Syela tak ingat apapun yang terjadi malam itu, berawal dari pesta di sebuah klub membuatnya harus kehilangan kegadisannya.
Apa yang harus dilakukannya pun ia tak tahu...
Apakah harus????.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.A.Hanifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Syela terbangun dari tidurnya karena mendengar sang Putra menangis, sepertinya anaknya itu haus. Ia pun segera mengASIhi nya.
"Mimpi?" gumamnya setelah mengingat kejadian tak mengenakkan semalam.
Dia termenung sebentar sambil memberi asupan gizi untuk Ansel, sebelum keluar kamar dia terlebih dahulu mengurus putranya. Menyeka tubuh bayi itu menjadi pilihan saat ini karena kata Dokter dia belum boleh terkena air secara langsung entah itu air hangat atau dingin, setelah kontrol minggu depan kemungkinan baru dia bisa mandi.
Setelah dirasa Putranya itu terlihat lebih segar dan wangi, Syela menemaninya bermain sebentar. Kini Ansel mulai bisa mengeluarkan suara menggemaskan layaknya bayi pada umumnya. Walaupun baru saja sembuh dari sakit, berat badannya tak terlalu berkurang, pipi gembul itu masih terus membuat sang Ibu jatuh cinta berkali kali padanya.
Lelah bermain Ansel yang dicap sebagai tukang tidur oleh Syela, akhirnya tertidur pulas. Syela tersenyum tenang melihat putranya itu, dikecupnya lama pipi Ansel lalu mengucapkan kalimat penenang sebelum dirinya bekerja membersihkan rumah. Setelah membersihkan dirinya sendiri Syela pun keluar dari kamar, untuk bebersih seperti biasa.
Pagi ini suasana rumah masih tampak sepi, tiba tiba terlintas kejadian kemarin diingatan Syela. Dia segera berlari kekamar Catherine dan ternyata itu bukan mimpi, noda darah yang masih menempel di keramik kamar itu menandakan jika kejadian gadis itu bunuh diri benar benar terjadi.
"Bukan mimpi" gumamnya lagi.
Saat masih termenung itu Syela terhenyak ketika terdengar suara ribut ribut dilantai bawah.
"Syela...... Syela..... keluar kamu...... " teriak seseorang yang suaranya amat dikenali Syela.
Dia pun segera turun melihat ada apa dibawah. Dari tangga Syela melihat Handoko dan Susi tengah berdiri dengan raut wajah yang berbeda. "Ada apa?" tanya Syela mendekat.
Masih bingung karena teriakan Susi barusan, Syela dibuat semakin bingung saat mantan Mamanya itu tiba tiba berlutut didepannya, dia reflek mundur. "Kenapa Nyonya berlutut?".
"Syela Mama minta maaf karena selama ini sudah jahat sama kamu, sudah ikut membuatmu menderita maafin Mama Sel" ujar Susi tiba tiba.
Mendengar ucapan itu Syela mengerutkan dahi, pikirannya tak sampai kemana mana hanya apakah Susi kembali meminta maaf karena kejadian malam terbongkarnya kebusukan Catherine. Tapi bukanlah itu sudah beberapa hari yang lalu.
"Ka..... Kalau kamu nggak mau maafin Mama nggak Papa, tapi Mama mohon maafkan Catherine Nak" tambah wanita paruh baya itu, air matanya bahkan sudah mengalir dengan derasnya.
Syela tercekat, bahkan air liurnya sendiri pun susah lolos dari tenggorokannya. Ini maksudnya apa, Susi berlutut dan menangis hanya karena meminta maaf untuk Catherine yang jelas jelas salah. Sebegitu sayangnya dia pada sang putri angkat dari pada Syela anaknya sendiri.
"Iya Sel, tolong jangan keras hati lagi, maafkanlah Catherine" Handoko menimpali bicara dengan nada lembut membela sang istri membuat Syela beralih menatapnya tak percaya.
Dunia benar benar sudah tidak adil untuk Syela. Dulu dia di maki dibenci mati matian oleh kedua orang tua ini hanya untuk kesalahan yang tidak dia sengajai, tapi untuk Catherine yang nyata bersalah mereka rela menjatuhkan harga diri didepan dirinya yang berstatus pembantu hanya untuk mewakili permintaan maaf gadis itu. Gila, pikirnya.
"Catherine nekat bunuh diri karena merasa bersalah sama kamu, dia takut kamu nggak maafin dia, dia stres Syela" tambah Handoko dengan wajah sedihnya.
Tapi tak kalah sedih hati Syela. Mantan papanya itu terlihat sangat sedih hanya karena putri angkatnya mencoba bunuh diri, sedangkan saat dirinya yang saat itu nyaris meregang nyawa untuk melahirkan Ansel, jangankan peduli untuk menengok saja pria itu tak sudi. Mungkin ini definisi pilih kasih yang sebenarnya.
"Kenapa jadi gara gara aku, memang aku maksa dia buat bunuh diri, dia sendiri yang nekat kenapa nyalahin aku" ucap Syela tak perduli bukan karena tak punya hati.
Dia juga merasa iba karena Catherine mencoba bunuh diri tapi dengan dirinya dijadikan alasan kenekatan itu dia tak terima.
"Syela bisa bisanya kamu berkata begitu, kamu lupa kalau malam itu Catherine sudah meminta maaf sama kamu tapi kamu menolaknya, itu buat beban hati untuknya, dia nggak sanggup hidup lagi kalau kamu nggak maafin dia Syela.... Kenapa hatimu keras sekali begini hah" sanggah Handoko. Syela berdecih mendengarnya.
"Syela mama mohon, maafin Catherine Sel..... Apa kamu tega membiarkan dua nyawa melayang begitu saja karena tak mendapat maaf darimu" ucap Susi.
Syela menautkan alis. "Maksudnya apa, dua nyawa siapa?" tanyanya tak mengerti.
Handoko mendekat memberikan sebuah foto berwarna hitam putih lengkap dengan beberapa angka disana, Syela sangat tau itu apa. "Catherine hamil.... Itu juga salah satu penyebab dia nekat bunuh diri" ucap Handoko pelan.
Syela menutup mulutnya tak percaya kenapa hal ini juga terjadi pada Catherine, lalu ini anak siapa pikirnya.
"Itu anak Miko" tambah Handoko yang semakin membuat Syela tak percaya.
"Gi.... Gimana bisa......anak Miko. . .. Nggak aku nggak percaya" ucap Syela menolak percaya karena sebelumnya Catherine sudah melakukan banyak rencana, bukan tak mungkin jika gadis itu kembali bersandiwara.
"Kalau kamu nggak percaya kita kerumah sakit sekarang, Miko dan keluarganya juga sedang perjalanan kesana" ucap Handoko dan mau tak mau Syela menurutinya.
Sebelum kerumah sakit Syela memanggil pengasuh harian yang dia percaya untuk menjaga putranya, karena tidak memungkinkan untuk membawanya. Setelahnya dia pun ikut dengan Handoko juga Susi kerumah sakit melihat Catherine dan mencari jawaban atas pertanyaanya beberapa menit yang lalu.
Sesampainya dirumah sakit mereka langsung menuju ruang rawat Catherine, didalam kamar VIP itu sudah ada Miko dan kedua orang tuanya dan Catherine sendiri masih terbaring lemah diatas kasur dengan infus ditangannya. Syela juga bisa melihat perban yang melingkar di pergelangan gadis itu.
Saat semua orang bertemu tak ada perkataan basa basi untuk saling sapa, semuanya sibuk dengan pikiran masing masing. Beberapa menit setelahnya masih belum ada yang memulai percakapan, Catherine hanya terus mengeluarkan air mata membuat Syela tak bisa bernapas seperti biasa. Dalam ruangan VIP yang luas ini entah kenapa dadanya terasa sesak sekali.
"Jadi apa sebenarnya yang akan kita bahas disini?" tanya Syela membuka suara, semua mata tertuju padanya.
Tatapan Syela tertuju pada Catherine. "Apa alasanmu berlaku nekat seperti itu Ket?" tanyanya lagi.
Tak menjawab Catherine malah semakin terisak. "Syela bisakah kamu bicara lembut padanya" ucap Susi yang tak dihiraukan Syela sedikitpun, dirinya masih setia menatap Catherine sambil bersidekap.
"Benar karena aku yang tak bersedia memaafkan kesalahanmu?" tanya Syela lagi.
"Syela..... Aku...... Maaf maafkan aku" hanya itu jawaban dari Catherine dia kembali menangis tersedu tapi nampak dimata Syela sebagai air mata buaya betina.
"Ada atau nggaknya maaf dariku, nggak seharusnya kamu mengakhiri nyawaku, tebus kesalahanmu bukannya malah membuat kesalahan baru" ucap Syela lagi yang terdengar bijak ditelinga orang lain padahal dia hanya asal bicara karena enggak memberikan maaf pada Catherine hatinya masih begitu sakit memang, biarlah dibilang keras hati.
"Atau ada alasan lain?" tanya Syela yang membuat raut sedih diwajah Catherine sekilas berubah.
Syela beralih menatap Miko. "Kamu nggak mau tanya sesuatu dengannya, kurasa ini ada hubungannya juga denganmu".
Dia butuh semua jawaban hari ini, sempat berpikir kalau kehamilan itu adalah sandiwara Catherine membuat Syela merasa ragu juga. Dia saja yang tak sadar dan tak tau apa apa bisa hamil tanpa tau siapa yang menghamilinya, apalagi Catherine yang memang sempat menjalin hubungan dengan Miko. Jika wanita dan pria sedang berdua siapa tau yang mereka lakukan sebenarnya.
"Aku..... " sesaat Miko menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, ditatapnya Catherine dengan serius. "Sudah berapa bulan umur janinnya?"
Deg.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Aku mau share akun Tiktok dan Ig (bukan akun pribadi), khusus karya.
Buat kalian yang sedia berteman disana, aku juga buat satu cerita yang aku post disana, kalau udah mampir jangan lupa like komen dan share yah terima kasih☺☺
Tiktok: salsabila.ayu.han295
Ig: s.a_hanifa_totor
Pasti bakal muncul kok, cuman belum waktunya
sesuai sama judul sih aku buat ceritanya, kalau cepet ketemunya bakal pendek ceritanya