bukan novel terjemahan!!!
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memungut lagi?
Pukul 04.30 pagi. Langit masih gelap, bintang-bintang belum mau pergi. Di dalam kastil megah kaki Gunung Qingcheng, suasana hening. Hanya suara jangkrik dari taman dan dengungan lembut AC.
Lin Yan tidur nyenyak di ranjangnya. Mimpi indah tentang bioskop pribadi sedang berlangsung sebuah layar raksasa menayangkan film horor favoritnya, popcorn di tangan, soda di samping. Hantu pertama baru saja muncul di layar, menjerit dengan suara melengking.
Tiba-tiba, suara sirene keras memecah keheningan.
"BEEEP! BEEEP! BEEEP!"
Lin Yan terpental dari ranjang, rambutnya berdiri tegak, jantung berdebar kencang. Ia menatap sekeliling dengan mata masih setengah tertutup, bingung, kesal, dan siap membunuh siapa pun yang mengganggu mimpinya.
"APA LAGI?!" teriaknya ke arah langit-langit.
Layar hologram Sistem Xiyue muncul dengan warna merah berkedip-kedip. Ikon si gadis kecil tampak panik.
【Peringatan! Peringatan! Ada yang mendekati wilayah! Bukan zombie, manusia! Empat orang! Mereka berlari ke arah gerbang!】
Lin Yan mengerutkan kening. "Manusia? Jam segini?" Ia melihat jam di meja samping. "Jam setengah 5 pagi. Manusia normal masih tidur. Apa mereka gila?"
【Mereka dikejar zombie! Sekitar 15-20 ekor, level 2 dan 3! Lihat sendiri!】
Layar berubah menjadi tampilan CCTV dari kamera di gerbang utama. Di layar, terlihat empat sosok berlari tergesa-gesa di jalan setapak menuju kastil. Kabut pagi masih tipis, membuat pemandangan sedikit buram.
Lin Yan mengamati dengan mata menyipit.
Seorang pria tua dengan rambut putih dan jenggot panjang, postur masih tegap, lari di depan memimpin rombongan. Meski usianya sudah lanjut, gerakannya terlihat terlatih seperti mantan militer. Di belakangnya, seorang wanita muda dengan rambut sebahu, lari cepat meskipun napasnya tersengal. Ia sesekali menoleh ke belakang, tangannya mengepal, seperti siap bertarung kapan saja. Dua pria di belakangnya dengan satu menggendong yang lain di punggung. Yang digendong tampak pucat, lengan bajunya basah darah. Yang menggendong juga kelelahan, langkahnya mulai sempoyongan.
【Deteksi: Pria tua—Li Weiguo, 75 tahun, mantan kolonel militer. Wanita—Li Mei, 24 tahun, atlet, kekuatan fisik super level 2 (belum stabil). Pria yang menggendong—Xiao Qiang, 26 tahun, dokter. Yang terluka—Xiao Ming, 25 tahun, insinyur teknik sipil. Luka di lengan, kemungkinan terkena cakaran zombie.】
Lin Yan mengangkat alis. "Komposisi lengkap. Mantan militer, atlet super, dokter, insinyur. Kayak lagi rekrut tim untuk misi rahasia."
【Ini bukan saatnya bercanda! Lihat di belakang mereka!】
Di layar, belasan zombie mulai muncul dari balik kabut. Mata merah menyala, gerakan cepat dan terkoordinasi. Mereka mengejar dengan kecepatan mengerikan, jarak semakin dekat.
Li Mei, si wanita dengan kekuatan fisik, berbalik dan menghantam zombie terdepan dengan tinju. Zombi itu terpental beberapa meter, tapi segera berdiri lagi. Ia menggeram kesakitan, tapi tidak mati. Kekuatan fisik level 2 belum cukup untuk membunuh zombie level 3 dengan satu pukulan.
"Cepat! Masuk!" teriak Li Weiguo, suaranya dalam dan berwibawa meski napasnya memburu. "Gerbangnya di depan!"
Tapi gerbang besi tinggi dengan logo mawar hitam-merah masih tertutup rapat. Di atas gerbang, deretan senapan sniper otomatis mulai berputar, mengarahkan moncongnya ke arah zombie.
Tembakan pertama.
BRAAK!
Zombi paling depan roboh, kepala hancur. Tembakan kedua, ketiga, keempat lalu satu per satu zombie tumbang dalam hitungan detik. Dalam waktu kurang dari 15 detik, semua zombie di belakang mereka mati. Mayat-mayat bergelimpangan di jalan setapak, darah hitam menggenang.
Keempat orang itu berhenti, membeku. Mereka menatap ke belakang, lalu ke depan, lalu ke atas gerbang. Mulut mereka terbuka, mata mereka terbelalak.
"A-apa itu..." bisik Li Mei.
Li Weiguo menelan ludah. Matanya yang tajam mengamati senapan-senapan itu. "Sistem pertahanan otomatis. Ini bukan tempat biasa."
Mereka mendekati gerbang, berharap bisa masuk. Xiao Qiang, sang dokter, masih menggendong Xiao Ming yang mulai tidak sadarkan diri. Luka di lengannya sudah membusuk, warna kulit di sekitar luka mulai keabu-abuan.
"TOLONG! BUKA PINTU! TEMAN KAMI TERLUKA!" teriak Xiao Qiang, suaranya parau.
Tapi gerbang tetap tertutup. Sebaliknya, suara alarm terdengar dari pengeras suara di atas gerbang.
"Peringatan! Area terlarang! Tidak ada akses tanpa izin! Segera tinggalkan area!"
Suara itu berulang tiga kali, dingin dan tanpa emosi.
Li Mei mencoba memanjat pagar, tapi sensor gerak langsung mendeteksinya. Lampu sorot menyala terang ke arahnya, membuatnya terpaksa turun. Senapan-senapan di atas gerbang berputar, mengarah ke mereka bukan menembak, tapi ancaman.
"KAMI TIDAK AKAN MERUGIKAN SIAPA PUN!" teriak Li Weiguo, tangannya terangkat menunjukkan tidak ada senjata. "TEMAN KAMI TERLUKA PARAH! DIA BISA BERUBAH JADI ZOMBIE! TOLONG! KAMI CUMA MAU SELAMAT!"
Di ruang komando lantai tiga kastil, Lin Yan duduk di kursi empuk, masih pakai baju tidur yaitu kaos longgar abu-abu dan celana pendek. Rambutnya berantakan seperti sarang burung. Ia menatap layar dengan ekspresi datar, tangan memegang permen lolipop rasa apel.
"Usir saja," katanya malas sambil memasukkan permen ke mulut. "Bukan urusan kita."
【JANGAN!】 Sistem Xiyue berteriak, layar berkedip merah. 【MEREKA BISA BERGUNA! LIHAT—MANTAN KOLONEL MILITER, BISA BANTU SISTEM PERTAHANAN. DOKTER, KITA BUTUH TENAGA MEDIS. INSIYUR TEKNIK SIPIL, BISA BANTU BANGUN INFRASTRUKTUR. WANITA DENGAN KEKUATAN FISIK, BISA JADI TENAGA KEAMANAN! INI ASET!】
"Tapi repot ngurus mereka."
【KALAU KAU TIDAK BANTU, MEREKA BISA MATI! DAN KALAU MATI, KAU SIAPA YANG NANAM SAYURAN? SIAPA YANG BANGUN JEMBATAN? SIAPA YANG JAGA KALAU ADA SERANGAN?】
Lin Yan menghela napas panjang. Ia mengisap permennya, berpikir.
【LAGIPULA, YANG TERLUKA BISA BERUBAH JADI ZOMBIE. KALAU DIA BERUBAH DI DALAM WILAYAH, REPOT. LEBIH BAIK SELAMATKAN SEKARANG.】
"...Baiklah." Lin Yan mengeluarkan ponsel, menekan nomor adiknya.
Tut... tut... tut...
"Jie? Jam segini? Ada apa?" suara Lin Feng masih ngantuk.
"Pungut orang-orang itu. Suruh masuk. Kasih pertolongan pertama. Yang terluka, cegah jadi zombie."
"Hah? Orang-orang? Maksud Jie—"
Tut.
Lin Feng mendengar nada sambung putus. Ia menatap ponselnya, lalu ke luar jendela yang masih gelap. Dengan helaan napas panjang, ia bangkit, menarik piyama birunya, dan keluar kamar.
Di gerbang, Lin Feng muncul dengan piyama biru, rambut acak-acakan, mata masih setengah pejam. Ia membuka pintu samping gerbang, berdiri di ambang.
"Masuk," katanya singkat.
Keempat orang itu terkejut, tapi segera masuk sambil menggendong Xiao Ming. Begitu melewati gerbang, mereka disambut pemandangan yang membuat langkah mereka terhenti.
Jalan raya aspal hitam mulus membentang lurus, lampu-lampu taman bergaya antik menyala teratur di kiri kanan. Semak-semak mawar merah dan hitam bermekaran indah, aroma wangi semerbak di udara pagi. Di ujung jalan, sebuah kastil megah berdiri gagah dengan dinding hitam-merah, jendela-jendela besar berbingkai emas, dan menara dengan ukiran panah.
"Ini... ini..." Li Mei terbata-bata.
"Jangan banyak tanya. Ikut." Lin Feng sudah berjalan mendahului.
Mereka mengikuti, masih terpukau. Di dalam kastil, ruang tamu megah dengan lampu gantung kristal, sofa mewah, dan perapian marmer membuat mereka semakin tidak percaya. Dunia luar penuh zombie dan kehancuran, tapi di sini... seperti istana dongeng.
Lin Feng membawa mereka ke ruang tamu. "Duduk. Siapa yang terluka?"
Xiao Qiang menurunkan Xiao Ming dari punggungnya. Lengan Xiao Ming sudah membiru kehitaman, urat-urat hitam terlihat jelas. "Dia terkena cakaran zombie. Lukanya sudah dua jam. Aku dokter, tapi tidak punya obat antibiotik, antivirus, apapun. Di luar semua habis. Tolong... tolong bantu kami."
Li Weiguo maju, menatap Lin Feng dengan mata tegas. "Kami tidak punya apa-apa untuk dibayar. Tapi kami bisa bekerja. Aku mantan kolonel militer, bisa bantu pertahanan. Li Mei punya kekuatan fisik. Xiao Qiang dokter. Xiao Ming insinyur teknik sipil. Kami berguna."
Lin Feng mengamati mereka, lalu ke lengan Xiao Ming yang mulai membusuk. Ia menghela napas.
"Aku tidak bisa memutuskan. Tunggu kakakku."
"Kakakmu?" tanya Li Mei.
"Pemilik tempat ini."
Mereka terdiam, menunggu. Xiao Ming mulai merintih kesakitan, tubuhnya menggigil. Xiao Qiang memegang tangannya erat, berusaha menenangkan.
Dua puluh menit kemudian, langkah kaki terdengar dari tangga.
Keempat orang itu menegang.
Lin Yan muncul dengan penampilan santai: kaos oblong hitam polos, celana olahraga hitam, rambut pendek berantakan seperti habis bangun tidur memang habis bangun tidur. Tidak ada jaket, tidak ada aksesori, tidak ada senjata. Tapi begitu ia melangkah masuk, ruangan terasa lebih kecil.
Auranya. Ada sesuatu di matanya yang merah delima, tatapan dingin yang tidak perlu bicara untuk membuat orang lain merasa kecil.
Ia berjalan ke sofa utama di ujung ruangan, duduk dengan santai, menyilangkan kaki. Matanya menatap mereka satu per satu, seperti sedang menilai barang di pasar loak.
Li Weiguo, mantan kolonel militer yang sudah melihat banyak medan perang, merasa punggungnya merinding. Pria muda ini atau wanita? ia tidak yakin tapi dia punya aura yang tidak bisa diremehkan.
Lin Feng berdiri di samping kakaknya. "Ini kakakku, Lin Yan. Pemilik seluruh wilayah ini—kastil, tanah, hutan, semuanya."
Li Weiguo membungkuk hormat. "Maaf mengganggu, Tuan Muda. Kami hanya ingin selamat. Teman kami terluka parah. Kami mohon pertolongan."
Lin Yan tidak menjawab. Matanya beralih ke lengan Xiao Ming yang mulai membusuk. "Cakaran zombie?"
"Iya," jawab Xiao Qiang cepat. "Sudah dua jam. Tanpa obat, dia bisa berubah dalam 2-3 jam lagi."
Lin Yan mengangguk kecil. Matanya beralih ke Li Mei. "Kau punya kekuatan fisik?"
Li Mei mengangguk, sedikit gugup. "Iya... level 2. Tapi masih belum stabil. Aku bisa menghancurkan batu, tapi zombie level 3 masih susah."
"Latihan kurang," kata Lin Yan datar.
Li Mei tidak berani membantah.
Lin Yan beralih ke Xiao Qiang. "Dokter?"
"Iya. Lulusan fakultas kedokteran UI. Tapi di sini... aku tidak punya apa-apa. Obat-obatan habis."
Lin Yan beralih ke Li Weiguo. "Mantan kolonel?"
"Iya. 30 tahun di militer, pensiun pangkat kolonel. Saya bisa bantu sistem pertahanan, strategi, pelatihan."
Lin Yan menghela napas. Ia mengisap permen lolipop yang sejak tadi di mulutnya. Ruangan hening, hanya suara Xiao Ming yang merintih pelan.
【SETUJUI! MEREKA BERGUNA! CEPAT! YANG TERLUKA BISA BERUBAH JADI ZOMBIE!】
"Aku tahu, sistem. Tapi jangan kelihatan terlalu mudah."
【KALAU KAU TIDAK SETUJU, AKU BONGKAR BIOSKOP!】
"...Baik, baik."
Lin Yan berdiri. Keempat orang itu menegang.
"Feng."
"Iya, Jie?"
"Beri pertolongan. Obat-obatan di lemari lantai dua. Cegah dia jadi zombie."
Lin Feng mengangguk, buru-buru naik mengambil obat.
Keempat orang itu lega, hampir pingsan. Li Weiguo membungkuk dalam. "Terima kasih, Tuan Muda. Kami tidak akan lupa kebaikan ini."
"Jangan senang dulu." Lin Yan menatap mereka dingin. "Dua aturan: jangan ribut, jangan repot. Kalau melanggar, aku usir. Jelas?"
"Jelas!" jawab mereka serempak.
"Kau—" Lin Yan menunjuk Li Mei. "Kau wanita. Kamar kosong di lantai dua kastil. Jangan masuk lantai tiga. Itu area pribadiku."
Li Mei mengangguk cepat.
"Kalian bertiga—" Lin Yan menunjuk Li Weiguo, Xiao Qiang, dan Xiao Ming yang masih terbaring. "Nanti setelah dirawat, pindah ke apartemen. Ada di belakang, sekitar 20 meter dari sini. Adikku akan antar."
"Baik, Tuan Muda."
Lin Yan sudah berbalik, naik ke lantai atas. Langkah kakinya tenang, tidak tergesa. Sebelum menghilang di balik tangga, ia berkata tanpa menoleh, "Oh iya. Selamat datang di Surga Gila. Jangan buat masalah."
semangat kak