Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suar dari Masa Depan
Gema suara Aris Kalani yang terdistorsi masih menggantung di udara ruang bawah tanah Sektor Tujuh, meninggalkan keheningan yang lebih mencekam daripada ledakan granat sebelumnya. Titik merah di tengah Samudra Hindia pada proyeksi hologram Chronosphere terus berkedip, seolah-olah detak jantung bumi sendiri sedang memanggil Sora untuk menyingkap lapisan kebohongan yang lebih dalam.
"Pemilik asli?" Hael mengulang kata-kata itu dengan nada tidak percaya. Ia memeriksa konsol kristal, mencoba melacak sumber transmisi tersebut. "Sora, ayahmu membangun ini sendirian. Aku melihat catatan-catatannya selama bertahun-tahun. Tidak mungkin ada orang lain di atasnya."
Sora menggeleng pelan, jemarinya menyentuh permukaan hologram yang dingin. "Hael, lihat frekuensi gelombangnya. Ini bukan transmisi radio standar. Ini adalah quantum entanglement yang diaplikasikan pada mekanika jam. Ayahku mungkin memang yang merakit mesin ini, tapi materialnya... kristal perak ini... ia tidak berasal dari laboratorium mana pun yang kita kenal."
Detektif Januar dan pasukannya masih sibuk mengevakuasi para tentara bayaran yang pingsan di atas sana, memberikan Sora dan Hael ruang privasi yang singkat namun krusial.
"Jika suara itu benar," Sora melanjutkan, suaranya nyaris berbisik, "berarti keluarga Vance hanyalah pencuri amatir yang mencoba menggunakan teknologi yang mereka sendiri tidak pahami. Mereka pikir mereka mengendalikan waktu, padahal mereka hanya meminjam jam dari organisasi yang jauh lebih besar."
Tiba-tiba, proyeksi peta dunia di Chronosphere mulai bergeser. Titik merah di Samudra Hindia itu memancarkan garis-garis data yang membentuk sebuah simbol: sebuah jam pasir yang terbelah oleh sebilah pedang tegak lurus.
Hael tersentak. Ia merogoh saku jaket kulitnya dan mengeluarkan koin perunggu tua yang selalu ia bawa sebagai jimat keberuntungan—koin yang ia berikan pada Sora di atas bukit enam bulan lalu. Di sisi belakang koin yang selama ini tertutup kerak pelitur, terdapat simbol yang persis sama.
"Hael?" Sora menatap koin itu, lalu menatap Hael dengan penuh tanya.
"Ayahku memberikan koin ini sebelum dia menghilang," suara Hael terdengar serak. "Dia bilang, 'Jika suatu saat jam di dunia ini berhenti berdetak secara bersamaan, carilah mereka yang memegang pedang di atas pasir'. Aku pikir itu hanya dongeng sebelum tidur, Sora. Aku tidak pernah tahu bahwa ayahku adalah bagian dari... The Architects of Time."
"Arsitek Waktu?" Sora mengecap nama itu di lidahnya. "Jadi, ayahku dan ayahmu... mereka bukan sekadar rekan kerja. Mereka adalah pembelot dari organisasi ini?"
Hael mengangguk pelan, menyadari beban sejarah yang baru saja jatuh ke bahunya. "Mereka melarikan diri membawa teknologi paling berharga milik organisasi itu. The Infinite Spring, The Chronos Weaver, dan puncaknya adalah The Chronosphere. Mereka ingin mengembalikan waktu kepada manusia, bukan membiarkannya menjadi alat kontrol segelintir elit."
Layar hologram tiba-tiba berubah menjadi deretan angka koordinat yang bergerak sangat cepat. Sora menyadari bahwa suar peringatan yang ia aktifkan tadi bukan hanya memanggil musuh, tapi juga memulai proses penghapusan data otomatis (self-destruct) pada sistem keamanan akademi.
"Hael, kita harus pergi ke koordinat itu," ucap Sora tegas. "Suar ini bukan hanya peringatan. Ini adalah undangan. Jika kita tetap di sini, mereka akan meratakan Sektor Tujuh untuk mengambil kembali apa yang mereka anggap milik mereka."
"Tapi bagaimana dengan akademi ini? Bagaimana dengan Januar dan Vanya?"
"Vanya akan menjaga tempat ini sebagai situs sejarah. Tapi jantungnya... jantungnya harus ikut bersamaku."
Sora menarik kembali jam saku ibunya dan The Chronos Weaver. Seketika, The Chronosphere meredup, masuk ke dalam mode hibernasi yang hanya bisa dibangunkan oleh kehadiran Sora di koordinat tujuan. Cahaya biru elektrik itu menghilang, menyisakan ruang bawah tanah dalam temaram lampu darurat.
"Kita punya waktu kurang dari dua belas jam sebelum tim pembersih yang sebenarnya tiba," Hael memeriksa jam tangannya yang kini berdetak dengan ritme yang berbeda—ritme yang disinkronkan dengan suar di Samudra Hindia. "Aku punya koneksi di pangkalan udara rahasia. Kita bisa menggunakan pesawat amfibi."
Sora menatap ruang bawah tanah itu untuk terakhir kalinya. Ia melihat bayangan ayahnya di setiap sudut roda gigi yang ia bersihkan. "Maafkan aku, Ayah. Aku harus membawa karyamu menjauh dari rumah yang ingin kamu bangun. Tapi aku berjanji, aku akan memastikan waktu tidak akan pernah menjadi penjara lagi."
Saat mereka menaiki tangga spiral menuju permukaan, udara malam Jakarta terasa lebih berat. Di kejauhan, Sora melihat kilatan lampu-lampu kota yang seolah menjadi saksi bisu atas pergeseran takdirnya. Ia bukan lagi sekadar ahli horologi yang mencari keadilan untuk ayahnya. Ia kini adalah pewaris dari rahasia yang bisa mengubah jalannya sejarah manusia.
"Hael," panggil Sora saat mereka sudah berada di dalam jip.
"Ya, Sora?"
"Jika kita tidak kembali dari Samudra Hindia... apakah menurutmu dunia akan tetap berdetak seperti biasa?"
Hael menggenggam tangan Sora, memacu mobilnya membelah malam menuju pelabuhan udara. "Dunia akan tetap berdetak, Sora. Tapi tanpamu, detaknya tidak akan pernah memiliki jiwa lagi."
Di pergelangan tangan Sora, jam buatannya sendiri mengeluarkan pendar perak tipis. Perjalanan menuju jantung Arsitek Waktu telah dimulai. Dan kali ini, nakhoda waktu tidak hanya berlayar untuk masa lalu, tapi untuk menyelamatkan masa depan yang sedang dipertaruhkan di tengah samudera luas.