NovelToon NovelToon
Gelora Hati Seorang Gus Dan Gadis Mafia.

Gelora Hati Seorang Gus Dan Gadis Mafia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.

Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.

Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.

Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.

Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla

Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Langit Malang mulai berubah menjadi warna jingga.

Ketika mobil hitam yang membawa Ning Syifa dan ayahnya----Kiyai Hussen Sutmaja memasuki halaman Pesantren Darul Mahendra.

Para santri dan santriwati berbaris, memberi jalan pada mobil Kiyai Ridwan---tangan para santri memegang rebana sambil menabuhnya.

Suara rebana langsung menggema, para santri berbaris rapi menyambut dengan nyanyian shalawat di sertai tabuhan rebana.

Rebana yang di tabuh menimbulkan suara yang meriah.

Dug… dug tak… dug dug tak.

Suara shalawat menggema merdu menyambut kedatangan Kiyai Hussen Sutmaja, calon besan Kiyai Ridwan Mahendra.

Kiyai Hussen datang tak sendiri, dirinya membawa sang putri---Ning Syifa Maulida.

“Shollu ‘alan Nabi Muhammad…Shollu ‘alaihi wa sallim…”

Lantunan suara rebana diiringi nyanyian shalawat dari para santri, membuat susana lebih sakral sekaligus meriah.

Beberapa santri tersenyum bangga menyambut tamu penting, yakni seorang Kiyai yang berkunjung.

Ning Syifa keluar dari mobil mengenakan gamis warna sage dan hijab warna merah muda, dengan tas kecil terselampir di bahunya.

"Yan, tolong turunin koper ya," pinta sang Kiyai ramah.

"Baik Kiyai," patuh santrinya.

Koper di turunkan dan Ning Syifa melarang Yan membawa kopernya dan juga sang ayah, karena masih sangat menghormati Yan---sebagai santri favorite di Pesantren Darul Falah Sutmaja.

Ning Syifa akan melakukan proses ta'aruf bersama putra Kiyai Ridwan---Gus Ali Mahendra.

Hati Ning Syifa berdegup kencang saat menatap langsung mata Gus Ali, tapi Gus Ali hanya tersenyum singkat.

Seolah tak ada perasaan apapun di hatinya untuk Ning Syifa.

"Subhanallah Gus Ali ganteng banget," ucap Ning Syifa menatap Gus Ali.

Ning Syifa hanya menunduk dan mengatakan itu dalam hatinya, seolah tak berani bicara banyak.

Karena gadis muslimah itu tahu jika Gus Ali belum menikahinya.

Langkah Ning Syifa dan ayahnya berjalan lurus menuju teras, sampai bertemu dengan Kiyai Ridwan dan Gus Ali yang sudah berdiri menunggu keduanya.

Nuansa sore menjelang magrib terasa syahdu, dengan penuh makna---karena banyak santri berbisik.

"Ning Syifa cantik ya," ucap salah satu Santri dengan nada berbisik.

"Iya, dan Gus Ali ganteng."

"Ihh nggak rela banget Gus Ali udah ada jodohnya."

Salah satu santriwati menatapnya dengan tatapan penuh iri, sementara Gus Ali tersenyum melihat Ning Syifa menunduk dengan pipi yang sudah memerah.

Di teras, berdiri Kiyai Ridwan dengan wajah teduh mengenakan gamis putih dan sorban melilit di kepalanya.

Di sampingnya, Gus Ali berdiri mengenakan sarung kotak-kotak hijau, baju koko coklat tua dan peci.

Tatapan Gus Ali menatap Ning Syifa dengan kagum, karena gadis berusia 22 tahun itu tumbuh sangat anggun.

Ning Syifa senyumnya sangat lembut saat menatap pria yang sudah di cintainya sejak lama.

Sosok yang di cintainya sudah ada di depannya.

Hati Gus Ali terasa berat, seolah ada yang mengganjal.

Dirinya tahu jika kedatangan Kiyai Hussen dan putrinya bukan hanya sekedar silahturahmi, melainkan pertemuan dua Kiyai besar.

Sang Kiyai membawa putra dan putri mereka masing-masing, untuk menjalankan proses taaruf atau perjodohan yang belum selesai.

Kiyai Ridwan melangkah maju menyambut sahabat lamanya, dengan menjabat tangan Kiyai Hussen Sutmaja.

"Assalamualaikum Kiyai," ucap Kiyai Hussen.

"Wallaikumsallam Kiyai," sahut Kiyai Ridwan.

Keduanya berjabat tangan sementara Ning Syifa menyatukan kedua tangannya di depan Gus Ali.

Begitu juga Gus Ali menyatukan tangannya di depan Ning Syifa, karena keduanya tahu mereka harus memiliki batas.

“Alhamdulillah, rawuh juga, Kiai,” ucap Kiai Ridwan.

“Alhamdulillah,” jawab Kiai Hussen tenang.

Kedua ayah mereka berjabat tangan Gus Ali mencium tangan Kiyai Hussen, dan saat menatap Ning Syifa hanya menunduk sopan.

“Assalamu’alaikum, Gus,” sapa Ning Syifa lembut.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Gus Ali singkat namun tetap santun.

Sejenak mata keduanya bertemu, hati Ning Syifa sudah berdebar.

Dan dimata Ning Syifa seolah memiliki harapan dengan Gus Ali.

Tapi di mata Gus Ali----hatinya tak memiliki apapun kepada Ning Syifa selain rasa kagum.

Suara rebana perlahan lenyap, karena langit berubah menjadi biru---suara adzan magrib hampir berkumandang.

"Silahkan masuk Kiyai," sambut Kiyai Ridwan.

Keduanya berjalan masuk dan Ning Syifa masuk sambil menyeret kopernya, di sampingnya ada Gus Ali.

Sesekali Ning Syifa mencuri pandang pada Gus Ali.

Diantara shalawat yang mengalun dan senyum para santri, ada percakapan besar aliansi pernikahan yang akan segera terjadi.

"Siti!" panggil Kiyai Rahman.

Dia adalah yang bekerja di pesantren ini.

"Iya Kiyai," sahut seorang wanita paruh baya dengan mengenakan hijab panjang dan rok hitam.

"Tolong antarkan Ning Syifa ke kamar yang sudah di siapkan," pinta sang Kiyai dengan nada sopan, namun penuh dengan wibawa.

"Inggih Kiyai," sahutnya.

"Mari Ning," ucapnya.

Saat Koper mau di bawa oleh Siti---Ning Syifa yang selaku lebih muda amat menghormati Siti.

"Bude jangan," pinta Ning Syifa.

"Saya bisa sendiri."

Ning Syifa menahan tangan bude Siti dengan lembut.

Ning Syifa berjalan bersama Bude Siti menuju kamarnya, hatinya dari tadi terus berdetak tiada henti memikirkan Gus Ali.

"Nggak rela banget Gus Ali udah ada jodohnya."

"Iya Tapi keduanya serasi kok."

Para santriwati berbisik tapi mereka tak sadar meski berbisik percakapan mereka masih di dengar oleh Ning Syifa.

Pipi Ning Syifa masih memerah, seolah tak bisa menahan debaran di hatinya.

"Astagfirullah ada apa ini, kenapa hati hamba terus berdegup."

Tangan kanan Ning Syifa mengelus dadanya, sambil berjalan mengikuti Bude Siti menuju kamar yang sudah di siapkan.

Diantara shalawat yang mengalun dan senyum para santri, ada percakapan yang terjadi di ruangan Kiyai Ridwan.

Dan Gus Ali tak perlu menebaknya lagi.

Sore ini bukan sekedar penyambutan tamu, tapi sebuah awal keputusan yang mungkin arah hidup dua pimpinan pesantren ini di tentukan.

Namun, keduanya lupa jika takdir dan jodoh hanya Allah yang tahu.

Apa yang akan terjadi selanjutnya, dan bagaimana dengan hati Ning Syifa yang sudah memendam rasa kepada Gus Ali sejak lama.

*

*

*

*

1
Dayang Rindu
Hay kak, karya baru? 🔥
Dayang Rindu: sama aja, 😁
total 2 replies
Muhammad Isha
iklan buat mu
Putri Sabina: makasih udah mampir Kak
total 1 replies
Muhammad Isha
jangan lupa mampir
knovitriana
cerita yang menarik
knovitriana: iklan buat mu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!