Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ponsel Tertingal
Naluri seorang laki-laki nya berkerja.
Aku mulai mengendus pelan leher mas Satya. Dia terdiam menerima semua yang aku lakukan, sesekali dia berdehem pelan. Nafasnya berat, tubuhnya hangat.
Dengan di temani cahaya dari flash handphone, aku melihat sorot matanya yang teduh. Jakunnya naik turun, sesekali dia meneguk salivanya.
Aku tersenyum nakal, aku berhasil membuat laki-laki gengsi ini terdiam menurut. Lengan kokohnya sudah mendarat di pinggangku, Dia mulai terpancing dengan permainanku.
Wajahnya semakin dekat denganku, lalu dengan perlahan ia menurunkan tubuhku di kasur. Aku meneguk saliva.
Apakah ini saatnya?.
Dan apakah aku siap?, Aku pernah mendengar jika pertama melakukan akan sakit rasanya. Aku kelabakan, kejebak dengan ulahku sendiri.
Hidung bangirnya kini sudah menyapu wajahku, mataku terpejam menikmati setiap sentuhannya. Dan tangannya kini berada dua benda kenyal miliku
Plang....
Lampu menyala.
"Mas..." ucapku lembut. dia masih terpejam menikmati setiap inci wajahku dan kini.
Hap...
Bibirnya yang lembut mengecup bibirku. Aku sudah lupa segalanya, memasrahkan diri jika memang ini adalah malam pertama untukku melakukan itu.
Tok tok tok.....
Kami terperanjat, sekitar kami bangkit dan menghentikan permainan itu.
Pintu terbuka, menampilkan sandrina yang memeluk boneka di tangannya. Wajahnya sangat terlihat sedih, sepertinya dia sudah menangis.
"Papah... Mama... Drina takut petir." gadis kecil itu sudah berlari ke atas kasur. Dan duduk di tengah diantara aku dan kak Satya.
"Oh...sayang, pasti drina kaget. Sini drina tidur sama mama ndra saja." Aku yang sudah memeluk sandrina.
Begitupun mas Satya, aku melihat dia sedikit menghela nafas pelan. Kemudian ikut merebahkan tubuhnya. Kini kmi tidur bertiga, dengan memeluk sandrina. Gadis kecil itu memejamkan matanya sambil tersenyum.
Aku menatap kak Satya yang sedang mencium sandrina lembut. Aura kebapak nanya terpancar. Kak Satya menoleh, dia menatapku dan kemudian tangannya terulur mengusap puncak kepalaku.
Dengan sikapnya malam ini, aku makin bingung dengan kak Satya. Apakah dia sudah menerima pernikahan ini, apakah sudah tersemat nama Sandra Anindita di hati Satya Mahesa?.
***
"Loh.. Kok drina tidurnya di kamar mama sama papa?." Ibu yang memergoki sandrina keluar dari kamarku.
"Semalam sandrina takut petir Oma..." ucap drina dengan nada sendu.
"Oh gitu... Yaudah sayang. Ayo sayang siap-siap untuk sekolah." Sandrina sudah berada di tangan ibu, akhirnya aku bisa kembali bermanja-manja dengan kak Satya.
Kak satya tidur lagi setelah shalat subuh. Aku menaiki kasur dan kembali memeluknya. Entah keberanian dari mana seorang Sandra ini, yang pasti aku ingin menaklukan dinding es suamiku ini.
Kak Satya berbalik, kini dia menghadapku. "Ndra, aku harus keluar kota cek proyek disana."
"Oh... Yasudah kenapa belum siap-siap?, ini udah lumayan siang mas." ucapku menatap wajahnya.
"Satu Minggu menginap, jadi nanti saja berangkatnya agak siangan."
Deg...
Satu Minggu?.
Entah mengapa aku seperti berat hati di tinggal kak Satya kerja ke luar kota. Mungkin aku sudah mulai nyaman di dekatnya.
Aku mengeratkan pelukanku seolah sedang menikmati waktu bersamanya, sebelum kak Satya tidak ada disampingku selama satu Minggu.
Aku mengangguk ringan, walaupun sebenarnya berat.
***
"Tapi ada untungnya kita disini, jadi aku tidak berat meninggalkan kalian berdua" ujarnya sambil mengancingkan kemeja berwarna abu.
Perkataannya membuat desiran hangat di dada, Maas Satya menghawatirkan ku. Dalam wajahnya yang cuek sok tidak peduli, ternyata pria gede gengsi itu sering menghawatirkan ku dengan sandrina.
Aku yang sedang membereskan pakaiannya dan memasukannya kedalam ransel besar. Aku tidak semangat hari ini, di tinggal kak Satya selama satu Minggu. Ah lemas sekali rasanya. walaupun keberadaanya sering menyebalkan tapi aku sayang.
Kami keluar dari kamar, ibu yang sedang di dapur menoleh. "loh Satya mau kemana ndra?".
"Mas Satya ada kerjaan di luar kota Bu, jadi harus menginap di sana satu Minggu." ucapku.
Mas Satya menyalami ibu, seraya berpamitan. "Pamit ya Bu"
"Iya hati-hati ya!, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya. Berapa jam kesana?" pertanyaan ibu membredel.
"Dua atau tiga jam an, kalau ga macet"
Aku pergi berjalan meninggalkan Mas Satya, meraih kotak roti di meja. Tadi pagi aku menyuruh karyawan Sandra's bakery untuk mengirimkan beberapa kotak roti. Aku memilih kotak roti dengan toping tiramisu.
"Nih... Buat ganjal perut, takut nya laper nanti dijalan."
"Apa itu?"
"Roti. Dari Sandra's bakery. Yang akan menemani perjalanan"
Kak Satya mengangguk dan menerima kota roti itu.
Aku berjalan mengantar kak Satya sampai depan.
"Aku berangkat"
"Iya Mas, hati-hati!" ucapku pelan dengan pelupuk mata sudah mengembun. Aku meraih tangannya kemudian mencium tangannya.
Tatapan kami sekilas bertemu, tangan mas Satya mengelus puncak kepalaku.
Aku mematung, menyaksikan mas Satya memanaskan mobilnya. Lalu kemudian dia melambaikan tangan dan tanjap gas.
Pluk, air mataku terjatuh. Cengeng banget sih Ndra, padahal satu Minggu loh bukan satu tahun.
"Ndra..." di belakangku ibu, memanggilku lembut. Aku menoleh, dan ibu berjalan mendekat ke arahku. Tangannya meraih tanganku.
"Benarkan kata ibu, kamu tidak akan pernah bisa melupakannya. kemarin namanya hanya terkubur dihatimu nak."
"Mas Satya, menumbuhkan kebahagian dan luka sekaligus di hati Sandra bu.." ucapku sambil menatap nanar jalanan di depan.
"Itu konsekuensi, kamu mencintainya. Dan kamu harus siap dengan rasa sakitnya."
"Sandra tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Raisya di hatinya Bu"
Ibu mengelus lembut punggungku. "Bersabarlah.. Sayang. Ibu yakin suatu saat nanti. Bukan untuk menggantikan Posisinya, namun setara di hatinya."
Aku memeluk ibu, kini ibu adalah orang yang paling paham dengan keadaan hatiku.
"Masuklah!"
Aku mengangguk, dan berjalan kembali ke kamar.
Setelah memasuki kamar, rasanya sangat berbeda. Seperti ada sesuatu yang hilang. Sunyi dan senyap.
Dert... Dert...
Aku berjalan untuk meraih ponselku. Eh kok, tapi bukan ponselku yang bunyi. Terus punya siapa?.
Dert... Dert....
Ponsel itu kembali berbunyi. Yang ternyata berasal dari bawah bantal.
Ponsel kak Satya. tertinggal.
Ada satu panggilan masuk. dengan nama kontak pak mandor. Aku menekan tombol hijau untuk menerima telpon itu.
"Halo... Selamat siang pak Satya"
"Mohon maaf, pak ini dengan istrinya Satya, Pak Satya tadi sudah berangkat ke lokasi proyek. Dan ini ponselnya tertinggal. Pak kalau boleh tau lokasi proyeknya di mana ya?, rencananya hari ini saya akan menyusul." ucapku gusar.
"Oh... Baik-baik Mbak, nanti saya kirimkan alamatnya"
Jangan lupa like komen dan ⭐⭐⭐⭐⭐ ya teman-teman. Terimakasih kepada yang sudah membaca karyaku🙏🏻