Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Menara Naga
Fajar baru saja menyingsing, menyepuh puncak-puncak bangunan di Istana Naga dengan warna emas yang megah.
Yan Bingchen melangkah mantap menyusuri jalanan utama ibu kota yang terbuat dari marmer putih bersih.
Di sekelilingnya, hiruk-pikuk kota ini terasa sangat berbeda dari Linyi; di sini, bahkan pedagang kaki limanya memiliki hawa murni yang stabil.
Energi yang terpancar dari bawah tanah—sang "Jantung Naga"—membuat setiap tarikan napas terasa seperti meminum nektar pegunungan.
Di belakangnya, Mo Ran berjalan dengan dada membusung, mengenakan jubah sutra baru hasil rampasan semalam.
Si Hitam mengikuti dengan langkah yang jauh lebih ringan; ramuan pemulih yang mereka ambil dari perampok itu bekerja sangat cepat berkat kepadatan nutrisi spiritual di wilayah ini.
Tujuan mereka hanya satu: sebuah bangunan yang menjulang menembus awan, berbentuk spiral menyerupai naga yang sedang melilit langit. Menara Pustaka Naga.
Semakin dekat mereka dengan menara, keramaian pasar perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian yang khidmat. Menara itu tidak memiliki pintu kayu.
Gerbangnya adalah sebuah tirai air vertikal yang mengalir ke atas, melawan gravitasi, memancarkan cahaya biru pucat yang menenangkan.
Dua penjaga berdiri di depan tirai tersebut. Mereka mengenakan zirah perak tanpa sambungan, wajah mereka tertutup topeng naga yang statis.
Tak ada kata-kata yang keluar, namun tekanan udara di sekitar mereka memberi tahu siapa pun bahwa mereka bukan prajurit sembarangan.
"Hanya mereka yang memiliki izin atau kontribusi yang boleh melintasi Tirai Kebenaran," suara parau namun jernih terdengar dari balik tirai.
Yan Bingchen maju selangkah. Ia tidak mengeluarkan pusaka berat di punggungnya, melainkan merogoh kantong emasnya.
Ia menjatuhkan satu kantong penuh berisi seratus keping emas ke atas meja batu di samping gerbang.
Denting logam mulia itu bergema di koridor yang sunyi.
"Aku mencari catatan tentang silsilah kuno dan fenomena mata unik di Benua Tiandi," ujar Yan Bingchen pelan. Suaranya mengandung getaran otoritas yang membuat para penjaga sedikit menggeser posisi berdiri mereka.
Tirai air itu mendadak terbelah, membentuk celah yang cukup untuk dilewati manusia. "Emas memberimu akses ke lantai dasar dan menengah. Masuklah."
Begitu melangkah melewati tirai air, aroma kertas tua, tinta cendana, dan energi kuno menyambut indra penciuman mereka.
Ruangan itu sangat luas, dengan rak-rak buku yang melayang di udara, bergerak perlahan mengikuti arus angin spiritual yang tak kasat mata.
Ribuan gulungan bambu, buku kulit, dan batu giok penyimpan memori tertata rapi hingga ke langit-langit yang tak terlihat ujungnya.
"Wah ... ini gila," bisik Mo Ran, matanya berputar mencoba mengikuti buku-buku yang terbang di atas kepalanya. "Kak, kalau aku harus membaca semua ini, kepalaku pasti meledak sebelum sampai ke rak kedua."
Si Hitam mengendus lantai marmer, telinganya bergerak-gerak sensitif. Ia merasakan ada ribuan 'jiwa' di dalam buku-buku ini—sisa-sisa kesadaran dari para penulis masa lalu.
Yan Bingchen berjalan menuju sebuah meja besar di tengah ruangan di mana seorang wanita tua dengan rambut perak panjang sedang menggoreskan kuas di atas perkamen. Wanita itu tidak mendongak, namun jemarinya berhenti bergerak saat Yan Bingchen mendekat.
"Dua warna, dua elemen, satu raga," gumam wanita itu tanpa menatap. "Jarang sekali ada keturunan klan utara yang berani menginjakkan kaki di sini membawa beban yang begitu berat di jiwanya."
Yan Bingchen membungkuk hormat, tata kramanya tetap sempurna meski ia berada di depan orang asing. "Hamba ingin mencari tahu tentang leluhur yang memiliki tanda serupa. Hamba yakin, hamba bukan yang pertama di benua ini."
Wanita itu akhirnya mendongak. Matanya putih sepenuhnya, buta secara fisik namun tampaknya bisa melihat lebih banyak daripada orang normal.
Ia melambaikan tangannya, dan sebuah tangga spiral dari cahaya muncul di samping mereka.
"Lantai empat, rak nomor tiga ratus tujuh belas. Cari gulungan bertanda 'Mata Samsara dan Kutukan Darah Abadi'. Tapi ingat, Anak Muda ... pengetahuan sering kali menuntut harga yang lebih mahal daripada emas. Apa yang kau temukan di sana mungkin akan mengubah caramu memandang keluargamu selamanya."
Yan Bingchen mengangguk singkat. Ia memberi isyarat pada Mo Ran untuk tetap di lantai dasar bersama Si Hitam. "Tunggu di sini. Jangan sentuh apa pun yang terlihat berbahaya."
"Siap, Kak! Aku akan menjaga Si Hitam agar tidak memakan gulungan legendaris," sahut Mo Ran sambil duduk di bangku kayu yang nyaman.
Yan Bingchen menaiki tangga cahaya itu. Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat, seolah-olah menara ini sedang menguji tekadnya.
Di lantai empat, ia menemukan rak yang dimaksud.
Tangannya yang telah menguasai api dan es dengan sempurna itu sedikit gemetar saat menyentuh sebuah gulungan giok hitam yang terasa sangat dingin.
Ia membukanya. Di dalamnya, sebuah ilustrasi kuno menunjukkan seorang pria dengan ciri-ciri yang sangat mirip dengannya: rambut dualitas dan mata yang berbeda warna. Namun, di bawah ilustrasi itu terdapat tulisan dalam bahasa kuno yang membuat napas Yan Bingchen tercekat.
“Dia bukan lahir dari penyatuan, melainkan dari pengorbanan salah satu kutub untuk menghidupkan yang lain.”