Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
“Kurang ajar!”
Suara Sari meledak tiba-tiba, memecah kesunyian yang sejak tadi menggantung tegang di ruang tamu rumah sederhana itu.
Wajahnya memerah. Matanya membelalak tajam ke arah Dita, campuran antara marah… dan malu.
Ia tadi berniat mempermalukan Dita di depan orang-orang kota itu. Tapi justru sekarang—ia sendiri yang terasa ditelanjangi.
Dita tetap berdiri di tempatnya. Punggungnya tegak, meski kedua tangannya saling menggenggam kuat di depan tubuhnya.
“Aku cuma bilang yang sebenarnya, Mbak,” ucap Dita pelan.
Nada suaranya tidak tinggi. Tidak pula penuh emosi.
Justru tenang.
Dan ketenangan itulah yang semakin membuat Sari tersulut.
“Jangan sok benar kamu!” bentak Sari. “Kalau bukan karena kamu dulu yang—”
“Cukup!”
Suara nenek Supinah tiba-tiba memotong.
Wanita tua itu bangkit dari kursinya dengan wajah tegas, meski tubuhnya sedikit gemetar.
“Sari, jaga mulutmu!”
Ruangan kembali hening.
Sari menatap neneknya dengan wajah tak percaya.
“Kenapa Nek malah marahin aku?” suaranya mulai bergetar. “Aku ini cucu Nenek juga!”
“Justru karena itu Nenek menegurmu,” jawab nenek pelan, namun tegas. “Ada tamu di rumah.”
Sari tertawa kecil. Tawa yang pahit.
“Oh… jadi sekarang aku yang salah?” katanya sinis. “Dari dulu memang begitu. Nenek selalu bela Dita.”
“Nek tidak membela siapa-siapa.”
“Bohong!”
Air mata mulai jatuh dari mata Sari. Namun tatapannya tetap tajam.
“Aku yang tinggal di sini. Aku yang tiap hari jagain Nenek. Tapi begitu Dita pulang, langsung jadi cucu kesayangan lagi!”
“Nak—”
“Sudah, Nek!” potong Sari keras.
Ia menutup wajahnya dengan tangan, bahunya berguncang seolah menahan tangis yang sangat berat.
“Aku memang paling menderita di rumah ini… tidak ada yang pernah mengerti aku…”
Dita menunduk.
Ada rasa perih yang samar di dadanya, meskipun kata-kata itu sudah sering ia dengar sejak dulu.
Sari berbalik cepat.
“Aku capek!” katanya. “Aku masuk kamar!”
Langkahnya terdengar keras saat ia berjalan pergi ke dalam rumah.
Beberapa detik kemudian—
“Sar!”
Bakri ikut menyusul.
Sebelum pergi, pria itu sempat menoleh ke arah Dita.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Ada sesuatu di mata Bakri. Sesuatu yang rumit… penyesalan… atau mungkin hanya keterkejutan.
Namun Dita segera memalingkan wajah.
Ia tidak ingin membaca apa pun dari mata itu lagi.
Tak lama kemudian suasana kembali sunyi.
Nenek Supinah menghela napas panjang.
Wajahnya terlihat sangat lelah.
Ia lalu menoleh ke arah Tama dan Bu Diana dengan wajah penuh penyesalan.
“Maafkan saya…” ucapnya pelan. “Rumah jadi tidak enak begini… tamu malah lihat keributan keluarga.”
Bu Diana tersenyum lembut.
“Tidak apa-apa, Bu,” katanya menenangkan. “Dalam keluarga, hal seperti itu wajar.”
Tama juga mengangguk.
“Kami mengerti.”
Nenek menatap Dita sejenak. Matanya lembut.
Lalu kembali ke Tama dan Bu Diana.
“Kalau soal lamaran tadi…” katanya hati-hati. “Saya tentu tidak keberatan. Dita sudah seperti anak saya sendiri.”
Dita menatap neneknya.
Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
“Tapi,” lanjut nenek pelan, “saya ingin semuanya dilakukan baik-baik. Kita bicarakan tanggal, keluarga dari pihak kalian… supaya jelas.”
Bu Diana mengangguk senang.
“Tentu, Bu. Kami juga ingin semuanya berjalan resmi dan baik.”
Tama melirik sekilas ke arah Dita.
Wanita itu masih berdiri diam di samping neneknya.
Namun untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah ini… wajahnya terlihat sedikit lebih tenang.
Setelah beberapa saat berbincang mengenai rencana awal, Bu Diana akhirnya berdiri.
“Sepertinya kami pamit dulu, Bu.”
Nenek ikut berdiri.
“Sudah mau pulang?”
Tama menjawab, “Kami akan menginap di hotel dekat sini dulu. Supaya lebih mudah kalau besok harus mengurus data dan bertemu keluarga lagi.”
“Oh… begitu…”
Nenek mengangguk mengerti.
Dita ikut mengantar mereka sampai ke halaman.
Langit sore mulai berubah ke warna jingga tua.
Beberapa tetangga ternyata sudah berkumpul di depan pagar.
Sejak tadi mereka memang berbisik-bisik penasaran.
Begitu mobil Tama terlihat, bisik-bisik itu semakin ramai.
“Dit!”
Seorang ibu tetangga mendekat cepat.
“Kamu benar Dita ya?”
Dita tersenyum kecil. “Iya, Bu.”
“Masya Allah… kamu pulang juga akhirnya!”
Beberapa orang lain ikut mendekat.
Mata mereka penuh rasa ingin tahu.
“Tadi itu siapa?” tanya seorang bapak.
“Yang tinggi itu… calon suamimu ya?”
“Orang kota ya kelihatannya?”
“Kerjanya apa?”
“Kenalnya dari mana?”
Pertanyaan datang bertubi-tubi.
Dita hanya tersenyum.
Sesekali ia menjawab pendek, tapi sebagian besar ia hanya mengangguk atau tertawa kecil.
Tama yang sudah masuk ke mobil sempat melirik ke arah kerumunan itu dengan senyum tipis.
Tak lama kemudian mobil mereka perlahan meninggalkan halaman rumah.
Bisik-bisik para tetangga semakin heboh.
“Wah… hebat ya Dita…”
“Dilamar orang kota…”
“Mobilnya bagus lagi…”
Dita hanya menunduk kecil, lalu berkata sopan,
“Maaf, Bu… Pak… saya masuk dulu ya.”
Ia berjalan kembali ke dalam rumah.
Langkahnya terasa lebih ringan… meskipun pikirannya masih penuh.
Malam datang perlahan.
Rumah itu kembali sunyi.
Hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar samar.
Di ruang tengah, nenek Supinah duduk di kursi kayu sambil memandang Dita yang sedang menyeduh teh.
“Dit…”
Dita menoleh.
“Iya, Nek?”
Nenek menatapnya lama. Matanya lembut… namun penuh kehati-hatian.
“Kamu… tidak sakit hati sama Sari tadi?”
Dita terdiam sejenak.
Ia membawa dua cangkir teh, lalu duduk di dekat neneknya.
“Aku sudah biasa, Nek,” katanya pelan.
Nenek menghela napas panjang.
“Tapi dulu… kamu sangat terluka…”
Dita tersenyum kecil.
Senyum yang tenang.
“Itu dulu.”
Nenek menatap wajah cucunya itu dengan perasaan campur aduk.
“Apa benar… kamu sudah tidak memikirkan Bakri lagi?”
Dita terdiam beberapa detik.
Lalu ia mengangguk.
“Iya.”
Jawabannya singkat.
Namun cukup jelas.
Nenek menatapnya lebih lama lagi… seolah mencoba memastikan.
“Dan Tama?” tanya nenek hati-hati. “Kamu benar-benar membuka hati untuk dia?”
Dita menatap cangkir tehnya.
Uap tipis naik perlahan.
Ia lalu tersenyum.
Senyum yang berbeda dari sebelumnya.
Lebih hangat.
“Dia baik, Nek,” ucapnya pelan.
Nenek Supinah merasakan dadanya tiba-tiba terasa lega.
Sangat lega.
Wanita tua itu mengelus tangan Dita perlahan.
“Syukurlah…” bisiknya.
Matanya berkaca-kaca.
“Artinya luka kamu… benar-benar sudah sembuh.”
bener dita, jangan menye2.. masa sama jalang aja takut2!!!! di samping mu noh calon camer dan suami mu, pasti bakal bantuin dan lindungi kamu!! jadi jangan takut... lawan aja perempuan gk tau diri dan cowok murahan mantan km itu!!