Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Ingin membawa pergi anakku?" ujar Alyysa dingin sambil memeluk Kael dari gendongan Nana. "Kau pikir kau pantas?"
Jean langsung tertawa sinis.
"Alyysa, jangan lupa. Kau dan Darius belum resmi bercerai secara hukum," ejeknya sengaja. "Tapi sekarang kau sudah bersama pria lain. Tidak tahu malu."
Tatapan orang-orang di sekitar langsung berubah.
"Apa karena kau mengincar harta keluarga Fan?" lanjut Jean tajam.
Suasana langsung menjadi sunyi.
Namun detik berikutnya—
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah Jean.
"Ahhh!"
Tubuh wanita itu langsung terhuyung hingga jatuh terduduk di lantai.
Bekas tamparan merah langsung terlihat jelas di pipinya.
Semua orang terkejut.
Jean menatap Alyysa tidak percaya. "Kau berani menamparku?!"
Alyysa berdiri tegak dengan wajah dingin.
"Istri anakmu?" ulangnya sinis. "Bukankah dulu kau pernah memaksaku bercerai?"
Jean langsung membeku.
"Saat aku masih hamil, kau berharap Darius menikahi wanita lain," lanjut Alyysa penuh tekanan. "Apa kau lupa?"
Kerumunan langsung mulai berbisik lagi.
"Ternyata mertuanya yang jahat."
"Pantas wanita itu marah."
Wajah Jean berubah jelek karena malu.
Namun sebelum ia sempat bicara lagi, suara dingin Lucien terdengar.
"Sepertinya selama ini aku terlalu baik padamu," ucapnya pelan.
Lucien melangkah maju perlahan.
Aura pria itu langsung membuat suasana menjadi menekan.
"Itu sebabnya kau berulang kali mencari masalah," lanjutnya dingin. "Apa kau mengira aku, Lucien Fan, bisa diremehkan olehmu?"
Jean menggertakkan gigi sambil menahan sakit di wajahnya.
"Lucien!" bentaknya. "Aku tetap istri sah kakakmu! Dengan status itu kau tidak bisa berbuat sesuka hati padaku!"
Tatapan Lucien langsung berubah tajam.
"Kau pikir aku tidak mampu?" tanyanya dingin.
Senyum tipis muncul di bibir pria itu.
"Biar kubuktikan."
Lucien kemudian menatap seluruh anak buahnya.
"Dengar baik-baik," ujarnya tegas. "Mulai hari ini, wanita ini tidak boleh kembali masuk ke rumah keluarga Fan."
Wajah Jean langsung pucat.
"Lucien, kau berani—"
"Aku bahkan tidak keberatan menghapus namanya dari daftar keluarga," lanjut Lucien tanpa ragu.
"Berulang kali kau membuat masalah," ujar Lucien dingin. "Jangan sampai aku mengambil nyawamu dengan tanganku sendiri."
"Kalian," lanjut Lucien pada anak buahnya, "pergi ambil semua barang wanita ini dan buang dari keluarga Fan."
Wajah Jean langsung berubah pucat.
Wanita itu langsung bangkit sambil menunjuk Lucien penuh amarah.
"Lucien! Kau adalah adik iparku!" bentaknya. "Sebelumnya kau sudah mengusir Darius dan membuat hidupnya hancur. Sementara kau menikmati semua kekayaan keluarga Fan!"
Orang-orang di sekitar langsung terdiam.
"Jangan lupa," lanjut Jean penuh kebencian, "saat kakakmu masih hidup, dialah yang bekerja keras demi keluarga ini! Jadi kau tidak berhak mengusir kami!"
Lucien malah tersenyum tipis.
Tatapan pria itu penuh penghinaan.
"Sudah berapa lama kau menjadi menantu keluarga Fan?" tanyanya dingin. "Dan sudah berapa banyak uang keluarga yang kau habiskan bersama putramu?"
Jean langsung membeku.
"Kalau semua dihitung," lanjut Lucien tajam, "jumlahnya bahkan jauh lebih besar daripada uang yang pernah dihasilkan suamimu."
Wajah Jean langsung memerah.
"Jadi bisa dikatakan..." suara Lucien semakin dingin, "keluarga Fan sudah sangat baik padamu."
Lucien kemudian menatap anak buahnya.
"Mulai detik ini," ujarnya tegas, "wanita ini tidak boleh lagi menggunakan uang ataupun fasilitas keluarga Fan."
"Lucien!" teriak Jean panik.
Beberapa anak buahnya yang berbadan besar langsung menyeretnya keluar dari toko.
"Lucien! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" jerit Jean histeris.
Namun Lucien bahkan tidak meliriknya lagi.
Tatapannya kini tertuju pada Kael yang berada dalam pelukan Alyysa.
"Alyysa, bagaimana Kael?" tanyanya pelan.
Alyysa menatap anak kecil itu yang mulai tenang kembali.
"Tidak apa-apa," jawabnya lembut. ia kemudian menatap Lucien ragu. "Tapi... kau mengusirnya begitu saja. Apa tidak akan menjadi masalah?"
Lucien menyelipkan satu tangan ke saku celana.
"Aku tidak mengirimnya ke daerah terpencil saja sudah termasuk baik hati," jawabnya dingin. "Kalau bukan karena Darius adalah darah daging kakakku, mana mungkin aku masih menahan diri."
Tatapan pria itu perlahan melembut saat melihat Kael.
"Aku sudah terlalu sabar pada mereka."
Malam itu...
Mansion keluarga Fan menjadi kacau.
Para pelayan berdiri ketakutan saat barang-barang Jean dilempar keluar dari rumah.
Tas mahal, pakaian, sepatu, hingga koper berserakan di halaman depan.
Jean berusaha melawan sambil berteriak histeris.
"Kalian berani menyentuh barangku?!"
Namun tidak ada yang berani menghentikan perintah Lucien.
Tak lama kemudian, pintu utama mansion terbuka.
Mike berjalan keluar perlahan dengan wajah berat.
Jean langsung berlari mendekatinya.
"Pa!" teriaknya panik. "Lucien tidak bisa mengusirku begitu saja!"
Namun Mike hanya menatapnya lama.
"Jean," ujarnya berat, "selama ini aku tidak pernah melarang apa pun yang kau lakukan."
Tatapan pria tua itu penuh kekecewaan.
"Setelah menjadi menantuku, aku memberimu kehidupan mewah. Walaupun suamimu sudah meninggal, aku tetap menganggap kau dan Darius sebagai keluarga."
Air mata Jean mulai jatuh.
"Tapi lihat dirimu sekarang," lanjut Mike dingin. "Kali ini kau bahkan mencoba membawa Kael pergi."
Jean langsung menggigit bibir.
"Tentu saja aku tidak bisa membiarkan kau bertindak sesuka hati."
Mike menghela napas panjang.
"Diusir dari sini anggap saja sebagai pelajaran bagimu."
Tatapannya berubah tegas.
"Ke depannya... hiduplah dengan kemampuanmu sendiri."
Setelah mengatakan itu, Mike langsung berbalik masuk ke dalam mansion.
"Pa! Pa!" teriak Jean panik sambil mengejar.
Pintu besar mansion telah tertutup.
Dan untuk pertama kalinya...
Jean benar-benar kehilangan semuanya.
***
Tiga bulan kemudian...
Kehidupan Darius benar-benar jatuh ke titik terendah.
Pria yang dulu selalu berpakaian mewah itu kini duduk di kamar sempit dengan pakaian kusut dan wajah tidak terurus.
Rambutnya berantakan, matanya cekung, bahkan aroma alkohol samar memenuhi ruangan.
"Hingga sekarang aku masih tidak bisa mendekati Alyysa..." gumamnya frustrasi. "Mama juga sudah diusir."
Tatapannya perlahan dipenuhi kebencian.
"Kami benar-benar menjadi miskin gara-gara Lucien."
Tiba-tiba—
Brak!
Pintu kamar dibanting terbuka dengan keras.
Beberapa pria berbadan besar masuk tanpa izin.
Darius langsung berdiri kaget.
"Siapa kalian?!"
Salah satu pria menatapnya dingin.
"Darius Fan," ujarnya tegas, "hari ini tepat tiga bulan sejak surat perceraian ditandatangani."
Wajah Darius langsung berubah.
"Saatnya kau dan Nona Alyysa resmi bercerai."
"Tidak!" teriak Darius panik. "Aku tidak mau!"
Dua pria langsung menangkap lengannya.
"Lepaskan aku! Kalian tidak berhak!"
Darius meronta-ronta seperti orang gila, tetapi tetap diseret keluar.
Tak lama kemudian...
Sebuah mobil hitam berhenti di depan kantor pencatatan sipil.
Di depan gedung itu, Lucien dan Alyysa sudah berdiri menunggu.
Lucien mengenakan setelan hitam elegan dengan aura dingin yang menekan.
Sementara Alyysa berdiri di sampingnya.
"Bos, orangnya sudah kami bawa," ujar salah satu anak buah.
Tatapan Lucien langsung jatuh pada Darius.
"Bawa masuk," perintahnya dingin.
"Lepaskan tangan kotor kalian!" bentak Darius saat ditarik keluar dari mobil.
Begitu melihat Lucien dan Alyysa berdiri bersama, matanya langsung memerah penuh kebencian.
"Lucien!" teriaknya marah. "Kau jangan keterlaluan!"
Orang-orang di sekitar mulai menoleh karena keributan itu.
"Aku dan Mamaku sudah hidup menderita di luar!" lanjut Darius penuh amarah. "Kau merebut semua hak milikku!"
Tatapannya kemudian beralih pada Alyysa.
"Dan sekarang bahkan istri serta anakku juga ingin kau rebut!"
Namun Lucien hanya berjalan mendekatinya dengan tenang.
Aura pria itu begitu dingin hingga membuat Darius tanpa sadar gemetar.
Lucien berhenti tepat di depan keponakannya.
Kemudian ia sedikit menunduk dan berbisik pelan di telinga Darius.
"Apa kau tahu..." suara Lucien rendah dan menusuk, "sejak awal wanita itu memang seharusnya menjadi milikku."
Mata Darius langsung membesar.
Senyum tipis muncul di bibir Lucien.
"Kali ini," ujarnya dingin, "kau kalah telak dariku. Dan asal kau tahu, kau telah masuk jebakanku sehingga berselingkuh dengan Vanessa. Itu karena kau sendiri yang tidak setia."
Wajah Darius langsung berubah pucat.
****
Hai teman-teman, jangan lupa mampir karya berjudul Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis.
Sudah 89 bab, Ya.
Untuk teman-teman yang ikuti kisah Adrian dan Jessica, mohon mendukung hingga akhir bab, ya. agar terpilih menjadi 80 bab terbaik. 🙏🙏🙏
jadi kael adalah anak kandung dan anak secara biologisnya si lucien.
tp mereka aja yang belum menyadari.
ayo thor, ndang sat set gitu loh
klo ngak kasihan Kael dan Alyssa
cerita ini gokil banget.
tokoh tokoh ya mulai tokoh utama sampai tokoh pendamping ada gregetnya.
dan yang paling aku suka adalah tokoh ini si kecil kael yang pemberani. allyysa wanita yang tidak mudah ditindas. dan kepala keluarga lucien semoga tetep bisa menjadi pengayom bagi keluarga.
lawan mereka yang berusaha menindasmu dan ibumu
bagus kael.
bagus allyysa.
gk mungkin si Darius menghilang d telan bumi
bagus kael. lawan dia yang bikin gara gara sama kamu aku mendukungmu.
selagi kau tidak bersalah jangan pernah tunduk sama siapapun kecuali sama ibumu.
ha ha ha ha
jangan jangan si kael ini adalah anak kandung dari lucien ya.
aku kok berharapnya seperti itu. bukan cuma sebagai anak sambung saja.
thor, bikinlah cerita seperti itu 😍😍🙏🙏🙏🙏🙏
jadilah wanita tangguh. selidiki anak itu tanpa sepengetahuan lucien. yaaah untuk berjaga jaga aja. karena aku iru curiga anak itu bukan anaknya lucien. aku curiga ini hanya jebakan untuk lucien.