Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Timur dan Jantung Rumah
Musim hujan masih terus membasahi Malang. Bulan sudah berganti, namun rintik-rintik seperti permen kecil tetap jatuh dari langit, membasuh jalanan, menyiram tanaman, dan menebarkan aroma tanah yang segar. Di halaman kontrakan, rumput tumbuh subur, daun-daun mengkilap, dan genangan air kecil memantulkan lampu jalan. Mereka duduk di teras, memandang hujan dengan tenang. Suara air di atap seng menjadi musik latar yang menenangkan setelah kegaduhan perjalanan. Namun di balik ketenangan, mereka memikirkan ancaman baru: sebuah amplop tanpa nama, isi pesan gelap, email Maya tentang B19, dan sebuah telepon anonim yang hanya berisi napas berat.
“Kita harus meningkatkan keamanan,” kata Rina, memecah keheningan. Ia memegang ponsel, memandang pesan ancaman yang dikirim. “Ini tidak bisa diabaikan.” Profesor mengangguk. “Aku sudah berbicara dengan LPSK dan polisi. Mereka akan menempatkan personel di sekitar rumah kita,” katanya. Budi menatap jalan yang basah. “Dan Maya akan mengajari kita enkripsi,” katanya. Mereka memandang ke pintu, saat Maya muncul melalui video call. Rambutnya terikat, wajahnya serius. “Pertama, kalian harus belajar menggunakan perangkat ini,” katanya, menunjukkan kunci keamanan fisik kecil. “Ini akan melindungi akun email kalian. Dan selalu gunakan aplikasi pesan terenkripsi.” Budi menekan kunci, mencoba, salah memasukkan PIN, lalu tertawa malu. Maya menepuk wajahnya sendiri. “Kamu seperti ayahku,” katanya. Mereka belajar, tertawa, dan merasa lebih aman.
Hari berikutnya, mereka menghadiri pelatihan keamanan yang diadakan LPSK. Gedung itu dingin, lampu putih, aroma karbol. Petugas berseragam biru menunjukkan bagaimana mengenali ancaman, membedakan akun palsu, dan melaporkan. Mereka berbicara tentang pengawasan fisik, bagaimana memeriksa mobil, dan apa yang harus dilakukan jika diikuti. Pak Hadi mendengarkan dengan seksama, mengingat setiap detail, karena ia tahu keluarganya juga harus aman. Di sesi praktik, mereka diajari mengambil nomor mobil yang mencurigakan. Budi bertanya, “Bagaimana dengan nomor mobil murid pacarnya?” membuat semua tertawa, termasuk petugas.
Setelah itu, mereka kembali ke kampus untuk memulai pelatihan dengan sukarelawan baru. Ruang auditorium penuh dengan mahasiswa, dokter, dan aktivis. Banner “Yayasan Joko Karin – Angkatan 1” tergantung di panggung. Rina berdiri di podium. “Selamat datang,” katanya, suaranya tergetar oleh antusiasme. “Kalian adalah generasi berikutnya yang akan memastikan tidak ada lagi pelanggaran etika. Kalian bukan hanya relawan, kalian adalah penjaga kebenaran.” Mereka berbagi cerita, menekankan pentingnya persetujuan, transparansi, dan integritas. Budi membuat sesi seni: peserta diminta menggambar bagaimana mereka membayangkan etika. Ada yang menggambar jembatan, ada yang menggambar pelangi, ada yang menggambar satpam menolak amplop tebal. Mereka tertawa. Perikus mengajarkan teknik dasar perlindungan digital, lengkap dengan humor tentang password ‘iloveSoto’.
Di salah satu sesi, seorang siswa SMA bertanya, “Kak, apakah Kakak terkenal di TikTok?” Budi tergelak. “Tidak, saya terkenal karena soto,” jawabnya. Siswa-siswa tertawa, namun mereka juga mencatat dengan serius. Mereka ingin menjadi seperti Rina, Budi, Perikus—bukan karena popularitas, tetapi karena keberanian. Professor menutup pelatihan dengan pepatah Jawa, “Sopo sing nandur, bakal ngundhuh.” Siapa menanam, akan memanen. Tepuk tangan meriah mengakhiri sesi. Mereka memberi sukarelawan pin dengan logo Yayasan: reog kecil memegang stetoskop, di atas tulisan “Bersama Kebaikan”.
Perjuangan di tingkat nasional juga menunjukkan hasil. RUU Etika Penelitian kini dibahas di DPR. Tim mereka diundang untuk memberikan masukan akhir. Mereka duduk di ruang rapat besar, dikelilingi politisi, pers, dan juru ketik. Kertas bertumpuk, mikrofon di meja. Anggota DPR yang dulu memusuhi mereka kini menunduk, menandatangani pasal. Rina membacakan pasal tentang persetujuan tertulis. “Setiap partisipan harus diberi penjelasan dalam bahasa yang mereka mengerti,” katanya. Profesor menambahkan pasal tentang hukuman berat bagi pelanggar. “Jika melanggar, penjara dan denda besar,” katanya. Perikus menambahkan pasal tentang humor. “Setiap peneliti harus menandatangani bahwa mereka akan tertawa ketika stres,” katanya, setengah serius, setengah bercanda. Ruangan tertawa, tetapi poinnya penting: kesehatan mental dalam riset.
Undang-undang itu akhirnya disahkan. Televisi menyiarkan sidang, menampilkan anggota DPR memukul palu. Judul berita: “UU Etika Penelitian Disahkan, Korban B16 Senang”. Mereka merayakan di warung soto Pakde, memesan satu panci besar. Pakde tersenyum. “Terima kasih, saya bisa jualan tanpa takut laboratorium lagi,” katanya. Warga datang memberi selamat. Ada ibu membawa jeruk, ada bapak membawa singkong. “Kami bangga,” kata mereka. Di televisi, politisi yang sempat menolak sekarang bersuara berbeda. “Kami sejak awal mendukung,” katanya. Mereka tertawa, menirukan gaya politisi.
Namun, ancaman internasional tidak mengendur. Maya terus memberi pembaruan. “White Lotus ini organisasi rumit,” katanya lewat panggilan. “Mereka punya cabang di Korea, Jepang, Vietnam. Mereka memodifikasi virus untuk digunakan dalam doping atlet dan pengendalian. Mereka punya hacker dan pengawal. Mereka tahu kita.” Mereka merinding. Mereka mendapat undangan dari Peking University untuk berbicara tentang etika, dan dari Seoul National University untuk konferensi bioetika. Mereka juga mendapat email dari seorang aktivis di Hong Kong yang bersedia membantu infiltrasi. “Kita harus pikirkan,” kata Rina. “Ini lebih berbahaya.”
Di sela-sela ancaman, mereka mencoba menjaga kehidupan normal. Mereka menonton film bersama, menonton pertandingan sepak bola, memberi kejutan ulang tahun Budi dengan kue yang bertuliskan “Selamat Ulang Tahun Reog Pelacak.” Budi tertawa, meniup lilin, kemudian menertawakan dirinya. Mereka pergi ke pantai selatan Malang, bermain air, makan ikan bakar. Angin laut membawa aroma garam, ombak memukul batu. Mereka berlari mengejar ombak, merasa bebas, sejenak melupakan ancaman. Mereka memotret, memasang di akun yayasan dengan caption, “Para pahlawan pun perlu vitamin sea.” Komentar netizen bermunculan, sebagian memuji, sebagian bercanda. Mereka tertawa.
Suatu sore, seorang pria asing mengetuk pintu. Wajahnya asing, berkacamata, mengenakan jas. Ia memperkenalkan diri sebagai wartawan dari sebuah media. “Saya ingin mewawancarai kalian,” katanya. Profesor mengamati, merasakan sesuatu aneh. “Kami akan memeriksa identitas Anda dulu,” katanya, mengambil kartu pers pria itu. Kartu itu tampak palsu: font berbeda, gambar buram. Professor memanggil polisi. Pria itu panik, berlari, tetapi LPSK menangkapnya. Setelah diperiksa, pria itu agen dari White Lotus, mencoba mendekati mereka. Ini membuat mereka semakin waspada. Mereka menambah kamera keamanan, memakai aplikasi sinyal, dan mengingatkan keluarga untuk tidak membuka pintu sembarangan.
Maya memberi kursus singkat tentang phishing. “Jangan klik link yang mencurigakan,” katanya. Budi menambahkan, “Selain link diskon soto, semua harus curiga,” membuat Maya tertawa. Mereka tertawa bersama, mengusir ketegangan. Maya juga membuat sistem email untuk yayasan dengan enkripsi end-to-end. “Kalian tidak bisa hanya mengandalkan humor,” katanya. Mereka setuju. Teknologi dan humor harus berdampingan.
Sementara itu, berita tentang mereka menyebar ke desa-desa. Suatu hari, mereka menerima undangan dari sebuah sekolah di pelosok Jawa Tengah. Kepala sekolah menulis, “Kami ingin anak-anak kami belajar tentang etika dan keberanian. Bisakah kalian datang?” Mereka memutuskan pergi. Mereka berkendara dengan mobil tua, melewati jalan kecil berliku, sawah, bukit. Sesampainya di sekolah, anak-anak menyambut mereka dengan tarian topeng dan nyanyian. Mereka duduk di bangku panjang, mendengarkan dengan hati penuh. Setelah itu, mereka memberikan materi sederhana. “Etika riset itu seperti menjaga kue. Jika kalian punya kue, kalian harus minta izin sebelum makan,” kata Budi. Anak-anak tertawa. “Kue?” tanya seorang bocah. “Kue untuk ilmu,” kata Budi. Mereka membuat permainan. Anak-anak belajar sambil bermain, tertawa. Kepala sekolah berterima kasih. “Kalian membawa dunia ke desa kami,” katanya. Perjalanan itu mengingatkan mereka bahwa perubahan dimulai dari akar.
Setelah beberapa minggu persiapan, mereka akhirnya bersiap untuk berangkat ke Beijing dan Seoul. Visa sudah diurus, undangan ditangan, perwakilan baru dari yayasan telah dilatih untuk mengisi kekosongan mereka selama beberapa minggu. Mereka duduk di bandara, memandang pesawat yang akan membawa mereka ke Timur. Perjalanan ini berbeda: mereka bukan lagi orang asing di tempat asing; mereka membawa pengalaman dan jaringan global. Mereka memikirkan Dr. Chen dari Peking University, aktivis White Lotus, konferensi di Seoul, Kimchi, Peking Duck, dan Great Wall. Mereka memikirkan tantangan budaya, bahasa, politis. Mereka memeluk keluarga, menitip pesan, “Kami kembali secepatnya.” Pak Hadi meneteskan air mata bangga. “Bangun dunia, anak-anakku,” katanya.
Mereka terbang lagi, dengan hati berdebar, perut lapar, dan kepala penuh rencana. Mereka tahu perjalanan ini berbahaya. Mereka tahu White Lotus tidak main-main. Tapi mereka juga tahu mereka tidak sendiri. Mereka membawa dukungan Komnas HAM, Parlemen Eropa, WHO, PBB, LPSK, yayasan, desa-desa, dan netizen. Mereka membawa humor, lagu, tarian, bumbu soto, dan ulos. Mereka percaya bahwa kebaikan bisa mengalahkan kejahatan, bahwa cahaya bisa mengusir bayang-bayang. Mereka menatap awan dari jendela pesawat, membayangkan Great Wall sebagai garis batas yang harus mereka lewati, bukan untuk menaklukkan, tetapi untuk menghubungkan.
Pesawat mereka meninggalkan landasan, meninggalkan jejak putih di langit biru. Di bawah, sawah, sungai, dan kota mengecil. Di dalam, mereka saling tersenyum, saling menggenggam tangan. Mereka memejamkan mata, berdoa, berharap, lalu tertawa ketika Budi berkata, “Aku lupa belajar memakai sumpit.” Mereka tertawa lagi, suara mereka bercampur dengan suara mesin pesawat, seperti melodi yang akan terus bermain. Mereka siap untuk petualangan berikutnya, kisah yang akan membawa mereka lebih jauh lagi, ke jantung White Lotus dan ke hati orang-orang baru yang akan mereka temui.