"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Standar Ganda Sang Ibu
Dapur itu mendadak senyap, hanya menyisakan deru napas Najwa yang memburu dan isak tangisnya yang dibuat-buat.
Rasyid masih berdiri di ambang pintu, sosoknya yang tinggi tegap membayangi ruangan. Cahaya lampu neon yang putih memantul di kulit albinonya, memberikan kesan dingin yang menusuk.
Mata birunya yang tajam tidak berkedip saat menatap Shanum yang masih mematung dengan wajah tanpa ekspresi.
“Mas... tanganku... dia mau mematahkannya,” Najwa merintih, sengaja memperlihatkan pergelangan tangannya yang memerah ke hadapan Rasyid.
Shanum menarik napas panjang. Ia menatap Rasyid dengan sorot mata yang menantang, bukan karena takut, tapi karena ia ingin mengakhiri semua drama ini.
“Iya, aku yang melakukannya,” suara Shanum datar, hampir tanpa emosi.
“Aku memelintir tangannya. Aku memaki dia. Aku memang wanita kasar yang tidak punya adab, kan? Itu yang ingin kalian dengar?”
Shanum melangkah maju, mendekati Rasyid hingga ia bisa mencium aroma kayu cendana yang menenangkan dari jubah suaminya.
“Sekalian saja, Mas Kyai. Aku memang tidak pantas di sini. Buang saja aku sekarang agar bidadarimu ini bisa tenang.”
Rasyid tidak meledak. Ia tidak membentak atau mencaci. Dengan gerakan yang kaku, ia melepaskan tangan Najwa yang bersandar di pundaknya.
Rasyid melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Shanum. Ia menatap mata istrinya begitu dalam, seolah mencari sisa-sisa kejujuran di balik amarah yang meluap.
“Tolong kendalikan dirimu,” bisik Rasyid. Suaranya rendah, namun setiap suku katanya terasa seperti hantaman beton.
“Jangan mempermalukan rumah ini lebih jauh lagi. Najwa adalah tamu.”
Setelah itu, Rasyid berbalik tanpa memberikan pembelaan apa pun pada Shanum.
Ia mengajak Najwa keluar menuju ruang tamu, meninggalkan Shanum yang berdiri sendirian di dapur dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Shanum memejamkan mata, menahan kristal bening yang hampir jatuh. Jika kamu lebih peduli pada citra rumahmu daripada keadilan untukku, maka biarkan aku yang menghancurkan citra bidadarimu itu, batin Shanum.
Satu jam kemudian, Nyai Salamah mengadakan jamuan makan malam khusus. Meja jati besar di ruang tengah sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan lezat.
Rasyid duduk di kepala meja, wajah albinonya tampak muram di bawah temaram lampu gantung.
Di samping kanannya duduk Najwa, yang kini sudah berganti pakaian dan tampak begitu manis dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
“Shanum!” panggil Nyai Salamah dengan nada memerintah yang sangat merendahkan. “Kemari. Jangan hanya berdiri di sana seperti patung.”
Shanum mendekat dengan kepala tertunduk.
“Layani Najwa. Tuangkan tehnya, ambilkan nasinya,” ucap Nyai Salamah tanpa beban.
“Najwa ini tamu kehormatan, anak dari sahabat almarhum Ayah Rasyid. Karena kamu tidak punya latar belakang pendidikan yang benar, belajarlah cara melayani orang yang beradab darinya.”
Rasyid mengalihkan pandangannya, tangannya yang putih pucat meremas pinggiran meja.
Ia merasa sangat tidak nyaman melihat istrinya diperlakukan seperti pelayan di rumahnya sendiri, namun saat ia hendak membuka mulut, Nyai Salamah memberikan tatapan intimidasi yang mematikan.
Sebuah tatapan yang mengingatkan Rasyid akan “hutang budi” dan posisi Shanum yang masih dianggap aib oleh sang Ibu.
Shanum tidak membantah. Dengan ketenangan yang mengerikan, ia mulai mengambilkan piring untuk Najwa.
Ia bergerak layaknya pelayan yang paling patuh. Namun, di balik lipatan kain gamisnya, Shanum telah menyalakan fitur perekam suara di ponselnya.
“Terima kasih ya, Shanum,” ucap Najwa dengan nada yang terdengar lembut di telinga Rasyid dan Nyai Salamah, namun sorot matanya yang menghina tetap tertuju pada Shanum.
Beberapa menit kemudian, Nyai Salamah bangkit. “Ibu lupa mengambil puding di kulkas belakang. Rasyid, tolong temani Najwa sebentar, Ibu segera kembali.”
Rasyid mengangguk, namun perhatiannya teralih saat ponselnya bergetar di meja.
Ia menunduk, sibuk membalas pesan singkat dari pengurus pesantren mengenai jadwal pengajian besok. Hal ini membuat Najwa merasa memiliki kesempatan emas.
Shanum mendekat untuk menuangkan teh melati ke cangkir Najwa.
Saat itulah, Najwa mencondongkan tubuhnya, berbisik dengan suara yang sangat rendah namun sarat akan racun, yakin bahwa Rasyid tidak sedang mendengarkan.
“Lihat posisimu sekarang, sampah?” Najwa mendesis, bibirnya masih membentuk senyum palsu agar terlihat seperti sedang mengobrol biasa dari kejauhan.
“Suamimu bahkan tidak sudi menatapmu saat Ibunya menghinamu. Sebentar lagi, akulah yang akan duduk di kursi itu sebagai nyonya besar pesantren ini. Semua harta, kekuasaan, dan Rasyid... akan jadi milikku. Kamu hanya gangguan kecil yang akan segera aku singkirkan ke tempat pembuangan.”
Shanum tidak membalas dengan kata-kata. Ia justru memberikan senyum miring yang paling tajam.
Tangannya yang memegang teko perak sengaja bergetar sedikit, membuat air teh yang masih mengepul itu tumpah dan mengenai ujung baju sutra mahal Najwa.
“Aduh! Panas!” jerit Najwa spontan.
Topeng bidadari itu retak dalam sekejap. Najwa berdiri dengan kasar hingga kursinya berderit nyaring di lantai kayu. Amarahnya meledak, wajah santunnya berubah menjadi mengerikan.
“Kurang ajar kamu ya! Dasar wanita jalang! Kamu sengaja kan?!” Najwa berteriak histeris, tangannya melayang di udara, siap menghantam wajah Shanum dengan tenaga penuh.
Sret!
Rasyid berdiri seketika, menangkap pergelangan tangan Najwa tepat sebelum mengenai pipi Shanum.
Mata birunya berkilat penuh amarah, namun Najwa yang lihai langsung mengubah taktik. Air mata buayanya mengalir dalam hitungan detik.
“Mas Rasyid... hiks... dia sengaja menyiramku dengan air panas! Dia cemburu padaku sampai mau mencelakaiku!” Najwa meratap, mencoba bersandar pada dada Rasyid dengan akting yang sangat meyakinkan.
Rasyid menatap Shanum dengan napas yang memburu. Wajah albinonya memerah karena menahan emosi yang berkecamuk. “Shanum... Apa lagi yang kamu—“
“Tunggu, Mas Kyai,” sela Shanum dengan suara yang sangat tenang, kontras dengan keributan yang ada.
“Sebelum kamu marah dan membuangku karena kata-kata wanita ‘suci’ ini, alangkah baiknya kamu dengar dulu apa yang sebenarnya bidadarimu ini katakan padaku.”
Shanum mengeluarkan ponsel dari saku gamisnya. Ia menekan tombol play dengan gerakan yang sangat mantap.
Suara Najwa yang sombong, merendahkan, dan penuh ambisi untuk menguasai harta pesantren menggema di seluruh ruang makan.
Rekaman itu begitu jernih, bahkan suara Rasyid di awal yang sedang sibuk membalas pesan pun ikut terekam, membuktikan bahwa percakapan itu terjadi tepat di depan hidung Rasyid.
“...Semua harta, kekuasaan, dan Rasyid... akan jadi milikku. Kamu hanya gangguan kecil yang akan segera aku singkirkan...”
Suara itu berhenti. Ruang makan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Najwa membeku, wajahnya yang tadi merah karena amarah kini menjadi pucat pasi seputih kapas.
Nyai Salamah yang baru saja kembali membawa puding pun mematung di ambang pintu, mendengar dengan jelas pengakuan ambisius calon menantu idamannya.
Rasyid melepaskan tangan Najwa dengan kasar, seolah-olah ia baru saja menyentuh bangkai yang menjijikkan.
Ia menatap Najwa dengan tatapan yang sangat dingin, mata birunya seolah berubah menjadi pedang es yang siap menyayat.
“Harta? Kekuasaan?” Rasyid bersuara, nadanya sangat rendah namun penuh ancaman. “Jadi itu yang kamu cari di rumah ini, Najwa?”
“Mas... itu... itu fitnah! Rekaman itu bisa saja diedit!” Najwa mencoba membela diri dengan suara gemetar.
“Aku ada di sana, Najwa. Aku mendengar suaraku sendiri di rekaman itu,” ucap Rasyid dengan nada yang sangat mematikan.
Ia berbalik menatap ibunya yang masih terdiam. “Ibu, inilah bidadari yang Ibu agung-agungkan. Dia tidak lebih dari seorang pencuri yang menyamar dengan kain sutra.”
Rasyid melangkah mendekati Najwa, intimidasi dari kulit albinonya yang memucat karena amarah membuat Najwa melangkah mundur ketakutan.
“Keluar dari rumah ini sekarang juga,” perintah Rasyid, jarinya menunjuk ke pintu depan.
“Aku tidak ingin melihat wajahmu di lingkungan kediaman ini lagi. Kamu akan tinggal di asrama santriwati paling belakang sampai orang tuamu datang menjemputmu besok pagi. Dan jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki lagi di pesantren ini setelah itu.”
“Mas Rasyid, tolong...”
“Pergi!” raung Rasyid, membuat seluruh ruangan bergetar.
Najwa lari meninggalkan ruangan sambil terisak hebat.
Rasyid kemudian menoleh ke arah Shanum. Ia terdiam sejenak, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa bersalah, ada kekaguman, namun tetap ada kabut misteri yang menyelimuti mereka.
Tanpa sepatah kata pun, Rasyid melangkah mendekati Shanum, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang dingin namun terasa sangat protektif, membiarkan keheningan malam menjadi saksi kemenangan kecil istrinya di atas panggung kepalsuan.