Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Modus Aufar
"Gimana sama Ibas? Dia sudah tahu soal kepergian Aliya?"
Didalam kamar, Ikhsan menanyakan soal putranya kepada sang istri.
"Sudah," jawab Saraswati.
"Apa tanggapan dia?" Ikhsan melepas kacamatanya lalu duduk disamping sang istri.
"Seperti dugaan kita. Dia... ngotot mau tahu dimana Aliya."
Ikhsan menghela napas panjang. Bukan maksudnya ingin bersikap kejam kepada putra kandungnya sendiri.
Hanya saja, dia juga tak bisa mengabaikan perasaan Aliya. Bagi Aliya, Ibas adalah penyebab luka. Itu sebabnya, Ikhsan dan Saraswati berusaha keras menjauhkan Ibas dari Aliya.
"Terus, cara Bunda menenangkan dia, gimana?"
"Bunda kasih dia tantangan, Yah," jawab Saraswati. "Bunda bilang ke dia kalau dalam waktu dua bulan dia bisa naik jabatan di kantor, Bunda baru akan kasih tahu ke dia tentang dimana Aliya."
"Dia... Setuju?"
Saraswati pun mengangguk.
"Bunda benar-benar ingin memberitahu Ibas soal dimana Aliya sekarang?"
"Sebenarnya, tidak," jawab Saraswati. "Itu sebabnya, Bunda kasih dia tantangan yang nggak mungkin bisa dia lakukan."
"Tapi... Bagaimana kalau Ibas ternyata bisa, Bun? Kita harus bilang apa sama Aufar?" tanya Ikhsan dengan wajah frustasi.
Saraswati terdiam. Dia juga bingung jika hal tersebut benar-benar terjadi. Jika Ibas berhasil, maka Saraswati mau tak mau harus menepati janji.
Lantas, bagaimana dengan Aufar?
*****
Di sebuah kota kecil yang terletak di pinggir pantai, sebuah cafe kecil sudah menunjukkan aktivitas yang cukup ramai.
Beberapa orang tampak mengantre untuk membeli kopi dan roti untuk sarapan. Seorang perempuan dengan rambut yang dikepang tampak melayani dengan antusias meski agak kewalahan.
"Selamat pagi, Al! Maaf, aku telat," sapa seorang pria yang langsung memasuki area kasir untuk membantu perempuan itu.
"Kak Aufar kemana aja? Kenapa jam segini baru datang!? Kan, Kak Aufar udah janji mau datang pagi-pagi buat bantuin," protes Aliya dengan tampang cemberut.
"Maaf. Tadi, aku ketiduran," jawab Aufar sambil nyengir.
Dengan cekatan, dia memasang celemek, memakai penutup kepala, sarung tangan, serta masker transparan. Tugasnya adalah membungkus minuman, roti dan cake pesanan pelanggan.
Ya, sudah sekitar satu bulan sejak Aliya pindah ke kota itu. Dengan uang pemberian dari Ibas serta sedikit tambahan dari mantan mertuanya, dia membeli sebuah ruko yang kemudian disulap menjadi cafe kecil.
Kota itu adalah tempat wisata. Meski hanya kota kecil, namun tempatnya selalu ramai karena dikunjungi oleh banyak turis.
Hampir 24 jam, aktifitas di kota itu tak pernah mati.
"Al, kayaknya kamu sudah harus tambah karyawan, deh," kata Aufar saat waktu istirahat akhirnya tiba.
Semua roti dan cake sudah terjual habis padahal baru pukul sebelas siang.
"Kenapa?" tanya Aliya. Dia meletakkan segelas es cappucino di depan Aufar. "Kakak udah nggak mau bantu aku lagi? Atau... Kak Aufar udah ada rencana untuk pulang?"
"Bukan. Bukan gitu," sangkal Aufar. "Aku cuma nggak mau kamu kecapekan aja. Jam dua subuh kamu sudah harus bangun buat bikin roti. Kalau gini terus, lama kelamaan kamu bisa sakit karena kurang tidur, Al."
"Tidur ku cukup, kok. Kan, habis Isya udah langsung tidur," timpal Aliya.
"Tapi, tetap aja kamu harus tambah karyawan, Al. Seenggaknya, setelah bikin kue, kamu bisa tidur lagi meski cuma sejam atau dua jam. Biarin karyawan kamu yang bersih-bersih dan jualan."
"Iya. Nanti, aku pikirin," jawab Aliya. "Ngomong-ngomong, kapan Kak Aufar pulang?"
Degh!
Pertanyaan itu membuat Aufar menegang sesaat.
"Ehm... sejauh ini belum ada rencana, sih."
Aliya pun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ternyata, Kak Aufar betah liburan di sini juga, ya. Kak Aufar udah hampir satu bulan di sini, loh."
Aufar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Andai, Aliya tahu jika sebenarnya Aufar sengaja ke sana hanya demi menemani dirinya, akankah perempuan itu memandang Aufar dengan cara yang berbeda?
Sejujurnya, Aufar menaruh hati pada Aliya sejak SMA. Mungkin, bukan cinta pada pandangan pertama. Namun, seiring berjalannya waktu, Aufar akhirnya sadar jika dia sudah jatuh hati pada gadis kecil yang dikenalkan Ibas padanya kala itu.
Mengetahui bahwa Ibas memiliki perasaan yang sama terhadap Aliya, Aufar kala itu memilih mundur dan langsung ke luar negeri begitu lulus SMA. Kemudian, kecelakaan Ibas terjadi.
Aufar pun kembali ke dalam negeri untuk menemui Ibas sekaligus menemaninya kuliah selama satu tahun lebih sebelum memutuskan untuk kembali ke luar negeri dan melanjutkan studi di sana.
Aufar pikir, seiring berjalannya waktu, Aliya akan terhapus sepenuhnya dari memorinya. Akan tetapi, Aufar ternyata salah. Nama Aliya masih membuat hatinya bergetar saat nama itu disebut.
Dan, saat bertemu kembali, Aufar sepenuhnya sadar bahwa hatinya memang masih sama. Hatinya belum berubah. Didalam sana, Aliya masih duduk bertahta.
"Kesempatan ku sudah datang. Aku nggak mungkin menyia-nyiakannya."
"Udara di sini bagus banget. Aku suka. Mungkin, aku juga akan menetap di sini."
Aliya menatapnya dengan alis berkerut heran. "Kak Aufar mau menetap di sini? Serius?"
"Iya. Aku bahkan udah nemu rumah yang cocok buat ditinggali."
"Terus, kerjaan Kak Aufar gimana?" tanya Aliya lagi.
"Kerjaanku nggak ada masalah. Aku bisa kerja dimana aja. Bebas," jawab Aufar.
"Serius?" tanya Aliya lagi.
"Ehm," angguk Aufar.
Aliya pun tersenyum. "Kalau Kak Aufar beneran menetap di sini, aku bakal senang banget. Setidaknya, aku nggak akan ngerasa sendirian. Ada Kak Aufar yang udah aku anggap sebagai keluarga di sini."
"Karena kamu udah anggap aku sebagai keluarga, gimana kalau sekalian aku jadi kepala keluarga kamu aja, Al?"
pelacur teriak pelacur
👍