Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
.
Keesokan harinya, suasana di rumah besar itu terasa berbeda. Ada aura bahagia yang menyelimuti hampir seluruh penghuninya. Putri terlihat sangat antusias membantu Amanda mempersiapkan segala hal untuk pernikahan mereka dua minggu lagi. Dia yang biasanya tak pernah absen urusan perusahaan, harini tu memiliki mewakilkan seluruh urusan pada Lusi, asistennya.
Tak hanya itu, Putri juga menghubungi Ega dan mengundang untuk ikut memberikan doa restu saat ijab kabul nanti.
Di perusahaan nya, Ega benar-benar terkejut mendengar berita itu dari Putri. Calon ayah mertuanya akan menikahi ibu gurunya?
“Benarkah?” tanyanya lagi. Sedikit tidak percaya, tapi juga bahagia.
“Iya bener lah, Kak. Aku bahagia banget tahu gak? Setelah bertahun-tahun sendirian, akhirnya Ayah bertemu dengan wanita yang membuatnya kembali merasakan cinta,” ucap Putri. “Dan tahu gak? Kata Bu Rani, Bu Manda itu mirip banget sama almarhum Ibu.”
“Alhamdulilah… selamat ya, aku ikut seneng dengernya,” ucap Ega.
“Itu artinya, setelah ini Putri tidak akan ragu lagi dengan hubungan ini, kan?” gumamnya dengan wajah berbinar.
Kembali ke rumah Dirga…
Pria itu tersenyum melihat interaksi Amanda dengan putrinya. Ia berharap setelah ini Putri akan fokus melanjutkan hubungan dengan Ega. Itulah yang paling ia inginkan, kebahagiaan Putri.
Di Kamar Kartini...
Pelayan paruh baya itu duduk di tepi ranjangnya dengan wajah murka. Tangannya terkepal kuat memegang sebuah ponselnya yang menggunakan foto Dirga sebagai wallpaper. Foto candid yang dia ambil secara sembunyi-sembunyi.
"Kenapa harus dia?!" geramnya pelan. "Aku yang sudah melayani Tuan Dirga bertahun-tahun! Aku yang tahu selera makan dia, aku yang tahu kebiasaan dia! Wanita itu cuma datang numpang hidup, tapi dengan mudahnya dia dapatkan segalanya?!"
Pikirannya terus berputar mencari cara untuk menggagalkan pernikahan itu. Tiba-tiba, sebuah ide jahat terlintas di benaknya. Ia ingat dulu pernah ada satu orang pembantu yang diusir karena mencuri barang berharga, padahal sebenarnya... barang itu disembunyikan oleh Kartini sendiri untuk menjatuhkan orang tersebut. Karena saat itu kartini merasa tersaingi.
"Kalau cara itu berhasil dulu... Sekarang juga pasti berhasil?" batinnya tersenyum miring penuh tipu daya. "Aku akan buktikan kalau Amanda itu pencuri! Begitu dia ditangkap basah, Tuan Dirga pasti akan membencinya dan mengusirnya! Dan posisi itu akan jadi milikku!"
Beberapa hari sebelum hari pernikahan tiba...
Suasana di rumah sangat sibuk. Semua orang sibuk membersihkan dan merapikan bagian ruang tengah yang akan digunakan untuk acara akad nanti. Walaupun hanya ijab kabul, tapi Dirga ingin membuat acara itu terasa istimewa. Setidaknya agar Putri percaya, pernikahan itu bukan sandiwara.
Kartini melihat kesempatan emas itu. Amanda masih berada di sekolah, semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dan kamar Amanda di paviliun sedang kosong. Anak-anak asuh Amanda sedang sekolah, Adinda sedang terapi di Rumah Sakit, dan Pak Hendra sedang ngobrol bersama tukang kebun di halaman depan.
Dengan langkah pelan dan hati-hati, Kartini menyelinap masuk ke dalam kamar Amanda saat tidak ada orang yang melihat. Di sana, Kartini mengeluarkan sebuah kalung berlian milik Nyonya Susi yang tadi dia ambil dari ruang perhiasan lalu membuka lemari pakaian.
"Nah, taruh saja di sini saja," bisiknya sambil menyelipkan kalung mewah itu di balik tumpukan baju. "Nanti kalau digeledah, dia tidak akan bisa mengelak lagi!"
*
Sore harinya, saat semua orang sudah kembali, Kartini memulai drama nya.
"Tuan! Tuan!" teriak Kartini dengan wajah pura-pura panik dan menangis. Ia berlari menghampiri Dirga yang sedang duduk di ruang utama bersama Amanda dan Putri.
"Ada apa ini? Kenapa berteriak-teriak?" tanya Dirga dengan wajah datar.
"Saya baru saja membersihkan ruang perhiasan. Dan kalung berlian yang ada di kotak kaca tidak ada, Tuan!" seru Kartini seolah-olah sedang panik.
"Apa kau yakin dengan laporanmu?" tanya Dirga masih dengan wajah datar nya. “Kalung itu tidak ada di sana?”
"Benar, Tuan! Kalung itu benar-benar tidak ada di kotaknya.” Kartini melirik sinis ke arah Amanda, lalu dengan sengaja berkata, "Sudah bertahun-tahun saya kerja di rumah Anda dan tidak pernah ada barang hilang. Kenapa sekarang tiba-tiba bisa kecurian? Sebaiknya Tuan geledah semua kamar, pasti ada satu dari semua penghuni rumah ini yang mengambil kalung Nyonya! Apalagi ada banyak penghuni baru. Tuan harus waspada!”
“Kamu menuduh aku?” tanya Amanda yang tetap tenang meskipun tahu ucapan Kartini menjurus padanya.
Kartini menoleh dengan wajah sengit. “Aku kan tidak menyebut namamu? Kenapa tersinggung? Kamu merasa?”
“Tidak mungkin Bu Manda yang mencuri, Bibi jangan asal tuduh!” bantah Putri cepat.
“Maaf, Non,” ucap Kartini menunduk. “Saya tidak menuduh. Tapi segala kemungkinan bisa saja terjadi. Jadi menurut saya, lebih baik Non Putri menggeledah semua kamar.”
Dirga menatap Amanda sekilas, namun Amanda hanya menatap balik dengan tenang. Lalu tatapan Dirga beralih kembali pada Kartini.
"Baiklah," ucap Dirga akhirnya. "Mari kita periksa. Agar tidak ada fitnah."
Kartini berdiri dengan penuh semangat. “Mari, Tuan,” ucapnya hendak memimpin jalan. Namun…
“Mau ke mana kamu?” seruan dirga menghentikan langkahnya.
Kartini kembali menoleh dengan kening berkerut. Bukankah Tuan Dirga berkata akan memeriksa? Kenapa masih duduk si tempat?
“Bukankah Anda akan menggeledah semua kamar?” tanya Kartini bingung.
“Memeriksa bukan berarti harus bergerak!”
Bukan Dirga tapi Putri yang menyahut. Gadis itu menoleh ke arah Ayahnya yang sudah mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Tangan Dirga menggulirkan layar ponsel dan mencari aplikasi yang tersambung dengan CCTV rumah mewah tersebut.
“Ada kamera pengawas di setiap ruangan dalam rumah ini,” ucap Putri sambil menatap ke arah Kartini. “Bibi tidak tahu atau lupa?”
Seketika tubuh Kartini bergetar mendengar kata-kata Putri. CCTV? Kenapa dia bisa lupa? Wajahnya yang tadi begitu bersemangat, kini berubah pucat pasi. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
Amanda yang sudah menduga hal itu hanya diam menyilang dada, menatap Kartini dengan tatapan datar.
"Kartini..." panggil Dirga pelan namun dingin. Tangannya mengarahkan layar ponsel yang sedang menayangkan sebuah rekaman video ke arah Kartini.
BRUGH!
Kartini menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan Dirga. “Sa saya… saya..
Dirga mengangkat wajahnya, menatap Kartini dengan tatapan yang sedingin es. "Kau berteriak membuat keributan saat aku baru saja ingin bersantai? Tapin ternyata kamu sendiri pelakunya. Kamu tahu apa artinya, kan?”
“Ampun, Tuan. Saya… saya… “ Air mata Kartini jatuh berlinang seiring keringat dingin yang membawahi badan. “ Ampuni saya, saya hanya ingin menyelamatkan Anda. Bu Amanda itu… “
"Cukup, Kartini!" bentak Dirga keras suaranya menggema. "Aku sudah tahu kelakuanmu sejak awal. Selama ini aku menahan diri karena kasihan pada keluarga mu. Tapi ternyata kamu membuatku kecewa. Karena itu… ”
"Tidak!" teriak Kartini. “Tolong ampuni saya. Saya berjanji tidak akan mengulangi lagi.”
"Kamu tidak pantas bekerja di rumah ini lagi! Kamu berhati busuk! Sekarang juga… kemasi barangmu dan pergi dari rumah ini! Jangan pernah kembali!" usir Dirga tegas.
Kartini jatuh terduduk di lantai, ambisinya hancur lebur. Rencananya gagal total. Alih-alih mengusir Amanda, dia justru yang kena getahnya dan diusir dengan aib.
"Maafkan aku Tuan... maafkan aku...!" ratapnya namun, dua orang satpam tetap menyeretnya.
ya kali rumah Segede itu ga ada cctv nya🤣🤣
makanya punya hati jangan jahat
kamu Kartini ibu jahat
aq mampir k cerita kk ,,