Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Tau
Bramasta sendiri yang baru saja sampai di kantor duduk di meja kerjanya. Memijat kepalanya yang mana akhir-akhir ini dia banyak sekali yang di fikirkan.
Tokk
Tokk
Tokk
" Masuk" ucap Bramasta dari dalam.
" Tuan perusahaan Wijaya sudah menunggu di ruang rapat" ucap asisten Bramasta yang bernama Hendy.
" Ya sebentar lagi saya ke sana" ucap Bramasta yang tidak mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
" Baik kalau begitu saya permisi dulu tuan" ucap Hendy lalu keluar dari ruangan atasannya.
Saat Hendy ingin menutup pintunya Bramasta pun menghentikan.
" Tunggu Hendy..." ucap Bramasta.
" Ya tuan ?" Tanya Hendy yang kembali masuk.
" Kamu cari tau tentang Reina,ini alamatnya" Bramasta memberikan secarik kertas ke Hendy.
" Baik tuan,apa ada lagi tuan ?" Tanya Hendy lagi.
" Tidak hanya itu, secepatnya cari tau dan bawa ke ruanganku" Suruhnya.
" Baik tuan kalau begitu saya permisi" Hendy pamit lalu benar-benar hilang di balik pintu.
Bramasta pun beranjak dari tempat duduknya dan keluar menuju ruang rapat. Dia berjalan dengan sangat tegas namun saat di sapa karyawannya dia akan selalu tersenyum.
Sesampainya di ruang rapat semua pun sudah berkumpul di sana. Bramasta duduk di tempat duduknya perusahaan Wijaya pun maju ke depan untuk memaparkan tujuannya datang ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan Company yang bekerja di bidang konstruksi.
" Apa tuan setuju ?" tanya sekertaris Wijaya yang memakai baju super seksi dengan belahan dada yang rendah.
" Sepertinya kurang menarik,ubah proposalnya besok kalian bisa datang lagi" ucap Bramasta dengan dingin sambil menaruh proposal dari perusahaan Wijaya.
" Baik tuan,akan saya perbaiki" ucap sekertaris Wijaya dengan menundukkan kepalanya dan tersenyum manis ke Bramasta.
Namun Bramasta tidak memperhatikan sama sekali sekertaris Wijaya. Bramasta pun memilih keluar dari ruangan rapat dan kembali ke ruangannya. Yang menghendel sekertarisnya.
" Iiiiihhh udah dandan cantik-cantik nggak di lirik sama sekali" sekertaris Wijaya yang bernama Fanya dia menggerutu karena Bramasta tidak meliriknya sama sekali dan malah keluar begitu saja.
" Kalau begitu kami permisi tuan Hendy besok saya akan kembali lagi"ucap atasannya Fanya yang bernama Handoko.
" iya pak,mari saya antarkan" ucap Hendy yang mempersilahkan untuk berjalan terlebih dahulu.
Fanya pun mengikuti dari belakang mengikuti atasannya dan asistennya Bramasta. Hendy mengantarkan sampai depan lift karena dia harus kembali bekerja dan mencari tau tentang Reina karena bosnya sudah menunggunya.
" Apa jangan-jangan bos sedang tertarik dengan orang ini ya?" Gumam Hendy menerka-nerka karena selama ini bosnya tidak pernah menyuruhnya mencari tau tentang seorang wanita.
***
Di lain tempat Reina sedang menyiapkan makan malam karena hari sudah mulai sore. Setelah memasak Reina pun membersihkan diri. Di dalam kamar mandi dia memikirkan pembicaraannya dengan neneknya yang mana lagi-lagi dia harus berbohong.
" Huff...mandi lah biar seger" ucap Reina dengan menghembuskan nafasnya.
Seusai membersihkan diri Reina menuju kamar neneknya dan melihat neneknya yang masih menjalankan ibadah sholat Maghrib. Reina menunggu sampai neneknya selesai,setiap dia melihat orang beribadah dia selalu merasa sangat hina. Dia pun meneteskan airmatanya.
Hidupnya terlalu kejam,ke dua orang tuanya meninggal karena kebakaran jadi dia menjadi anak yatim piatu. Dan dia hanya tinggal dengan neneknya. Terkadang dia menyalakan takdir,andai orang tuanya masih ada mungkin dia tidak seburuk sekarang. Mungkin dia tidak akan menjual tubuhnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Nenek Sri selesai dan melihat Reina yang terduduk di dekat pintu dengan menangis.
" Nduk kamu ngapain di situ ? Sini duduk deket nenek" ucap nenek Sri menepuk ranjang di sebelahnya.
Reina menghampiri neneknya dan memeluk neneknya. " aku kangen ayah dan ibu nek" Reina menangis sambil memeluk neneknya sangat erat.
" Kalau kangen berdoa nduk,doain aja semoga ayah dan ibumu tenang di sana" ucap nenek Sri dengan lembut sambil membelai rambut cucu satu-satunya. " kalau mau ke makam pun jauh nduk kamu harus ke kampung" ucap nenek Sri.
" Hiks hiks...kenapa Allah jahat nek ke aku" ucap Reina dengan sesegukan.
" Semua sudah takdir nduk,jangan menyalahkan sang pencipta...udah jangan nangis kan masih ada nenek" ucap nenek Sri menguatkan cucunya, sebenarnya dia juga merasa sesak saat melihat cucunya menangis. Dia juga kehilangan anak perempuan satu-satunya.
Reina menghapus air matanya dan menguraikan pelukannya. " Ayo makan malam nek tadi aku masak opor ayam kesukaan nenek" ucap Reina tersenyum.
" Kamu dapat uang dari mana nduk kok bisa beli ayam ?" Tanya nenek Sri.
" Biasa nek aku bantu temenku jualan online" ucap Reina berbohong. " maafin ayu nek yang selalu berbohong" ucap Reina dalam hati.
" Kamu harus fokus dengan kuliahmu nak jangan main ponsel terus ya atau nyari uang,biar nenek aja yang cari uang" ucap nenek Sri sambil menggenggam tangan Reina.
" Aku bisa bagi waktu kok nek, udah ayo makan nanti keburu dingin nggak enak" ucap Reina yang membantu neneknya berdiri dan menggandeng menuju meja makan.
Sesampai di meja makan Reina langsung mengambilkan neneknya nasi beserta lauknya. Mereka berdua pun makan dengan nikmat dan senyap.
Sesudah makan malam Reina pun membereskan piring kotor dan mencucinya.
" Biar nenek aja nduk yang nyuci kamu belajar aja" cegah nenek Sri.
" Udah nggak apa-apa nek ini cuma dikit kok,nenek mau di buatkan teh anget nggak ?" Tanya Reina sambil mencuci piring.
" Nggak usah nduk nanti nenek bikin sendiri kalau pingin" nenek Sri kembali duduk di meja makan.
" Kalau gitu aku kembali ke kamar dulu ya nek mau ngerjain tugas" Reina pamit ke neneknya.
" Iya nduk " ucap nenek Sri.
Reina masuk ke kamarnya dan duduk di meja dekat ranjangnya. Dia mulai membuka buku dan mengerjakan tugas sekolah untuk pelajaran besok. Saat sedang serius mengerjakan ponsel ayu pun berbunyi ada notifikasi pesan dari kak Ryan.
[ Ryan : besok bisa ketemu nggak yu aku tunggu di tempat biasa ]
[ Reina : tapi agak sorean ya kak jam 2 habis pulang sekolah ]
Setelah membalas pesan Ryan, Reina pun mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
Dia pun ingin kembali fokus belajar namu fikirannya kemana-mana. Ingin rasanya dia berhenti sebagai pe*uas na*su. Namun dia mau bekerja apa karena masih sekolah untuk mencukupi biaya hidupnya. Kadang terlintas di benaknya ingin mengakhiri hidup namun neneknya pasti akan sedih hidup sendirian.
"Ya Tuhan semoga ada keajaiban di hidupku esok nanti" lirih Reina.
Reina memilih menutup bukunya dan merebahkan tubuhnya di ranjang,tidak lama dia pun terlelap karena badannya terasa sakit semua. Dia ingin melupakan sejenak beban hidupnya yang begitu miris. Reina mulai menyelami mimpi indahnya.
Neneknya yang mengintip dari balik pintu hanya bisa memukul dadanya yang terasa sesak dan menghapus air mata yang meluncur begitu saja. Begitu kasihan dengan cucunya yang sudah tidak mempunyai orang tua. " semoga kelak kau menemukan orang yang bisa menjaga dan menyayangimu nduk" ucap nenek Sri lalu menutup pintu kamar Reina dan pergi ke kamarnya untuk beristirahat juga.
--->>>