Dia Xuan Huan. seorang pejuang tingkat sembilan. Programmer sekaligus hacker yang sangat ditakuti. Banyak lawan yang sudah ditaklukkan, bahkan ada yang berkeinginan untuk menjalin kerja sama.
Proyek terakhir yang Ia kerjakan, adalah proyek kecerdasan buatan, yang bisa menjelajahi alam semesta. Penuh dengan kode kode rumit dan mencengangkan.
Quantum Xuan, itulah nama programnya. Tapi karena program itu dia harus mati, dan jiwanya ditempatkan pada tubuh seorang gadis lemah 12 tahun ke belakang, yang juga mati karena penganiayaan. Lalu bisakan tubuh dengan jiwa Xuan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aditya Jetli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Dihabisi semua
[Maafkan Quan tuan karena tidak menyampaikannya. Saat peristiwa itu terjadi, Quan sedang tidak berada di samping tuan. Jadi Quan pikir tuan sudah mengetahuinya]
"Bukan begitu juga Quan. Mereka itu aku anggap tidak penting. Ternyata adalah target besar yang ingin aku musnahkan."
"Kalau begitu tunggu apa lagi, Segera keluarkan senjata pemusnah masal, yang bidikannya akurat, tepat dan presisi!"
"Aku ingin melihat reaksi ketakutan mereka, agar di kehidupan selanjutnya, tidak akan mudah menghabisi nyawa seseorang!" sambut Nindya, dan segera memanggil bawahan setianya.
Sesaat kemudian. "Lili datang Nona."
"Ya, kau duduklah. Lihat itu. Mereka semua adalah target yang harus kita habisi, karena merekalah kelompok yang telah mencelakai tubuh gadis ini, juga tubuh yang kau tempati. Apa kau bersedia?"
"Sangat bersedia Nona!"
"Bagus! Ambil senjata di atas meja itu, dan habisi mereka tanpa sisa!"
"Baik, Nona!"
Sedetik kemudian. Terdengar bunyi teredam dari senjata laras panjang yang tengah mereka pegang, dan bunyinya tidak terdengar oleh siapapun, kecuali oleh mereka berdua.
Sementara itu di kejauhan sana, terutama kelompok Bara, Rimba dan lainnya. Terlihat tubuh tubuh tak bernyawa bergelimpangan dimana mana.
Ada yang kepalanya pecah, dadanya hancur, mulutnya meledak. dan anggota tubuhnya tidak tersisa.
Craakkk. Craakkk. Craakkk.
Bunyi seperti itu terus bergema. Kemanapun mereka lari pasti mati. Padahal jarak markas mereka dengan hotel yang ditempati oleh Nindya cukup jauh.
Namun berkat kemampuan menembaknya yang sudah sempurna, melakukan itu tidak menjadi hambatan buat Kirana, terutama Nindya.
Mereka tidak mengalami kesulitan sama sekali. Dengan santai melesatkan peluru dari moncong senjatanya, dan mengenai targetnya sampai mati.
Kemanapun musuh melarikan diri, walaupun itu di dalam ruangan, dijalanan, bahkan di dalam bungker, mereka tetap terbunuh juga.
Peluru yang ditembakkan oleh Nindya juga Kirana, mampu menembus dinding setebal apapun, dan mampu pula mendeteksi aura panas yang ada di tubuh targetnya.
Sehingga hanya dalam waktu setengah jam saja, lebih dari 115 orang mati semua. Kecuali Bara juga Rimba.
Mereka memang sengaja dibiarkan hidup, agar merasakan ketakutan yang sangat mendalam.
Selain itu, mereka juga akan didatangi oleh Nindya juga Kirana secara langsung, agar mereka tahu bahwa Nindya masih hidup, yang datang ingin membalas dendam.
Saat mereka bersembunyi dalam ketakutan itu Bara berkata." Apa yang sebenarnya terjadi. Siapa yang telah menyerang kita?" tanya Bara.
"Tidak tahu ketua. Penembaknya tidak terlihat. Apalagi melihat batang hidungnya. Mungkin kelompok lain yang sengaja mendatangkan penembak jitu untuk menghabisi kita?" jawab Rimba.
"Tapi siapa kelompok itu? Aku rasa setelah kelompok Braja menghilang, sudah tidak ada lagi kelompok lain yang terlihat memusuhi kita. Kalaupun ada itu hanya dalam cekcok kecil saja, dan tidak sampai menimbulkan perselisihan besar." bantah Bara.
Craakkk..! Craakkk...!
"Argh...! Sialan...! Badjingan! Dimana sebenarnya posisi penembak jitu itu, kenapa di dalam bunker saja tubuh kita masih terkena peluru yang ditembakkan. Apa itu masih layak disebut manusia?" reaksi Bara, saat telinganya menjadi korban. Begitu juga dengan jari telunjuk Rimba.
Sambil memegang jari telunjuknya yang sudah terpotong. Dalam ketakutan serta menahan rasa sakit dia berkata. "Gawat ketua! Kalau begini terus, nyawa kita bisa melayang. Lebih baik kita mengangkat tangan saja, pertanda menyerah, dan menyatakan tunduk pada mereka!" usul Rimba.
"Apa kau gila? Posisi penembak jitu itu tidak terlihat. Ke mana kita akan mengangkat tangan? Apakah dia juga melihat kita?"
"Ketua harus ingat dimana kita berada. Bungker ketua. Bungker! Tapi anehnya, kenapa posisi kita masih bisa ditemukan. Berarti dia melihat ke arah kita ketua?"
"Benar juga. Berarti markas kita ini telah lama diintai, sehingga posisi kita bisa diketahui?"
"Kalau begitu cepat kau angkat tangan, agar sniper itu bisa melihat ke arah kita!" respon Bara.
"Jariku sakit ketua. Darah terus keluar. Bagaimana kalau ketua saja?"
"Aku juga tidak bisa. Telinga ku terpotong, darahku juga banyak keluar. Jadi cepat lakukan perintahku, kalau tidak nyawa kita bisa melayang!"
"Baik ketua!"
"Hentikan! Kami menyerah. Jangan lanjutkan lagi. Kami akan keluar. Tapi tolong jangan tembak kami lagi!" teriak Rimba mengikuti saran ketuanya.
Di tempat lain. "Lili, kau lihat mereka melalui teropong senjatamu. Dua pecundang itu telah menyerah. Untuk sementara kita biarkan saja mereka."
"Setelah urusan ini selesai, kita datangi mereka, guna membuat perhitungan!"
"Baik nona."
"Sekarang target kita adalah Niken dan Bella. Posisinya di Amerika Utara. Perumahan bougenville. Kau tembak mereka. Sementara aku akan menangani yang lain."
"Dengan senang hati Nona."
Di lokasi yang ditemukan.
Saat ini kedua badjingan itu sedang melakukan aksi menyimpangnya. Tapi di sela sela kegiatan mereka Niken bertanya." Apakah kau sudah berusaha menghubungi teman teman kita yang ada di Nusa?"
"Jangankan menghubungi mereka, nomornya saja sudah tidak aktif, termasuk Gita. Jadi aku tidak tahu apa kabar mereka di sana?"
"Lalu bagaimana dengan 4 yang lainnya. Apakah kau sudah menghubungi mereka?"
"Ya. Baru-baru Ini aku sudah menghubungi Maya, tapi dia bilang kondisinya baik baik saja."
"Dia bilang Nindya yang sudah menjadi hantu itu tidak akan bisa menemukan mereka, karena satu hari setelah dia beraksi, mereka langsung mengajukan pindah, dan disetuju hari itu juga."
"Dia juga mengatakan, bahwa mereka langsung menghilang, dan mengemasi barang barangnya." jawab Bella.
"Kalau Amar bagaimana?"
"Amar itu tidak bisa diharapkan. Berulang kali aku menelepon, juga mengirimkan puluhan pesan pesan pendek, menanyakan kabar di Nusa, tapi dia cuek saja."
"Bahkan nomorku sempat diblokir, Tapi tiga hari kemudian dibukanya kembali. Tapi dia tidak mengatakan apa apa. Jadi bagaimana kelanjutannya?"
"Kau tenanglah. Aku yakin hantu Nindya itu tidak akan mungkin menemukan kita. Kalau di Nusa kemungkinan besar Iya. Tapi ini Amerika. Utara lagi. Jadi kau tenang saja!'
Craakkk....!
"Argh....!"
Tiba Tiba kepala Niken bocor, diterjang oleh peluru antar benua, yang diantarkan langsung oleh Quantum Xuan melalui medan cahaya elektromagnetik, dan langsung mengenai kepala targetnya.
"Niken.....!" reaksi Bella. "Apa yang terjadi padamu. Siapa yang melakukannya? Bangun Niken. Kau belum boleh mati sebelum menuntaskan niat kita....!" pekik Bella, di sela sela rasa takut dan tidak percaya yang menggerogoti jiwanya.
Craakkk.....!
"Argh...!"
Hanya itu kata terakhir yang keluar dari mulut Bella, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Kemudian diam. Lalu jatuh menimpa jasad temannya.
Di seberang sana. "Sudah beres Nona. Dua sundal bolong itu sudah mati, tanpa sempat mengetahui siapa yang membunuhnya?"
"Bagus! Selanjutnya adalah Maya. Lokasi Taman Permai, sekolah di SMA Bakti Husada. Menjadi siswa yang sangat diidolakan karena kecantikannya."
"Buat dia menjadi catat, dan tidak memiliki wajah cantik lagi. Setelah tiga hari baru dihabisi.
"Siap Nona!?"
Klik....Wush...Dor..!
Craakkk...! Prang...!
"Aaaaaaarghhh!"
"Nona! Apa yang terjadi. Siapa yang menembakmu?"
"Aku tidak tahu. Cepat panggil ayah ku. Jangan banyak tanya. Aku merasa pipi dan hidungku perih. dan banyak mengeluarkan darah. Cepat!"