NovelToon NovelToon
Lini Masa Dibalik Lensa

Lini Masa Dibalik Lensa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Anak Genius / Konflik etika / Murid Genius
Popularitas:433
Nilai: 5
Nama Author: Donny Kusuma Jaya

Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Larutan Pengembang Dosa

Taman bawah tanah itu terasa seperti oase yang mustahil di jantung Kota Gede yang gersang. Bau melati yang tajam menyengat penciuman Arlan, mencoba menutupi aroma sulfur yang masih tertinggal di pori-pori jaket denimnya. Pria tua itu—sang "Pencuci Perasaan"—berdiri perlahan. Gerakannya tenang, namun setiap langkahnya di atas kerikil putih taman itu terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur waktu kematian.

"Kalian terlihat berantakan," ucap pria itu. Ia menyodorkan selembar kain bersih kepada Maya yang masih gemetar. "Dunia di atas sana memang terlalu silau untuk mata yang jujur, bukan?"

Arlan tidak menerima keramahan itu. Ia tetap menggenggam kamera analognya, jarinya siap di tombol rana seolah benda itu adalah senjata api. "Siapa lo sebenarnya? Dan apa hubungannya daftar nama di balik foto itu dengan kakek gue?"

Pria tua itu tersenyum, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang keruh. "Nama saya tidak penting. Panggil saja saya Agni. Kakekmu, Arlan... dia adalah seorang seniman, tapi dia juga seorang penyimpan bangkai. Daftar nama itu? Itu adalah 'negatif' dari sejarah bangsa ini. Orang-orang yang sekarang duduk di kursi empuk kekuasaan, mereka semua punya hutang darah yang tertangkap oleh lensa kakekmu."

Agni berjalan menuju sebuah meja kerja besar yang dipenuhi dengan botol-botol kaca berwarna gelap. Ia menuangkan cairan perak ke dalam sebuah baki kayu dengan presisi seorang algojo.

"Tito dan Kurator... mereka hanyalah semut yang mencari remah-remah," lanjut Agni, suaranya merendah. "Mereka pikir ini soal emas. Padahal ini soal eksistensi. Jika daftar ini keluar, seluruh tatanan akan runtuh. Dan kakekmu mempercayakan 'pencucian' terakhirnya kepada saya."

Maya melangkah maju, matanya menyipit curiga. "Kalau kamu teman kakek Arlan, kenapa kamu sembunyi di sini? Kenapa kamu nggak lapor polisi kalau punya bukti sekuat itu?"

Agni tertawa, suara tawa yang kering dan hambar. "Polisi? Nona Maya, mereka yang ada di daftar ini adalah orang-orang yang membuat polisi. Melapor kepada mereka sama saja dengan menyerahkan diri ke kandang singa."

Tiba-tiba, Agni berhenti menuang cairan. Ia menatap Arlan dengan intensitas yang mengerikan. "Arlan, tahukah kamu mengapa kakekmu menciptakan teknik Double Exposure yang begitu rumit? Bukan untuk melindungi foto itu dari musuh. Tapi untuk melindungi kamu."

Arlan mengernyit. "Maksud lo?"

"Foto itu memiliki radiasi informasi yang mematikan. Siapa pun yang memegangnya akan menjadi target seumur hidup. Kakekmu ingin saya 'mencuci' perasaan itu—artinya, menghapus lapis kedua dari foto-foto tersebut sehingga hanya menyisakan gambar pemandangan biasa. Dia ingin rahasia itu mati bersama saya, agar kamu bisa hidup tenang sebagai fotografer mading yang naif."

Agni mengambil sebuah gulungan film dari laci rahasia di bawah meja. Gulungan itu berwarna merah darah, sesuatu yang belum pernah Arlan lihat sebelumnya.

"Tapi saya punya agenda lain," bisik Agni. Wajahnya kini berubah menjadi dingin dan ambisius. "Menghapus sejarah adalah sebuah kejahatan terhadap seni. Saya tidak ingin menghapus daftar itu. Saya ingin mengeksplorasi-nya. Saya ingin menggunakan foto-foto ini untuk menciptakan 'Pameran Terakhir'—sebuah kekacauan massal yang akan membersihkan negara ini dari para pengkhianat itu dalam satu malam."

Arlan tersentak. "Lo mau pake foto kakek gue buat kudeta? Lo mau bikin kerusuhan?!"

"Saya menyebutnya Restorasi Fokus, Arlan!" Agni berteriak, matanya berkilat gila. "Dan saya butuh kamu. Kamera analog kakekmu memiliki mekanisme shutter khusus yang bisa memproyeksikan negatif merah ini ke satelit komunikasi. Kamu adalah satu-satunya orang yang memiliki DNA yang cocok dengan sensor biometrik di tombol kamera itu!"

Tiba-tiba, pintu taman yang tersembunyi bergetar hebat. Suara ledakan terdengar dari lorong cermin. Tito dan Kurator rupanya tidak mati; mereka berhasil menembus sistem keamanan dengan bantuan peralatan berat.

"Mereka datang," Agni menoleh ke arah pintu dengan tenang. "Arlan, pilihannya sederhana: Berikan kameramu kepadaku, dan kita akan cuci dosa dunia ini bersama-sama. Atau, biarkan Tito masuk dan membunuh kalian berdua hanya untuk sepotong emas yang sebenarnya tidak pernah ada."

Arlan melihat ke arah Maya, lalu ke arah kameranya. Ia menyadari bahwa Agni tidak lebih baik dari Kurator. Jika Kurator haus harta, Agni haus akan kehancuran atas nama idealisme yang sakit. Keduanya ingin memanfaatkan karya kakeknya untuk kepentingan yang berlumuran darah.

"Kakek gue bener," bisik Arlan. Ia melepaskan tali kameranya dari leher. "Rahasia ini terlalu berat buat cahaya matahari. Tapi bukan karena isinya... tapi karena orang-orang kayak lo yang bakal menyalahgunakannya."

Arlan tidak memberikan kameranya kepada Agni. Ia justru mengarahkan lensa kameranya ke arah baki cairan kimia perak milik Agni yang sangat reaktif.

"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Agni panik.

"Gue bakal bikin Overexposure yang sesungguhnya," ucap Arlan.

Ia menyalakan flash eksternal berkekuatan tinggi di kameranya dan menembakkannya tepat ke arah permukaan cairan kimia sensitif tersebut sambil melemparkan sisa bubuk magnesium yang ia kantongi.

BOOOOOOMMMMM!

Ledakan cahaya dan asap kimia memenuhi taman bawah tanah itu. Cairan perak itu meledak, menghanguskan meja kerja Agni dan membakar gulungan film merah tersebut dalam sekejap. Seluruh data konspirasi itu musnah menjadi abu di depan mata Agni yang berteriak histeris.

"TIDAAAKKK! SEJARAHNYA! KARYA AGUNGNYA!"

Dalam kekacauan asap dan api, Arlan menarik tangan Maya. Mereka tidak lari ke arah lorong cermin tempat Tito berada. Arlan melihat sebuah saluran air kecil di pojok taman yang mengalirkan air jernih ke permukaan.

"Lewat sini, May! Ini jalan keluar yang jujur!"

Mereka merangkak menembus saluran air sempit itu, meninggalkan Agni yang meratapi abunya dan Tito yang mulai merangsek masuk ke taman yang kini terbakar. Arlan merasa sesak, namun ada kelegaan luar biasa di dadanya. Ia baru saja menghancurkan warisan paling berharga sekaligus paling berbahaya dalam hidupnya.

Saat mereka muncul di permukaan, mereka berada di sebuah pemakaman tua di pinggiran Kota Gede. Cahaya matahari pagi terasa sangat murni menyentuh wajah mereka. Tidak ada lagi bau sulfur, hanya bau tanah basah dan kebebasan.

Arlan melihat kameranya. Lensa depannya kini pecah, dan bodinya menghitam terkena ledakan. Ia tersenyum tipis. Kamera itu sudah menyelesaikan tugasnya. Ia tidak lagi butuh "Pencuci Perasaan" atau "Kurator".

"Lan... semuanya sudah habis?" tanya Maya pelan, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Arlan.

"Belum semuanya, May," Arlan meraba saku rahasia jaket denimnya. Di sana, masih tersisa satu potongan film kecil yang ia simpan—bukan tentang konspirasi, bukan tentang daftar nama. Tapi foto kakeknya yang sedang tersenyum tulus di depan kamera, sebuah foto yang tidak pernah ikut 'dicuci' oleh siapa pun.

"Masih ada satu momen yang layak buat dipertahankan. Dan kali ini, gue sendiri yang bakal jaga fokusnya."

Arlan dan Maya berjalan menjauh dari Kota Gede, meninggalkan labirin perak itu terkubur bersama rahasia-rahasianya. Perang mungkin belum sepenuhnya berakhir, tapi bagi Arlan, sinyalnya kini sudah benar-benar jernih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!