NovelToon NovelToon
The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

Status: tamat
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action / Tamat
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.

Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.

Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.

Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 RAHASIA SENJATA IBILIS

Matahari mulai merangkak naik di ufuk timur, menyinari reruntuhan Yinye Cun yang kini kembali sunyi. Namun, ketenangan itu hanyalah topeng. Di dalam markas yang porak-poranda, kepanikan telah mencapai puncaknya.

Komandan Hei Yao terbangun dengan kepala yang terasa pecah. Dia memandang sekeliling—anak buahnya tergeletak tak sadar, peralatan berantakan, dan rasa malu yang membakar harga dirinya.

"Mereka... mereka benar-benar hanya berdua?" gumamnya gemetar, mengingat sosok pemuda yang memegang pedangnya dengan tangan kosong semalam. "Itu bukan manusia biasa. Itu monster..."

Sementara itu, di sebuah gua tersembunyi di kaki bukit yang cukup jauh dari markas, Fengyin dan Yuelan sedang duduk bersila memulihkan tenaga.

Energi yang mereka keluarkan semalam sangat besar, namun hasilnya memuaskan. Moral musuh hancur total.

"Kau benar, Fengyin," suara berat terdengar dari mulut seorang pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam gua. Itu adalah salah satu senior dari Cānglóng Pài yang ikut menyusup. "Mereka benar-benar panik. Aku mendengar mereka mengirim burung pesan terbang ke arah Wujicheng tepat sebelum fajar. Laporan darurat."

Fengyin membuka matanya, cahaya di dalam pupilnya mereda perlahan.

"Bagus. Biarkan Kaisar tua itu mulai gelisah," kata Fengyin datar. "Tapi fokus kita sekarang adalah benda itu. Wadah energi merah yang kita lihat semalam. Itu bukan senjata biasa."

"Apa yang kau lihat sebenarnya, Fengyin?" tanya Yuelan, matanya menatap tajam. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang sangat salah dengan benda itu.

"Itu adalah Hunpo Pao—Meriam Roh-Jiwa," jawab Fengyin pelan, namun setiap kata yang keluar terasa berat. "Mereka tidak hanya menggunakan energi alam. Mereka menangkap orang-orang yang memiliki bakat bela diri, menyedot esensi hidup mereka, memeras energi mereka sampai kering, lalu memadatkannya menjadi bahan peledak."

Darah Yuelan mendidih. Wajahnya pucat karena ngeri.

"Mereka... mereka mengubah manusia menjadi amunisi?"

"Ya. Dan jika benda itu benar-benar jadi dan ditembakkan ke desa-desa perlawanan... tidak ada yang akan tersisa. Hanya tanah tandus dan tulang belulang," Fengyin mengepal tangannya kuat-kuat. "Kita tidak bisa membiarkan benda itu sampai ke tangan Kaisar."

"Tapi bagaimana? Pertahanan mereka diperketat. Hei Yao pasti sudah gila sekarang," kata senior itu.

"Tunggu," potong Fengyin tiba-tiba. Dia menoleh ke arah mulut gua. "Ada seseorang datang. Aura nya... tidak asing."

Beberapa saat kemudian, sebuah sosok melompat masuk dengan cepat dan lincah. Pria itu mengenakan pakaian prajurit biasa, tapi matanya tajam dan waspada.

Saat melihat wajahnya, semua orang langsung waspada dan mencabut senjata.

"Xie Wuyou?!" teriak salah satu murid.

"Tunggu! Jangan menyerang!" pria itu mengangkat kedua tangannya cepat, lalu dengan gerakan cepat dia merobek topeng yang menutupi sebagian wajahnya.

Wajah aslinya terlihat. Bukan Xie Wuyou, tapi...

"Ye Xiang?!" Yuelan terkejut.

Betul. Itu adalah Ye Xiang. Dia terlihat kelelahan, pakaiannya kotor, dan ada luka gores di lengannya.

"Aku harus bicara dengan Fengyin. Cepat!" desisnya sambil menutup mulutnya, waspada terhadap pengintai.

Fengyin mengangguk, memberi isyarat agar yang lain menurunkan senjata. Dia sudah lama menantikan kabar dari mata-mata andalan mereka ini.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau sampai ke sini?" tanya Fengyin.

"Aku menyusup keluar dari barisan pasukan utama," jawab Ye Xiang terengah-engah. "Ada berita besar, Fengyin. Sangat buruk. Kaisar Xuancheng... dia sudah tidak lagi sepenuhnya manusia."

Fengyin dan Yuelan menatap tajam.

"Lanjutkan."

"Selama sepuluh tahun ini, dia tidak hanya diam. Dia melakukan ritual menyerap kekuatan dari para ahli yang dia tangkap. Dia sudah mencapai tahap Bàn Xiān—Semi-Immortal. Tubuhnya sudah diperkuat oleh ramuan abadi, membuatnya hampir mustahil untuk dibunuh dengan cara biasa," jelas Ye Xiang dengan napas memburu. "Dan dia sudah menemukan cara untuk mencuri teknik orang lain hanya dengan menyentuh mereka. Itu sebabnya dia semakin kuat setiap hari."

"Jadi itu sebabnya dia butuh energi dalam jumlah besar..." gumam Yuelan.

"Bukan cuma itu," Ye Xiang mendekat, suaranya menjadi bisikan serius. "Xie Wuyou juga sudah berubah. Kaisar memberinya Darah Naga Hitam buatan. Sekarang dia bisa mengendalikan tiga elemen Interval sekaligus. Dia jauh lebih kuat dari saat kau lawan terakhir kali."

Suasana di dalam gua menjadi hening dan mencekam. Musuh mereka bukan hanya kuat, mereka sudah menjadi monster yang melampaui batas manusia biasa.

"Tapi... kenapa kau memberitahu kita ini?" tanya senior Cānglóng Pài dengan curiga. "Kau dulu orang kepercayaan mereka."

Ye Xiang tersenyum pahit, ada rasa sesal yang mendalam di matanya.

"Aku melihat apa yang mereka lakukan pada rakyat biasa. Aku melihat bagaimana mereka membuat senjata iblis itu. Aku mungkin penjahat, tapi aku bukan binatang yang mau menghancurkan seluruh dunia," katanya tegas. "Dan juga... aku berhutang nyawa pada Fengyin. Hari ini aku membayarnya."

Dia mengeluarkan sebuah gulungan kulit dari balik bajunya dan menyerahkannya kepada Fengyin.

"Ini peta lengkap formasi pasukan mereka. Dan ini... lokasi penyimpanan inti energi itu. Mereka berencana memindahkannya tiga hari lagi menuju Wujicheng. Kalau kau ingin menghancurkannya, harus dilakukan sebelum itu."

Fengyin menerima gulungan itu. Tangannya menyentuh permukaan kulit itu, merasakan bobot informasi berharga di dalamnya. Dia menatap mata Ye Xiang dalam-dalam, mencoba membaca niat pria itu.

"Terima kasih, Xiang. Keberanianmu ini akan menyelamatkan banyak nyawa," kata Fengyin lembut namun tegas.

"Aku hanya melakukan apa yang benar," jawab Ye Xiang. "Tapi ingat ini, Fengyin. Kaisar Xuancheng tidak main-main. Dia tidak hanya ingin menang perang... dia ingin menghapus semua aliran teknik kuno dari muka bumi agar dia menjadi satu-satunya penguasa kekuatan."

Tiba-tiba, telinga Fengyin bergerak. Dia bisa mendengar suara derap kaki yang teratur dari kejauhan.

"Mereka datang mencarimu, Xiang," kata Fengyin cepat. "Kau tidak bisa berlama-lama di sini."

"Aku tahu. Aku harus kembali sebelum mereka menyadari kepergianku," Ye Xiang melompat ke tepi tebing. "Hati-hati dengan Meriam Roh-Jiwa itu! Ledakannya bisa mempengaruhi aliran energi di seluruh wilayah ini!"

Setelah berkata demikian, sosok Ye Xiang lenyap kembali ke dalam hutan, menyatu dengan pepohonan secepat bayangan.

Kini, tinggal Fengyin, Yuelan, dan pasukan kecil mereka.

Fengyin membuka gulungan peta itu. Di sana tergambar jelas markas musuh, letak meriam-meriam mematikan itu, dan jalur evakuasi.

"Jadi begini rencananya..." Fengyin menunjuk satu titik di peta, matanya bersinar dingin. "Kita tidak akan menunggu mereka memindahkannya. Kita akan hancurkan semuanya di sini, malam ini juga."

"Malam ini? Tapi pertahanan mereka pasti sangat ketat setelah insiden semalam," kata Yuelan.

"Justru karena itu," potong Fengyin. "Mereka pikir kita akan takut dan bersembunyi. Mereka pikir kita akan bermain kucing dan tikus lagi. Mereka tidak akan menyangka bahwa kita akan langsung menyerang jantung mereka saat ini juga."

Dia menatap teman-temannya satu per satu. Wajahnya tenang, namun memancarkan aura seorang pemimpin yang siap memimpin perang.

"Mereka menyebutnya Senjata Iblis. Malam ini... kita akan mengembalikannya ke neraka tempat asalnya."

"Siap!" seru para murid serentak, semangat mereka berkobar kembali.

Langit mulai berubah menjadi oranye kemerahan, menandakan senja akan segera berganti malam. Namun malam ini, tidak ada kabut tipis untuk persembunyian. Malam ini... mereka akan datang dengan badai yang nyata.

Rahasia terkelam Dinasti Wuji Chao akan segera terungkap, dan api pembalasan akan segera menyala.

[ Bersambung... ]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!