NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:106k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Ancaman

Itu bukan kalimat yang seharusnya dilontarkan dengan nada seringan itu.

“Zelia.”

“Hm?”

“Kamu tidak sedang berpikir jernih.”

Zelia terkekeh kecil. “Justru sekarang, aku sangat jernih.”

Ia kembali menyandarkan kepalanya di dada Are. Detak jantung pria itu terdengar jelas di telinganya. Dan detaknya tidak setenang wajahnya. Tapi Zelia terlalu senang atau mungkin terlalu nyaman hingga tak menyadarinya.

“Kalau kamu berdiri di belakangku,” gumam Zelia pelan, “aku berani berdiri di depan siapa pun.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari pujian tadi.

Are menghela napas pelan. Ia seharusnya menjaga jarak. Tapi entah mengapa tubuhnya enggan menolak.

"Ini hanya satu tahun," batinnya.

Ia punya alasan. Ia punya batas. Tapi tangannya tanpa sadar turun dan berhenti di punggung Zelia. Ia menahan. Bukan mendorong.

Zelia tersenyum tipis, sadar akan perubahan kecil itu. “Kamu gak bisa nolak aku terus, tahu.”

“Aku bisa,” jawab Are. Tapi tangannya tidak bergerak.

"Kalau begitu, akan kubuat kau tak bisa menolak."

Sunyi beberapa detik. Tapi sunyi dalam hangat dan tenang.

Lalu ponsel Are bergetar. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Are membuka mata. Melepaskan pelukannya pelan. Realitas kembali masuk. Ia melihat layar itu, lalu tersenyum tipis. Akhirnya.

Notifikasi dari tim analis medianya.

Lonjakan sentimen negatif meningkat 38%. Beberapa akun besar mulai mem-framing ulang narasi.

Are menyipitkan mata. “Mereka mulai agresif,” gumamnya.

Zelia ikut melihat layar. “Kita rilis sekarang?”

Are menggeleng pelan. “Belum.”

“Kenapa?”

“Mereka belum membuat kesalahan besar.”

Zelia menghela napas. “Kamu ini sabar sekali.”

Are menatapnya. “Karena serangan balasan paling efektif bukan yang paling cepat.” Ia mengunci layar ponselnya. “Tapi yang paling telak.”

Zelia menyeringai kecil. “Kalau begitu… kita tunggu mereka merasa aman dulu?”

Senyum tipis muncul di sudut bibir Are. “Kamu belajar cepat.”

Di luar sana, opini publik terus bergolak. Tagar makin tinggi. Nama Are makin sering disebut.

Dan seseorang merasa puas melihat citranya mulai retak.

Padahal, di apartemen itu, badai justru sedang disiapkan. Dan kali ini, bukan Zelia yang berdiri di depan.

Melainkan Are.

Perlahan. Tanpa suara. Dan berbahaya.

***

Dua belas jam sudah video itu beredar. Namun tidak ada klarifikasi, tidak ada pernyataan, tidak ada pula bantahan.

Video itu terus berputar. Dipotong. Diulas. Dibedah oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah duduk di ruangan itu. Ruangan kerja Atyasa, tempat video itu dibuat.

Tagar naik ke posisi tiga dan komentar makin brutal.

— Sudah jelas oportunis.

— Nikah cepat biar dapat akses.

— CEO boneka yang dimanfaatkan suami.

Beberapa bahkan lebih kejam.

— Pantas Fero dulu kelihatan lebih pantas.

— Dari awal sudah settingan.

Tapi pagi itu, mobil hitam berhenti di depan gedung kantor pusat. Pintunya terbuka dan Are turun lebih dulu. Wajahnya tenang seperti biasa.

Setelan rapi. Tatapan stabil. Tidak ada jejak tekanan, tidak ada emosi di wajahnya, seolah dunia maya tidak pernah ada.

Beberapa karyawan yang sudah melihat berita semalam otomatis menoleh. Bisik-bisik mulai terdengar.

“Dia datang juga…”

“Berani banget.”

“Gak ada klarifikasi sama sekali?”

Lalu Zelia turun. Tanpa ragu, tanpa jeda. Ia berjalan mendekat dan, seperti biasa, meraih lengan Are.

Bukan menggandeng dengan malu-malu, tapi memeluknya ringan. Natural. Terbiasa.

Langkah mereka seirama. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diserang opini publik.

Kasak-kusuk terdengar makin jelas.

“Lima tahun tunangan sama Pak Fero…”

“Terus batal di hari H pernikahan.”

“Langsung nikah sama pria yang gak jelas asal-usulnya.”

“Sekarang videonya keluar…”

“Tapi mereka masih kayak gitu?”

Seseorang berbisik lebih pelan.

“Kalau cuma oportunis, harusnya sekarang dia panik.”

“Tapi lihat wajahnya.”

Memang. Are tidak terlihat seperti pria yang reputasinya sedang diseret. Dan Zelia, ia bahkan tersenyum kecil saat lift terbuka.

Bukan senyum pencitraan, tapi senyum yang hanya muncul saat ia sedang dalam mood baik. Seolah video itu hanya gangguan kecil. Atau bahkan tak pernah ada.

Lift tertutup.

Di dalam ruang sempit itu, hanya mereka berdua.

Zelia menoleh sedikit. Tangannya masih memeluk lengan Are. “Kita benar-benar tidak akan bicara?”

“Belum,” jawab Are singkat.

Zelia mengangguk pelan. “Aku suka bagian ini.”

Are melirik. “Bagian mana?”

“Bagian saat semua orang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Zelia tersenyum tipis. “Hubungan kita tetap jadi teka-teki.”

Are tidak menjawab, tapi sudut bibirnya bergerak sangat tipis.

Di luar sana, orang-orang mencoba menyusun cerita tentang mereka.

Tentang pria misterius tanpa latar belakang yang tiba-tiba muncul di hidup Zelia.

Tentang seorang CEO yang membatalkan pernikahan dengan tunangan lima tahunnya, tepat di hari H, lalu mendadak menikah dengan pria lain yang tak seorang pun benar-benar kenal.

Tentang chemistry yang terlalu nyata untuk disebut kontrak. Tentang video yang terlihat meyakinkan. Tapi tidak ada satu pun yang benar-benar tahu.

Dan justru karena itu, rasa penasaran publik berubah menjadi kegelisahan. Karena pasangan yang panik bisa ditebak. Tapi pasangan yang tenang?

Itu menakutkan.

***

Pintu ruang CEO diketuk dua kali. Zelia mengangkat wajahnya. “Masuk.”

Pintu terbuka.

Atyasa melangkah masuk dengan tenang. Setelan jasnya rapi seperti biasa. Tidak ada tanda ia baru saja menikmati kekacauan opini publik.

Di tangannya, sebuah map hitam.

Are duduk di sisi meja kerja yang sama dengan Zelia. Laptop terbuka. Jemarinya bergerak stabil di atas keyboard.

Mereka memang berbagi meja. Bukan meja terpisah. Itu saja sudah cukup membuat banyak orang tidak nyaman.

Atyasa meletakkan map itu di depan Zelia. “Laporan sentimen pasar dan dampaknya terhadap nilai saham,” ujarnya datar. “Sebagai CEO, kau perlu melihat ini.”

Zelia membuka map itu perlahan.

Grafik menurun. Persentase merah. Judul berita yang dikutip. Narasi yang sama: Are oportunis.

Zelia menutup map itu kembali. “Papa ingin aku panik?”

Atyasa tersenyum tipis. “Papa ingin kau bertindak.”

Tatapannya bergeser ke Are. Tapi yang ditatap tidak mengangkat wajahnya. Pria itu tyetap mengetik. Tenang.

“Apa kau akan memberikan klarifikasi?” tanya Atyasa, santai. “Atau membiarkan perusahaan ikut terseret?”

Zelia menyilangkan jemarinya di atas meja. “TKP video itu ruang kerja Papa,” katanya tenang.

Sesaat ruangan menjadi hening.

“Yang dituduh adalah suamiku. Dan aku ikut terseret.” Zelia menatap langsung ayahnya. “Sedangkan Papa… tidak ada satu pun narasi negatif untuk Papa.”

Ruangan terasa lebih sunyi.

“Bukankah seharusnya Papa yang melakukan klarifikasi?” lanjutnya pelan. “Apalagi Papa adalah papa kandungku.”

Untuk sepersekian detik, tatapan Atyasa berubah. Terkejut. Tapi hanya sepersekian detik. Ia terlalu berpengalaman untuk membiarkan itu terlihat.

Ia tersenyum lagi. “Papa tidak akan melakukan klarifikasi.”

Zelia menunggu.

“Kecuali…” lanjutnya ringan, menunjuk Are dengan dagunya, “…kau bercerai dengan dia.”

Are akhirnya berhenti mengetik. Tapi ia tidak terlihat tersinggung. Hanya tersenyum tipis.

Zelia bersandar ke kursinya. “Aku menyukai Are,” jawabnya mantap. “Dan aku tidak akan pernah menceraikannya.”

Tidak ada emosi berlebihan di wajah gadis itu. Hanya keputusan.

Senyum Atyasa kali ini tidak sampai ke mata. “Kalau begitu,” katanya tenang,

 

...✨“Mereka menyerang lebih dulu. Itu berarti mereka takut.”...

...“Ia diminta memilih antara kekuasaan dan cinta. Dan untuk pertama kalinya, ia memilih dengan sadar.”...

...“Kadang yang paling ingin menyingkirkanmu bukan musuh, tapi orang yang takut kau melampauinya.”...

...“Dalam perang reputasi, yang pertama bicara belum tentu yang terakhir tertawa.”...

...“Pasangan yang panik mudah ditebak. Yang tenang, berbahaya.”...

...“Ia menyebutnya latihan. Mereka menyebutnya ancaman.”✨...

 

Note:

Framing

Framing adalah teknik membentuk persepsi dengan memilih bagian tertentu dari sebuah peristiwa untuk ditampilkan, sementara bagian lainnya dihilangkan. Informasi yang disajikan bisa saja benar. Namun ketika dipotong atau disusun secara selektif, maknanya dapat berubah dan menggiring opini publik ke arah tertentu.

Framing bukan kebohongan. Ia hanya kebenaran yang dipilih dengan cermat agar tampak seperti kesalahan.

Oportunis

Oportunis adalah sebutan bagi seseorang yang memanfaatkan situasi demi keuntungan pribadi, sering kali tanpa mempertimbangkan etika, loyalitas, atau dampaknya terhadap orang lain. Dalam konflik reputasi, tuduhan oportunis kerap digunakan untuk membentuk citra bahwa seseorang bertindak semata-mata karena ambisi atau keuntungan materi.

Namun sering kali, oportunis hanyalah label yang mudah diberikan publik kepada seseorang yang berada di posisi yang mereka inginkan, tetapi tidak mampu mereka capai.

To be continued

1
Kyky ANi
bagus Are, jangan kasih ampun Atyasa dan Fero,,
Kyky ANi
astaga Are,, bisa-bisa deh, mencari kesempatan,, buat cium Zelia,,,
Kyky ANi
GAra2 kamu Zelia,, Are tidak bisa lagi menahan dirinya,,
Kyky ANi
serem banget kamu Zelia, sampai mau bunuh diri dan jadi hantu gentangan,, gara2 Are,,,
Kyky ANi
sepertinya, ada yang membantu Atyasa ya,, siapa ya kira-kira
Kyky ANi
semoga masalah kali ini bisa diselesaikan,, Are dan Zelia,,
Wardi's
terimakasih untuk karyanya..., tetap semangat dan sukses terus untuk karya selanjutnya..
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamin. Sama-sama Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
anonim
Pranata datang - beberapa direksi langsung berdiri dari kursinya. Pada terkejut dan ada yang gugup.

Atyasa mampus kau.

Are kemungkinan sudah berkoordinasi sama Pranata - kalau rapat kali ini mau membalikkan papan catur. Jadi Pranata datang.

Zelia masih ketar-ketir akan nasib perusahaannya juga posisinya sebagai CEO.
anonim
Zelia tidak paham dengan imbalan yang dimaksud Are.

Are tidak mau mengatakan sekarang apa imbalan yang dia minta.

Paling imbalannya minta ehem-ehem tuh Are 😄. Kalau imbalannya begitu belum tentu Zelia akan setuju. Menolak dulu sepertinya wkwkwk.
phity
cerita kehidupan yg memberikan motivasi ttg bertahan dlm hidup yg penuh dgn kebohongan dan tipuan orng2 dekat yg tdk tulus
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
phity
aduuu tamat de...pdhal belum puas msh mau ad bab ttg are dan zelia lagi yg happy happy gitu🤭
abimasta
terimakasih thor
Yunita Sophi
cerita nya bikin gemes... 👍😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Yunita Sophi
akhir nya Zelia dan Are bahagia... makasih kak happy ending nya...
aq kasih bintang lima
Kyky ANi
mungkin sekarang Zelia ragu, karna Are tidak berterus terang siapa dia sebenarnya,,
asih
eh alahhh sudah tamat ikut naca sampai akhir ..
kak g di spill nama anaknya are Dan zelia siapa ..biar nanti kalau launching novelnya langsung tahu dia anak are 😄🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya happy ending meskipun sempat darting dgn are
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
kok ujug2 ada bayi..btw anaknya cewek apa cowok Thor..keliatan ending nya agk dipaksakan...🤭
Dek Sri
aku sudah mampir kak, ceritanya bagus
Dew666
🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!