NovelToon NovelToon
Gadis Hina

Gadis Hina

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:537
Nilai: 5
Nama Author: KheyraPutri

Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pingsan

" Reina bangun Re..." Shasa ikut panik saat melihat Reina yang tidak sadarkan diri.

" Dokter tolong dok !! Suster !!" Panggil Rita pada dokter dan suster yang tadinya mau pergi.

Bramasta yang baru saja kembali dari luar melihat keributan di depan pintu ruang operasi.

Dan betapa terkejutnya saat melihat Reina yang tidak sadarkan diri di pelukan mamanya dan Shasa.

Tanpa fikir panjang Bramasta langsung menggendong tubuh Reina mengikuti arahan dokter dan suster untuk membawa ke IGD.

" Sebaiknya kamu dan bapaknya tunggu dan ikuti nenek,biar aku lihat Reina." Ucap Rita mencegah Shasa yang ingin mengikuti dia dan Bramasta.

Shasa pun hanya mengangguk menurut saja begitu juga pak Ujang. Mereka hanya bisa melihat kepergian Reina dan Rita yang sudah hilang di belokan.

" Semoga Reina baik-baik saja." Ucap Shasa penuh harap.

" Amin. Bapak juga kasihan dengannya." Ucap pak Ujang lirih sambil meremas tangannya.

Tak lama pintu terbuka,suster membuka pintu ruang operasi dan satunya mendorong brangkar keluar dari sana. Shasa dan pak Ujang pun langsung mengikuti nenek Sri yang di pindahkan ke ruang rawat.

 

Dok bagaimana keadaan Reina dok ?" Tanya Bramasta begitu dokter itu selesai memeriksa keadaan Reina.

" Dia kelelahan,sebaiknya di infus terlebih dahulu karena tubuhnya sangat lemah,biar nanti di pindahkan ke kamar inap." Jawab dokter menjelaskan.

" Baik dok berikan perawatan yang terbaik." Ucap Bramasta lalu menghembuskan nafasnya panjang.

Baru di tinggal sebentar sudah terjadi sesuatu. Entah kenapa ia begitu khawatir melihat Reina yang terlihat pucat dan matanya tertutup. Orang yang biasanya selalu tersenyum lembut sekarang terlihat lemah.

Rita mengusap bahu anaknya yang duduk di sebelahnya." Kamu mau pulang dulu istirahat ?" Tanya Rita lembut.

" Nggak ma,aku mau nungguin Reina sampai sadar...mama saja yang pulang. Nanti mama kecapekan lagi,aku nggak mau mama sampai sakit lagi." Ucap Bramasta menatap mamanya.

" Kalau mama pulang yang jaga nenek Reina nanti siapa ?" Tanya Rita bingung.

Bramasta pun baru teringat jika ada satu lagi yang harus dia tunggu dan dia jaga di sana. Jika dia sendiri mungkin dia tidak bisa kalau tidak di jadikan satu ruangan.

Bramasta hanya menanggapinya dengan tersenyum. Iya melihat suster yang mulai memasang infus di tangan Reina. Setelah selesai memasang infus suster membereskan peralatannya.Tak lama suster membawa brangkar Reina keluar dari UGD ke kamar VVIP yang di inginkan Bramasta.

" Mama pulang aja biar Bram yang di sini." Ucap Bramasta yang ingin berdiri dan mengikuti reina masuk ke ruang rawatnya.

" Iya,tapi mama mau lihat Reina dulu ya baru pulang." Ucap Rita yang berjalan di samping Bramasta.

Bramasta dan mamanya pun sampai di ruangan Reina. Rita menghampiri Reina yang masih menutup matanya mungkin efek obat dari dokter agar Reina bisa beristirahat dengan tenang. Bramasta berdiri di belakang mamanya.

Memperhatikan mamanya yang mengusap kepala Reina dan mencium keningnya. Tidak pernah mamanya sedekat ini dengan perempuan. Setelah itu Rita pun berbalik badan dan melihat anaknya.

" Jaga dia baik-baik ya,mama pulang dulu besok balik lagi." Ucap Rita  sambil mengusap lengan atas Bramasta lembut.

" Iya ma iya,astaga...mama hati-hati ya Bramasta tidak mengantar mama sampai depan." Ucap Bramasta lirih.

" Udah gapapa. Kamu juga istirahat gih mumpung Reina masih tidur. Suruh bawa makanan sekalian Hendy ke sini. Kamu jangan sampai kelelahan ya,mama pulang dulu. Kabari ya kalau ada apa-apa." ucap Rita berlalu pergi dan menghilang di balik pintu.

Bramasta mendekati ranjang dan duduk di bangku yang tersedia di sebelah ranjang. Ia memperhatikan wajah Reina yang pucat, tangannya terulur menata rambut yang berantakan di pipi.

Jantung Bramasta berdetak sangat cepat saat menyingkirkan rambut Reina,takut kalau sampai Reina tiba-tiba bangun.

" Huh... perasaan apa ini,kenapa begitu sakit melihatnya seperti ini." Gumam Bramasta bingung dengan perasaanya yang kasian sekaligus terasa sakit di hatinya.

Dia pun beranjak dari duduknya dan menjauh ke dekat jendela,ia menelpon Hendy untuk mengantar baju dan makanan ke rumah sakit. Saat menelpon Bramasta sangat pelan bicaranya agar tidak menggangu Reina.

Pintu ruangan di ketuk dari luar dan masuklah suster yang membawa makanan untuk Reina beserta obatnya.

Bramasta menutup panggilan teleponnya dan berjalan menghampiri suster itu sebelum dia mengganggu istirahat Reina.

" Permisi,waktunya pasien makan dan minum obatnya. Apakah pasien belum bangun ?" Tanya suster itu sopan sambil meletakkan makanannya di nakas samping brangkar.

" Belum,biar nanti saya suapi kalau sudah bangun sus. Makasih" Ucap Bramasta.

" Baik kalau begitu saya permisi." Ucap suster itu lalu keluar dari ruangan.

Sekitar 30 menit pintu kembali terbuka dan menampakkan Hendy yang membawa 2 paper bag.

" Permisi tuan ini baju dan makanan yang anda minta." ucap Hendy mengulurkan paperbag yang ia bawa.

Bramasta langsung menerima paperbag itu dan menaruhnya di sofa." Makasih Hen " Ucapnya

" Bagaimana keadaan nona Reina dan neneknya tuan ?" Tanya Hendy yang masih berdiri.

" Dia kelelahan dan tubuhnya sangat lemah jadi ia harus di infus, kalau neneknya aku juga belum melihatnya lagi Hen karena tadi aku keluar saat operasi berjalan dan saat aku kembali aku melihat dia sudah terbaring lemah di depan ruang operasi." Jawab Bramasta menjelaskan panjang lebar.

" Apakah tuan perlu bantuan ?" Tanya Hendy.

" Tolong jaga dia sebentar Hen saya mau melihat keadaan neneknya dulu." Ucap Bramasta.

" Baik tuan" Ucap Hendy menunduk.

Bramasta pun keluar hilang di balik pintu. Hendy pun memilih duduk di sofa yang tersedia,mau duduk di sebelah brangkar ia takut bosnya akan marah dan salah paham.

" Sepertinya bos jatuh cinta dengan gadis ini,mukanya begitu tak bertenaga." Gumam Hendy yang memilih bermain ponsel untuk menghilangkan kejenuhan.

Perlahan mata Reina pun terbuka, tangannya bergerak ingin bangun dari ranjang. Namun kepalanya sangat pusing,ia melihat tangannya yang di infus.

Hendy yang melihat ada pergerakan dari Reina langsung buru-buru mendekat menghampiri.

" Nona sudah bangun,apa nona butuh sesuatu atau merasakan sesuatu yang sakit ? Biar saya panggilkan dokter." Tanya Hendy panjang lebar.

" Kepala saya hanya agak pusing,anda siapa ?" Tanya Reina yang masih sangat lemah dia sedikit takut karena belum pernah melihat Hendy sebelumnya.

" Saya asisten tuan Bramasta nona,tuan sedang keluar untuk melihat keadaan nenek nona sebentar." Jawab Hendy memperkenalkan dirinya.

Mendengar ucapan Hendy, Reina sedikit lega karena yang pasti Hendy bukan orang jahat jika tangan kanan Bramasta.

" Nenek,aku mau ketemu nenek." Ucap Reina berusaha bangun saat teringat dengan neneknya yang mana dia belum sempat menemui neneknya.

Hendy terkejut melihat aksi Reina.

--->>>

1
hanawati sumaharjana
bafhs utk mengusi wkt
hanawati sumaharjana
menarik utk trs diikuti smp tamat nih
Dewi KheyraPutri: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!