“Capek tidak, Sayang? Aku masih mau sekali lagi.”
“Kamu kuat sekali, Mas,” jawab istrinya sambil tersenyum lelah.
Tama tertawa pelan dan mencium pipi wanita itu dengan penuh kasih. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya pelan,
“Sudah diminum pilnya?”
Senyum sang istri perlahan memudar.
“Harus terus, Mas? Aku lelah minum pil KB…”
Tama terdiam sejenak sebelum mengelus rambutnya lembut.
“Turuti saja, Sayang. Ini demi kebaikan kita.”
Istrinya tidak pernah benar-benar mengerti mengapa Tama selalu menolak memiliki anak.
Malam kembali hening saat Tama memeluknya dari belakang. bayangan masa lalu itu kembali datang.
Sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku takut kamu meninggalkanku jika tahu siapa aku sebenarnya,” bisiknya dalam hati.
Karena jauh di masa lalu, Tama pernah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Dan jika kebenaran itu terungkap…
yang hancur bukan hanya rahasianya.
Tetapi juga pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERTANGKAP BASAH
BAB 33
Pagi itu, suasana di apartemen Selin yang biasanya sunyi mendadak tegang. Tama duduk di sofa dengan kaki bersilang, menyesap kopi hitam buatannya sendiri dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun. Pikirannya tadi sudah kacau balau, membayangkan Kevin telah menculik asisten kesayangannya, namun kenyataan di depannya jauh lebih mengejutkan.
Gery membeku di ambang pintu kamar. Rambutnya berantakan, kausnya sedikit miring, dan wajahnya menunjukkan ekspresi orang yang tertangkap basah merampok bank.
"Tam... kau... sejak kapan di sini?" suara Gery tercekat.
Tama tidak menjawab. Ia hanya meletakkan cangkir kopinya perlahan ke meja, bunyi klik antara keramik dan kaca terdengar seperti suara kokangan senjata. Tanpa memedulikan Gery yang masih mematung, Tama melangkah lebar menuju kamar Selin.
Di dalam, Selin sedang duduk di depan laptop dengan rambut yang masih agak acak-acakan. Saat melihat Tama masuk, ia refleks menyambar jubah tidurnya dan membungkus tubuhnya rapat-rapat.
"Tam? Bagaimana bisa?" Selin kaget setengah mati.
"Ponselmu mati, Sein. Aku pikir kamu sudah jadi mayat di tangan Kevin," potong Tama dengan suara rendah yang berbahaya. Matanya melirik ke arah Gery yang mengekor di belakangnya dengan wajah pucat.
Tama berbalik, menatap Gery dengan tatapan mengintimidasi yang biasa ia gunakan di ruang rapat.
"Wah! Gercep sekali kalian ya? Ger, kau meniduri Sein?"
Gery langsung melambaikan tangan dengan panik.
"Tunggu! Tam, jangan salah paham! Tidak ada yang... maksudku, kami tidak melakukan 'itu'!"
Tama mengangkat sebelah alisnya, menunjuk ke arah tempat tidur yang tampak berantakan.
"Lalu kenapa kamu keluar dari kamar ini dengan wajah seperti itu? Dan sejak kapan kalian memakai cincin yang sama?"
Detail sekali memang bapak negara ini, sampai-sampai membuat dua sejoli ini nampak tak berkutik.
Selin berdehem, mencoba mengembalikan martabatnya sebagai asisten profesional.
"Dia hanya menginap, Tam. Untuk keamanan. Dan soal cincin... Gery melamarku semalam."
Tama tertawa hambar, sebuah tawa yang jarang terdengar namun penuh dengan sarkasme.
"Melamar? Di tengah teror Kevin, kalian sempat-sempatnya bertunangan dan tidur satu ranjang? Kalian ini rekan kerjaku atau karakter di novel romantis?"
"Kami hanya berpelukan, Tam! Aku bersumpah!" bela Gery sambil mengangkat dua jari.
"Pondasi iman Selin lebih kuat dari beton gedung kantormu. Aku bahkan disikut sampai hampir pingsan semalam."
Tama menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Dia tau Selin bukanlah gadis gampangan, bahkan Tama sangat yakin jika Asistennya ini masih Perawan.
"Perkembangan kalian benar-benar tidak terbaca. Aku sibuk memikirkan bagaimana cara membunuh Kevin, dan kalian sibuk merencanakan masa depan."
Tama melangkah menghampiri Gery merapikan rambut pria itu dengan sedikit berbisik.
“Yakin kamu tidak meniduri Sein?”
“Sumpah Tam!” Gery sudah pucat sekarang.
“Lalu? Kalian satu ranjang loh!” Tak tinggal diam, Tama kembali mengintrogasi sahabat nya.
“Aku hanya menciumnya?”
Mendengar itu kedua mata Tama membola.
“First kiss Sein?” Tama membalikan badan menatap Selin yang sudah menunduk. Lelaki itu menggelengkan kepalanya.
Tama kembali ke ruang tamu, diikuti oleh sejoli yang tampak malu-malu itu.
"Dengar, aku senang kalian akhirnya jujur. Tapi ingat, Kevin masih di luar sana. Jangan sampai kebahagiaan ini membuat kalian lengah."
Tama menatap Selin dengan serius. "Sein, isi daya ponselmu. Jangan pernah biarkan mati lagi. Aku tidak mau serangan jantung kedua hanya karena asistenku sedang asyik berkencan."
Selin menunduk, wajahnya sedikit merona. "Maaf, Tam. Saya terlalu sibuk... berdiskusi dengan Gery."
"Berdiskusi, ya?" sindir Tama sambil berdiri.Gery berdeham.
“Asik sekali kalian berdiskusi ya!”
“Tam..” Selin menggeleng karena saat ini dia merasa harga dirinya sangat jatuh.
"Segera bersiap. Gani sudah menemukan titik terang soal lokasi Kevin di pinggiran Jakarta. Kita tidak punya waktu untuk bulan madu prematur."
Tama hanya bisa menggelengkan kepala, separuh jengkel namun separuh lega melihat sahabat dan asistennya itu menemukan kebahagiaan di tengah kekacauan. Ia berjalan menuju balkon apartemen Selin, membelakangi mereka untuk memberikan sedikit ruang bagi Gery dan Selin merapikan diri.
"Cepatlah bersiap. Aku tunggu di bawah dalam sepuluh menit. Dan Gery, pakai kemejamu dengan benar. Kamu terlihat seperti pengacara yang baru saja kalah judi," sindir Tama sebelum melangkah keluar pintu.
Di dalam mobil, saat mereka dalam perjalanan menuju titik pertemuan dengan Gani, ponsel Selin berdering. Nama ‘Nona Alisya’ tertera di layar. Selin berdehem, mencoba menetralkan suaranya yang masih sedikit serak.
"Ya, Sya?"
"Lin, kamu di mana? Mas Tama bilang tadi pagi dia panik mencarimu," suara Alisya terdengar ceria, sangat kontras dengan suasana mencekam beberapa hari lalu. Sepertinya Alisya sudah mendengar 'laporan pandangan mata' dari suaminya.
"Saya sedang bersama Pak Tama dan Gery, Sya. Maaf membuat khawatir," jawab Selin formal, meski ia melirik Gery yang sedang menyetir di sampingnya.
"Aku dengar ada yang baru saja memakai cincin? Dan ada yang tertangkap basah keluar dari kamar seorang gadispagi-pagi sekali?" goda Alisya, tawanya terdengar renyah.
"Wah, Selin... aku tidak menyangka asisten suamiku yang paling dingin ini ternyata bisa luluh juga oleh si cerewet Gery."
Wajah Selin memerah sempurna sampai ke telinga. Gery, yang bisa mendengar suara Alisya karena speaker mobil yang kencang, hanya bisa nyengir lebar.
"Alisya, itu... itu hanya masalah keamanan," dalih Selin.
"Keamanan hati, maksudmu?" timpal Alisya.
"Sudahlah, setelah Kevin tertangkap, aku yang akan menyiapkan pesta pertunangan kalian. Tidak ada penolakan!"
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya