Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. WATACI
Adnan menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Suara rintihan Vivian masih terngiang, namun bayangan Nika jauh lebih menghantui nuraninya. Ia menarik napas panjang, lalu jemarinya dengan cepat mendial sebuah nomor.
"Geby, segera ke apartemen Vivian. Dia sakit. Bawa obat dan pastikan dia baik-baik saja. Aku tidak bisa meninggalkan rumah sakit sekarang," perintah Adnan tegas, tanpa menunggu bantahan dari asisten Nika tersebut.
Di sisi lain kota, Geby tiba di depan pintu apartemen mewah milik Vivian dengan napas terengah dan sekantong obat di tangan. Namun, bukannya sambutan terima kasih, pintu itu terbuka hanya untuk memperlihatkan wajah Vivian yang merah padam karena murka.
"Mana Adnan?!" desis Vivian tajam. Begitu melihat hanya Geby yang datang, ia merampas kantong obat itu dan melemparkannya ke lantai.
Brak!
Pintu dibanting tepat di depan wajah Geby. Vivian berteriak frustrasi di balik pintu.
Sementara itu, sunyi menyelimuti ruang rawat Nika. Elano sudah pulang untuk mengambil pakaian ganti, menyisakan Adnan dan Nika dalam keheningan. Nika hanya termenung, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota.
Adnan melangkah pelan. Ia duduk di pinggir ranjang, memperhatikan luka lebam di pipi istrinya yang mulai membiru. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Adnan condong ke depan dan melingkarkan lengannya, membawa Nika ke dalam pelukan hangat.
Nika sempat menegang. Tubuhnya kaku, trauma. Namun, aroma parfum Adnan yang maskulin dan detak jantung pria itu yang tenang perlahan meruntuhkan kewaspadaannya.
"Aku di sini," bisik Adnan tepat di telinga Nika. "Jangan takut. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi. Aku akan selalu ada."
Kata-kata itu menjadi pemicu terakhir. Pertahanan kuat yang selama ini Nika bangun seketika hancur lebur.
"Hiks ... hiks ..."
Awalnya hanya isakan kecil, namun sedetik kemudian, Nika menangis sejadi-jadinya. Ia mencengkeram kemeja Adnan hingga kusut, menumpahkan segala ketakutan, rasa hina, dan luka masa lalunya di dada pria yang sebelumnya enggan ia sentuh.
Adnan tidak bertanya apa pun. Ia hanya mempererat pelukannya, membiarkan bahunya basah oleh air mata Nika.
Di saat itulah, Adnan menyadari bahwa Nika bukan sekadar tanggung jawab atau rasa simpati. Ada sesuatu yang lebih dalam yang mulai tumbuh di tengah reruntuhan luka itu.
"Menangislah, Nika. Keluarkan semuanya," gumam Adnan sambil mengusap lembut rambut Nika, ia berjanji dalam hati bahwa ini adalah terakhir kalinya ia membiarkan wanita ini menangis karena ketakutan.
Isakan Nika perlahan berubah pelan. Di dalam pelukan Adnan, suaranya terdengar serak dan sangat rapuh.
"Ayah tiriku ... dia bukan manusia," bisik Nika lirih, air matanya masih mengalir membasahi kemeja Adnan.
Nika menceritakan bagaimana masa kecilnya. Bukan mainan atau kasih sayang yang ia dapatkan, melainkan didikan yang sangat kejam. Setiap kali Nika melakukan kesalahan kecil, siksaan fisik menjadi "hadiahnya".
Yang paling menyakitkan bagi Nika bukanlah rasa sakit di tubuhnya, melainkan sikap ibunya yang hanya diam mematung, menonton putrinya terluka tanpa pernah mengulurkan tangan untuk membela.
"Bertahun-tahun aku hidup seperti itu, Adnan. Dan sekarang, bahkan setelah aku dewasa, hidupku masih saja dikekang oleh wasiat yang konyol ini," tambahnya dengan nada getir.
Adnan mendengarkan setiap kata dengan dada yang terasa sesak. Sekarang ia mengerti sepenuhnya. Sikap Nika yang tegas, keras, dan perfeksionis hanyalah sebuah "perisai" untuk menutupi jiwanya yang hancur.
Tak lama setelah mencurahkan seluruh beban hatinya, Nika tertidur lelap. Ia tertidur masih dalam dekapan Adnan.
Adnan menatap wajah Nika yang tampak tenang saat tidur. Adnan menyadari ada rasa aneh yang mulai bergejolak di hatinya. Sebuah rasa protektif yang begitu kuat dan sulit ia mengerti.
Adnan perlahan mengulurkan tangannya, membelai lembut rambut Nika dengan penuh kasih sayang. Namun, baru saja jemarinya menyentuh helai rambut itu ...
Plak!
Sebuah tangan menepis tangan Adnan dengan kasar hingga ia tersentak kaget. Adnan langsung menoleh dan mendapati sosok wanita berdiri di belakangnya dengan napas memburu.
Vivian berdiri di sana. Matanya merah karena amarah yang meluap, menatap tajam ke arah Adnan dan Nika yang masih terlelap.
"Jadi ini alasan kamu mengabaikan aku?" desis Vivian dengan nada penuh kebencian.
"Kamu lebih memilih wanita ini daripada aku yang sedang sakit, Adnan?!"