Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Alessandro Versus Bismantaka
Pagi sekitar jam delapan. Suasana di kantor pusat Adiwinata Corporation tidak berubah. Setidaknya itulah yang terlihat dari luar.
Aktivitas berjalan masih seperti biasa. Karyawan masuk dengan ritme yang sama. Laporan tetap bergerak dari satu meja ke meja lain.
Namun bagi mereka yang cukup peka pasti ada sesuatu yang berbeda. Tekanan itu tidak terlihat namun terasa.
Di ruang rapat utama, layar besar menampilkan grafik. Garis merah yang beberapa hari lalu turun tajam kini mulai bergerak naik.
Meski pergerakannya secara perlahan tapi stabil.
“Pergerakan ini terlalu cepat.”
Suara Ravian terdengar rendah. Tatapannya tidak lepas dari layar.
“Bukan cepat,” jawab seseorang di ujung meja.
“Tapi terarah.”
Semua mata beralih. Alessandro Vorneti berdiri di sana. Dia bersikap tenang. Seolah grafik itu hanyalah sesuatu yang sudah ia perkirakan.
“Stabilitas bukan kebetulan,” lanjutnya.
“Ini adalah hasil.”
Tidak ada yang langsung membantah, meski satu kalimat saja. Sementara itu, di sisi lain kota Bismantaka membaca laporan yang sama.
Alisnya sedikit berkerut. Dia tidak yakin dengan penglihatannya sendiri.
“Seharusnya ini belum terjadi.”
Tangannya mengetuk meja pelan. Satu… dua… tiga. Sesuatu hal telah terjadi kini. Dan itu diluar kendalinya. Dan juga dia tidak menyukai hal yang bergerak di luar perhitungan.
“Siapa yang mengatur ini?”
Tidak ada jawaban langsung. Namun ia tidak benar-benar membutuhkan satu jawaban. Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Oh, Jadi dia sudah mulai bergerak.”
Kembali ke ruang rapat Alessandro menutup file di tangannya.
“Pertahankan semua posisi.”
Perintahnya singkat. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada juga diskusi berlebihan. Namun tidak ada yang mempertanyakan. Semua diam dengan arus pikiran masing-masing.
Karena entah bagaimana semua orang di ruangan itu tahu, ia tahu apa yang akan ia lakukan.
Ravian memperhatikannya dan diam seribu bahasa.
“Apa langkah berikutnya, Tuan?” tanyanya akhirnya.
Alessandro menoleh sedikit.
“Just wait... Ya menunggu.”
Jawaban itu sangat sederhana. Namun justru membuat suasana menegang.
“Dia tidak akan diam,” lanjutnya pelan. Ravian memahami. Semua menatap monitor.
“Bismantaka.”
Alessandro tidak menjawab. Namun itu sudah cukup baginya.
Sementara itu i tempat lain, Bismantaka berdiri di depan jendela. Nampak pemandangan kota Jakarta terbentang di hadapannya. Namun pikirannya tidak di sana.
“Naikkan tekanan.”
Perintahnya singkat.
“Di sisi mana, Pak?”
Senyumnya tipis.
“Di semua kini. Dan jangan ada yang terlewatkan.”
Ia berbalik tatapannya tajam.
“Kalau dia ingin bermain kita lihat seberapa lama dia bertahan.” gumamnya pelan,
Sementara itu di ruang rapat, Alessandro berjalan menuju jendela. Gerakannya terlihat santai.
“Dia akan meningkatkan tekanan.”
Tidak ada yang bertanya bagaimana ia tahu.
“Biarkan.”
Ravian menatapnya seolah tak percaya.
“Biarkan, Tuan?”
Alessandro mengangguk pelan.
“Semakin dia menekan, semakin jelas arah gerakannya.” katanya,
Ia berhenti kemudian lanjutnya,
“Dan semakin mudah dibaca.”
Suasana menjadi semakin hening. Untuk pertama kalinya Ravian tersenyum tipis. Senyum tak nampak.
“Jadi ini bukan soal bertahan di Adiwinata.”
Alessandro menoleh.
“Tidak pernah.”
Tatapannya tenang.
“Ini soal siapa yang membaca lebih dulu.”
Di dua tempat berbeda dua strategi mulai berjalan. Satu mencoba untuk menguasai. Dan satunya lagi menunggu untuk membalik.
Permainan telah berubah. Dan kali ini
tidak ada yang benar-benar berdiri di tengah.
Yang ada hanya ada dua sisi. Dan keduanya tidak berniat untuk mundur.
Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu, menggantikan cahaya yang memudar. Dari kejauhan, semuanya terlihat biasa.
Nampak tenang dan terkendali.
Namun di balik angka-angka yang bergerak di layar, ada sesuatu yang mulai berubah arah.
Di ruang kerjanya, Bismantaka berdiri di depan meja. Beberapa layar menyala di hadapannya.
Grafik. Data. Dan pergerakan. Semuanya menunjukkan satu hal yaitu stabilitas saham.
Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi secepat ini.
“Dia menahan tekanan…”
Gumamnya pelan. Tatapan matanya menyempit.
Biasanya, ketika tekanan dinaikkan sistem akan menunjukkan reaksi. Seperti retakan kecil atau keterlambatan bahkan kesalahan.
Namun kali ini yang terpampang dalam layar monitor tidak ada. Bahkan grafik saham menunjukkan angka yang stabil.
Itu bukan berarti tidak ada masalah. Itu berarti
seseorang sedang mengendalikannya dengan sangat rapi. Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Jadi ini caramu bermain?”
Tangannya bergerak. Menutup salah satu layar.
“Baik.”
Ia berbalik. Menyuruh asistennya untuk menambah limit saham yang sudah dia gelontorkan. Tentunya dengan bantuan Alessandro.
“Naikkan lagi.” Perintahnya singkat.
“Semua jalur, Tuan?”
“Ya Semua.”
Tidak ada keraguan. Kalau lawannya memilih bertahan maka ia akan memaksa. Memaksa sampai sesuatu itu pecah.
Di sisi lain di lantai atas gedung yang berbeda,
Alessandro Vorneti berdiri di dekat jendela. Ponsel di tangannya menyala. Satu laporan baru saja masuk.
Ia tidak langsung membacanya. Tatapannya masih tertuju ke luar.
“Dia menaikkan tekanan.”
Suara Ravian terdengar dari belakang.
Alessandro tersenyum tipis.
“Ya tentu saja.”
Ia akhirnya menurunkan pandangan ke layar.
Membaca sekilas.
“Cepat.”
Ravian melangkah mendekat.
“Lebih cepat dari perkiraan?”
“Tidak.”
Jawaban itu datar.
“Lebih cepat dari yang dia kira.”
Suasana hening sejenak.
Ravian memperhatikan pria di depannya. Tidak ada perubahan ekspresi. Juga tidak ada tanda tekanan.
Seolah semua ini memang sudah dihitung dengan benar dan teliti.
“Kalau dia terus menekan?” tanya Ravian.
Alessandro mematikan layar ponselnya.
“Biarkan saja. Biarkan itu terjadi.”
Jawaban yang sama. Namun untuk kali ini
nadanya lebih pasti. Ia pun berbalik.
“Semakin keras dia menekan…”
katanya pelan,
“semakin sempit pilihannya.”
Ravian mengernyit.
“Dan saat itu terjadi?”
Alessandro menatapnya.
“Dia akan mulai membuat kesalahan. Kita lihat saja apakah dia sanggup untuk bertahan.”
Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk mengubah cara pandang.
Bukan soal bertahan tapi soal menunggu. Menunggu lawan kehilangan kendali atas permainannya sendiri.
Di tempat lain Bismantaka berdiri di tengah ruangannya. Laporan demi laporan masuk.
Tekanan terus meningkat. Pergerakan pun mulai berubah.
Namun bukan ke arah yang ia harapkan. Alisnya berkerut tipis.
“Kenapa belum pecah? "
Ini bukan tentang kegagalan. Tapi berbicara tentang waktu. Dan waktu yang kelihatan tidak berpihak padanya.
Ia menarik napas pelan.
“Kalau begitu…”
Tatapannya pun berubah menjadi lebih tajam.
“Cari titik lemahnya.”
Kali ini, suaranya lebih rendah dan lebih berbahaya.
“Kita nulai dari bagian Internal.”
Itu bukan lagi tekanan dari luar, tapi angkah berikutnya. Dengan cara menembus dari dalam.
Di gedung lain Alessandro kembali berdiri di tempat yang sama. Seolah tidak bergerak sejak tadi. Namun pikirannya sudah jauh melangkah.
“Dia akan masuk dari dalam.”
Kata Alessandro, Ravian terdiam untuk sesaat.
“Kau yakin?”
Alessandro mengangguk pelan.
“Nampaknya dia sudah kehabisan cara.”
Hening menyelimuti ruangan rapat hari itu. Dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan karena situasi, melainkan karena arah permainan mulai terlihat jelas.
Ravian menatap Alessandro
“Dan kita, Tuan?”
Alessandro hanya tersenyum tipis.
“Sudah menunggu saat ini.”
Kalimat itu jatuh dengan tenang. Namun makna yang disampaikan tidak sederhana seperti yang dibayangkan.
Karena itu berarti apa yang akan dilakukan Bismantaka selanjutnya sudah diperkirakan jauh hari sebelumnya.
Di dua tempat berbeda dua keputusan telah diambil. Satu untuk menembus lebih dalam. Dan satunya lagi untuk menyambutnya.
Permainan masih berjalan. Namun secara perlahan keseimbangannya mulai bergeser.
Dan seperti semua permainan yang terlalu dipaksakan. Permainan yang pertama selalu kehilangan kendali. Dan tidak mampu untuk bertahan.
Bahkan yang berambisi terlalu ingin menang. Pasti akan terjatuh dengan sendirinya.
"Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat, sementara ini biarkan Bismantaka merasa dirinya di atas angin."