GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. Bayangan Sang Mahapatih
Fajar senin esok yang dinantikan akhirnya tiba, namun tidak membawa kecerahan bagi langit di atas kota pusat Trowulan. Awan hitam yang tebal dan rendah tampak berarak lambat dari arah lautan utara, menyelimuti kompleks istana dalam dengan hawa lembap yang menekan batin. Di bagian timur pusat pemerintahan Majapahit, sebuah kompleks kediaman megah berdiri kokoh dengan dinding batu bata merah setinggi dua penggalah yang permukaannya diukir dengan relief kisah para raja purba yang telah runtuh.
Tempat itu adalah kediaman resmi Mahapati, sosok yang selama puluhan tahun mengendalikan jalannya roda pemerintahan dan percaturan politik kerajaan dari balik bayangan tirai sutra istana. Berbeda dengan rumah para perwira tinggi militer lainnya yang selalu dijaga oleh barisan prajurit berseragam merah lengkap, kompleks kediaman ini tampak sangat sunyi, seolah-olah tidak ada kehidupan di dalamnya. Namun, di balik keheningan tersebut, ratusan pasang mata dari jaringan pemburu informasi rahasia Singo Barong terus mengawasi setiap jengkal jalur setapak batu di luar dinding dengan ketajaman yang mutlak.
Di dalam ruang kerja utamanya yang luas dan remang-remang, udara terasa sangat pekat oleh aroma asap jampi-jampi kemenyan hitam yang dibakar di atas sebuah tungku perunggu raksasa berbentuk kepala macan gaib. Tidak ada jendela yang dibuka di ruangan tersebut; satu-satunya sumber cahaya hanya berasal dari sebilah lampu minyak kelapa tua yang tergantung di langit-langit, memancarkan pendaran kuning redup yang menciptakan bayangan panjang bergoyang di dinding.
Mahapati duduk bersila di atas sebuah bantalan sutra hitam yang diletakkan di atas panggung kayu rendah. Wajah pribadinya tampak sangat tenang, dengan gurat usia yang matang dan sepasang mata yang selalu berkedip lambat namun memancarkan kilatan manipulatif yang sangat dingin. Jubah kain sutra hitamnya yang bersulam benang perak lusuh tampak jatuh menjuntai menyentuh lantai papan, sementara kedua telapak tangannya yang kurus diletakkan di atas lutut, menahan sirkulasi batin spiritualnya yang sangat pekat.
Di bawah permukaan ketenangannya tersebut, di dalam dimensi sukma terdalam Mahapati, sosok Khodam Singo Barong yang menjadi sumber pilar kekuatan agungnya tampak sedang bergerak menggeliat lambat. Roh pelindung berwujud raja binatang gaib bertubuh raksasa itu memancarkan hawa hitam pekat yang terus berputar-putar di sekitar pundak Mahapati, meledakkan riak kemampuan bawaan Teror Sukma setipis rambut yang mampu membuat mental manusia biasa di sekitarnya runtuh ketakutan tanpa perlu adanya benturan fisik.
Langkah kaki yang sangat terburu-buru mendadak terdengar dari arah koridor luar ruangan kerja. Pintu kayu jati tebal yang membatasi ruangan tersebut perlahan didorong dari luar, menampilkan sosok ningsun yang baru saja tiba dari kompleks barak pelatihan militer Barat. Pelacak jejak elit Singo Barong itu melangkah masuk dengan tubuh yang dibasahi oleh sisa embun fajar, lalu segera menjatuhkan dirinya berlutut bersujud di atas lantai papan kayu dengan tubuh yang gemetar pelan.
"Hamba, ningsun, menghadap Gusti Mahapati," ucap pelacak tersebut dengan suara yang dibuat sangat rendah dan penuh dengan kepatuhan mutlak seorang abdi bayangan. "Hamba membawa laporan akhir mengenai hasil pengintaian rahasia terhadap prajurit nomor registrasi nol empat puluh tujuh di kompleks Barat fajar tadi."
Mahapati tidak segera mengubah posisi duduknya atau membuka mulutnya. Ia membiarkan keheningan yang menekan merayap di dalam ruangan selama beberapa waktu penuh, membiarkan aroma kemenyan hitam kian menyengat indra penciuman ningsun yang sedang bersujud di dekat kakinya.
"Katakan, ningsun," ucap Mahapati perlahan, suaranya terdengar sangat serak, dingin, namun memiliki kedalaman resonansi yang mampu menghentikan derit kayu tungku perunggu di depannya. "Apakah burung merpati pos yang dikirimkan oleh jarnwaji semalam membawa kebenaran taktis, atau mata pengawas logistikku itu hanya sedang berhalusinasi karena terlalu banyak meminum tuak murahan di kedai luar?"
ningsun mengangkat kepalanya sedikit, meraba selembar perkamen daun lontar kecil yang berisi catatan lengkap hasil interogasi kain hitamnya sore kemarin. "Gusti, hamba telah melakukan gerakan pemancingan psikologis secara langsung menggunakan kain bersulam lambang Singo Barong merah darah tepat di depan wajah pemuda bernama Mada tersebut."
Mahapati sedikit menyipitkan sepasang mata elangnya, menaruh perhatian pada kata lambang. "Lalu bagaimana reaksi dari urat wajah dan sirkulasi batinnya saat melihat lambang pembunuh keluarganya itu, ningsun?"
"Sama sekali tidak ada riak resistensi energi atau lonjakan detak jantung yang mencurigakan, Gusti," jawab ningsun dengan nada suara yang penuh kepastian. "Hamba menempelkan indra peraba hawa murni harian hamba di dekat jemarinya saat penyerahan kain dilakukan. Denyut nadinya tetap berada di batas manusia biasa yang sedang ketakutan melihat kedatangan perwira. Pemuda jangkung itu bahkan mengira sulaman Singo Barong tersebut adalah kain jimat untuk menolak bala dari serangan hantu pohon di Hutan Tarik. Dia benar-benar hanya seorang anak petani beruntung yang memiliki kepadatan otot alami yang tebal, namun jiwanya sangat lemah, penakut, dan tidak mengerti apa-apa mengenai silsilah taktik militer istana."
Mendengar laporan lengkap dari ningsun tersebut, Mahapati perlahan menarik tubuhnya mundur, menyandarkan punggung kurusnya pada sandaran kursi kayu jati yang diukir dengan relief kepala singa gaib. Sebuah senyuman tipis yang sangat dingin dan manipulatif tampak tersungging di sudut bibirnya yang pucat.
(Jadi, dia benar-benar hanya sebutir benih desa yang kebetulan memiliki nama tempat asal yang sama dengan makam kuno Nambi di dalam Hutan Tarik. Jarnwaji terlalu penakut hingga menyamakan kebetulan taktis di lapangan simulasi sebagai kebangkitan darah keturunan Empu Gandring. Darah pengrajin besi purba itu telah kutumpas habis puluhan tahun lalu, dan tidak ada satu jengkal pun akar mereka yang tersisa untuk bisa melahirkan ancaman baru bagi takhtaku di Trowulan ini.)
Mahapati mengangkat tangan kanannya, memberikan lambaian jari yang halus kepada ningsun. "Laporanmu cukup menghibur batin saya pagi ini, ningsun. Ambil dua keping perak upahmu di meja depan, dan perintahkan jarnwaji untuk tetap menjaga mulutnya agar tidak memicu keributan di dalam barak Tamtama Barat sebelum ujian akhir pekan dimulai."
"Siap, Gusti! Hamba pamit undur diri!" jawab ningsun sambil menjura hormat sedalam-dalamnya, lalu segera melangkah mundur meninggalkan ruangan kerja tersebut dengan langkah yang cepat dan patuh.
Setelah pintu kayu jati tebal itu kembali tertutup rapat, keheningan yang pekat kembali mengunci ruangan kerja Mahapati. Sosok sang antagonis utama paruh pertama cerita itu perlahan bangkit berdiri dari bantalan sutranya. Langkah kakinya yang beralaskan kain halus bergerak mendekati sebuah meja kayu panjang yang terletak di sudut ruangan, tempat di mana selembar peta kulit domba raksasa mengenai struktur birokrasi pemerintahan Majapahit dibentangkan.
Mahapati mengulurkan jari telunjuknya yang panjang, menyentuh gambar bidak kayu yang bertuliskan nama Senopati Kudamerta di dalam lingkaran militer Barat.
(Kudamerta... jenderal sepuh itu tampaknya sudah mulai bosan dengan kedamaian masa tuanya hingga rela memajukan jadwal ujian duel hanya demi mencari sebutir benih ksatria baru di dalam barak Tamtama. Dia mengira dengan mengumpulkan anak-anak desa bertubuh besar bisa membantunya membangun kembali kekuatan elit pengawal raja purba untuk mengimbangi pengaruh jaringan Singo Barong milikku di dalam dewan tetua istana.)
Mahapati menggerakkan bidak kayu Kudamerta tersebut, menggesernya setengah jengkal ke arah luar batas garis pertahanan pusat kota, memberikan isyarat taktis mengenai rencana fitnah politik yang sedang disusunnya di dalam kegelapan batinnya.
(Bergeraklah sesukamu di dalam kompleks Barat itu, Kudamerta. Teruslah kumpulkan tikus-tikus desa jangkung seperti Mada itu ke dalam asramamu. Namun ingat, di bawah langit Trowulan ini, musuh terbesar Majapahit tidak akan pernah datang membawa tombak besi dari arah lautan luar. Kerajaan besar ini akan runtuh dari dalam, di bawah ketukan langkah kakiku yang akan memastikan seluruh silsilah pendiri awal Wilwatikta lenyap menjadi abu sejarah tanpa disadari oleh mata elangmu yang mulai lamur oleh usia.)
Di dalam dimensi spiritual sukmanya, Khodam Singo Barong mendadak meledakkan raungan batin tak kasat mata yang sangat mengerikan, menyebarkan riak energi Teror Sukma hitam yang membuat seluruh permukaan minyak lampu di dalam ruangan kerja tersebut mendadak bergetar hebat menciptakan bayangan singa raksasa yang seolah sedang mencengkeram seluruh dinding batu kompleks kediaman.
Sementara itu, di waktu yang sama di sepanjang jalur setapak batu kompleks militer Barat, Mada yang baru saja selesai membersihkan perisai bambunya bersama Wiranata mendadak menghentikan langkah kakinya sejenak. Ia mendongakkan kepalanya sedikit, menatap ke arah langit timur tempat beraraknya awan hitam tebal di atas kompleks istana pusat.
Di balik poni rambut panjangnya yang berantakan, sepasang mata polos Mada berkilat dingin, memancarkan pendaran batin emas Batara Niti Mandala yang sangat tipis namun memiliki ketajaman analisis taktis yang mutlak. Dengan menggunakan kemampuan membaca aliran energi Niti Sastra tingkat dua miliknya, ia bisa merasakan adanya distorsi hawa hitam pekat yang baru saja meledak dari arah kediaman Mahapati, sebuah konfirmasi ghaib bahwa sandiwara keluguannya di depan ningsun sore kemarin telah berhasil mencapai tujuannya dengan sangat sempurna.
(Bayanganmu telah mulai memanjang memeluk kota pusat ini, Mahapati. Nikmatilah sisa kenyamanan takhtamu di atas kursi kebohongan itu selama sisa pekan ini; karena begitu gerbang Akademi Ksatria pilihan pusat dibuka untuk nomor registrasiku senin esok fajar, aku sendiri yang akan memastikan seluruh bayangan Singo Barong milikku merayap keluar menghancurkan seluruh benteng intrik politikmu dari arah tempat yang paling tidak pernah kaubayangkan di dalam silsilah terendah kerajaan Majapahit.)
Mada mengembuskan napas panjang secara teratur, memulihkan kembali seluruh sirkulasi tubuh fisik alaminya ke titik nol sebelum Wiranata menyadari perubahan sikap tubuh jangkungnya. Ia kembali berjalan mengekor di belakang barisan Regu Serigala dengan memikul senjata kayu latihannya, memasang wajah polos keluguannya untuk bersiap menyambut fajar pertama dari penutupan fase pelatihan dasar Tamtama gelombang pertama di bawah langit Trowulan yang kian hari kian mengarah pada pusat pergolakan kekuasaan terbesar di tanah Nusantara.