Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35| Cemburu
Waktu cepat berlalu kini kandungan Ara sudah menginjak minggu ke sepuluh, Jason sangat perhatian saat Ara mulai mengidam atau merengek agar lelaki itu tidak berjauhan dengannya. Semua keinginannya di turuti oleh Jason, kecuali yang tidak baik untuk kesehatan Ara, maka lelaki itu akan menolaknya dengan tegas.
“Sayang? Aku tahu kau sangat suka pedas, tetapi itu tidak baik untuk kesehatanmu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu. Tolong dengarkan aku! Bukannya aku tidak ingin menuruti keinginanmu, tetapi aku memikirkan kesehatanmu dan buah hati kita,” jelas Jason ketika Ara tidak mau berbicara dengannya, karena ia tidak menuruti keinginannya untuk membelikan beberapa makanan yang memang sangat pedas.
“Sayang, nona Jeon. Kau jangan mendiami aku seperti ini, suasana di rumah ini menjadi sangat sunyi tanpa adanya suaramu,” Jason menangkup wajah Ara dengan tangan besarnya dan menatap mata sang istri sangat dalam.
“Ya sudah, kalau kau tidak ingin membelikanku makan itu. Aku makan samyang!” seru Ara membuat Jasin menghela napas kasar, samyang masih termasuk makanan pedas dan permintaan Ara ini tidak bisa di kabulkan olehnya.
“Sayang, itu masih termasuk makanan pedas,” ucap Jason dengan hati-hati.
“Siapa juga bilang itu makanan manis?” ketus Ara membuat Jason meringis mendengarnya.
Jason mengusap dadanya, mencoba untuk bersabar menghadapi istrinya yang sedang sensitif ini. Dengan senyuman yang terkesan di paksa Jason kembali mencoba untuk berbicara dengan hati-hati kepada Ara.
“Kau tidak boleh memakannya, itu pedas dan bukan termasuk makanan sehat,” Jason mengusap pelan surai rambut Ara. Ara hanya tersenyum kecil dan menatapnya.
“Siapa bilang aku yang akan memakannya?” Ara menaikkan sebelah alisnya.
“Hah? Lalu siapa yang akan memakannnya?” tanya Jason yang bingung.
“Suamiku yang tampan ini yang memakannya,” jawab Ara membuat Jason mengerjapkan matanya dan menatapnya dengan tatapan memelas.
Jason tidak biasa dengan makanan pedas dan sekarang Ara menyuruhnya untuk memakan samyang.
“Apakah kau tidak mau? Padahal aku ingin melihatmu makan tiga bungkus samyang,” lanjut Ara membuat Jason mengaga lebar, ia satu bungkus saja belum tentu habis, tapi Ara menyuruhnya makan tiga bungkus samyang. Ini akan menyakiti perutnya.
“Aku akan memakannya, tapi satu bungkus saja. Bagaimana?” tawar Jason membuat Ara sedikit memikirkannya.
Tanpa diduga Ara menggelengkan kepalanya, menolak negosiasi dari sang suami. Kemudian, Ara pergi meninggalkan Jason yang masih menatapnya kepergiannya.
Dengan langkah lesu Jason menyusul Ara yang pergi ke dapur. Ternyata Ara sedang membuat samyang dan Jason melihat ada tiga bungkus.
“Bertahanlah, ini demi buah hatimu,” gumam lelaki itu sambil mengusap perutnya sendiri.
“Sudah matang! Habiskan ya suamiku!” seru Ara dengan membawa satu piring besar samyang.
Jason yang mencium aroma pedas dari samyang tersebut hanya bisa menahan air matanya. Ia mencoba tetap tersenyum agar Ara tidak sedih lagi.
“Aku makan ya?” tanya Jason menatap Ara yang tersenyum manis kepadanya.
“Tentu saja, jangan sampai ada sisa!” seru Ara membuat Jason menelan ludahnya.
Dengan tangan gemetar ia mengambil sumpit dan mulai memakan samyang tersebut. Ara yang duduk di sebelahnya masih menatap Jason dengan binar bahagia di wajahnya saat sang suami mulai mengunyahnya.
Pada kunyahan ketiga Jason membulatkan matanya saat merasakan lidahnya terbakar, ia langsung meneguk air di dalam gelas hingga tersisa setengah.
“Sayang, aku tidak bisa menghabiskannya,” ucap Jason membuat Ara cemberut.
“Eh… iya-iya aku akan mencobanya lagi!” lanjut Jason membuat Ara kembali mengembangkan senyumnya.
Dengan sekali kunyah, Jason langsung menelannya. Ia mencoba untuk tidak merasakan rasa pedas. Meskipun sangat susah, tetapi usahanya tidak sia-sia, ia sudah menghabiskan separuh samyang tersebut.
“Kau berkeringat!” Ara mengusap keringat di wajah Jason yang sangat banyak, perlahan ara menarik piringnya dan menjauhkan dari jangkauan lelaki itu.
Jason hanya menatapnya bingung dan ia melihat wajah khawatir Ara dengan mata berkaca-kaca.
“Kau tersiksa ya? Maafkan aku yang sudah memaksamu untuk menghabiskan semuanya,” gumam Ara dengan air mata yang mulai jatuh dari pelupuk matanya.
Jason menariknya ke dalam pelukan dan ia mengusap pelan punggung bergetar Ara.
“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu menangis, ini semua aku lakukan untukmu dan buah hati kita,” balas Jason membuat tangis Ara semakin kencang.
“Sayang, jangan menangis seperti ini. Maafkan aku, ku mohon jangan menangis,” Jason mencoba untuk menenangkan Ara yang terus menangis sampai suara seseorang membuat Ara menghentikan tangisannya.
Jason menatap orang yang baru saja masuk ke dalam rumahnya itu. Dengan senyum di wajahnya, orang itu melangkah mendekati mereka.
“Marten?” pekik Ara yang langsung memeluk Marten di hadapan Jason.
Jason menatap datar keduanya dan ia hanya mendengus kesal. Marten yang menyadarinya melepaskan pelukan Ara dengan hati-hati dan mengajak Ara kembali duduk di sofa ruang tengah. Jason masih terdiam dan terus menatap datar kedua.
“Ini untukmu!” Marten menyerahkan paperbag yang terdapat tulisan asing kepada Ara.
Marten memang ada perjalanan bisnis di luar negeri selama satu minggu.
“Wah, terima kasih Marten,” sahut Ara dengan bahagia. Jason hanya menatap jengah.
“Ini untukmu juga!” Marten juga memberikan Jason oleh-oleh.
“Hmm,” gumam Jason membuat Marten tertawa kecil.
“Kau tidak perlu cemburu begitu, Ara sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Jadi, kau tidak usah khawatir aku akan merebutnya darimu. Aku sudah mencoba untuk merelakan perasaanku,” ujar Jimin dengan pelan kepada Jason.
Jason hanya tersenyum sinis. “Aku tidak pernah cemburu,” balasnya dan beranjak dari tempatnya.
...***...
Ara menatap ke arah Jason yang kembali turun dengan pakaian yang sudah berbeda.
“Kau mau ke mana?” tanya Ara menghentikan langkah kaki Jason.
Jason membalikkan tubuhnya dan menatap Ara, ia melangkah mendekati Ara dan mengecup kening Ara di hadapan Marten yang masih terdiam di tempatnya.
“Aku ada urusan sebentar, kau tidak apa 'kan aku tinggal sebentar?” Ara menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis kepada Jason.
“Tentu, di sini juga ada Marten yang menemaniku. Kau tidak perlu khawatir,” jawab Ara membuat Jason mengepalkan tangannya.
“Ya sudah, aku berangkat dulu. Jaga dirimu!” pesan Jason sebelum keluar dari rumahnya.
Jason mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ia tidak tahu kenapa tubuhnya menjadi panas dan mata begitu pedih melihat Ara memeluk Marten di depan matanya.
Jason hanya ingin menenangkan dirinya dengan minum sedikit.
“Tumben sekali kau datang ke sini?” tanya seseorang yang baru saja duduk di kursi sebelah Jason.
Jason mengalihkan pandangannya ke arah orang itu.
“Bukan urusanmu!” ketus Jason yang membuatnya tertawa renyah.
“Apakah kau tidak penasaran dengan kandungan Ara?” pertanyaan itu menyita perhatian Jason.
Jason menatap orang itu yang tersenyum miring.
“Kau tahu kan? bagaimana dekatnya Ara dan Marten? Bisa saja bayi di kandungan Ara itu bukan anakmu, tetapi anak Marten,” lanjutnya membuat Jason terdiam.
Bersambung...