Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 [Yang di Titipkan]
Hutan di antara Kurohana dan Hinomura terasa… berbeda.
Tidak ada suara binatang.
Tidak ada angin yang membawa aroma segar.
Yang ada hanya langkah kaki.
Pelan.
Teratur.
Dan kewaspadaan yang tidak pernah turun.
Shiranui Akihara berjalan di depan.
Tatapannya lurus ke depan, namun matanya tidak pernah benar-benar tenang.
Setiap bayangan…
Setiap ranting yang bergerak…
Semua ia perhatikan.
Di belakangnya
Liora Raizen menggendong
Noa dengan hati-hati.
Tangannya stabil.
Namun matanya… sesekali melirik ke belakang.
“…masih terasa.”
Liora bergumam pelan.
Akihara tidak menoleh.
“Iya.”
Satu kata.
Namun cukup.
Perasaan itu
Seperti ada sesuatu yang terus mengikuti.
Tidak mendekat.
Namun juga tidak menjauh.
Mengawasi.
Menunggu.
Hening kembali menyelimuti mereka.
Beberapa saat kemudian…
Liora menunduk sedikit, melihat Noa yang tertidur di pelukannya.
Wajahnya damai.
Seperti tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa menyentuhnya.
“…aneh ya.”
Akihara melirik sekilas.
“Anak ini…”
Liora melanjutkan pelan.
“…selalu tenang.”
Akihara tidak langsung menjawab.
“…mungkin dia tidak tahu.”
Atau…
Dia tahu.
Namun ia tidak mengatakan itu.
Langkah mereka terus berlanjut.
Dan akhirnya
Cahaya.
Pepohonan mulai menipis.
Suara angin berubah.
Dan di depan mereka
Desa Hinomura.
Tenang.
Hangat.
Seolah dunia di luar tidak pernah menyentuhnya.
Liora menghela napas kecil.
“…kita sampai.”
Akihara mengangguk pelan.
Namun langkahnya tidak melambat.
Karena ia tahu
Apa yang akan ia lakukan di sini…
Tidak akan mudah.
Warga mulai memperhatikan saat mereka masuk.
Beberapa mengenali Akihara sebagai “Akira”.
Namun
Tatapan mereka tidak sepenuhnya ramah.
Ada rasa ragu.
Ada rasa takut.
Terutama…
Saat mereka melihat bayi di pelukan Liora.
Bisikan kecil mulai terdengar.
“Itu… anak siapa?”
“Kenapa mereka kembali…?”
“Bukannya kejadian waktu itu…”
Akihara berhenti.
Di tengah desa.
Menatap mereka.
Hening perlahan menyebar.
Semua mata tertuju padanya.
Akihara menarik napas.
“…aku minta bantuan kalian.”
Suara itu tidak keras.
Namun cukup untuk didengar semua orang.
Ia melangkah satu langkah ke depan.
“Anak ini…”
Ia menatap Noa.
“…tolong jaga dia.”
Sunyi.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Warga saling melihat.
Ragu.
Takut.
Seorang pria tua melangkah maju.
“…Akira.”
Nada suaranya hati-hati.
“Kami tahu kau orang baik…”
Ia menatap Noa.
“…tapi sejak kau datang… hal aneh terus terjadi.”
Beberapa warga mengangguk.
“Kami tidak bisa mengambil risiko…”
“Kalau sesuatu terjadi lagi…”
Suara-suara itu mulai muncul.
Tidak keras.
Namun cukup.
Cukup untuk membuat suasana menjadi… berat.
Liora menggenggam Noa sedikit lebih erat.
Wajahnya menegang.
Namun ia tidak bicara.
Akihara berdiri diam.
Ia tidak marah.
Tidak tersinggung.
Karena ia tahu…
Mereka benar.
“…aku mengerti.”
Kalimat itu keluar pelan.
Ia menunduk sedikit.
“Karena itu… aku tidak akan tinggal lama.”
Hening.
Namun tetap
Tidak ada yang maju.
Tidak ada yang berani.
Dan saat itulah
Langkah kecil terdengar.
Pelan.
Dari belakang kerumunan.
Seorang gadis kecil keluar.
Rambutnya sederhana.
Matanya jernih.
Ia menatap Noa.
Lalu menatap Akihara.
“…aku bisa.”
Semua orang menoleh.
“Ha-Hana?!”
Seorang nenek di belakangnya terkejut.
Gadis itu Hana melangkah lebih dekat.
“…aku bisa jaga dia.”
Suasana langsung berubah.
“Jangan sembarangan bicara!”
“Kamu masih kecil!”
Namun Hana tidak mundur.
Ia tetap berdiri.
Menatap lurus ke depan.
“…dia tidak kelihatan berbahaya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun jujur.
Liora menatapnya.
Akihara juga.
Untuk beberapa detik…
Tidak ada yang bicara.
Hana mendekat sedikit lagi.
Dan tanpa ragu
Ia tersenyum kecil ke arah Noa.
Noa bergerak pelan.
Matanya terbuka sedikit.
Menatap Hana.
Dan untuk pertama kalinya
Ia tersenyum kecil.
“…lihat?”
Hana berkata pelan.
“Dia baik.”
Hening.
Sesuatu dalam udara itu berubah.
Akihara menghela napas pelan.
“…kamu yakin?”
Hana mengangguk.
“Iya.”
Neneknya menatapnya dengan khawatir.
Namun tidak menghentikannya.
Beberapa detik berlalu.
Liora menatap Akihara.
Akihara menatap Noa.
Lalu
Ia mengangguk.
“…kami titip.”
Liora perlahan menyerahkan Noa.
Tangannya sedikit ragu.
Namun ia tidak menariknya kembali.
Hana menerima dengan hati-hati.
Seperti memegang sesuatu yang sangat berharga.
Noa diam.
Tenang.
Seolah menerima.
Liora menatapnya lama.
“…jaga dia.”
Suaranya pelan.
Namun serius.
Hana mengangguk kuat.
“Iya.”
Akihara tidak banyak bicara.
Ia hanya melihat sejenak.
Lalu berbalik.
Mereka berjalan keluar desa.
Tanpa melihat ke belakang.
Namun langkah mereka…
Terasa lebih berat.
Di luar desa
Liora akhirnya bicara.
“…kamu yakin?”
Akihara tetap berjalan.
“…kalau dia ikut… dia jadi target.”
Satu kalimat.
Namun jelas.
Liora menunduk sedikit.
“…iya.”
Angin berhembus pelan.
Langkah mereka mengarah ke selatan.
Ke arah yang lebih gelap.
Ke arah
Kerajaan Mushaf.
Di belakang mereka
Desa Hinomura kembali tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Hana berjalan masuk ke rumah kecilnya.
Neneknya menatap Noa dengan ragu.
“…anak ini…”
Hana tersenyum kecil.
“Dia baik kok.”
Ia duduk.
Menaruh Noa dengan hati-hati.
Noa membuka mata.
Menatap langit-langit.
Untuk sesaat
Matanya berubah.
Merah gelap.
Dalam.
Sunyi.
Dan di luar
Angin berhenti.
Di kejauhan…
Di antara pepohonan
Sepasang mata kuning kembali muncul.
Lebih jauh.
Namun…
Masih mengawasi.
Dan kali ini
Arah pandangnya…
Bukan ke Desa Hinomura.
Namun
Ke Akihara dan Liora.