NovelToon NovelToon
CEO Itu Ayahku

CEO Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: T Moel

Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Zidan akan di lakukan penanaman sun sum tulang belaka hari ini. Leon sudah siap dengan pakaian steril begitu pun dengan Zidan. Rania dan bu Arini menunggu di luar ruangan, sedangkan Naila bersama tuan Aditama dan nyonya Erlina yang baru datang, mereka saat ini berada apartemen. Tadinya tuan Aditama dan nyonya Erlina ingin ikut menunggu di rumah sakit, namun karena tidak boleh ada anak kecil, maka di putuskan kalau mereka tinggal di apartemen.

Selain alasan itu juga, kesehatan nyonya Erlina sedang tidak baik. Setelah mendengar kabar kalau Zidan sakit leukemia, nyonya Erlina drop, sehingga menunda keberangkatan mereka hingga baru hari ini mereka tiba.

Sudah hampir dua jam, namun belum juga terlihat ada tanda tanda kalau operasi akan cepat selesai. bu Arini dan Rania hanya bisa berdoa agar Leon dan Zidan di berikan keselamatan.

Sampai akhirnya ruang operasi di buka. Rania dan bu Arini segera bangkit dari duduknya kemudian menghampiri dokter yang masih menggunakan pakaian operasi.

"Bagaimana operasinya lancar dokter, dan bagaimana dengan keduanya? " tanya Rania (Cerita nya dalam bahasa Inggris ya)

"Operasi nya berjalan lancar, dan keduanya stabil, sekarang masih dalam pasca pemulihan, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat inap." Ujar dokter Steve.

"Anda berdua bisa menunggu mereka di ruang rawat karena tuan LEON akan di tempatkan bersama putra nya, itu permintaan tuan Leon sendiri. " Lanjut dokter Steve.

"Baiklah dokter, kami akan menunggu mereka di sana. " Ucao Rania.

Bu Arini dan Rania berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai lima tempat ruang rawat inap berada.

Sampai di ruangan, Rania melihat sudah ada tambahan bed khusus pasien, mungkin untuk Leon dalam hati Rania.

Keduanya duduk di sofa yang ada di sana. suara dering telpon mengalihkan perhatian Rania, nama nyonya Erlina terlihat.

"Halo mah. "

"Halo Ran, bagaimana operasi nya, berjalan lancar? "

"Iya mah, bari saja selesai. Tadinya Ran mau telpon papah dan mamah tapi sudah keduluan mamah telpon Ran. "

"Syukurlah Ran, kalau operasi nya lancar. Apa mereka sudah masuk kamar? "

"Belum mah, masih pemulihan pasca operasi di ruang anestesi. "

"Nanti kalau sudah sampai kamar, kamu telpon mamah ya. "

"Baiklah mah, nanti Ran telpon mamah. "

"Iya Ran mamah tunggu. "

"Mamah sudah sehat? "

"Sudah, mamah dari tadi hanya baringan saja, jadi mamah lebih sehat, di tambah lagi ada perawat dadakan yang bawel jadi mamah lebih sehat lagi Ran. " nyonya Erlina memperlihatkan Naila yang sedang menjadi dokter lengkap dengan pakaian dokter dan peralatan nya yang sengaja di pesan karena permintaan Naila.

"Waduh, anak mamah lagi apa, sibuk sekali bu dokter? " tanya Rania dengan tergelak.

"Iya mamah, ila lagi jadi dokter, nenek masih sakit jadi harus perlu perawatan intensif. " ujar Naila dengan serius.

"Lihat Ran, Naila sangat menjiwai menjadi dokter. " nyonya Erlina tertawa

"Iya mah, Naila lucu banget sih kamu nak. " Rania greget ingin mencium Naila.

"Ran mamah tutup dulu ya, nanti mamah tunggu telpon nya. "

"Baik mah, mamah istirahat saja dulu sampai mamah sehat, biar Ran sama ibu yang jaga mas Leon dan Zidan di sini. " Rania malu malu menyebutkan Leon dengan panggilan mas Leon.

Sedangkan nyonya Erlina senyum senyum saja mendengar Rania menyebut anaknya dengan panggilan Ma Leon. Pertanda kalau Rania sudah mulai membuka hatinya untuk Leon, nyonya Erlina berharap keduanya bisa berjodoh.

Telpon pun di matikan oleh nyonya Erlina, kemudian menyimpan ponselnya di atas meja.

"Telpon siapa mah? " tanya ruan Aditama.

"Mamah telpon Rania pah, nanyain tentang operasi nya? "

" Bagaimana sudah selesai? "

"Sudah, sekarang masih ada di ruang pasca operasi dan sebentar lagi akan di pindah ke ruang rawat inap" jawab nyonya Erlina.

"Syukur lah kalau operasinya berjalan lancar. " ucap tuan Aditama.

Naila yang masih menjadi dokter menjadi perhatian tuan Aditama. "Wah wah ternyata mamah sudah sembuh karena di rawat dokter Naila. " ujar tuan Aditama.

"Iya kakek, kasihan nenek masih sakit, tidak ada yang merawat, jadi ila yang rawat nenek. " jawab Naila yang serius menjiwai sebagai dokter.

"Nanti kalau sudah merawat nenek, bu dokter Naila bisa dong merawat kakek. " ujar tuan Aditama terkekeh melihat cucu perempuan nya yang sangat cocok menjadi seorang dokter.

"Boleh, nanti ila rawat kakek setelah ila selesai merawat nenek, ok kakek. " ucao Naila dengan centilnya.

"Ok bu dokter sayang. " tuan Aditama mengusap puncak kepala Naila dengan penuh kasih sayang.

Tuan Aditama sangat bahagia karena akhirnya Rania mempertemukan Leon dan anak anaknya, walau harus dengan jalan Zidan yang sakit.

"Mah, papah merasa bersyukur akhirnya Leon bisa bertemu dengan anak anaknya walaupun harus dengan pengorbanan. " ucap tuan Aditama tulus.

"Iya pah, mamah juga merasa bersyukur, semoga mereka bisa berkumpul sebagian keluarga yang utuh tanpa ada pertikaian lagi. "

"Papah juga berharap semoga Rania bisa menerima Leon sebagian suaminya, bukan hanya sebagai ayah dari Naila dan juga Zidan."

"Kita do'akan saja semio setelah badai ini, ada pelangi. "

"Ya semoga mah. "

Suara ponsel nyonya Erlina berdering, Rania memanggil nya dengan video call. mungkin akan memberitahukan kalau Leon sudah ada di ruang rawat.

'"Halo Ran. "

"Halo mah. "

"Gimana apa Leon sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.? "

"Sudah mah, lihat Leon masih belum bangun, Zidan juga. Tapi alhamdulillah dokter bilang keduanya sudah melewati masa kritisnya. "

"Alhamdulillah, semoga tidak lama lagi mereka bangun ya,. "

"Iya mah, semoga, mamah sama papah mau ke rumah sakit, kalau mau nanti bisa gantian. Ibu bisa pulang dulu jagain Naila. "

"Boleh, nanti mamah dan papah ke rumah sakit setelah bu Arini toba di apartemen."

"Mamah sudah sehat kan? "

"Mamah sudah sehat kok, ya di sudah fi periksa dokter Naila. Tuh dokter nya lagi periksa papah. " nyonya Erlina mengarahkan kamera ponsel nya ke arah tuan Aditama uang sedang di periksa Naila.

"Ada ada saja itu anak. Naila nangis ga mah?"

"" Nggak, Naila nggak nangis, dia anak ya v pintar, tahu situasi dan kondisi nya seperti apa, kamu tidak usah khawatir. Mamah harap semoga saja Zidan cepat sembuh dan berkumpul lagi dengan kita semua. "

"Aamiin mah. Semoga do'a mamah di kabulkan. "

"Di kabulkan yang mana nya? " nyonya Erlina tertawa terkekeh melihat wajah Rania yang merah seperti kepiting rebus.

"Zidan mah, Zidan yang cepat sembuh. "

"Oh kirain papah nya Zidan. " nyonya Erlina tertawa lagi.

"Udah dulu ya mah, nanti kalau mau ke sini kasih kabar aja, biar ibu pulang ke apartemen ganti mamah dan papah yang ke rumah sakit. " ucao Rania

"Iya sayang, nanti mamah kabari lagi,"

Telpon di tutup, nyonya Erlina bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke dapur karena sudah waktunya makan siang, sebelum Naila dan suaminya mengeluhkan lapar lebih baik masak dahulu jadi tidak akan ada drama lagi antara cucu dan kakeknya.

...****************...

1
tia
lanjut thor
tia
dobel up thor
tia
dobel update thor
Nadia salma: Besok othor usahakan double up
total 1 replies
tia
lanjut thor
tia
cepat satukan thor kembar sama papa nya
Nadia salma: ada lika liku dulu kak, biar ada gregetnya
total 1 replies
tia
tambah lagi Thor 🫢,,suka cerita ny
Nadia salma: siap kak...
total 1 replies
tia
update yg banyak lah thor
Nadia salma: akan saya usahakan kak, karena saya sambil kerja membagi waktu. Terima kasih sudah menyukai karya saya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!