.

Ia teringat jalan-jalan kecil yang pernah ia lalui setiap hari.

Teringat rumah sederhana tempat ia tinggal bersama ibunya.

Teringat masa kecil yang penuh kesederhanaan.

Dan yang paling jelas, ia teringat hari-hari ketika dirinya harus masuk ke hutan sejak pagi dan baru pulang menjelang malam hanya untuk mendapatkan cukup uang membeli obat bagi ibunya.

Saat itu, tidak ada seorang pun yang datang membantu.

Tidak ada penguasa yang peduli.

Tidak ada orang kuat yang memperhatikan kehidupan mereka.

Kini setelah berdiri di tengah kemegahan Kota Timur, ia mulai memahami apa yang ingin dikatakan Xu Kong.

Gedung-gedung tinggi, jalan-jalan yang ramai, dan kemewahan yang terlihat di mana-mana memang mengesankan. Namun semua itu tidak berarti bahwa seluruh wilayah Benua Timur menikmati kehidupan yang sama.

Masih banyak desa yang hidup dalam kesulitan.

Masih banyak orang yang harus berjuang setiap hari hanya untuk bertahan hidup.

Dan Desa Awan Timur adalah salah satunya.

Cang Xuan perlahan menghela napas.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki kota, rasa kagumnya sedikit berkurang.

Kemegahan Kota Timur memang nyata.

Namun di balik semua itu, terdapat kenyataan lain yang tidak bisa dilihat hanya dari bangunan-bangunan megah dan jalanan yang ramai. Dan semakin lama ia mengenal dunia luar, semakin ia menyadari bahwa dunia ini jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan ketika masih tinggal di desa kecil bersama ibunya.

Saat menyusuri salah satu jalan utama Kota Timur, mereka melewati sebuah bangunan besar yang dipenuhi berbagai pengumuman. Banyak orang berkumpul di sekitar dinding bangunan tersebut untuk membaca informasi terbaru, daftar pencarian, hingga berbagai pemberitahuan dari pihak kota.

Awalnya Cang Xuan tidak terlalu memperhatikan tempat itu. Namun langkah Xu Kong tiba-tiba terhenti.

Wajah Siluman Kera itu langsung berubah.

"Gawat."

Mendengar nada suaranya, Cang Xuan segera menoleh.

"Ada apa?"

Xu Kong mengangkat tangannya dan menunjuk ke salah satu poster yang tertempel di dinding.

"Itu poster buruanku."

Ekspresinya menjadi semakin buruk.

"Ternyata masih ada sampai sekarang."

Cang Xuan langsung mengikuti arah yang ditunjuknya.

Benar saja.

Di tengah deretan pengumuman terpampang gambar wajah Xu Kong yang cukup besar. Di bawah gambar tersebut terdapat berbagai informasi mengenai identitasnya beserta hadiah penangkapan yang nilainya tidak sedikit.

Melihat itu, Cang Xuan langsung mengerutkan kening.

"Kau jangan sampai terlihat orang lain."

Tatapannya mulai bergerak ke arah kerumunan di sekitar mereka.

"Kalau ketahuan, kita akan dalam bahaya."

Namun peringatannya datang terlambat.

Seorang pria yang kebetulan berjalan melewati mereka tiba-tiba berhenti.

Matanya menatap Xu Kong beberapa detik.

Semakin lama, ekspresinya semakin berubah.

Kemudian matanya membelalak lebar.

"Tunggu!"

Suaranya terdengar cukup keras hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar.

"Bukankah itu Siluman Kera yang ada di poster buronan?!"

Kalimat tersebut langsung membuat suasana menjadi kacau.

Beberapa orang yang berada di dekat sana segera menoleh ke arah Xu Kong.

"Benar!"

"Itu dia!"

Seorang pria lain bahkan menunjuk langsung ke arah Xu Kong.

"Hadiahnya sangat besar kalau kita berhasil menangkapnya!"

Dalam hitungan detik, semakin banyak orang mulai memperhatikan mereka.

Yang lebih buruk lagi, beberapa prajurit patroli yang sedang berjaga tidak jauh dari sana juga ikut menoleh.

Salah seorang prajurit memperhatikan Xu Kong dengan seksama sebelum matanya menyipit.

"Diam di tempat!"

Ia segera menghunus pedangnya.

"Kami dari pasukan Kota Timur!"

Prajurit lain juga mulai bergerak mendekat.

"Jika kalian melawan, kami tidak akan segan melukai kalian bahkan membunuh kalian!"

Menyadari situasi sudah tidak bisa diselamatkan lagi, Cang Xuan langsung memandang Xu Kong.

"Lalu sekarang bagaimana, Xu Kong?"

Xu Kong bahkan tidak membutuhkan waktu untuk berpikir.

"Larilah apalagi!"

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, tubuhnya langsung bergerak.

Wuussh!

Siluman Kera itu berbalik dan melesat ke depan secepat mungkin.

Melihat rekannya sudah kabur, Cang Xuan juga tidak punya pilihan lain.

"Tunggu aku!"

Ia segera mengejar Xu Kong.

Di belakang mereka, para prajurit langsung berteriak.

"Kejar mereka!"

Dalam sekejap, jalanan Kota Timur berubah menjadi kacau.

Xu Kong dan Cang Xuan melompat ke atas sebuah kios sebelum melesat ke atap rumah terdekat. Dari satu atap ke atap lainnya mereka terus berlari sambil menghindari kejaran para prajurit.

Orang-orang di bawah hanya bisa menunjuk-nunjuk sambil berteriak.

Sementara itu, para prajurit terus mengejar tanpa henti.

"Woi!"

"Berhenti!"

Tentu saja kedua buronan dadakan itu sama sekali tidak berniat berhenti.

Mereka terus melompat melewati bangunan-bangunan yang berjajar rapat di pusat kota.

Brukk!

Setelah beberapa saat, Xu Kong dan Cang Xuan kembali turun ke jalan melalui sebuah gang sempit.

Tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun, mereka langsung berlari menembus lorong-lorong kota yang berliku.

Napas Cang Xuan mulai sedikit memburu.

"Kalau begini terus kita tidak akan dapat informasi apa-apa!"

teriaknya sambil terus berlari.

Xu Kong yang berada beberapa langkah di depannya langsung mendengus kesal.

"Diam saja dan lari!"

Ia melirik ke belakang.

"Mereka sudah semakin dekat!"

Benar saja.

Suara langkah kaki para prajurit masih terdengar dari belakang, bahkan jumlah mereka tampak semakin banyak. Alarm pengejaran mulai menyebar ke berbagai bagian kota, membuat situasi yang awalnya tenang berubah menjadi kekacauan besar.

Dan tanpa mereka sadari, aksi kejar-kejaran yang seharusnya dihindari sejak awal justru menjadi hal pertama yang mereka lakukan sesaat setelah memasuki Kota Timur.

End Chapter 29

1
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!