Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Danau Darah dan Peti Mati Raja
Kieran melangkah lebih dulu, tubuhnya yang tinggi sedikit membungkuk saat melewati ambang batu besar. Langkahnya yang mantap tiba-tiba melambat, matanya menyapu sekeliling ruangan makam yang terhampar di depannya. Seketika, ia merasa seolah bukan berada di bawah tanah, melainkan di kedalaman alam yang tersembunyi.
Ruangan itu jauh berbeda dari koridor batu keras dan lembap yang mereka lalui sebelumnya. Cahaya redup namun merata, entah dari mana sumbernya, menyinari dinding-dinding yang ditumbuhi lumut tebal dan tanaman merambat hijau subur. Anggrek-anggrek hutan Jawa dengan kelopak ungu gelap dan kuning gading bermekaran di sela-sela bebatuan. Aroma tanah basah dan wangi bunga-bunga eksotis memenuhi udara, menciptakan suasana sakral yang nyaris menyesakkan.
Aura, yang melangkah masuk tepat di belakang Kieran, sontak terhenti. Matanya yang tajam melebar, memproses pemandangan yang tak terduga ini. Rasa lelah dan ketegangan yang menumpuk di punggungnya seolah menguap sesaat, digantikan oleh decak kagum.
“Ya Tuhan…” bisiknya, suaranya tercekat. Ia menoleh ke arah Falix dan Jack yang baru saja masuk. “Kalian lihat ini? Makam macam apa ini? Ini… ini seperti alam yang dipindahkan.”
Falix, seorang ahli sejarah yang biasanya dingin dan analitis, mengangguk perlahan, ekspresi takjub kentara di wajahnya. “Desainnya luar biasa. Mereka tidak hanya mengubur, tapi menciptakan kembali taman surga bagi sang raja. Sebuah interpretasi unik dari konsep ‘kembali ke alam’ yang kental dalam filosofi Jawa kuno.”
Jack dan beberapa rekan tentara lain ikut masuk, langkah mereka berhati-hati. Semuanya terdiam, terpesona oleh kontras antara keangkeran bawah tanah dan kehidupan hijau yang mekar di dalamnya.
Namun, di tengah keindahan yang menghipnotis itu, mata Aura menangkap sebuah anomali yang menusuk. Di sudut terjauh ruangan, di mana bebatuan bertemu dengan akar-akar pohon besar yang menembus langit-langit, terdapat sebuah genangan air. Namun, genangan itu bukan air jernih. Itu adalah kolam yang memancarkan kilau merah pekat.
Merah.
Aura melangkah mendekat, mengabaikan peti mati mencolok yang mulai menjadi pusat perhatian Kieran dan Falix. Genangan itu berbentuk tidak beraturan, diam dan sunyi.
“Darah?” gumam Aura dalam hati, kerongkongannya tercekat. Ia berjongkok, merasakan hawa dingin yang menusuk dari permukaan cairan. Matanya menyipit, meneliti lebih jauh. “Kenapa ada kolam darah di makam ini? Sangat aneh… Apakah ini bagian dari ritual, atau…”
Sebuah firasat buruk menjalari tulang punggungnya. Tempat seindah ini, dengan semua tanaman dan bunga, terasa seperti jebakan yang dirancang dengan indah.
Sementara Aura disibukkan oleh genangan merah misterius itu, Falix dan Jack telah bergerak menuju pusat ruangan. Di sana, di atas sebuah panggung batu persegi, terletak peti mati Raja Asaarmata. Peti itu terbuat dari kayu jati berukir yang menghitam, dikelilingi oleh taburan bunga-bunga sedap malam yang sudah layu dan karangan bunga kamboja yang mengering. Peti mati itu sendiri tampak mencolok, memancarkan aura kuno yang mendalam.
Kieran berdiri di samping peti mati, tangannya diletakkan di gagang pistolnya, matanya waspada mencari celah atau mekanisme tersembunyi.
“Kita harus segera membukanya,” kata Jack, suaranya rendah dan penuh urgensi. “Ambil bukti yang kita perlukan mahkota atau tanda pengenal lain. Lalu kita segera keluar.”
Aura, yang masih berdiri di tepi ‘danau darah’ itu, merasakan adrenalin memompa di nadinya. Ia mengambil sepotong kecil batu dari sakunya yang tidak terpakai dan menjatuhkannya ke permukaan merah itu.
Plop.
Cairan merah itu beriak. Dan kemudian, kengerian itu muncul.
Dari kedalaman kolam, cairan merah itu seolah hidup. Puluhan, bahkan ratusan cacing hisap, gemuk dan berwarna abu-abu pucat, menyembul ke permukaan, menggeliat dan bergerak cepat ke arah tempat batu itu jatuh. Mereka tampak lapar, haus. Mereka menutupi riak merah itu dengan gerakan menjijikkan yang cepat.
Aura sontak berdiri, melangkah mundur tiga langkah cepat. Ia menarik napas dalam, berusaha mengendalikan mual yang tiba-tiba melanda.
Jebakan.
Ia menoleh ke belakang. Semua rekannya, termasuk Kieran, Falix, dan Jack, telah berkumpul dekat peti mati, siap untuk memulai proses pembukaan. Mereka tidak menyadari bahaya yang mengintai di sudut ruangan.
Aura meraih kamera kecilnya, mengarahkannya ke arah peti mati untuk mengambil beberapa gambar dokumentasi cepat. Ia berjalan perlahan, mencoba terdengar santai meskipun jantungnya berdegup kencang.
“Kalian yakin ingin membukanya sekarang?” tanya Aura, suaranya sedikit tegang.
Jack menoleh, sedikit terganggu. “Tentu saja. Kita harus memeriksa dan mengambil yang diperlukan saja untuk bukti kalau di sini ada makam raja, bukan? Bukti yang akan menguatkan misi kita.”
“Itu memang bagus,” potong Aura, langkahnya kini makin mendekat. Ia menunjuk sekilas ke arah danau darah di belakangnya dengan dagunya. “Tapi kalian tidak sadar kalau makam ini penuh sekali bahaya tersembunyi. Jika kita berlama-lama di sini, bisa jadi ada bahaya yang lebih besar lagi datang, bukan?”
Ia menatap Falix, matanya memancarkan ketidakpuasan yang mendalam. Aura merasa tanggung jawabnya sebagai fotografer dan penjaga waktu kian berat. Setiap detik di ruangan ini terasa seperti memancing kematian.
Falix menanggapi dengan senyum sinis yang biasa ia tunjukkan, sebuah ekspresi santai yang selalu berhasil memicu emosi Aura.
“Kamu takut, Aura?” jawab Falix, nadanya mengejek. Ia melipat tangan di dada, wajahnya menunjukkan tantangan. “Ketakutan tidak akan membantu kita menemukan kebenaran.”
Aura menghela napas, kelelahan mentalnya memuncak. Ia tidak ingin terlibat dalam pertengkaran ego yang konyol di tengah bahaya nyata.
“Takut sih ada,” kata Aura, memilih untuk jujur dengan sedikit intonasi bercanda yang dipaksakan. Ia menyentuh lengan Falix untuk menarik perhatiannya, lalu membisikkan. “Terutama setelah melihat kolam ah, maksudku danau darah di sana penuh dengan cacing hisap.”
Seketika, tawa ringan Falix terhenti. Ekspresi santainya langsung mengeras menjadi ketegangan. Kieran dan Jack, yang mendengarnya, serempak menoleh ke arah yang ditunjuk Aura. Wajah mereka pucat, memahami implikasi dari genangan merah yang mereka abaikan.
Semua suasana menjadi tegang kembali, bukan lagi karena keindahan atau kesakralan, melainkan karena ancaman biologis yang nyata. Mereka menyadari betapa cerobohnya mereka terpesona oleh kemegahan hingga melupakan kewaspadaan.
“Jebakan biologis,” gumam Kieran, matanya menyapu sisa ruangan dengan intensitas baru, mencari bahaya tersembunyi lainnya.
Meskipun ketakutan dan ketegangan melingkupi mereka, mata tim itu kembali fokus ke arah peti mati di depan mereka. Tekanan waktu dan kebutuhan untuk mengumpulkan bukti tetap menjadi prioritas utama.
“Cepat, Falix,” desak Jack, suaranya memerintah. “Aura benar. Kita tidak punya banyak waktu. Jangan sentuh apapun selain yang diperlukan.”
Falix mengangguk. Ia maju selangkah, menanggalkan tas kecilnya yang berisi peralatan khusus. Sebagai ahli arkeologi dan konservasi, membuka artefak kuno adalah keahliannya. Ia berlutut di samping peti mati, mengabaikan ketegangan di punggungnya.
Falix mulai dengan hati-hati memeriksa setiap garis ukiran, setiap sambungan, dan bentuk kunci peti mati. Tangannya bergerak lambat, seolah berkomunikasi dengan kayu tua itu. Ia memeriksa dengan seksama, mencari benang pemicu, mekanisme pegas, atau perangkap tekanan. Konsentrasinya total, seolah ruangan itu hanyalah dia dan peti mati.
Aura melihat dari jarak yang aman, ditemani oleh dua tentara yang berdiri menjaganya. Ia merasa seluruh energinya terkuras, bukan karena fisik, tetapi karena emosi yang naik turun. Antara kagum, terkejut, jijik, dan kini, sangat tegang.
Ia merasakan kelelahannya yang mendalam. Dengan gerakan yang lambat, Aura segera duduk di lantai batu yang relatif bersih, bersandar di dinding. Ia mengeluarkan botol air, meneguknya perlahan. Matanya tidak lepas dari Falix, yang kini telah menemukan titik kuncian peti.
Buka saja, cepatlah, batin Aura, matanya setengah terpejam, kelelahan mendera.
Di tengah keindahan yang mematikan, dihiasi oleh bunga-bunga surga dan kolam darah neraka, operasi paling penting mereka sedang berlangsung. Nasib misi dan nyawa mereka kini bergantung pada keahlian tangan Falix yang lembut dan ketenangan yang tersisa di tengah tim yang tegang. Mereka hanya bisa menunggu. Menunggu peti mati Raja Asaarmata terbuka, membuka rahasia yang mungkin akan menyelamatkan, atau menghancurkan mereka.