Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Suara hentakan kaki di atas matras karet bergaung memenuhi seisi ruang latihan taekwondo sore itu. Di bawah sorot lampu aula olahraga yang terang, Zivara bergerak dengan ketangkasan yang mengejutkan. Rambut panjangnya diikat tinggi, berayun mengikuti setiap gerakan tubuhnya yang terbalut dobok putih bersih.
Ada kontras yang begitu memikat dalam dirinya. Di satu sisi, garis wajah dan perawakannya tetap memancarkan keanggunan seorang anak tunggal diplomat yang terbiasa dengan kehalusan sikap.
Di sisi lain, setiap tendangan dollyo chagi yang ia lesatkan ke arah target pad terdengar berdentum mantap, presisi, dan bertenaga. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis pasif yang ragu-ragu. Setiap tetes keringat yang jatuh di atas matras seolah membasuh habis kelemahan masa lalunya, mempertegas keberanian baru yang berhasil ia temukan setelah terbangun di lini masa ini.
Bagi Zivara, latihan fisik ini bukan sekadar urusan bela diri. Setiap kali ia mengepalkan tangan dan memasang kuda-kuda, ia sedang membangun fondasi bagi jiwanya yang telah berusia tiga puluh tahun. Kekuatan baru ini mengalir di dalam urat nadinya, menjadi tameng emosional yang membuatnya merasa utuh. Ia tidak lagi membutuhkan perlindungan dari pernikahan paksa yang dingin, tidak juga membutuhkan validasi dari pria yang pernah mengabaikannya. Kekuatan ini adalah miliknya sendiri, sebuah modal utama untuk berani memilih jalannya tanpa rasa takut akan hancur untuk kedua kali.
Di sudut tribun penonton yang remang-remang, Kaizar duduk diam dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari sosok Zivara. Bahu kanannya yang cedera tersembunyi di balik saku jaket hitamnya, menahan denyut nyeri yang terus merambat naik hingga ke tengkuk.
Melihat bagaimana Zivara tersenyum lepas dan berinteraksi akrab dengan teman-teman di klub bela diri, dada Kaizar bergemuruh hebat. Rasa posesif yang menjadi insting dasarnya sebagai seorang pria dominan seketika membumbung tinggi, menciptakan rasa sesak yang membakar ego kalbunya. Ada dorongan kuat untuk melangkah ke tengah matras, menarik Zivara pergi dari sana, dan mengurungnya di tempat di mana hanya ada mereka berdua.
Akan tetapi, kesadaran sebagai pria dewasa yang membawa penyesalan dari masa depan menahan langkah kakinya. Kaizar mencengkeram erat pinggiran kursi tribun dengan tangan kirinya yang bebas. Ia mulai sadar bahwa ia harus mengubah cara. Menghadapi Zivara yang sekarang tidak bisa lagi menggunakan paksaan atau dominasi kaku. Jika ia tetap bersikap egois seperti dulu, Zivara justru akan melangkah semakin jauh hingga tak lagi bisa ia gapai.
Suasana di atas matras mendadak berubah dinamis ketika sesi latihan bebas dimulai. Elian, salah satu rekan senior di klub taekwondo yang berpostur tegap dan atletis, melangkah mendekati Zivara sambil menyodorkan sebuah botol air mineral dingin.
"Tendanganmu semakin bagus, Vara. Istirahat dulu sebentar," ujar Elian dengan senyuman hangat yang begitu terbuka.
Zivara menyambut botol itu dengan anggukan sopan. "Terima kasih, Kak Elian. Masih perlu banyak latihan di bagian keseimbangan."
Elian tidak segera beranjak. Dengan gerakan yang sengaja dibuat terang-terangan karena menyadari keberadaan Kaizar di tribun, Elian mengulurkan handuk kecil dan membantu menyeka sisa keringat di pelipis Zivara. Tindakan yang sangat intim itu dilakukan dengan penuh percaya diri, seolah sengaja menguji sejauh mana batas kesabaran pria yang terus mengawasi mereka dari kegelapan.
Darah Kaizar terasa mendidih seketika. Sorot matanya menajam, sedingin es yang siap menghujam Elian. Rahangnya mengeras menahan cemburu yang mengoyak kewarasannya.
Di tengah kondisi fisiknya yang sedang cedera dan melemah, melihat pria lain mendekati miliknya dengan begitu berani adalah bentuk siksaan batin yang paling kejam bagi seorang Kaizar Ravindra. Ia ingin bertindak, tetapi ia tahu, satu langkah salah dari tindakannya sore ini bisa menghancurkan sisa kepercayaan Zivara yang sedang coba ia rajut kembali seiring waktu.
**
Langkah kaki mereka beriringan menyusuri jalanan aspal di luar gedung olahraga. Zivara berjalan dengan punggung tegap, menyampirkan tas olahraganya di bahu kiri, sementara Kaizar tetap setia melangkah di sisi kanannya—menjaga posisi protektif yang biasa ia lakukan.
Zivara menghentikan ayunan langkahnya sejenak, menoleh ke samping. "Kak Kaizar, kenapa Kakak selalu mengikutiku seperti ini? Aku kan bisa pulang sendiri," tanyanya, suaranya terdengar datar tanpa riak emosi kaku.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Zivara mulai didera kejenuhan yang luar biasa. Sikap Kaizar akhir-akhir ini berubah total seperti lem yang menempel ke mana pun ia pergi. Kehadiran pria itu yang terlalu konstan justru membuatnya merasa tercekik, membangkitkan kembali memori-memori lama yang ingin ia kubur rapat.
Kaizar ikut menghentikan langkah. Ia sedikit menunduk, menatap sepasang mata jernih Zivara yang kini memancarkan jarak yang begitu tegas.
"Memangnya kenapa, Vara? Apa ada yang salah dengan itu?" tanya Kaizar, suaranya berat dan rendah. "Kenapa baru sekarang kamu protes? Kemarin-kemarin kamu biasa saja. Apa karena hari ini ada Elian, jadi kamu bersikap seperti ini padaku?"
Zivara mengernyitkan dahi, merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini. "Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Kakak katakan. Kenapa tiba-tiba membawa nama Kak Elian? Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia."
Rasa cemburu yang sejak tadi membakar dada Kaizar akhirnya meluap, merusak topeng ketenangan yang ia pertahankan mati-mati. Ia maju selangkah, menatap Zivara dengan sorot mata dominan yang terluka.
"Kamu sekarang menjadi sangat dekat dengan Elian, makanya kamu mulai keberatan aku ada di sekitarmu. Perasaanku dari kemarin tidak ada yang berubah, tapi sikapmu berubah sejak pria itu mulai mendekatimu."
Mendengar tuduhan itu, Zivara membalikkan tubuhnya sepenuhnya, berdiri berhadapan langsung dengan Kaizar di bawah temaram lampu jalan. Jiwanya yang sudah berusia tiga puluh tahun menolak untuk terseret dalam drama kecemburuan kekanak-kanakan. Zivara tidak lagi ingin menjadi second choice—gadis cadangan yang hanya dicari saat cinta pertama pria ini tiada. Trauma masa depan membuatnya segera membentengi diri dengan pertahanan yang dingin.
"Kita punya kehidupan masing-masing, Kak. Kita punya kegiatan yang ingin kita lakukan sendiri," ujar Zivara, intonasi suaranya tenang namun menghujam. "Kita tidak harus selalu bersama-sama seperti ini setiap waktu. Tolong beri aku ruang."
Bersamaan dengan kalimat dingin yang terlontar dari bibir Zivara, denyut nyeri yang teramat sangat mendadak menghantam bahu kanan Kaizar yang cedera. Rasa sakit fisik itu menjalar dengan kejam, bersahut-sahutan dengan rasa sakit hati yang luar biasa melihat bagaimana perempuan yang ia cintai dalam diam kini justru berusaha keras menjauhkan diri darinya demi pria lain. Pengorbanan fisiknya menahan luka seolah tidak ada artinya sama sekali di hadapan benteng pertahanan Zivara yang sekokoh karang.
Kaizar mencengkeram lengan kirinya sendiri, menahan tubuhnya agar tidak limbung di depan Zivara. "Aku hanya ingin melindungimu, Vara. Ini juga janjiku kepada Om Ridwan. Aku harus memastikannya karena kamu sering sendirian di sini," ucap Kaizar, suaranya sedikit bergetar menahan perpaduan rasa sakit di tubuh dan jiwanya.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Kak. Aku bukan gadis lemah," balas Zivara cepat, memotong kalimat Kaizar dengan kemandirian yang mutlak.
Kaizar menatap Zivara dengan keputusasaan yang mendalam. Ia egois di masa lalu, dan kini ia harus menelan pil pahit melihat perubahan radikal gadis itu.
"Kamu tidak mengerti, Vara. Ini tentang perlindunganku... aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu... seperti dulu."
Kata 'seperti dulu' meluncur begitu saja dari mulut Kaizar.
Seketika itu juga, atmosfer di antara mereka membeku. Zivara terdiam, seluruh otot tubuhnya menegang. Sepasang matanya menyipit, menatap wajah Kaizar dengan kilat kecurigaan yang teramat kuat. Jantungnya berdegup kencang secara taktis.
Seperti dulu? Apa maksudnya? Apakah Kaizar juga mengingat peristiwa tragis di atas gedung itu? Apakah dia juga membawa ingatan dari lini masa depan yang hancur?
Rasa trauma dan naluri defensif Zivara langsung mendominasi. Meskipun ada bagian kecil dari dirinya yang tersentak melihat kerapuhan Kaizar, ingatan akan dinginnya penolakan pria itu di kehidupan pertama membuat Zivara menolak untuk luluh. Kepercayaan yang hancur lebur butuh waktu yang sangat lama untuk pulih, dan Zivara tidak akan membiarkan dirinya jatuh ke lubang yang sama hanya karena melihat Kaizar terluka atau cemburu.
Zivara mundur selangkah, memperlebar jarak di antara mereka. "Apa maksud Kakak dengan kata 'seperti dulu'? Apa yang sebenarnya Kakak ketahui?" tanya Zivara dengan nada suara yang berangsur sedingin es, menuntut jawaban di tengah ketegangan yang menyiksa batin mereka berdua.
***
,udh ke luar negri dlu vara
🤣🤣🤣