*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Keputusan IVF.
Ruangan kerja Ben lantai 45 terasa sepi.
Hanya ada suara AC dan tumpukan dokumen yang tidak disentuh sejak 2 jam yang lalu.
Junee duduk di atas sofa panjang di sudut ruangan. Lututnya ditekuk, dagu nempel di atasnya.
Matanya merah. Bukan karena baru selesai nangis, tetapi karena sudah 6 bulan ia
menahan tangisnya.
Di sampingnya, ada hasil lab terakhir.
AMH rendah. FSH tinggi. Endometriosis stadium 2.
Diagnosisnya jelas, PCOS. Peluang hamil alami di bawah 15%.
Dokter mengatakan “Kalau ingin cepat hamil, pertimbangkan IVF, Bu.”
Junee tidak jawab apa-apa waktu itu.
Ia hanya keluar dari dalam ruang periksa dan duduk diam di mobil selama hampir 30 menit.
Sekarang ia duduk di kantor Ben, membawa kata itu kembali.
“IVF.” Bisik Junee pelan, dengan pandangan menerawang jauh.
Ia tidak melihat ke arah Ben. Ia takut melihat ekspresi Ben setelah mendengar kata itu.
Ben menutup laptopnya.
Ia melangkah pelan, duduk di atas lantai depan sofa. Sejajar dengan Junee.
Tidak ada meja yang memisahkan. Tidak ada jabatan yang membayangi di antara mereka.
“Berapa biayanya?” Tanya Ben langsung. Ia mendengar ucapan sang istri.
Junee mendongak.
“90 sampai 150 juta sekali siklus, Ben. Dan tidak ada jaminan berhasil.” Ucap wanita itu pelan.
Ben mengangguk pelan.
Uang sebanyak untuk ia tidak ada apa-apanya. Milyaran rupiah pun akan ia keluarkan. Asalkan bisa membuat sang istri bahagia.
Tapi, pria itu tau yang mahal bukan uangnya. Yang mahal itu harapan.
“Kamu mau?” tanya Ben.
Junee menatap sang suami cukup lama.
“Kalau aku bilang tidak mau, kamu akan kecewa ‘kan?” Tanya Junee.
“Tidak.” jawab Ben cepat sembari menggelengkan kepalanya.
“Aku akan kecewa kalau kamu memaksa diri hanya karena takut aku kecewa.” Imbuh pria itu.
Junee terkekeh pelan. Namun terasa memilukan.
“Aku lelah, Ben. Lelah dibayangi harapan. Lelah kecewa setiap bulan. Lelah merasa badan aku gagal. Lelah mendengar pertanyaan ibu kamu.”
Ben mengangguk. Setidaknya, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Memberi penghiburan pada sang istri, sudah tidak ada artinya.
“Aku tau.”
Ia tidak lagi mengatakan ‘sabar ya’.
Tidak lagi mengatakan ‘nanti juga bisa’.
Karena 6 bulan terakhir ini mengajarkan Ben, kalau kata-kata itu tidak ada gunanya.
“Aku tidak perduli kita punya anak atau tidak.” Ucap Ben kemudian.
“Yang aku perdulikan hanya kamu. Kalau IVF membuat kamu semakin hancur, kita tidak jadi melakukannya. Titik.” Imbuh pria itu.
Junee menelan ludah.
“Tapi kalau aku tidak mencoba, aku takut menyesal seumur hidup, Ben.”
Setidaknya, dengan memcoba ia akan tau hasilnya seperti apa.
Ben juga ikut menatap mata Junee.
“Kalau begitu mari kita coba.” Ucapnya kemudian.
Junee sedikit tersentak.
“Kamu serius?” Tanya Ben tak percaya.
“Serius.” Jawab Ben sembari mengangguk yakin.
“Tapi ada syaratnya.” Imbuh pria itu.
“Syarat apa?” Tanya Junee penasaran.
“Kita lalui bersama. Aku akan menemani kamu setiap kontrol. Aku yang akan belajar menyuntik kalau kamu tidak kuat. Aku yang akan memberhentikan kalau kamu ingin berhenti. Ini bukan perang kamu sendiri, Junee. Ini perang kita berdua.” Ucap Ben.
Junee merasa dadanya sesak.
Bukan sesak karena sedih.
Tapi sesak karena mendengar kalimat yang terlontar dari bibir sang suami.
Ben selalu ada. Junee tak pernah sendiri.
“Ben… kenapa baru sekarang?” tanyanya pelan.
“Kenapa baru sekarang kamu mengatakan hal ini?”
Ben menggenggam tangan Junee.
“Karena aku ingin kamu yang memutuskan, Junee. Aku kira kalau aku bekerja keras, semua masalah akan selesai sendiri.
Aku baru sadar sekarang, masalah tidak akan selesai kalau kita tidak mengambil keputusan bersama..”
Junee tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan sang suami.
Ben pun membalas genggaman itu.
“Jadi kita mulai kapan?” Tanya Junee pelan.
“Kalau kamu sudah siap, aku akan menghubungi dokter Wina. Kapanpun kita mendapatkan jadwal, mari lakukan bersama.” Ucap Ben.
Junee mengangguk pelan. Ia merasa lega, namun juga ada ketakutan.
Takut memulai. Takut jika hasilnya gagal.
“Bagaimana kalau gagal, Ben?” Tanya wanita itu.
“Kalau gagal, kita ulangi lagi. Jika lelah mari kita cari jalan lain. Adopsi mungkin, atau hidup berdua aja. Yang penting kita tidak saling meninggalkan. Masih ada anak - anak panti yang membutuhkan kasih sayang kita.”
Junee kembali menatap Ben cukup lama.
“Kamu tidak marah, jika uangnya terbuang sia - sia?” Tanya Junee lagi.
“Uang bisa di cari lagi, Junee. Untuk kebahagiaan kamu, apapun akan aku lakukan.” Ucap pria itu.
Untuk pertama kali, Junee tidak melihat CEO Ben Holding yang dingin. Tetapi, Junee melihat Ben Pratama yang ia kenal dulu. Si culun yang dengan tatapan teduhnya.
“Kamu janji, Ben?” bisik Junee.
“Iya. Aku janji, Junee.” Jawab Ben.
“Aku tidak akan lepas tangan kali ini.” Imbuh pria itu.
Setelah mereka sepakat. Ben pun menghubungi dokter kandungan mereka. Untuk mendaftar program IVF.
“Bagaimana Ben?” Tanya Junee penasaran.
“Minggu depan, Junee. Suster mengatakan, kamu bisa melakukan stimulasi minggu depan, kalau kamu sudah siap.” Ucap Ben.
Junee mengangguk pelan. Jantungnya pun mulai berdetak kencang. Padahal belum mulai apapun.
Setelah mendapatkan kepastian, Ben mengajak sang istri untuk kembali ke penthouse di lantai 48.
Tangan mereka saling bertaut. Di dalam lift, Junee menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami.
Lembaran baru dalam hidup mereka akan segala di mulai.
“Aku gugup, Ben.” Ucap Junee pelan.
Pintu lift terbuka di lantai 48. Ben menuntun sang istri masuk ke dalam penthouse.
“Jangan dipikirkan dari sekarang, Junee. Jangan sampai kamu sakit. Kita harus sehat dan bahagia, agar semuanya berjalan lancar.” Ucap Ben saat mereka sudah berada di dalam penthouse.
Junee pun menganggukkan kepalanya. Namun dalam hati, tetaplah merasa sangat gugup.
“Mau makan malam apa?” Tanya Ben kemudian.
“Biar aku saja, Ben.” Junee menolak tawaran sang suami.
Ben menyunggingkan sudut bibirnya. “Malam ini, biar aku yang membuat makanan. Kamu mandi, supaya lebih segar.”
“Tapi, Ben—
Ben menggelengkan kepalanya. Ia pun mendorong tubuh sang istri menuju kamar utama.
“Jangan membantah. Aku juga bisa memasak.” Ucap Ben.
Junee menghela nafas pelan. Ia pun menurut pada sang suami.
---
---
pesan 1 kak