NovelToon NovelToon
DUDA PEMILIK MALAMKU

DUDA PEMILIK MALAMKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / One Night Stand / Ibu Pengganti
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ditaa

"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Bertemu Mantan

Deana keluar dari dapur dengan nampan berisi dua gelas minuman hangat dan beberapa kue yang sudah ia tata rapi. Langkahnya pelan dan hati-hati menghampiri Nyonya Ellen dan Fiona yang sedang mengobrol santai di ruang keluarga.

Namun, begitu sampai di ruang tengah, tatapan Fiona langsung menyapu dirinya dari atas sampai bawah.

Deana tahu, tapi ia pura-pura tidak peduli. Ia meletakkan nampan itu di atas meja, “Minumannya, Nyonya... Kak Fiona,” ucapnya pelan, sopan seperti biasa.

Fiona tidak langsung menyentuh minumannya. Ia malah menyilangkan kaki, tubuhnya bersandar santai seolah sedang menilai seorang pelayan, bukan istri sah pemilik rumah yang sedang ia datangi.

“Deana,” panggil Fiona tiba-tiba.

Deana berhenti, menoleh, “Iya?”

Fiona tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak hangat, “Kamu sadar, kan... posisi kamu di rumah ini itu apa?” tanya Fiona dengan satu alisnya yang terangkat satu ke atas.

Nyonya Ellen tidak menegurnya. Justru ikut memperhatikan, seolah menikmati sebuah drama baru.

Deana mengeratkan jari-jarinya, “Saya...istri Tuan Reno,” jawabnya pelan, meski suaranya sedikit bergetar.

Fiona terkekeh. “Istri?” ulangnya, lalu menatap Nyonya Ellen, “Tante dengar itu? Dia percaya diri sekali menyebut dirinya istri.”

Nyonya Ellen menghela napas panjang, “Status saja tidak cukup, Deana,” ucapnya dingin. “Kalau tidak pantas, tetap saja tidak pantas.” sambungnya.

Dada Deana langsung terasa sesak. Namun ia menunduk, berusaha tetap tenang.

Fiona lalu mengambil gelas minumannya, memutarnya pelan, "Tante, Om dan Tante janji-kan akan mengusir dia setelah Kak Reno menceraikannya?" rengek Fiona sambil menggerakkan tangan Nyonya Ellen.

Deana masih diam di tempatnya, ia ingin sekali bergerak menjauh dari sana, tapi kakinya terasa lemas dan berat untuk digerakkan.

"Tentu saja Fio." balas Nyonya Ellen mengangguk.

Deana menghembuskan napasnya panjang mendengar pengakuan langsung dari Nyonya Ellen.

"Awas saja kalau berani mengaku hamil pada anakku! Dasar jab*lay, wanita miskin, sok-sokan merasa jadi korban, padahal kau pemain sebenarnya, bisa-bisanya menjebak anakku. Kau pintar sekali memilih putraku, karena mapan, ganteng dan.... Kaya raya, bukan?" ucap Nyonya Ellen lagi memandang sinis Deana.

Fiona tertawa kecil, "Tante benar, wanita sok suci." ejeknya menambahi.

Deana menelan ludahnya kasar. Kepalanya tergerak ke atas menatap wajah keduanya bergantian.

Tangan Deana mengepal. Namun ia tetap diam.

Brak!

Tiba-tiba Fiona menjatuhkan gelas itu ke meja dengan sengaja, membuat minuman tumpah dan sebagian mengenai tangan Deana.

“Ups,” ucap Fiona datar. “Sorry tidak sengaja."

Deana tersentak pelan. Cairan hangat itu membuat kulit tangannya memerah.

Nyonya Ellen hanya melirik sekilas, ia juga cukup terkejut, “Cepat bersihkan. Jangan bikin rumah ini kotor,” ucapnya tanpa rasa bersalah.

Tidak banyak berkomentar, Deana segera mengambil lap, membersihkan meja dan lantai dengan tangan yang sedikit gemetar.

Pandangan Fiona masih menatapnya seolah puas dengan semuanya.

***

Deana tidak habis pikir dengan keduanya, ia tidak berminat untuk membalas perbuatan mereka, Deana justru keluar dari rumah mewah itu berjalan kaki untuk mencari udara segar.

Deana menyusuri jalanan kecil di sana. Pohon-pohon memang rindang, sangat lebat tertanam di pinggir jalan membuat jalanan terasa lebih sejuk seperti di daerah pedesaan.

Hampir lima belas menit berjalan dan kaki Deana sudah panjang mengukur jalanannya, Deana berhenti sebentar di tukang bubur ayam di samping jalan. Deana tidak tahu daerah apa, ia hanya datang sesuai arah kakinya melangkah.

"Pak, bubur ayam satu, pake sambal, pedas. Makan di sini ya Pak." ujar Deana pada penjual bubur ayam itu yang masih sibuk membuat pesanan untuk orang lain.

"Pake sate usus sama telur puyuh juga ya Pak." lanjut Deana lagi kala melihat sate-satean berada di sana.

"Siap Neng. Neng duduk manis, nanti Bapak antar." balas penjual itu mengangguk sambil memberikan senyuman manisnya.

Deana mengangguk. Ia memasuki kedai berukuran kecil itu dan duduk di sana. Ada empat orang juga yang sedang menunggu antrian bubur ayamnya.

***

Sementara itu di rumah, Lena merengek mencari keberadaan Deana. Semua orang bahkan mencari Deana tapi tidak ada satu pun yang tahu, satpam juga tidak tahu kemana Deana pergi karena Deana perginya lewat pintu kecil samping rumah dan tidak memberitahu siapapun.

"Len, sini sama Aunty Fio." Fiona berdiri dan mengulurkan kedua tangannya ke depan untuk mengajak Lena agar mau bersamanya.

"Len mau sama Mommy!" rengek Lena lagi dalam gendongan Suster Ina.

Yang dicari setelah bangun tidur bukan lagi Daddynya, melainkan Deana yang baru beberapa hari menyandang status sebagai Mommynya itu.

"Kemana memangnya perempuan itu pergi?" tiba-tiba Tuan Samuel datang menghampiri kerumunan perempuan itu. Mendengar cucunya yang merengek, membuat ia yang sedang bersantai di balkon lantai dua menjadi gemas sendiri.

"Ayo dengan Opa saja." ajak Tuan Samuel lalu mengambil Lena dari gendongan Suster Ina dengan paksa.

"Opa, Mommy Len di mana?" tanya Lena pada Tuan Samuel.

"Mommy juga tidak tahu, Dad. Dia itu memang tidak punya rasa keibuan yang baik untuk Lena. Bagaimana jika kalau punya anak sendiri, pasti ditelantarkan." ejek Nyonya Ellen lagi mendengus kasar.

Nyonya Ellen masih belum puas untuk menghina Deana. Sebelum angkat kaki dari rumahnya, Nyonya Ellen masih tetap membeci Deana.

"Ayo sayang dengan Aunty Fio saja." ajak Fiona lagi mencoba membujuk Lena agar mau bermain dengannya dan memperlihatkan pada Nyonya Ellen dan Tuan Samuel jika ia sudah siap menjadi ibu sambung Lena.

"Len mau dengan Mommy, Mommy di mana? Apa Mommy dengan Daddy? Kenapa Mommy tidak mengajak Len?" perasaan bocah kecil itu tentu saja semakin kesal karena dalam pikirannya, Daddy dan Mommynya sedang berjalan-jalan tanpa dirinya.

Tuan Samuel mengusap dahi Lena yang berkeringat, "Mommy Len ada, nanti pulang... Len tunggu di sini dengan Suster." ucapnya lembut.

Lena menggeleng, ia memukul pelan dada Tuan Samuel, "Len mau telepon Mommy!" ucapnya.

"Len kenapa sih jadi mau dengan Mommy Dea saja, hm? Padahal kan di sini ada Opa, Oma, Suster, dan Aunty Fio." geram Nyonya Ellen. Ia sudah merasa muak mendengar rengekan cucunya yang ingin bersama Deana terus-terusan.

Lena memandang bingung pada Nyonya Ellen, ia menggeleng pelan, "Nanti Len tidak punya Mommy lagi...." lirihnya.

Nyonya Ellen bingung menjawabnya, ia mengangguk, "Nanti Mommymu pulang, sudah diam di sini."

"Suster Ina, tolong telepon Reno, katakan padanya jika Deana pergi dari rumah." ucap Tuan Samuel pada Suster Ina. Lalu setelah mengucapkan hal itu, Tuan Samuel pergi dari sana dan kembali naik ke lantai dua.

Nyonya Ellen menurunkan Lena dari gendongan Tuan Samuel dan menuntunnya untuk duduk bersamanya di atas sofa dengan Fiona.

***

Perut Deana sudah kenyang, ia sudah menghabiskan satu porsi bubur ayam bersama topping lainnya itu. Karena enak, Deana mengingat putrinya lalu membungkuskan satu porsi bubur ayam untuk Lena.

"Pak, ini kembaliannya ambil saja." ujar Deana.

"Terima kasih Neng."

Deana mengangguk. Ia keluar dari kedai bubur ayam itu dan berjalan lagi untuk kembali ke rumahnya.

Namun, saat ingin pulang, Deana melihat Arya yang sedang duduk di bangku warung sembari menyesap putung ro*koknya, pandangannya terlihat kosong dan menyedihkan.

"Mas... Arya?" gumam Deana lalu menarik napasnya perlahan.

Tatapan mereka tidak sengaja bertemu. Arya yang sangat jelas melihat keberadaan Deana di sana, langsung berdiri dan mencoba untuk berlari dan mendekati Deana.

Deana gelagapan sendiri, ia juga berusaha kabur untuk menjauh dari sana. Berbalik badan dan sedikit berjalan cepat, karena ingin berlari, perutnya sudah terisi dan pasti akan mual.

"Deana, tunggu! Maafkan aku! Deana!" ucap Arya sedikit berteriak memanggil nama Deana.

Deana mencebikan mulutnya kesal, ia mendengus pelan lalu semakin cepat melangkahkan kakinya.

"Deana....!!" Arya semakin dekat dan berhasil mencekal pergelangan tangan Deana.

"Dea, tunggu sebentar... Huh... Huh...." Arya memegangi dadanya yang terasa sesak itu. Tangan kanannya masih mencekal tangan Deana agar Deana tak lagi menghindar dan menjauh darinya.

Deana mencoba menepis tangan Arya, tapi Arya masih menahannya dengan erat.

"Tunggu dulu, aku ingin bertanya padamu." ujar Arya menatap lekat wajah Deana.

1
Milla
next min
Ahmad Sutrisno
bukan mau menjatuhkan atau membuat mental author nya down,,, cerita kayak gini sudah banyak,, jadi tolong bikin konflik yg berbeda aja,, terus pemeran utama wanita nya jgn di buat bodoh gini kayak si dea,, kebanyakan para pembaca juga males bacanya, kalo dari karakter pemeran nya bgini,, pelan2 coba di ubah karakter nya si dea ini,,, tetep semangat berkarya 💪💪💪🙏🙏🙏👍👍👍👍
🇧🇬
tau hamil kabur aja nanti ya..
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!